Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Mahkota Dendam Sang Pewaris

Mahkota Dendam Sang Pewaris

Piaaa | Bersambung
Jumlah kata
83.1K
Popular
293
Subscribe
114
Novel / Mahkota Dendam Sang Pewaris
Mahkota Dendam Sang Pewaris

Mahkota Dendam Sang Pewaris

Piaaa| Bersambung
Jumlah Kata
83.1K
Popular
293
Subscribe
114
Sinopsis
PerkotaanAksiKonglomeratBalas DendamUrban
Arjuna seorang pewaris tunggal dari konglomerat terkemuka diusir secara kejam dari keluarganya setelah dijebak oleh Paman dan sepupunya sendiri, memaksanya untuk memulai hidup dari nol di jalanan, sebelum akhirnya ia kembali bertahun-tahun kemudian sebagai pengusaha sukses yang siap merebut kembali takhta dan membalas dendam.
Bab 1 Jatuhnya Mahkota

Arjuna, berdiri di balkon VIP, menyesap single malt-nya. Ia melihat Bima dan Rangga berbisik intens di sudut yang remang-remang, diapit oleh beberapa anggota dewan direksi yang usianya sebaya dengan Bima.

Rangga sesekali tertawa kecil, tawa yang terdengar canggung dan dipaksakan.

Pandangan mereka sesekali mencuri pandang ke arah Arjuna, seperti predator yang mengintai mangsa.

Di tengah keramaian yang bergetar karena musik dan percakapan bisnis, matanya mencari satu sosok yang selalu menjadi penenangnya.

Ia melihat Kirana, yang kini menjabat sebagai manajer senior yang sedang menanjak di Departemen Hukum. Kecantikannya yang anggun memancarkan pesona di tengah kekacauan Winata Group.

Mereka bertemu di sebuah proyek restrukturisasi besar dua tahun lalu.

Arjuna menghargai pandangan Kirana yang jujur dan tak memihak, kualitas langka di lingkungan korporat yang penuh penjilat. Ia tahu, di mata Kirana, ia hanyalah Arjuna, bukan 'Cucu Patriark'.

Ketika mata mereka bertemu melintasi kerumunan, Kirana memberinya anggukan kecil dan senyum meyakinkan yang tidak menjanjikan kemudahan, melainkan kekuatan.

Senyum itu seolah berkata, "Semua akan baik-baik saja, selama kamu fokus pada apa yang benar."

Jantung Arjuna terasa sedikit lebih ringan. Ia berencana meminta Kirana menemaninya ke luar kota akhir pekan depan, menjauh dari toxic Winata Tower.

Tiba-tiba, suasana di ballroom berubah drastis, seolah-olah seseorang telah mematikan tombol volume.

Musik orkestra yang riang mendadak terpotong, digantikan oleh suara kerumunan yang tertahan.

Arjuna melihat ke lantai dansa utama.

Kakek Hardiman, sang patriark, yang sesaat sebelumnya masih berdansa dengan seorang diplomat asing dengan semangat masa muda yang menolak tua, kini terhuyung.

Hardiman Winata jatuh.

Detak jantung Arjuna seakan berhenti. Dunia yang bergerak lambat sejenak itu terasa seperti kiamat yang datang secara personal.

Kerumunan berhamburan dalam kepanikan terorganisir, manajer keamanan bergegas mendekat, sementara staf medis hotel segera bergerak.

Arjuna berlari secepat yang ia bisa, jas mahalnya terasa berat. Ia mendorong orang-orang, fokusnya hanya pada sosok tua yang terbaring tak berdaya di lantai dansa yang berkilauan.

Saat ia mencapai perimeter kerumunan, ia menangkap momen yang mengunci napasnya. Di seberang kerumunan yang panik, di tengah kekacauan, Arjuna menangkap kilatan aneh di mata Bima bukan kesedihan, bukan kejutan, melainkan sebuah antisipasi dingin yang nyaris tak tertahankan, sebuah rasa lega yang tersembunyi dengan buruk.

Itu adalah pandangan seorang pria yang baru saja melihat penghalang terakhir menuju kekuasaan runtuh.

Rangga di sampingnya bahkan terlihat tidak berusaha menyembunyikan senyum tipis kemenangan.

"Kakek!" Arjuna berlutut, memegang tangan Kakek Hardiman yang dingin. Ia merasakan denyut nadi yang sangat lemah, sebuah benang kehidupan yang hampir putus.

Malam itu, di tengah dentuman sirene ambulans yang melarikan Hardiman Winata ke rumah sakit terbaik yang dimilikinya sendiri, sang pendiri dinasti Winata meninggal.

Diagnosa resminya adalah serangan jantung mendadak. Namun, bagi Arjuna, itu terasa seperti deklarasi perang yang dingin.

