Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Tukang Pijat Super Itu Ternyata Dokter Jenius

Tukang Pijat Super Itu Ternyata Dokter Jenius

Zhu Phi | Bersambung
Jumlah kata
31.7K
Popular
1.9K
Subscribe
605
Novel / Tukang Pijat Super Itu Ternyata Dokter Jenius
Tukang Pijat Super Itu Ternyata Dokter Jenius

Tukang Pijat Super Itu Ternyata Dokter Jenius

Zhu Phi| Bersambung
Jumlah Kata
31.7K
Popular
1.9K
Subscribe
605
Sinopsis
18+PerkotaanAksi21+HaremPria Dominan
WARNING AREA 21+ DEWASA Aryasetya Putra, seorang Dokter Jenius kaya raya dari masa depan yang mengalami nasib mengenaskan harus terbangun kembali di tubuh Tukang Pijat miskin yang banyak hutang, di-bully terapis lainnya, serta memberikan layanan khusus dewasa kepada pelanggan Panti Pijat untuk uang tambahan. Berhasilkah Arya, si Dokter Jenius memperbaiki hidupnya di masa lalu? [IG : zhu.phi]
RAYUAN MISS KRISTIN

"Arya!"

Suara teriakan lantang namun merdu itu memecah keheningan lorong panti pijat Sehat Bugar. Arya menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu, bahunya menegang. Suara itu menusuk telinganya, seolah membawa sebuah panggilan yang tak bisa ia abaikan.

Ia menoleh. Dari balik lampu neon yang remang, tampak seorang wanita berparas cantik dengan rambut hitam panjang yang diikat rapi, berjalan anggun ke arahnya. Kaki berhak tingginya beradu dengan lantai keramik, memantul nyaring, seolah tiap langkahnya menuntut perhatian.

Tubuh wanita ini sempurna dengan lekuk-lekuk tubuh yang indah tampak dari kemeja ketat yang menempel di tubuhnya dengan kancing kemeja yang dibiarkan terbuka di atasnya. Belahan dada yang terlihat jelas membuat Arya menelan ludah karena wanita ini sangat seksi.

Arya memandangi wanita itu lebih seksama, mencoba mencocokkan dengan potongan ingatan yang ia serap sebelumnya.

"Wanita ini… sepertinya Miss Kristin," gumamnya pelan. Manajer sekaligus supervisor panti pijat ini, yang entah mengapa lebih suka dipanggil Miss ketimbang Nona atau Ibu seperti panggilan pada umumnya.

Miss Kristin berhenti tepat di hadapannya. Senyum manis terlukis di wajahnya, tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang lebih berani.

"Kamu butuh duit, nggak?" tanyanya tiba-tiba, suaranya lembut tapi menusuk.

Arya tertegun sesaat. "Maksud Miss Kristin?" tanyanya dengan nada polos, meski dalam hati ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.

Wanita itu menyipitkan mata, senyumnya berubah menggoda. "Jangan pura-pura bodoh. Aku sering lihat kamu sama Bu Sheila melakukannya... Barusan ia juga memuji pelayananmu." Ia mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat, aroma parfumnya yang manis langsung menusuk indera penciuman Arya. "Aku bisa bayar dua kali lipat, asal kamu mau sekarang."

Kening Arya berkerut. "Sekarang?"

"Iya, sekarang!" jawab Kristin mantap, nada suaranya semakin tegas. Ia merogoh dompetnya, lalu menyodorkan beberapa lembar uang merah ke tangan Arya. "Bukannya kamu butuh biaya rumah sakit untuk ibumu? Satu juta cukup kan… untuk satu jam?"

Arya menatap uang di tangannya. Lembaran itu bergetar tipis karena genggamannya. Wajahnya menegang.

Ingatan yang bukan miliknya berkelebat di kepalanya. Ingatan tubuh yang kini ia huni. Pria muda yang menyedihkan, hidup miskin, dengan seorang ibu yang terbaring sakit di rumah sakit. Arya—atau lebih tepatnya, Aryasetya Putra—menghela napas panjang.

Jadi ini kehidupanmu?

Astaga… betapa miskinnya pria ini sampai harus terpaksa untuk berbuat seperti ini? Kehidupan yang menyedihkan. Kenapa aku terjebak di dalam tubuhnya?

Ia melihat ke ponsel yang ada di saku celananya ... ponsel milik pria yang tubunya ia gunakan. "Ponsel ini sangat kuno... tahun berapa ini?" batinnya.

Matanya terbelalak saat melihat kalender di ponsel yang menunjukkan waktu dua puluh tahun yang lalu tepat di tanggal dan bulan yang sama saat ia tewas karena keracunan setelah pulang dari pesta di klub malam.

Ingatan lain menyeruak, begitu nyata hingga membuatnya terdiam. Di masa depan, dirinya—Aryasetya Putra—adalah seorang dokter jenius. Mobil sport berjajar rapi di garasi rumah megahnya. Malam-malamnya ditemani wanita cantik dan anggur mahal. Kehidupan penuh gemerlap kemewahan.

Tapi sekarang? Aku harus menawarkan tubuhku demi uang receh?

