Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Arjuna Wijaya Sang Penakluk Dunia

Arjuna Wijaya Sang Penakluk Dunia

Penulis Maya | Bersambung
Jumlah kata
79.5K
Popular
1.5K
Subscribe
279
Novel / Arjuna Wijaya Sang Penakluk Dunia
Arjuna Wijaya Sang Penakluk Dunia

Arjuna Wijaya Sang Penakluk Dunia

Penulis Maya| Bersambung
Jumlah Kata
79.5K
Popular
1.5K
Subscribe
279
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeKarya KompetisiHaremPria Dominan
"Setelah lima tahun berlalu, Dia telah kembali!" Seorang Arjuna Wijaya adalah menantu yang selalu direndahkan dan dianggap sebelah mata karena hanya bekerja menjadi tukang bersih-bersih. Siapa yang tahu jika dia ternyata adalah seorang pewaris yang sah di Keluarga Wijaya. Kakek kembali memanggilnya setelah menemukan bukti selama ini Arjuna hanya difitnah agar diusir dari keluarga konglomerat nomor satu itu. Kali ini, Arjuna kembali dengan sosok yang berbeda. Tidak lagi bodoh dan bermurah hati! Dia siap menaklukkan dunia dan membalas siapun yang berani menjatuhkannya tanpa ampun.
Bab 1

Hotel Imperial Grand salah satu hotel bintang lima yang cukup terkenal di Jakarta.

Hotel ini merupakan pilihan tempat pesta ulang tahun sekaligus pesta kemenangan seorang Naomi Kusuma yang digelar dengan megah.

Dari kejauhan, hotel itu tampak seperti istana kaca dengan lampu-lampu kristal bergantung di setiap langit-langit, musik lembut jazz mengalun, dan para tamu bergaun glamor berbaur dengan aroma parfum mahal.

Naomi Kusuma, gadis dengan senyum memabukkan dan tubuh semampai yang kini menjadi bintang panggung mode, berdiri di tengah aula utama.

Gaunnya berwarna champagne, dihiasi batu kristal yang berkilau setiap kali ia bergerak.

Di sekelilingnya, kamera-kamera ponsel berdesing, suara ucapan selamat bersahut-sahutan pula.

“Selamat ya, Naomi! Kamu benar-benar layak jadi perwakilan Indonesia di Paris Fashion Show!”

“Cantik sekali malam ini, Naomi. Gaunmu juga luar biasa!”

Naomi hanya tertawa pelan.

Matanya berbinar dan senyumnya merekah. Ia merasa bahwa malam ini adalah miliknya. Dunia berputar mengelilinginya.

Di sisi ruangan itu, berdiri juga seorang pria dengan jas sederhana. Jas itu bukan keluaran merek ternama, hanya setelan sewaan yang sudah ia rapikan berkali-kali agar tampak pantas di pesta itu.

Pria itu adalah Arjuna Wijaya, suami dari Amanda Kusuma, kakaknya Naomi, anak pertama dari keluarga Kusuma.

Di tangannya, sebuah kotak kecil dibungkus kertas hadiah warna biru muda.

Tidak ada pita emas, tidak ada logo butik mahal.

Hanya kertas sederhana yang ia beli di minimarket tadi sore.

Ia menatap panggung dengan pandangan canggung sambil mencoba tersenyum kaku.

Ya senyum itu juga mati di tengah jalan.

Saat orang-orang di sekitarnya melihatnya seperti noda di karpet putih.

Seorang tamu berbisik pelan di belakangnya, namun cukup keras untuk membuatnya mendengar.

“Dia datang juga rupanya! Huh, si menantu miskin itu.”

“Kasihan Amanda. Suaminya cuma cleaning service. Naomi pasti malu banget, punya ipar seperti itu.”

Arjuna menarik napas pelan.

Ia sudah terbiasa dengan bisik-bisik semacam itu.

Namun, tetap saja, rasa perih itu tak pernah hilang.

Sementara itu, dari meja utama, Amanda Kusuma memandang suaminya dari kejauhan.

Perempuan itu anggun dalam balutan gaun hitam berbelahan rendah, dengan rambut disanggul tinggi dan perhiasan berlian berkilau di lehernya.

