

Angin malam berhembus tajam melewati balkon lantai empat bangunan sekolah tua itu, membawa aroma logam dan hujan yang belum turun. Lampu-lampu jalan berkelip seolah kehabisan napas, dan langit di atas kota terlihat seperti kain hitam yang mulai terbelah oleh retakan cahaya keunguan yang bergerak pelan seperti guratan listrik.
Aksara berdiri mematung di tepi pagar besi, jari-jarinya mencengkeram logam dingin yang berembun. Dadanya naik turun cepat. Keringat mengalir dari pelipis meski angin menusuk tulang. Matanya—mata indigo yang selalu ia benci dan ia simpan rapat-rapat dari dunia—berpendar seperti bara biru yang baru disulut api.
Ia baru saja selesai mengikuti kegiatan sekolah malam, latihan upacara untuk lomba nasional—hal yang sama sekali tidak penting jika dibandingkan dengan apa yang baru saja ia lihat.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidup, penglihatan itu tidak datang sebagai bayangan samar dalam mimpi... Tetapi seperti kenyataan yang berlapis di atas kenyataan.
Seolah dunia terbelah menjadi dua tepat di depan matanya:
Dunia yang ia kenal—bangunan sekolah, lampu kota, dan suara motor di kejauhan— dan dunia lain yang melapisi semua itu: kota yang retak dan berkeping-keping, waktu yang membeku, tubuh orang-orang yang berubah menjadi abu dan terbang hilang tanpa jejak.
Aksara mengangkat tangannya, masih gemetar.
Telapak itu bergetar karena ketakutan, namun cahaya biru samar muncul di antara sela jarinya, berkedip pelan seperti denyut jantung.
Sebuah suara menggaung dalam kepalanya.
Suara yang bukan miliknya.
Suara berat, dalam, seperti gema dari dalam bumi.
> “Garis Waktu runtuh. Pohon Waktu sekarat. Penjaga terakhir... telah gagal.”
Aksara menelan ludah, jantungnya berdetak keras seperti genderang perang.
“Siapa kau?” bisiknya dengan suara serak.
Tidak ada jawaban.
Hanya getaran aneh dari udara—seperti seluruh kota sedang menahan napas.
Di bawah sana, di lapangan sekolah, teman-temannya tertawa dan bercanda tanpa mengetahui bahwa dunia sedang berdiri di tepi kehancuran. Tidak ada yang melihat retakan cahaya yang merambat di langit seperti kulit kaca yang retak. Tidak ada yang melihat bayangan hitam menumpuk seperti gelombang badai.
Hanya dia.
Seperti biasa.
Kutukan indigo.
Aksara memejamkan mata, berharap semuanya berhenti. Tapi semakin ia berusaha menghapus penglihatan itu, semakin kuat suara-suara bergema, seperti ribuan jeritan dari masa depan yang tenggelam dalam kehancuran.
> “Jika ia tumbang, masa depan mati.”
“Pohon Waktu telah berdarah.”
“Perang dimulai.”
Aksara membuka mata begitu cepat hingga pandangannya berkunang.
Tepat di depan matanya, di tengah lapangan sekolah, realitas mulai bergetar.
Seperti kain tipis yang ditarik paksa hingga robek—
Dan dari celah robekan itu keluar cahaya putih menyilaukan, membentuk pusaran seperti badai vertikal. Angin menerjang ke atas, memutar rumput, debu, dan dedaunan dalam spiral yang ganas. Suara gedebum terdengar berulang-ulang seperti puluhan drum tempur dipukul serentak.
Teman-temannya berteriak.
“ANGIN PUTING BELIUNG! LARI!”
Teriakan panik terdengar di seluruh area sekolah. Orang-orang berhamburan, berusaha mencapai lorong dan pintu darurat.
Tapi Aksara tetap berdiri, terpaku oleh rasa yang lebih kuat dari ketakutan.
Karena di tengah badai itu, ia melihat sesuatu.
Sebuah pohon raksasa—pohon emas yang berkilau seperti matahari terbit—melayang di balik pusaran, seolah berada di belakang tirai dunia. Batangnya menjulang setinggi gunung, cabangnya bercahaya seperti nyala api, dan dari celah kulitnya mengalir cahaya indigo seperti darah bercampur cahaya bintang.
Namun batangnya retak.
Cahaya merembes dari celah-celahnya seperti luka.
Dan di dasar pohon itu, berdiri seorang sosok berbaju zirah gelap, memegang pedang bersinar merah darah.