Raut wajahnya berubah kesal, tak mampu menahan perasaan yang sangat berlawanan itu.

Miss Kristin salah paham melihat ekspresi itu. Kedua alisnya terangkat, wajahnya mendadak dingin. "Kenapa? Apa aku kurang cantik untukmu?" tanyanya, tersinggung, suaranya meninggi. "Aku ini masih muda, jauh dibandingkan Sheila yang biasa kamu layani. Aku malahan ragu dengan kemampuanmu! Sheila sudah tua, jadi pantas saja ia menganggapmu hebat!"

Wajahnya kian mendekat ke wajah Arya sehingga hangatnya nafas Miss Kristin terasa oleh Arya di wajahnya.

Arya menatapnya lama, menimbang kata-kata. Ia tahu betul siapa wanita ini. Kristin, 28 tahun, wanita karir yang memilih hidup tanpa pacar. Kebutuhan jasmani dipuaskan lewat hubungan singkat, tanpa ikatan.

Kristin menyilangkan tangan di depan dada, senyumannya menantang. "Bagaimana? Apa kau setuju? Aku tambah jadi satu setengah juta asal kau bisa bikin aku puas." Nada suaranya sangat tajam, seolah menekan Arya untuk segera mengambil keputusan.

Arya mengepalkan tangan. Ia mati diracun, usia 25. Kini, di tubuh baru 21 tahun yang lebih kuat… ia dipaksa menghadapi pilihan hina ini.

"Di masa depan aku bukanlah dokter alim yang hidup lurus. Jadi apa salahnya kalau aku melakukannya dengan wanita ini? Lagipula, tubuh baruku ini sudah beberapa kali tidur dengan Sheila. Entah dengan siapa lagi ia melampiaskan nafsunya." batin Arya.

Ia mengangkat dagunya, menatap langsung ke mata Miss Kristin. "Oke… apa kau ingin aku pakai pengaman atau tidak?" tanyanya tanpa basa-basi, nada datarnya membuat Kristin terbelalak sesaat.

Sudut bibir wanita itu terangkat, lalu ia melangkah setengah maju. "Tidak perlu. Aku sudah biasa mengatasinya. Biasanya aku pilih hubungan aman dan bersih, tapi kali ini… aku penasaran dengan kemampuanmu. Apa kau memang sehebat yang dikatakan oleh Sheila?" Suaranya serak, penuh rasa ingin tahu. "Jangan-jangan ia hanya melebih-lebihkan kemampuanmu! Postur tubuhmu saja kurang mendukung kalau dikatakan hebat di ranjang!"

Arya menarik napas dalam-dalam. Di balik ketenangannya, ingatan baru menyeruak masuk ke benaknya—ingatan pemilik tubuh sebelumnya. Biaya perawatan sang ibu sudah menumpuk hingga delapan juta rupiah. Rumah sakit menunggu pelunasan, dan tanpa itu, ibunya akan diusir keluar.

Ia menghela napas, lalu menatap Kristin penuh perhitungan. "Aku masih harus ke rumah sakit menjaga ibuku, jadi aku tak bisa berlama-lama. Aku minta sepuluh juta di muka. Sebagai gantinya, aku akan melayanimu sebanyak lima kali selama dua jam, kapan pun kau menginginkannya."

"Sepuluh juta?" Kristin menyeringai miring, lalu matanya menyipit penuh amarah yang ditahan. "Apa kau kira aku ini badan amal? Aku hanya ingin mencobamu sekali saja, bukan lima kali. Dua juta untuk sekali main pun aku bisa dapat yang lebih baik dari dirimu."

Arya langsung berbalik, langkahnya cepat menuju pintu keluar panti. "Ya sudah kalau tidak mau. Aku akan keluar dari sini dan bekerja dengan Nona Sheila saja. Ia pasti akan membayarku lebih mahal untuk pelayanan khususku."

"Kau…!!!" Suara teriakan Kristin menggema di lorong sempit, membuat beberapa pegawai yang lewat menoleh penasaran. Wajah cantiknya kini memerah, campuran marah dan gengsi yang terluka. "Begini saja! Aku juga tak mau keluar uang gratisan begitu saja untuk barang yang masih gak jelas!"

Arya hanya menoleh sekilas, matanya dingin. Itu cukup untuk membuat Kristin menggertakkan giginya.

"Apa yang kau inginkan, Miss Kristin?" tanyanya.

"Kita taruhan saja! Kalau kamu sehebat yang dikatakan Sheila, dan bisa membuatku puas, aku akan membayarmu 10 juta. Tapi kalau kau hanya biasa-biasa saja, aku tak akan membayarmu sepeser pun dankau harus rela dicambuk olehku dalam keadaan telanjang! Bagaimana? Berani, nggak?!" tantang Kristin.

Arya tersenyum miring.

Pengalamannya menaklukan setiap wanita yang diajaknya tidur saat menjadi dokter jenius di masa depan membuat kepercayaan diri Arya meningkat tajam.

"Gak masalah! Aku akan buat kamu lemas, Miss Kristin!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca