

Langit sore mulai gelap. Bau tanah bercampur dengan bau darah memenuhi area lapangan kosong di belakang sekolah itu. Di tanah yang becek, seorang pemuda kurus terbaring dengan wajah babak belur dan tubuh penuh luka.
Pelipisnya sobek, darah mengalir pelan. Namun matanya perlahan terbuka, menatap samar beberapa bayangan yang berdiri mengelilinginya.
“Ha! Ha! Ha! Ha! Ha!”
Terdengar suara tawa menghina dari sekumpulan pemuda berseragam sekolah yang menatapnya dengan tatapan merendahkan.
“Hei, lihat deh, si culun ini masih hidup ternyata,” ejek seorang pemuda berambut gondrong dengan senyum sinis di wajahnya. Namanya Boni. Dia menendang kaki Rafi pelan, sekadar memastikan tubuh itu masih bergerak.
Rafi mengerjapkan matanya. Telinganya masih berdenging. Kepalanya pusing, tapi kesadarannya perlahan kembali.
“Rupanya si culun ini masih sanggup buka mata, ya?” Boni tertawa lagi sambil meludah di dekat wajah Rafi. Beberapa temannya ikut terkekeh.
Tawa mereka terhenti saat seorang pemuda bertubuh besar melangkah maju sambil membawa balok kayu yang tadi tergeletak di samping lapangan. Dia adalah Galang, pemimpin kelompok itu.
“Biar aku yang pastikan dia nggak bakal bisa buka mata lagi setelah ini,” kata Galang dengan suara datar.
Galang mengangkat balok kayu itu tinggi-tinggi, siap menghantam kepala Rafi tanpa ragu. Beberapa temannya mundur sedikit, takut terkena cipratan darah.
Tapi, sebelum balok itu sempat turun, tiba-tiba terdengar suara keras.
Bruk!
Tak lama suara itu disertai hentakan tanah. Balok itu berhenti di udara. Galang menoleh ke bawah dan matanya membulat.
Tangan Rafi yang tadi gemetar tak berdaya sekarang menahan balok itu dengan kuat. Perlahan, kepalanya menoleh menatap Galang dengan tatapan tajam dan dingin. Mata hitamnya menatap lurus, tanpa sedikit pun rasa takut.
“Apa, yang kau .…” Galang belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
Dengan gerakan cepat, Rafi bangkit sambil memutar balok itu, lalu mengayunkannya keras ke arah Galang.
Bugh!
Balok itu menghantam perut Galang. Tubuh besar itu terangkat sedikit sebelum jatuh terduduk sambil terbatuk hebat.
Semua pemuda di sekitarnya menatap dengan wajah pucat. Mereka bahkan tidak bisa bergerak atau berkata apa pun. Yang mereka lihat hanya Rafi berdiri pelan, memegang balok dengan satu tangan, sementara wajahnya yang babak belur kini terlihat menakutkan.
Suara batuk Galang terdengar berat, napasnya terengah-engah sambil menahan sakit di perut. Dia memegangi perutnya sambil meringis kesakitan.
“Galang!” seru Boni dengan panik, lalu menatap Rafi dengan tatapan tidak percaya. “B—bagaimana bisa, si culun ini .…”
Tatapan Rafi menelusuri satu per satu wajah mereka, tidak memperdulikan ucapan Boni. Suaranya terdengar pelan, namun tajam seperti pisau.
“Siapa berikutnya?”
Tak ada yang berani menjawab.
Rafi menarik napas pelan, tatapan mata seorang jenderal perang muncul di mata bocah culun itu, tatapan dingin milik seseorang yang terbiasa mengambil nyawa tanpa berkedip.
Galang mengangkat wajahnya menatap Rafi dengan mata merah penuh amarah.
“Kau berani melawanku, hah?!” teriak Galang serak. “Hajar dia! Biar dia nggak bisa jalan lagi!”
Boni dan beberapa pemuda lain menelan ludah. Meski takut, mereka maju perlahan mendekati Rafi.
Rafi menarik napas dalam. Tubuhnya memang lemah, tapi tatapannya tidak berubah. Dingin dan tajam. Sebelah tangannya mencengkram balok kayu itu, bersiap jika mereka menyerang bersamaan.
Tapi sebelum Boni dan yang lain sempat bergerak, tiba-tiba terdengar suara sirine polisi mendekat dari ujung jalan.
Boni dan teman-temannya langsung berhenti bergerak. Wajah mereka berubah panik.
“Sial, polisi datang!” kata salah satu dari mereka sambil menoleh ke arah jalan masuk lapangan.
“Cepat bawa Galang!” seru Boni.
Dua orang pemuda langsung membantu Galang berdiri. Galang meringis menahan sakit sambil menatap Rafi tajam.
“Kali ini kau kubiarkan bebas, sialan,” desis Galang pelan dengan suara penuh kebencian. “Tunggu balasanku, aku pastikan kau bakal nyesel lahir di dunia ini.”
Setelah mengucapkan itu, Galang dibopong pergi. Boni dan yang lain berlari tergesa-gesa meninggalkan Rafi sendirian di lapangan yang kini hanya diisi suara sirine semakin mendekat.
Rafi menatap punggung mereka menghilang sambil menahan sakit di kepalanya. Napasnya berat. Balok di tangannya jatuh menimbulkan suara di tanah becek.
Dia menutup matanya pelan, suara jantungnya terdengar keras di telinganya. Dalam kegelapan matanya yang terpejam, samar terdengar suara tawa seseorang bukan tawa Galang ataupun Boni, melainkan suara yang asing baginya.
“Bagus. Tubuh lemah ini masih bisa bertahan.” Rafi terjatuh di tanah yang becek karena tak kuat menahan tubuhnya yang lemah.