Versi dirinya sendiri.
Aksara dua puluh tahun lebih tua.
Wajahnya keras seperti batu, mata tanpa emosi, penuh keputusasaan.
Orang itu menatap langsung ke arah Aksara remaja.
Dan bibirnya bergerak, mengucapkan satu kalimat yang terdengar lebih mengerikan dari badai apa pun.
> “Hanya satu timeline yang pantas bertahan.”
Tiba-tiba, badai menggulung ke arah Aksara.
Sebuah kekuatan tak terlihat menarik tubuhnya dengan paksa, seperti magnet raksasa yang menarik logam. Kakinya terangkat dari lantai. Napasnya tercekik. Dunia berputar cepat, langit dan tanah saling bertukar posisi.
“A—AAAHHH!”
Ia terlempar ke dalam pusaran cahaya.
Semua suara lenyap.
Semua warna menghilang.
Yang tersisa hanya hitam pekat—dan suara dentuman logam saling menghantam, teriakan perang, dan raungan makhluk-makhluk asing.
Saat kesadarannya kembali, ia merasakan tanah keras dingin. Hujan pedang dan panah menghujani bumi. Udara dipenuhi bau darah segar dan asap perang. Di depan matanya terbentang lembah luas, diterangi cahaya oranye dari pohon raksasa yang terbakar di kejauhan—Pohon Waktu, berdiri di tengah badai api, runtuh perlahan menjadi abu.
Di sekelilingnya, makhluk-makhluk tinggi berkulit pucat dengan telinga runcing dan armor berkilau bertarung menggunakan pedang cahaya dan panah api. Di atas langit, ratusan pasukan bersayap bertarung melawan bayangan hitam yang bentuknya tidak sepenuhnya manusia.
Suara ledakan memekakkan telinga.
Tanah berguncang.
Teriakan komando menggema:
> “Protect the Heart of Time! Jangan biarkan mereka melewati gerbang!”
Seseorang menarik kerah Aksara, menjatuhkannya ke tanah sebelum sebuah panah hitam melesat dan menancap di batu tempat ia berdiri tadi.
Aksara terbatuk keras, matanya membelalak menatap sosok tinggi berarmor perak yang menunduk di atasnya, rambut putih panjang berkibar karena angin pertempuran, mata emas menyala bagaikan bara api.
Telinganya runcing—lebih panjang dari manusia biasa.
Kulitnya bersih seperti marmer.
Aura kekuatan memancar dari setiap gerakannya.
Seorang Elf.
“Bangun!” suaranya dalam dan lantang seperti dentang bel perang. “Kalau kau tetap diam di sana, kau akan mati sebelum mengerti apa yang terjadi!”
Aksara menelan ludah. “Aku di mana...?”
Elf itu menghunus dua pedang cahaya dan membelakangi Aksara, memotong kepala dua makhluk bayangan yang menyerang mereka. Darah hitam memercik di tanah yang bergetar.
“Arena perang terakhir antara cahaya dan kegelapan,” elf itu menjawab tanpa menoleh. “Gerbang waktu telah dibuka. Dan entah siapa pun kau—penampilanmu di sini berarti segalanya berubah.”
Ia berbalik dan menatap Aksara dengan mata yang tajam dan dingin.
> “Mulai hari ini, nasib semua dimensi ada di tanganmu.”
Aksara tidak bisa bernapas. Dunia lain ini menelan seluruh logika yang ia miliki. Tapi sebelum ia bisa bicara—
Langit pecah.
Cahaya merah mengoyak awan, dan suara raungan besar menghancurkan udara.
Elf itu memaki dalam bahasa yang tidak dimengerti Aksara, namun intonasinya jelas: ancaman mematikan mendekat.
Ia meraih lengan Aksara, menariknya dengan kekuatan yang tidak manusiawi.
“Aku Ardhel, Komandan Legiun Waktu,” katanya, menatap lurus ke mata Aksara. “Dan mulai detik ini, kau adalah prajuritku.”
Aksara terbelalak.
“Aku bukan prajurit!” teriaknya.
Ardhel memandangnya penuh api.
> “Maka belajarlah menjadi satu—sebelum waktu membunuh kita semua.”
Dan di kejauhan, Pohon Waktu mengeluarkan raungan terakhirnya yang mengguncang alam semesta.
Perang telah dimulai.
Waktu berdarah.
Sejarah menunggu pahlawan yang tak pernah tercatat.