Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kos Kosan Basah

Kos Kosan Basah

Karya saya | Tamat
Jumlah kata
70.8K
Popular
814
Subscribe
144
Novel / Kos Kosan Basah
Kos Kosan Basah

Kos Kosan Basah

Karya saya| Tamat
Jumlah Kata
70.8K
Popular
814
Subscribe
144
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeGangsterMisteriCinta Sekolah
Cerita kali ini menggabungkan Kocaknya cerita Pacarku Mama Muda, kerasnya cerita Yoksin kota Gengster dan Mafia, dan Romansa gelap cerita flatform. Bejo dan Tiur, dua pemuda kampung yang kocak dan polos, merantau ke Yoksin City untuk kuliah. Mereka menyewa kamar di kos milik Lasti, mantan kreator dewasa yang mencoba hidup normal setelah masa lalunya yang kelam. Kehidupan mereka yang awalnya lucu dan absurd berubah kacau saat Joko, mantan kekasih Lasti yang baru keluar dari penjara, mulai meneror kos itu. Dulu ia dijebak oleh Lasti, dan kini datang untuk menuntut balas, bekerja sama dengan geng bawah tanah Yoksin Timur. Di kampus, Bejo dan Tiur bertemu Kiranti, gadis cantik namun angkuh yang ternyata putri Gino Rinto, pembunuh kartu nomor satu di Yoksin. Pertemuan pertama mereka berujung kecelakaan memalukan, membuat Kiranti membenci mereka—terutama Tiur. Tapi seiring waktu, kebencian itu berubah jadi cinta. Di tengah kejar-kejaran, tawa, dan hujan darah di kota Yoksin, Bejo dan Tiur berjuang melindungi Lasti dan Kiranti dari perang antar geng. Meski sering koplak dan salah langkah, keberanian mereka justru mengubah nasib banyak orang di kota itu.
Bab 01 Selamat Datang DiYoksin City

Kota Yoksin bukan sekadar kota besar di ujung barat negeri—ia adalah jantung gelap dari sebuah sistem yang tak terlihat oleh dunia luar. Dari jauh, Yoksin tampak indah: gedung-gedung kaca menjulang, lampu-lampu neon berkelap-kelip menghiasi malam, dan jalan raya tak pernah sepi bahkan setelah tengah malam. Tapi di balik cahaya itu, kota ini berdiri di atas darah, uang, dan ketakutan.

Yoksin adalah kota yang terisolasi secara moral dan hukum. Tidak ada berita buruk yang keluar dari sana. Media nasional hanya menyiarkan sisi glamor: kemajuan ekonomi, pariwisata, dan industri hiburan. Tapi kenyataannya, semua berita itu dikontrol oleh satu kekuatan besar yang memerintah dari balik layar — Organisasi Lima Naga.

Lima Naga bukan geng sembarangan. Mereka bukan sekadar kriminal jalanan, melainkan penguasa sah di kota yang tak pernah mengenal arti hukum. Pemerintah daerah hanyalah boneka, pejabat hanyalah pion, dan polisi hanyalah simbol tanpa taring. Di Yoksin, hukum ditulis dengan darah, dan ditandatangani dengan uang.

Yang pertama dan tertua adalah Naga Emas, sosok misterius yang kabarnya seorang Kombes Polisi, Kapolres Yoksin City. Namun tak ada yang tahu pasti siapa sosok Naga Emas itu, kecuali 4 Naga yang lain.

Wilayah Barat Yoksin dikuasai oleh Xiou Ling Sinaga barat, seorang wanita berdarah dingin sekaligus pemilik jaringan hotel dan hiburan terbesar di kota: Hotel Xiou Link, yang kini dipegang Putrinya, Xiou Be. Di depan umum, ia tampil elegan, anggun, dan terhormat. Tapi di dunia bawah, Xiou Ling dikenal sebagai “Ratu Barat” yang memerintah dengan seorang pembunuh Nomor Satu, Gino Rinto sipelempar kartu.

Naga Timur dipegang oleh Miraz, lelaki tua dengan wajah penuh bekas luka. Ia menguasai perdagangan ilegal dan pasar gelap, terutama bisnis “totto” — sistem taruhan besar-besaran yang menjadi urat nadi ekonomi kotor Yoksin. Dari perjudian sampai pembunuhan berbayar, semua mengalir lewat tangannya.

Naga Utara dipegang oleh Fu Kang, sosok muda berumur 24 tahun yang menggantikan kakeknya yang pensiun menjadi Naga Utara. Fu Kang dikenal impulsif, kejam, tapi cerdas. Ia adalah naga termuda, tapi juga paling cepat berkembang. Di bawah kekuasaannya, bisnis senjata dan narkotika menjalar ke setiap distrik utara.

Terakhir, Naga Selatan — Sutrisno, pria berkumis tebal dengan logat kampung tapi isi otak seperti ular. Ia menguasai logistik dan jalur distribusi antar wilayah. Setiap truk, kapal, atau kontainer yang keluar masuk Yoksin harus melewati izinnya. Tanpa restu Sutrisno, barang tak akan bergerak satu meter pun.

Bersama-sama, kelima naga ini membentuk lingkaran tak terlihat yang membungkus Yoksin sepenuhnya. Mereka tak hanya memegang bisnis ilegal, tapi juga mengendalikan semua media, institusi pemerintahan, bahkan universitas ternama di kota itu. Setiap wartawan, polisi, atau pejabat yang mencoba melawan, akan menghilang seperti asap.

Kota Yoksin tampak hidup — tapi sesungguhnya mati. Setiap lampu yang menyala menutupi bayangan korupsi di belakangnya. Setiap tawa di klub malam menenggelamkan jeritan seseorang yang dibungkam di lorong-lorong gelap. Dan di antara hiruk pikuk itu, dua pemuda polos dari desa—Bejo dan Tiur—akan datang tanpa tahu bahwa mereka baru saja melangkah masuk ke perut naga.

---

Motor tua milik Bejo akhirnya berhenti di depan rumah makan sederhana bertuliskan “Warung Makan”. Tiur membuka pintu dengan gaya seperti orang sukses turun dari motor sport, padahal mogok sampai harus disepak dulu baru menyala. Mereka berdua berjalan masuk dengan langkah percaya diri, padahal perut sudah keroncongan sejak subuh.

Suasana di dalam rumah makan itu ramai, tapi aneh—semua orang makan sambil diam, tak ada suara musik, hanya dentingan sendok dan tatapan mata curiga. Bejo menelan ludah. “Tiur, kau yakin ini tempat makan bukan markas preman?” Tiur menjawab santai, “Yang penting bisa makan, Jo. Preman juga lapar.”

Mereka duduk di pojokan dekat kipas angin yang bunyinya kayak burung ngerokok: krek... krek... krek... Seorang pelayan datang, pria muda dengan rambut seperti sapu ijuk. Ia berdiri sambil membawa buku catatan lusuh. “Pesan apa, mas?” tanyanya dengan nada malas.

Tiur menatap pelayan itu dalam-dalam lalu berkata serius, “Pak, bapak pernah jumpa orang kesini pesan semen satu sak?” Pelayan itu langsung bingung. “Hah? Maksudnya?” Tiur menjawab santai, “Kami mau makan makanya kesini, pakek nanya lagi.”

Bejo, yang sedari tadi menahan tawa, ikut menimpali, “Iya mas, kami lapar, tapi jangan semen ya, kami pesan nasi, dua piring. Kalau bisa jangan yang kemarin punya orang.”

Pelayan memutar bola matanya dengan kesal. “Dua nasi, dua lauk,!” gumamnya sambil pergi ke dapur. Tiur menatap Bejo sambil berkata, “Kau lihat? Pelayanan Yoksin kelas tinggi, gak jauh beda sama warung bang Cuplik.”

Sambil menunggu makanan, Bejo membuka obrolan serius. “Kau dengar gak, Tiur, katanya di kota ini ada pembunuh nomor satu. Namanya sipelempar kartu.” Tiur menelan ludah. “Pe—pelempar kartu? Kayak magician gitu?” Bejo mengangguk. “Iya, tapi bukan kartu tarot, Tiur. Kartu remi. Katanya, kalau kartunya nempel di dahi orang, orang itu langsung mati sebelum tahu dia kalah judi.”

Tiur bergidik. “Waduh, ngeri kali. Tapi keren juga, bisa bunuh orang cuma pakai kartu. Aku aja lempar cicak pakai sandal gak pernah kena.”

Obrolan mereka sempat membuat pelanggan lain melirik curiga. Bejo menurunkan suaranya. “Katanya dia punya dua istri. Pertama seorang pembunuh pelempar pisau. satu lagi pemilik hotel bintang 7 Tiur.”

Tiur langsung meletakkan sendok yang baru datang. “Dua istri? Hebat juga dia?” Bejo menepuk dahinya. “Bener juga, Tiur. Padahal kita satu aja gak bener.”

Tiur mendengus. “Ah, kalau gitu aku juga belajar kartu remi, biar sekar suka samaku.”

Mendengar itu bejo tepuk jidat "Aduh tiur, tante sekar udah istri orang, asal ngomong aja loh"

Makanan datang, dua piring nasi dengan lauk seadanya. Mereka makan dengan lahap seperti orang yang baru lolos dari kelaparan tujuh hari. Namun begitu selesai, Bejo menepuk saku celananya—kosong. Tiur ikut merogoh dompetnya—juga kosong. Mereka saling pandang seperti dua maling yang baru sadar lupa rencana.

“Jo…”

“Iya, Tiur?”

“Uang kita tinggal buat bensin pulang.”

“Kalau gitu kita pura-pura sakit perut, terus kabur.”

Namun rencana itu gagal total karena pelayan sudah berdiri di belakang mereka dengan senyum menyeramkan. Bejo berbisik, “Tiur, aku rasa ini bukan restoran biasa… ini jebakan.”

Dan benar saja—ketika mereka mencoba berdiri pelan, pemilik warung sudah menunggu di depan pintu dengan wajah garang, tangan berotot memegang centong nasi seperti senjata.