Tak ada senyum yang menghangatkan wajah itu ketika pandangannya bertemu dengan Arjuna.

Hanya datar dan dingin.

Ia tahu, suaminya tak seharusnya datang.

Ayah mereka, Herman Kusuma, sebenarnya sudah melarang Arjuna ikut hadir. Tapi Arjuna memaksa dan bilang jika sebagai keluarga, ia ingin memberi hadiah untuk Naomi.

Hadiah kecil dari hatinya sendiri.

Herman Kusuma, pria dengan jas abu-abu dan wajah keras penuh wibawa, sedang tertawa bersama tamu-tamu pentingnya.

Di sebelahnya duduk sang istri, Martha Kusuma, wanita yang gemar mengenakan berlian sebesar biji anggur di setiap jarinya. Mereka berdua tampak seperti pasangan kerajaan.

Dan ya ... Arjuna, di mata mereka hanyalah debu di bawah sepatu saja.

Lampu utama diredupkan.

Musik berganti menjadi melodi lembut, dan MC naik ke atas panggung sambil tersenyum.

“Hadirin sekalian, saat yang kita tunggu-tunggu tiba! Mari kita sambut sang bintang malam ini, pemenang kompetisi Elite Model Asia 2025, Naomi Kusuma!”

Sorak-sorai memenuhi ruangan.

Naomi berjalan menaiki panggung dengan langkah bak ratu.

Kamera berkilat ke arahnya.

Tepuk tangan bergemuruh.

Ayah dan ibunya berdiri dengan bangga di sisi kiri panggung, sementara Amanda dan Arjuna di belakang berdiri kikuk di antara para tamu.

Setelah pidato singkat dan ucapan syukur, Naomi turun dari panggung.

Para tamu mulai maju satu per satu, memberikan hadiah.

Kotak-kotak besar bertumpuk di meja depan seperti tas branded, parfum langka, perhiasan, bahkan tiket kapal pesiar.

Arjuna menggenggam kotak kecilnya erat-erat.

Tangannya mulai berkeringat.

Ia melangkah maju, dengan langkah yang bergetar.

Satu per satu mata memandangnya.

Beberapa tamu menahan senyum sinis.

“Naomi,” ucap Arjuna pelan, suaranya bergetar.

“Selamat ulang tahun dan selamat atas kemenanganmu. Aku tahu kamu sudah bekerja keras untuk ini.”

Naomi menatapnya dari atas ke bawah.

Tatapan itu menusuk seperti pisau tajam yang dibalut senyum manis.

“Oh, terima kasih, Kak Juna,” katanya lembut, tapi nadanya ringan seperti mengejek. “Kamu repot-repot bawa hadiah?”

Arjuna tersenyum kikuk dan menyerahkan kotak kecil itu. “Cuma sesuatu yang sederhana. Semoga kamu suka.”

Semua mata tertuju pada mereka.

Naomi menerima kotak itu, lalu sengaja membukanya di depan umum.

Sebuah kalung perak kecil, tanpa merek, dengan liontin berbentuk bunga.

Harganya mungkin tidak lebih dari seratus ribu rupiah.

Sesaat ruangan sunyi. Lalu tawa pecah.

“Serius? Kalung perak?”

“Dia pikir ini bazar sekolah?”

“Lucu banget. Ini pesta Naomi Kusuma, bukan ulang tahun anak TK.”

Naomi menatap kalung itu lama, sebelum tersenyum lagi.

Hanya saja senyum itu terasa sangat tajam seperti belati.

“Terima kasih ya, Kak Juna. Simbolis banget warna peraknya,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Tamu-tamu lain ikut tertawa.

Beberapa bertepuk tangan sambil menahan tawa.

Arjuna menunduk.

Wajahnya merah padam. Tangannya menggigil. Tapi ia menahan diri.

Ia tahu jika ia melawan, mereka akan bilang ia tidak tahu diri.

Di sudut ruangan, Amanda menatap kejadian itu dengan mata kaku.

Ia ingin bicara dan menegur adiknya. Tapi lidahnya kelu.