Dunia Arjuna, yang selama ini tertata sempurna di bawah perlindungan dan bimbingan Hardiman, baru saja kehilangan fondasi terkuatnya.

Mahkota itu kini telah jatuh sepenuhnya ke tangannya, tetapi pada saat yang sama, ia merasa paling rentan. Ia tidak hanya kehilangan seorang kakek yang dicintai, tetapi ia juga kehilangan tameng terkuatnya di hadapan dua serigala yang kini siap menerkam dan merobek kerajaan itu menjadi berkeping-keping.

Arjuna kembali ke Winata Tower pada pukul tiga pagi.

Udara pagi yang dingin terasa menusuk, tetapi hatinya terasa lebih dingin. Ia menuju ruang kerja Kakek Hardiman, sebuah ruangan yang dijaga ketat dan belum tersentuh.

Bau cerutu mahal dan kertas tua masih terasa kuat.

Di tengah meja mahoni, di bawah lampu baca yang menyala otomatis, sebuah amplop putih tergeletak. Di atasnya, tertulis dengan tulisan tangan Hardiman yang berwibawa, "Untuk Arjuna, saat Aku Pergi."

Arjuna membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada dua lembar, surat wasiat sementara yang menyatakan bahwa semua saham hak suara perusahaan akan dipegang oleh Komite Eksekutif yang diketuai oleh Arjuna sampai wasiat utama dibacakan dan lembar kedua, yang hanya berisi satu kalimat yang ditulis dengan pena tebal.

"Mereka akan menyerang sebelum jenazahku dingin, Jun. Buktikan bahwa kamu adalah darah Winata yang sesungguhnya."

Saat fajar menyingsing di atas Jakarta, mewarnai langit dengan warna merah darah dan emas—warna yang sama dengan logo Winata Group Arjuna mengerti. Kakeknya sudah tahu.

Kakeknya sengaja membiarkannya berdiri sendiri, mewariskan bukan hanya perusahaan, tetapi juga sebuah medan perang.

Ia harus bertindak cepat.

Wasiat utama akan dibacakan dalam 72 jam. Itu berarti ia hanya punya tiga hari untuk mengamankan loyalitas kunci, memblokir manuver Bima dan Rangga, dan, yang terpenting, menemukan apakah kematian kakeknya benar-benar hanya kecelakaan.

Ponselnya berdering. Nama "Kirana" muncul di layar.

"Aku sudah dengar," suara Kirana terdengar rendah, tetapi tegas.

"Aku datang ke tower sekarang. Kita perlu segera meninjau semua perjanjian kerja sama Bima dan Rangga, terutama yang berkaitan dengan proyek-proyek offshore mereka. Aku punya firasat buruk tentang dana yang dialokasikan untuk pembangunan resor di Bali."

Arjuna tersenyum dingin. Ia tahu ia tidak sendirian.

"Terima kasih, Kirana," katanya.

"Perang baru saja dimulai."

Ia melangkah ke jendela, memandang kota di bawahnya.

Mahkota itu kini berada di kepalanya, dan bayangan Bima serta Rangga terasa seperti dua tangan mencekik lehernya. Ia bukan lagi Chief Strategy Officer. Ia adalah Raja yang baru, dan ia harus segera membersihkan istananya.

Tujuh hari setelah pemakaman Kakek Hardiman yang megah dan penuh air mata palsu dari wajah-wajah yang terlalu sopan, seluruh keluarga besar Winata berkumpul di perpustakaan utama di kediaman keluarga.

Perpustakaan itu, biasanya tempat yang tenang dan penuh aroma kertas tua yang menenangkan, kini terasa berat dan dingin, seolah ruangan itu sendiri berduka dalam keheningan yang menyesakkan.

Di tengah meja mahoni sepanjang dua puluh kaki, duduklah Notaris Wibowo, seorang pria tua dengan kacamata tebal yang telah melayani dinasti Winata selama empat dekade. Di depannya tergeletak sebuah amplop kulit tebal yang disegel dengan lilin merah berlogo keluarga, berisi kata-kata yang akan menentukan nasib salah satu konglomerat terbesar di Asia Tenggara.

Arjuna Winata duduk tegak di sofa kulit tua, posturnya sempurna, tetapi ia merasakan ketegangan dan kekosongan yang melilit di perutnya.

Arjuna tahu apa yang diharapkan Kakeknya darinya keberanian dan keunggulan dan ia siap memenuhi setiap tantangan.

Namun, ia juga tahu bahwa ini bukan hanya tentang warisan, melainkan tentang perang kekuasaan yang sesungguhnya.

"Kekuasaan bukan tentang siapa yang paling pintar, Jun. Tapi siapa yang paling siap dan paling kejam dalam diamnya," demikian wejangan Kakek Hardiman yang selalu bergema di benaknya.

“Apakah kalian semua sudah siap untuk mendengarkan?”

Lanjut membaca
Lanjut membaca