Begitulah awal petualangan Bejo dan Tiur di Yoksin City: baru datang, belum daftar kuliah, sudah dapat bogem pertama.

---

Bejo dan Tiur berdiri kaku di depan kasir. Di hadapan mereka, pemilik warung—seorang pria tambun dengan kumis tebal melengkung seperti bulan sabit—menatap tajam. Di dadanya tertulis nama di papan kecil: “Bang Dul – Bos Bahagia Tapi Mahal.” Namun dari wajahnya, kebahagiaan itu tak terlihat sama sekali.

“Jadi,” kata Bang Dul dengan nada datar tapi menggetarkan, “kalian mau kabur setelah makan di tempat saya?”

Bejo mencoba tersenyum kaku. “Enggak, Bang, kami cuma mau tes refleks… siapa tahu di Yoksin City ini refleksnya warga bagus-bagus.”

Tiur cepat menimpali, “Iya, Bang, kami bukan mau kabur, kami cuma… mau nyari sinyal biar bisa transfer uang.”

Bang Dul mengangkat alisnya. “Sinyal? Di luar juga sinyal, bukan jalan tol.” Ia menepuk meja, membuat sendok dan piring berguncang. “Uangnya mana?”

Bejo mulai panik, menepuk-nepuk semua saku seperti pesulap kehilangan kartu. “Aduh, Bang, dompetku kayaknya ketinggalan di tempat parkir.”

Bang Dul memicingkan mata. “Tempat parkir? Motor kalian aja gak punya plat bagadi, gimana mau letak dompet?”

Suasana mendadak tegang. Pelayan yang tadi kesal sekarang berdiri di belakang, membawa sendok sayur besar seperti tongkat komando. Bejo menelan ludah. Tiur berbisik, “Jo, aku rasa ini bukan warung, ini tempat latihan bela diri.”

Bejo mendengus pelan, “Diam, Tiur, jaga harga diri.”

Dengan wajah memelas, Bejo akhirnya mencoba pendekatan damai. “Bang, begini aja, kami bayar pakai jasa. Kami cuci piring, bersih-bersih warung, sekalian bikin nama warung abang viral di medsos.”

Bang Dul mendengus. “Kalian pikir ini sinetron sore? Di sini gak ada cuci piring buat bayar makan. Ini Yoksin, bukan dunia mimpi.”

Tiur mencoba negosiasi terakhir. “Bang, setidaknya kasih kami diskon mahasiswa.”

Bang Dul tertawa pendek. “Gak ada, Lagian Gua udah kesel deluan sama kalian! ayo bayar!”

Tanpa banyak basa-basi, Bang Dul memberi isyarat tangan. Dua pegawainya langsung maju seperti bodyguard. Bejo dan Tiur refleks mundur, tapi kursi di belakang mereka roboh, membuat keduanya jatuh bersamaan.

Pegawai pertama menarik Bejo, pegawai kedua mencengkeram kerah Tiur. “Bang, mau diapain?” tanya salah satu.

Bang Dul menjawab tenang, “Lempar keluar. Biar angin yang jadi saksi.”

Bejo dan Tiur berteriak bersamaan saat tubuh mereka dilempar keluar warung. Mereka mendarat dengan gaya “bintang jatuh” di jalan tanah berdebu. Satu sandal Bejo terbang entah ke mana, sementara Tiur masih memegang sendok dari dalam warung tanpa sadar.

“Tiur…” desah Bejo sambil menatap langit. “Aku rasa tadi sendoknya bisa kita jual buat bayar nasi.”

Tiur, masih meringis, menjawab, “Jo, aku rasa hidup di Yoksin City bakal panjang kalau kita kuat perut.”

Bejo menatap warung yang baru saja menendang mereka keluar. “Kau lihat, Tiur? Itulah kota Yoksin. Belum juga kita kenal, udah dikasih pelajaran ekonomi: makan dulu, bayar belakangan, dan kalau gak bisa bayar—makan bogem.”

Keduanya bangkit perlahan, menepuk-nepuk debu di baju lusuh mereka. Bejo menatap ke arah papan besar bertuliskan “Selamat Datang di Yoksin City – Kota Penuh Kesempatan.”

Ia mendengus. “Kesempatan apanya? Kesempatan ditampar mungkin.”

Tiur menepuk pundaknya. “Tenang Jo, petualangan baru dimulai. Kalau makan aja bisa berantem, aku gak sabar nunggu kuliahnya.”

Keduanya berjalan tertatih menuju arah kampus sambil menahan perih di pipi, tapi tetap tertawa. Di belakang mereka, pelayan warung meneriakkan, “Lain kali bawa duit, bukan alasan!”

Dan begitulah—hari pertama Bejo dan Tiur di Yoksin City ditutup dengan perut kenyang, dompet kosong, dan pipi bengkak. Sebuah pembukaan yang sempurna untuk dua pemuda koplak yang akan menantang kota paling gila di dunia.

Lanjut membaca
Lanjut membaca