Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sialan, Aku Jadi Ayah!

Sialan, Aku Jadi Ayah!

Kata Semesta | Bersambung
Jumlah kata
200.8K
Popular
14.8K
Subscribe
1.6K
Novel / Sialan, Aku Jadi Ayah!
Sialan, Aku Jadi Ayah!

Sialan, Aku Jadi Ayah!

Kata Semesta| Bersambung
Jumlah Kata
200.8K
Popular
14.8K
Subscribe
1.6K
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifePria DominanIdentitas TersembunyiBadboy
"Hidup gue udah cukup ribet. Gaji pas-pasan, listrik suka ngadat, dan tetangga kos yang hobinya nyetel dangdut jam dua pagi." "Tapi malam itu... gue nemu sesuatu yang lebih ribet dari semua tagihan di hidup gue." Seorang anak kecil, duduk di depan warung yang udah tutup, sambil meluk boneka bebek yang cuma punya satu mata. "Om, ayahku belum balik," katanya, pelan banget, kayak takut kalau suaranya kedengeran sama hujan. "Gue nggak tahu kenapa, tapi malam itu gue berhenti. Dan sialnya, keputusan itu bikin hidup gue jungkir balik."
Bab 1

Hujan malam itu turun deras, seolah sengaja memperpanjang sialnya hari Sastra.

Motornya mogok di tengah jalan, payungnya sobek, dan listrik kafe tempatnya bekerja padam lima menit sebelum tutup.

Sastra menarik napas panjang sambil mendorong motornya ke pinggir trotoar. Usianya baru dua puluh lima, tapi hidupnya sudah terasa seperti lagu lama yang diulang-ulang: kerja, makan, tidur, ulang lagi. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang ia kejar. Ia hanya ingin hidup tanpa repot, tanpa drama.

Tapi malam itu, semesta seperti berkata, "Heh, Sastra. Bosan hidup tenang, ya? Nih, gue kasih misi baru."

Di depan warung kelontong yang sudah tutup, Sastra melihat seorang anak kecil duduk di bawah atap seng, tubuhnya menggigil, memeluk boneka bebek dengan satu mata. Lampu jalan yang redup membuat pemandangan itu tampak ganjil — dan jujur saja, agak bikin dada sesak.

Sastra sempat berpikir untuk pura-pura tidak melihat. Tapi langkahnya berhenti.

Hujan, anak sekecil itu sendirian, malam sudah hampir jam sebelas.

Sastra mendekat perlahan.

"Hey, kamu..." suaranya pelan, agar tidak membuat si kecil kaget. "Ngapain di sini? Orang tuanya mana?"

Anak itu menatapnya dengan mata besar yang lelah, seolah sudah terlalu lama menunggu sesuatu yang tidak akan datang.

"...Ayahku belum balik, Om," jawabnya lirih, hampir tidak terdengar di antara suara hujan.

Sastra terdiam. Ada sesuatu dalam suara itu — semacam kejujuran polos yang tidak bisa ia abaikan. Ia melirik langit yang makin gelap, lalu kembali menatap bocah itu.

Sial.

Ia tahu, keputusan berikutnya pasti bakal bikin hidupnya berantakan.

"Yaudah," katanya akhirnya, berusaha terdengar santai. "Nginep dulu di tempat Om, ya? Besok kita cari ayah kamu sama-sama."

Anak itu menatapnya lama, lalu mengangguk pelan.

"Sini naik ke motor," ucap Sastra, suaranya hampir tenggelam di antara derasnya hujan.

Anak kecil itu menatapnya lama, matanya besar dan jernih meski basah oleh air hujan. Ia ragu sejenak sebelum akhirnya berdiri, memeluk boneka bebeknya yang cuma punya satu mata. Boneka itu sudah nyaris berubah warna jadi abu-abu lumpur.

Sastra menelan napas.

"Yah, bebeknya juga butuh tempat kering, kayaknya," gumamnya pelan, lalu membantu gadis kecil itu naik ke jok belakang motornya yang mogok.

"Pegangan, ya," katanya lagi, meski jelas-jelas motor itu cuma bisa didorong.

Ia mulai melangkah pelan, mendorong motornya di bawah hujan yang masih menolak reda. Gadis kecil itu duduk diam, menggigil, dan sesekali menyeka wajahnya dengan ujung lengan.