Di dalam hatinya, ada kebencian yang aneh.

Bukan hanya pada Naomi tapi pada dirinya sendiri dan juga pada pria yang kini dipermalukan di depan semua orang.

“Astaga, kamu beli kalung itu sendiri, Arjuna?” suara berat memotong suasana.

Herman Kusuma berdiri dari kursinya, langkahnya tegap, suaranya tegas.

“Kamu pikir ini pantas dibawa ke pesta seperti ini? Kamu sadar ini acara keluarga Kusuma, bukan resepsi buruh pabrik?”

“Ayah ....” Amanda mencoba menahan, tapi Herman melambaikan tangan menyuruhnya diam.

“Lihat dirimu!” lanjut Herman. “ Kau datang dengan jas lusuh, hadiah murahan bahkan menempel di antara tamu-tamu penting di sini. Kamu itu menantu keluarga Kusuma, tapi kelakuanmu memalukan!”

Semua mata menatap Arjuna.

Beberapa tamu tersenyum simpul, menikmati drama itu seperti menonton sandiwara.

Arjuna menelan ludah.

“Ayah mertua, saya hanya ingin—”

“Cukup!” bentak Herman. “Kalau bukan karena kebaikan hati keluarga ini, kamu tidak akan bisa berdiri di ruangan ini. Kamu pikir kami lupa? Kamu datang ke rumah ini bukan karena cinta, tapi karena kerendahan hati kami mau bertanggung jawab karena kebodohan adik kamu sendiri!”

Suara itu menggema di aula, membuat semua orang terdiam.

Naomi menunduk pura-pura bersedih, tapi di sudut bibirnya tersungging senyum samar.

Arjuna menatap lantai.

Ia tahu, tidak ada gunanya membela diri.

Benar.

Ia bukan bagian dari mereka.

Ia hanya suami bayangan dari pernikahan yang lahir atas kesalahan, bukan kasih.

Arjuna mulai mengingat kejadian tahun lalu.

Dimana adik angkatnya, Liana, ditabrak oleh Naomi yang mabuk setelah pesta kelulusan.

Saat itu, keluarga Kusuma hampir kehilangan reputasi.

Untuk menutup kasus, mereka menawarkan pernikahan kilat Amanda dengan Arjuna. Sebagai “kompensasi” agar Arjuna tak menuntut hukum dan menutup mulut.

Arjuna yang hanya ingin Liana mendapat pengobatan layak, setuju.

Ia pikir, setelah pernikahan itu, Liana akan dirawat di rumah sakit terbaik seperti janji mereka.

Tapi nyatanya, keesokan harinya, Liana menghilang. Rumah tempat ibu angkatnya tinggal dikosongkan.

Semua jejak mereka lenyap.

Dan sejak itu, Arjuna terjebak dalam penjara emas keluarga Kusuma.

****

“Cukup, Ayah! Jangan mempermalukan dia lagi,” Amanda akhirnya bicara.

Suaranya tenang, tapi tidak ada kehangatan. “Bagaimanapun juga, dia suamiku.”

Herman mendengkus. “Suami di atas kertas. Jangan lupa itu!"

Naomi mendekat, tersenyum. “Sudahlah, Ayah. Jangan terlalu keras sama Kak Juna. Lagipula, dia sudah berusaha, kan?”

Nada manis itu hanya mempermalukan Arjuna lebih dalam.

“Hadiah sederhana juga tetap berarti walaupun ya ... tidak bisa dipakai di panggung Paris nanti,” tambah Naomi sambil tertawa kecil.

Tawa kembali pecah di antara tamu-tamu.

Arjuna menggenggam tangannya erat, menahan diri untuk tidak pergi begitu saja.

Ia menatap kalung kecil itu.

Hadiah yang ia beli setelah menabung dari upah membersihkan kamar hotel selama sebulan penuh.

Ia bahkan menulis surat kecil di dalam kotak itu, “Untuk Naomi, semoga bersinar tanpa harus melukai orang lain.”

Namun surat itu, tentu saja, dibuang ke lantai tanpa disadari siapapun.

Lanjut membaca
Lanjut membaca