Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Son Of Beast

Son Of Beast

Mister Mastris | Bersambung
Jumlah kata
128.1K
Popular
257
Subscribe
73
Novel / Son Of Beast
Son Of Beast

Son Of Beast

Mister Mastris| Bersambung
Jumlah Kata
128.1K
Popular
257
Subscribe
73
Sinopsis
18+PerkotaanSekolahGangsterMafiaBela Diri
Sakti merupakan anak SMA yang dibesarkan oleh seorang aggota Mafia bernama Aldo setelah ibunya terbunuh. Aldo mengajarinya beladiri namun melarang Sakti untuk berkelahi di sekolah. Namun kenyataan kadang diluar kendali meski kadang Sakti mencoba tidak berkelahi karena melindungi kawannya dari pembulian. Hingga puncaknya Sakti melangkah terlalu jauh, dia harus melawan seorang bandit besar narkoba yang hendak memperalat kawannya.
Hidup Dengan Rahasia

Alarm ponsel meraung pukul 04.00. Di kamar gelap itu seorang remaja menggeliat, lalu duduk tegak di ranjang besarnya. Tanpa banyak drama, dia bangkit dan menyalakan lampu.

Anak seusianya biasanya masih tenggelam di mimpi atau butuh dibangunkan setengah mati. Remaja ini tidak. Ritme hidupnya sudah teratur seperti jam yang tidak pernah telat. Bahkan kadang dia bangun sebelum alarm sempat bicara.

Dengan celana pendek dan dada telanjang, dia berjalan ke ruang tengah sambil menguap panjang. Setelah itu, dia kembali ke kamar, mengambil handuk, lalu mengaitkannya di bahu kanan. Pada bahu itu ada bekas luka bulat, cekungan kecil yang jelas bukan goresan biasa. Seperti bekas tembusan peluru.

Air memenuhi bak, suara gemericiknya memecah hening subuh. Remaja 17 tahun itu melepas pakaiannya, lalu masuk dan mengguyur tubuhnya. Air menuruni kulitnya, bercampur busa sabun yang ia usapkan cepat di dua telapak tangan. Gerakannya ringkas, seperti seseorang yang sudah terbiasa memulai hari tanpa banyak keluhan.

Beberapa menit kemudian pintu kamar mandi terbuka. Rambutnya masih basah, dia mengibas-ngibaskannya dengan telapak tangan sambil berjalan keluar. Dari kamar terdengar ponsel berdering, tapi dia tidak menoleh. Dia malah menuju dapur, membuka rice cooker, dan mulai menakar beras.

Ponsel kembali berdering, lebih lama dari sebelumnya. Namun dia tetap membiarkannya seolah berkata tegas " sabar".

Lampu rice cooker menyala merah, tanda nasi sedang dimasak. Setelah memastikan itu, dia berjalan cepat menuju dering ponsel di kamar. Di layar tertulis satu nama: My Enemy. Dia langsung menolak panggilan itu.

"Aku sudah bangun dari jam empat tadi," katanya lewat voice note, lalu melempar ponsel ke kasur.

Dia membuka lemari, mengambil kaos dalam, celana dalam, dan celana abu-abu SMA. Ponselnya kembali berbunyi, tanda ada pesan masuk. Dia meraihnya dan membuka isi chat dari My Enemy.

"Don't lie, kau pasti baru bangun."

"Kau terlalu lambat, bocah."

Sudut bibirnya terangkat. Dia mengambil posisi selfie, memotret dirinya, lalu mengirimkannya balik.

"Tadi mandi, langsung masak," tulisnya sebagai caption. Setelah itu dia kembali melangkah menuju dapur.

"Kau kapan pulang Do?" tanya Remaja itu pada My Enemy setelah beberapa kali berkirim pesan.

"Sepertinya besok sore Sak, aku di pulau seberang" Balas My Enemy beberapa menit kemudian saat remaja itu memasukkan bumbu nasi goreng di atas kuali.

"Kau nggak ngajak kawan-kawanmu pesta kerumah kan Sakti" ucap My Enemy lagi.

"Nggak do tenang aja" ucap remaja itu yang rupanya bernama Sakti.

"Ok, kalau sabtu malam minggu terserah, jangan ajak kawan-kawanmu menginap kalau besok sekolah" balas My Enemy yang bernama Aldo.

"Siap papa Aldo" jawab Sakti sambil mengirim emot senyum.

Adzan subuh sudah selesai berkumandang setengah jam lalu. Jalanan perumahan tempat Sakti tinggal mulai terang, disapu cahaya matahari pagi yang belum muncul sepenuhnya. Remaja itu sudah berpakaian rapi dengan seragam SMA, seperti biasa siap berangkat lebih awal. Ia memang selalu pergi pukul 05.30 untuk menghindari macet gila kota itu.

Sakti merapikan barang-barangnya, menyalakan motor matic, lalu mengenakan jaket hoodie merah kesayangannya. Tanpa banyak pikir, dia meninggalkan rumah dan melaju menuju sekolah, menembus jalanan pagi yang masih lengang.

Hanya butuh lima belas menit bagi Sakti untuk tiba di sekolahnya yang masih sepi. Bahkan satpam sekolah belum terlihat bangun. Gerbang dibiarkan setengah terbuka, seperti tempat itu belum siap menerima siapa pun.

Sakti membelok ke warung kecil di samping sekolah, tempat ia biasa menunggu bel pagi. Meski tidak merokok, ritual wajibnya selalu sama: kopi hitam panas, minuman favorit yang diturunkan ayah angkatnya, Aldo.

“Biasa ya, Sak? Kopi hitam,” ucap Bu Yuli sambil mengambil gelas.

“Iya, Buk,” jawab Sakti singkat. Helm ditaruh di meja, ponsel dibuka, dan dunia terasa sedikit lebih masuk akal.

Tak lama kemudian kopi disuguhkan. Aroma pahitnya langsung naik, memukul kantuk dari wajah Sakti. Ia menyeruputnya tanpa basa-basi. Sruputannya sampai menggaung, membuat siapa pun yang mendengarnya paham dia sedang benar-benar menikmati minuman itu.

“Tumben ada anak berangkat sepagi ini selain kamu, Sak,” ucap Pak De, suami Bu Yuli, sambil mengintip ke kejauhan.

“Hah? Siapa? Mana?” Sakti mendongak malas.

“Itu, kenal nggak kau?” Pak De mengerinyitkan mata, menunjuk ke arah seorang siswa yang sedang berdiri dengan dua orang dewasa dekat gerobak gorengan.

Sakti menoleh. “Itu Fajar, kan, Pak De?”

“Kalau itu Fajar, aneh benar dia sepagi ini. Biasanya jam tujuh kurang aja belum masuk,” gumam Pak De, masih memicingkan mata.

Sakti kembali fokus ke kopinya. Dia memang tidak suka Fajar. Siswa itu tukang bully, sok jagoan, dan secara umum menyebalkan. Lebih baik scroll TikTok daripada peduli.

“Aduh, Sak… eh lihat tuh, kayaknya berantem,” seru Pak De lagi.

Sakti akhirnya menoleh. Kali ini pandangannya langsung serius. Dari jarak sekitar 100 meter, ia melihat salah satu pria itu memegangi kerah Fajar. Pipi Fajar ditepuk-tepuk sambil mulut pria itu bergerak cepat, entah mengancam atau menegur.

Awalnya Sakti menduga itu hanya kakak korban bully yang menuntut balas. Namun dugaan itu runtuh begitu si pria mengeluarkan pisau kecil dari balik jaket, mengacungkannya tepat di depan wajah Fajar.

“Pak De, saya lihat dulu,” ujar Sakti cepat, meninggalkan kursi dan melangkah menuju sumber keributan.

Sakti melangkah menembus embun pagi perkotaan yang rasanya jauh dari sejuk, tidak seperti embun Cirebon atau Brastagi yang pernah ia kunjungi bersama Aldo. Napasnya berembus kecil, tapi langkahnya mantap saat ia mendekati Fajar yang jelas-jelas sedang dalam situasi buruk.

Kehadirannya membuat dua pemuda berjaket hoodie menoleh bersamaan. Pria yang sebelumnya mengacungkan pisau langsung menarik kembali senjata itu dan menyelipkannya ke dalam kantong hoodie.

“Ada apa, Jar?” tanya Sakti datar, berhenti sekitar empat meter dari mereka.

“Ah, nggak ada apa-apa. Ngapain kau ke sini?” Fajar membalas dengan nada ketus seperti biasa.

Sakti menatap dua pemuda itu satu per satu, memastikan wajah mereka terekam jelas dalam ingatannya.

“Liat apa kau?” bentak salah satu dari mereka.

“Ngancam anak sekolah pakai pisau, bawa kawan segala. Tolonglah, standar malu dikit,” ujar Sakti.

“Bukan urusanmu,” dengus pria yang memakai hoodie hitam tadi. “Pergi.”

Kerah Fajar sudah dilepas. Bocah itu terlihat panik, tapi gengsinya lebih tebal dari nyalinya.

“Aku nggak apa-apa. Pergi kau!” hardik Fajar, seolah marah hanya karena disaksikan Sakti dalam keadaan lemah.

“Oke,” sahut Sakti sambil memutar badan. Tidak ada gunanya memaksa membantu orang yang bahkan hidupnya sendiri menyebalkan.

Ia baru berjalan beberapa langkah ketika suara itu terdengar jelas.

“Ini harus sampai. Aku tunggu hasilnya nanti malam.”

Nada ancaman itu tepat berada di belakang. Sakti tidak menoleh. Dia tahu omongan seperti itu biasanya berujung sesuatu yang buruk, tapi dia menahan diri.

“Bang, saya nggak berani lagi. Ini makin banyak…” suara Fajar bergetar, bukan gaya sok-sokan yang biasa.

Sakti berhenti. Kepalanya sedikit menoleh.

“Sudah. Terima saja. Kau tetap dapat komisi nanti,” paksa pria itu, menyelipkan sesuatu ke saku bomber Fajar.

Fajar menepis tangan pria itu. Saling dorong terjadi, tidak kuat atau keras, tapi cemas. Barang itu jatuh dari dalam plastik hitam, kantongnya terbuka lebar. Dua bungkus plastik bening berisi serbuk putih terlempar keluar dan jatuh ke tanah.

Sakti membalikkan badan sepenuhnya kali ini.

Benda itu terlalu familiar. Terlalu berbahaya. Dan terlalu jauh dari batas masalah yang bisa dibiarkan begitu saja.

Bodoh!” hardik orang itu sambil meninju Fajar.

“Hey!” teriak Sakti.

Dua orang ber-hoodie dan bermasker itu buru-buru memunguti barang mengerikan tadi dan memasukkannya kembali ke plastik hitam.

“Kau bocah bangsat!” bentak salah satu dari mereka pada Sakti.

“Aku teriak kalau kalian mendekat. Satpam sekolah bakal dengar, orang-orang yang jualan sini juga bakal dengar,” ujar Sakti mengancam.

Barang yang jatuh akhirnya berhasil mereka amankan, dan tanpa berlama-lama keduanya bergegas pergi. Fajar masih tertunduk, memegangi bibirnya yang pecah.

“Awas kau, Fajar. Urusan kita belum selesai,” ucap salah satu dari mereka sambil menunjuk tajam ke arahnya.

“Kau juga, bocah. Kutandai wajahmu,” tambahnya sebelum motor mereka melaju pergi dari lokasi.

Fajar berjalan mendekati Sakti, memasang lagi wajah angkuhnya. “Mengapa kau kemari, bangsat. Kau membuat masalah semakin runyam,” katanya ketus.

“Oh, terima kasih Fajar yang hebat. Terima kasih,” sahut Sakti sambil tersenyum dan menggeleng pelan.

“Kalau kejadian tadi sampai bocor, kepalamu akan kubuat bocor juga,” ancam Fajar, matanya masih bergetar sisa takut.

Sakti cuma tersenyum sinis, malas menanggapi. Dia berbalik dan meninggalkan Fajar, kembali menuju warung Bu Yuli. Aroma kopi yang masih tersisa dari gelasnya terasa seperti pelarian kecil dari drama pagi itu.

Saat melangkah, pikirannya mulai menyimpang ke hal yang tidak pernah ia ucapkan pada siapa pun. Bagaimana kalau satu sekolah tahu bahwa Aldo, ayah angkatnya, adalah anggota mafia besar di negeri ini. Orang yang biasa mengeksekusi lawan bisnis bosnya tanpa banyak bicara. Jangankan Fajar, dua orang berhoodie tadi pun mungkin sudah gemetar kalau tahu siapa yang membesarkannya.

Sakti tersenyum sendiri, membayangkan wajah-wajah mereka kalau rahasia itu terbongkar. Tidak ada yang tahu bahwa ia sejak kecil dilatih berbagai bela diri oleh Aldo, atau kenyataan pahit bahwa mafia yang membesarkannya adalah orang yang terlibat dalam pembunuhan ibunya sendiri.

Lanjut membaca
Lanjut membaca