Lampu jalan berpendar samar, menyorot dua bayangan di atas aspal yang penuh genangan. Seorang pria muda dengan rambut basah lepek, dan seorang bocah kecil yang tampak terlalu kuat untuk usianya.

Sastra melirik ke belakang. "Nama kamu siapa?" tanyanya, sekadar mengisi keheningan.

Anak itu tidak langsung menjawab. Hujan turun makin deras sebelum akhirnya ia berucap pelan, hampir seperti bisikan, "Naya."

Sastra mengangguk pelan. "Oke, Naya. Mulai malam ini, kamu resmi jadi penumpang kehormatan motor paling keren di Jakarta."

Naya tidak tertawa, tapi sudut bibirnya sedikit naik. Senyum tipis itu — entah kenapa — cukup bikin dada Sastra terasa aneh.

Sastra kembali menunduk, mendorong motornya dengan tenaga seadanya.

"Ya udah, tahan dikit lagi, ya, Nay. Rumah Om gak jauh."

Naya tidak menjawab, tapi kepalanya perlahan bersandar di punggung Sastra.

Hujan masih turun deras, tapi buat pertama kalinya malam itu, Sastra tidak merasa sendirian.

Ia belum tahu siapa sebenarnya anak kecil itu, atau masalah apa yang bakal datang setelah ini. Tapi untuk pertama kalinya juga, hidupnya yang datar itu tiba-tiba terasa... punya arah.

*****

Begitu sampai di depan kontrakan, Sastra merasa seperti pahlawan di film murahan — bedanya, pahlawan itu basah kuyup, mendorong motor yang mogok, dan punya penumpang bocah kecil dengan boneka sekarat di pelukannya.

Kontrakan Sastra berdiri di ujung gang sempit yang lampunya kedap-kedip. Gentengnya bocor di lima titik, dan suara tetesan air di ember jadi musik latar yang konstan tiap malam. Tapi malam itu, entah kenapa, tempat itu terasa lebih "hidup" dari biasanya.

"Masuk aja dulu," katanya sambil membuka gembok pintu yang sudah mulai berkarat.

Naya melangkah pelan ke dalam, menatap sekeliling dengan mata besar yang waspada.

Rumah itu cuma satu ruangan kecil, dengan kasur tipis di pojok, meja lipat, dan dapur mini yang kalau dinyalakan kompor, lampunya sering ikut mati.

"Wow," ujar Sastra, menatap ruangan itu seperti baru sadar betapa menyedihkannya tempat tinggalnya sendiri. "Selamat datang di istana mungil Om Sastra. Tempat di mana air panas hanyalah mimpi, dan wajan cuma ada satu."

Naya tidak menanggapi. Ia menatap bonekanya yang basah kuyup, lalu memeluknya erat-erat.

Sastra menghela napas. Ia berjalan ke rak dan mengambil handuk kecil — sisa hadiah dari kafe tempatnya kerja dulu. "Nih, keringin dulu badannya, nanti masuk angin."

Naya menerima handuk itu pelan, lalu menatapnya. "Terima kasih, Om."

Ada sesuatu di cara anak itu bicara — lembut, sopan, tapi juga... kosong. Seperti seseorang yang sudah terbiasa tidak menunggu apa-apa dari siapa pun.

Sastra menatapnya beberapa detik sebelum berdeham. "Oke, kamu duduk aja dulu, Om ganti baju sebentar. Abis itu kita bikin mi instan, gimana? Ada bonus telur rebus satu."

Mata Naya sedikit berbinar, dan Sastra tersenyum tipis.

Oke, setidaknya ia tahu satu hal sekarang — anak ini gampang disuap.

Saat Sastra berjalan ke kamar mandi kecil di belakang, ia sempat melihat bayangan dirinya di cermin: rambut awut-awutan, wajah capek, tapi matanya... lain.

Entah kenapa, ada semacam rasa tanggung jawab baru di sana — yang bahkan belum sempat ia pahami.

Sastra menatap refleksinya sebentar, lalu terkekeh pelan.

"Ya ampun, Sastra," gumamnya. "Lo baru aja jadi pengasuh bocah, dan lo bahkan belum punya blender."

*****

Sastra keluar dari kamar mandi, lalu menatap Naya yang kini duduk di lantai sambil memeluk bonekanya yang dibungkus handuk.