Pemuda culun itu kemudian menatap langit yang mulai gelap. Kepalanya semakin pusing, penglihatannya buram. Perlahan dia mencoba berdiri, bertumpu pada balok kayu yang dilemparnya tadi. Lututnya gemetar menahan sakit.
Saat jemarinya meraba tanah untuk menopang diri, tiba-tiba dia merasakan sesuatu di tangannya. Permukaan dingin dan keras melingkar di jarinya.
Cincin?
Dia menunduk pelan. Di jari tengah kanannya kini melingkar sebuah cincin hitam berukir pola naga, cincin yang sangat familiar baginya.
“Ini, cincin dimensiku,” gumam Rafi pelan. Matanya membulat, sorot tajam yang pernah menggetarkan medan perang perlahan kembali muncul di sana.
Sebelum Rafi sempat memeriksa lebih jauh, suara langkah kaki cepat terdengar semakin dekat dari arah samping sekolah yang hanya dihalangi dinding. Suara beberapa polisi yang berteriak memanggil rekan mereka bergema di pinggir lapangan.
“Cepat ke sini! Sepertinya perkelahian itu ada di dekat sini!”
Rafi menoleh pelan ke arah asal suara. Dengan napas yang tidak beraturan, meski dia belum paham sistem dunia ini, tapi dia merasa tak boleh tertangkap sekarang. Tatapannya menajam. Dalam hati kecilnya terdengar suara dingin yang berat.
“Tubuh ini belum siap menghadapi mereka.”
Dengan sisa tenaganya, Rafi menutup matanya rapat. Seketika udara di sekitarnya bergetar ringan, lalu tubuhnya menghilang begitu saja di antara kegelapan sore.
Tak lama, dua orang polisi berlari memasuki lapangan. Mereka tertegun saat melihat kondisi tanah yang berantakan, darah yang tercecer di sana-sini, serta balok kayu yang tergeletak.
“Sial, sudah terlambat,” gumam salah satu polisi sambil menoleh pada rekannya. “Tidak ada siapa-siapa di sini. Tapi jelas ada perkelahian besar barusan.”
Rekannya mengerutkan kening. “Cepat hubungi markas. Kita perlu cek CCTV sekitar sini.”
Mereka berdua menatap lapangan kosong itu dengan wajah serius.
*
Brugh!
Tubuh Rafi terjatuh keras di atas tanah berumput lembut. Suara dedaunan bergesekan pelan terdengar di telinganya yang masih berdenging. Dengan susah payah dia menahan diri agar tidak pingsan.
Dia mengerjapkan matanya perlahan, menatap langit jingga yang dipenuhi awan putih tipis. Aroma tanah, embun, dan angin yang segar menenangkan paru-parunya yang sesak.
Di sekelilingnya, pepohonan hijau menjulang tinggi dengan batang besar berlumut, mengelilingi sungai spiritual bening yang airnya memantulkan cahaya bintang di atasnya meski hari belum malam. Ikan-ikan kecil berwarna keperakan berenang cepat di airnya, memancarkan aura kehidupan yang menenangkan jiwa.
Rafi menarik napas panjang, menahan rasa sakit di tubuhnya sambil berbisik pelan.
“Tempat ini, tidak berubah sedikit pun.”
Dengan langkah tertatih, dia bangkit berdiri. Lututnya bergetar menahan sakit, namun tatapannya tetap dingin dan tajam. Dia menapaki tanah lembut itu pelan, berjalan menyusuri jalan setapak batu putih yang menuju sebuah rumah kayu besar di tengah hutan.
Rumah itu berdiri kokoh di atas pondasi batu hitam, dengan pilar-pilar kayu berukir naga dan burung phoenix saling melilit. Atapnya dari batu giok hijau tua, memantulkan sinar lembut matahari senja yang hampir tenggelam.
Rafi membuka pintu rumah itu perlahan. Udara di dalamnya hangat dan harum kayu cendana. Rak-rak kayu penuh gulungan kitab, botol-botol ramuan, serta senjata berkilau memenuhi dindingnya.
Dia berjalan pelan ke tengah ruangan. Tatapannya tertuju pada cermin besar di samping rak kitab. Refleksi dirinya terlihat di sana seorang pemuda kurus dengan wajah babak belur penuh luka dan darah kering.
Dia mengepalkan tangannya pelan, menatap wajah pucat itu dengan sorot mata yang berubah dingin.
“Tubuh lemah, tapi setidaknya, tempat ini tetap ada bersamaku,” gumamnya pelan. Suaranya berat, dingin, dan mengandung wibawa yang menakutkan.
Dia mengusap cincin hitam di jarinya dengan jemari bergetar.
“Kaelzar,” panggilnya pada dirinya sendiri, suara itu terdengar menembus sunyi ruangan.
Jiwa yang ada di tubuh itu merupakan Jenderal besar yang menaklukkan benua namin tewas karena dikhianati oleh tangan kanannya sendiri, dan kini terjebak di tubuh bocah lemah yang bernama Rafi.
Kaelzar atau kita panggil Rafi, kini menatap sekeliling rumah kayu itu, menatap rak kitab strategi perangnya, senjata-senjata terkuat yang pernah ia gunakan, hingga botol ramuan spiritual yang berkilau.
“Dunia kecil ini, ruang dimensiku.” katanya pelan dengan senyum tipis yang samar.
Tatapannya menajam saat menatap cermin di depannya. Mata hitam itu memancarkan aura kegelapan dan kekuatan yang menakutkan.
“Baiklah, jika takdir memberiku kesempatan kedua,” gumamnya pelan, suaranya bergema menakutkan di ruangan sunyi itu, “Maka akan kupastikan dunia ini berlutut di bawah kakiku.”