"Bonekanya kenapa dibungkus handuk? Kedingingan?" goda Sastra.

Naya menatap bonekanya sebentar, lalu menoleh ke Sastra dengan wajah serius yang terlalu dewasa untuk ukuran anak kecil.

"Kasihan, Om. Bebeknya juga kehujanan," jawabnya pelan.

Sastra terdiam sejenak, lalu mengangguk pura-pura paham. "Iya sih, bebek juga punya perasaan."

Sastra berjalan ke dapur mini, menyalakan kompor gas yang harus diketuk dulu tiga kali baru mau hidup. "Bebeknya mau mi instan juga, gak?" tambahnya sambil membuka bungkus mi.

"Enggak boleh," jawab Naya cepat. "Katanya mi bikin perut sakit."

Sastra menoleh, mengerjap. "Oh, jadi kamu boleh?"

Naya mengangguk polos. "Aku kan bukan bebek."

Sastra mendengus kecil, lalu tertawa sendiri.

"Sial, anak ini serius banget," pikirnya. Lucunya pun natural, bukan yang dibuat-buat.

Air mendidih. Bau mi instan mulai memenuhi ruangan kecil itu. Sastra menuangkannya ke dua mangkuk, lalu memecahkan telur rebus satu-satunya ke dalam salah satunya.

"Nih, buat kamu. Setengah telur, ya."

Naya menatap mangkuknya lama, lalu memindahkan separuh telur itu ke mangkuk Sastra. "Biar adil," ujarnya sambil tersenyum tipis.

Sastra tidak langsung bicara.

Ada sesuatu di cara anak itu memperlakukan hal kecil — seolah berbagi sudah jadi kebiasaan, bukan pilihan.

"Wah, makasih. Kamu baik banget," katanya akhirnya, mencoba menyembunyikan nada hangat di suaranya.

Mereka makan berdua, hanya diiringi suara hujan dan dengung kipas kecil di pojok ruangan.

Naya makan pelan, hati-hati, sambil sesekali menyuapi bonekanya. Sastra memperhatikan tanpa komentar, cuma tersenyum lemah.

Setelah selesai, Naya menguap kecil.

"Udah ngantuk?" tanya Sastra.

Naya mengangguk, memeluk bonekanya erat-erat.

"Baju kamu basah sedikit nih. Om izin buka tas kamu ya? Siapa tahu ada bajunya," ucap Sastra seraya mengambil tas kecil yang sedari tadi di gendong oleh Naya.

Naya mengangguk pelan, tampak terlalu lelah untuk protes.

Sastra membuka tas kecil berwarna ungu itu, dan langsung mengerutkan kening. Isinya cuma sehelai kaus anak yang sudah kusut, satu celana pendek, dan sekotak susu yang sudah kosong. Tidak ada dompet, tidak ada identitas, tidak ada apa pun yang bisa menjelaskan siapa anak ini sebenarnya.

"Hm." Sastra menatap isi tas itu lama. "Minimal kamu nggak bawa batu bata, ya. Lumayan, masih mending ringan."

Naya memiringkan kepala, tidak paham. "Batu bata buat apa, Om?"

"Buat nambah beban hidup," jawab Sastra tanpa mikir.

Anak itu mengerutkan dahi, lalu diam — mungkin sedang mempertimbangkan serius kata-kata barusan. Sastra langsung geleng-geleng, menyesal bercanda ke bocah polos.

Ia mengambil kaus kecil dari dalam tas dan mengibaskannya sedikit. "Oke, ganti pakai ini ya. Keringin dulu badannya biar nggak masuk angin. Handuknya dipakai, terus bajunya ini."

Naya memeluk bonekanya, tampak ragu. "Aku ganti di mana?"

Sastra sempat bengong. Rumahnya cuma satu ruangan, dindingnya juga tipis. "Eee... sini aja, tapi Om balik badan, ya?" katanya cepat sambil menunjuk arah berlawanan.

Naya akhirnya mengangguk, lalu berbalik. Sementara itu Sastra berdiri membelakangi, menatap dinding kosong dengan posisi kikuk.

Dalam hati ia bergumam, "Gila, baru juga sejam ketemu, udah kayak bapak mendadak."

"Udah, Om," kata Naya beberapa menit kemudian.

Sastra menoleh, melihat anak itu sudah mengenakan kaus oversize-nya sendiri—entah kenapa jadi kelihatan makin kecil, tapi juga... hangat dilihatnya. Rambutnya masih lembap, pipinya memerah karena dingin.

Sastra menarik napas pelan. "Oke. Sekarang tidurnya di kasur, ya. Boneka juga, jangan dipisah, nanti ngambek."

Naya tersenyum kecil, lalu berbaring pelan. Ia menatap Sastra yang duduk di lantai dengan posisi menyandarkan punggung ke dinding.

"Om gak tidur?" tanyanya setengah mengantuk.

"Nanti aja. Om mau jaga biar bebek kamu nggak kabur," jawab Sastra asal.

Naya terkekeh pelan, lalu memejamkan mata. Dalam beberapa menit, napasnya sudah teratur.

Sastra menatap anak itu lama. Ada rasa asing di dadanya — semacam tenang, tapi juga berat.

Ia bersandar lagi ke dinding, menatap langit-langit yang masih menetes pelan karena bocor.

"Bocah aneh," gumamnya pelan.

Sastra menarik selimut tipis ke arah tubuh kecil itu, memastikan Naya hangat. Lalu menatap jam di dinding yang berhenti di pukul dua belas lewat dua.

Sastra berjongkok, mendekat ke tas kecil itu lagi. Entah kenapa, ada dorongan aneh dalam dirinya untuk memastikan kalau memang cuma itu isinya. Tapi begitu ia merogoh bagian dalam saku kecil di sisi dalam tas, jari-jarinya menyentuh sesuatu yang lembap dan lecek.

Ia menariknya pelan—secarik kertas yang sudah nyaris sobek karena basah. Tulisan di atasnya mulai pudar, tinta hitamnya meleber di beberapa bagian. Tapi masih bisa dibaca.

"Kalau kamu nemuin anak ini, tolong jagain. Namanya Naya. Dia anak baik. Maaf, saya gak bisa bersamanya lagi."

Sastra membeku. Hening. Hanya terdengar suara hujan yang menetes di ember dan dengung kipas kecil di pojok ruangan.

Ia menatap kertas itu lama, matanya menelusuri setiap huruf yang samar, seolah berharap ada petunjuk lain—alamat, nomor, nama siapa pun. Tapi tidak ada. Cuma pesan singkat itu.

Tulisannya goyah, terburu-buru, dan terasa... putus asa.

Sastra menatap Naya yang sudah tertidur di kasur. Anak kecil itu tampak damai, seperti tidak pernah tahu dunia di luar bisa sekejam itu.

Pelan, Sastra mendekat, lalu menatap wajah mungil itu dari dekat.

"Siapa yang ninggalin kamu, Nay?" bisiknya.

Tidak ada jawaban, tentu saja. Cuma suara napas kecil yang tenang, teratur, dan kadang diselingi gumaman mimpi.

Sastra kembali duduk bersandar ke dinding, menatap kertas di tangannya yang mulai kering karena hangat tubuhnya sendiri.

Ia menarik napas panjang, lalu mengusap wajah.

"Gawat, nih," gumamnya lirih. "Gue cuma pengin tidur abis kerja, malah dikasih tanggung jawab level hard mode."

Ia menatap langit-langit bocor itu lagi, lalu tersenyum miris.

"Tapi ya... kalau bukan gue, siapa lagi?"

Kertas itu ia lipat hati-hati dan diselipkan ke dompetnya. Entah kenapa, rasanya penting untuk menyimpannya.

Bukan cuma karena rasa penasaran — tapi karena, untuk alasan yang belum ia pahami sepenuhnya, ia tahu dirinya nggak bakal bisa ninggalin anak itu begitu aja.

Lampu di kontrakan kedap-kedip sebentar sebelum akhirnya padam total.

Sastra mengembuskan napas panjang. "Hidup gue udah cukup ribet. Gaji pas-pasan, listrik suka ngadat, dan tetangga kontrakan yang hobinya nyetel dangdut jam dua pagi. Dan sekarang ditambah ini.. ya udahlah. Selamat datang di babak baru hidup lo, Sastra."

Ia memejamkan mata di lantai dingin, sementara di atas kasur tipis, Naya tidur nyenyak tanpa tahu bahwa satu keputusan kecil malam itu akan mengubah hidup mereka berdua — selamanya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca