Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
WOY... TUNGGU!

WOY... TUNGGU!

Ombob | Bersambung
Jumlah kata
48.9K
Popular
169
Subscribe
57
Novel / WOY... TUNGGU!
WOY... TUNGGU!

WOY... TUNGGU!

Ombob| Bersambung
Jumlah Kata
48.9K
Popular
169
Subscribe
57
Sinopsis
PerkotaanAksiBalas Dendam
Namaku Noven Astro, 21 tahun, hidupku cuma berputar di antara mesin-mesin pabrik dan rumah kontrakan sempit. Dunia rasanya keras, tapi aku bisa menahan semua itu.. Sampai malam itu datang dan merenggut nyawa adikku. Polisi bilang ini kecelakaan, orang-orang bilang biarlah waktu yang menyembuhkan, tapi aku tahu siapa yang harus disalahkan. Dan aku tak peduli hukum, aku tak peduli moral... hanya satu hal yang ada di kepalaku: membalasnya. Aku belajar setiap jalan, setiap celah, setiap rahasia yang mereka sembunyikan. Malam demi malam aku merencanakan, hati dan tubuhku menuntun langkahku, sementara rasa sakit dan kemarahan membara seperti api yang tak bisa dipadamkan. Ini bukan cerita tentang keadilan yang diproses di meja hijau. Ini adalah cerita tentang darah, tentang dendam yang membuatku hidup, dan tentang bagaimana aku, Noven Astro, akan membuat mereka menyesal telah menginjak adikku. WOY… TUNGGU! adalah perjalanan seorang pemuda biasa yang menghadapi dunia gelap dengan satu tujuan: menuntaskan dendam yang sudah menempel di setiap hela nafasnya.
BAB 1: Malam Terbunuh

Aku selalu membayangkan hidupku akan tetap berjalan datar. Bangun pagi, berangkat kerja, kembali dengan tubuh pegal dan kepala berat. Tidak ada kejutan, tidak ada perayaan, hanya ritme yang sama seperti mesin pabrik yang tidak pernah berhenti berputar. Entah sejak kapan aku terbiasa dengan hidup seperti itu. Mungkin sejak aku sadar bahwa aku tidak punya banyak pilihan.

Yang penting ada adikku. Selama dia ada, hidupku masih punya arah. Meski kecil, arah itu membuatku tetap berjalan. Kadang aku pulang kerja dengan langkah terseret, tetapi begitu melihat wajahnya yang sering memaksa senyum, semua rasa sakit itu hilang. Dia memang selalu begitu. Suka bilang kalau aku harus sabar. Kalau aku harus kuat. Padahal dia sendiri manja dan gampang takut. Tapi dia tetap berusaha terlihat tegar di depanku.

Seharusnya aku sadar bahwa dunia tidak peduli apakah aku masih butuh dia atau tidak. Seharusnya aku sadar kalau dunia bisa mengambil apa pun tanpa permisi. Tapi malam itu datang seperti maling yang mencongkel pintu dan langsung menancapkan pisau ke dadaku. Dan sampai sekarang aku masih merasa sesak tiap mengingatnya.

Waktu itu aku baru keluar dari gerbang pabrik. Jam dinding di pos sekuriti menunjuk angka sebelas lewat sedikit. Udara lembap, dan sisa hujan masih menggantung di udara. Lantai beton terasa licin, dan lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kuning kusam seperti mata orang yang tidak tidur semalaman. Beberapa teman kerja pamit duluan dan aku hanya mengangguk. Aku terlalu lelah untuk bicara.

Biasanya adikku menungguku di rumah. Dia selalu memastikan ada air panas buatku mandi dan makanan seadanya di atas meja. Tapi malam itu dia tidak membalas pesanku sejak sore. Saat aku lihat ponselku lagi di pinggir jalan, aku merasakan sesuatu naik perlahan dari lambungku. Semacam firasat buruk yang tidak pernah aku suka.

Aku menelepon, tapi tidak tersambung.

Aku menelpon lagi, tetap tidak tersambung.

Aku berjalan lebih cepat tanpa sadar. Langkahku makin panjang. Keringat dingin mulai membasahi leherku meski udara malam cukup dingin. Saat aku melewati gang menuju kontrakan, aku mendengar suara orang-orang bercampur jadi satu. Seperti ada kerumunan. Seperti ada sesuatu yang salah.

Aku langsung lari.

Tubuhku bergerak sendiri, seperti tidak peduli lagi dengan rasa pegal. Nafasku memburu, pandanganku mengabur. Aku melihat cahaya lampu dari beberapa motor yang diparkir sembarangan. Suara orang-orang saling bertanya layaknya ayam kehilangan induk. Ada juga yang berbisik pelan seperti takut disalahkan.

Aku mendorong beberapa orang yang menghalangi. Mereka kaget, tetapi aku tidak peduli. Aku terus maju hingga seseorang memegang pundakku. Dia bilang jangan dekat dulu. Aku menepis tangannya seolah dia hanya debu yang beterbangan. Lalu aku melihatnya.

Tubuh itu.

Di tanah.

Bersimbah.

Aku membeku. Tidak ada suara yang keluar dari mulutku. Tidak ada teriakan. Hanya diam panjang yang membuat telingaku berdenging. Aku tahu itu dia. Aku tahu dari cara rambutnya jatuh di kening. Dari baju yang tadi pagi dia pakai sambil tersenyum kecil ketika aku berangkat kerja. Dari bentuk tangannya yang pernah aku tarik waktu dia kecil agar tidak tertinggal.

Seseorang menutupi sebagian tubuhnya dengan kain seadanya. Tapi kain itu tidak bisa menutupi semua. Tidak cukup. Tidak akan pernah cukup. Aku merasakan lututku melemah, seperti tulang-tulangku berubah jadi pasir. Tapi aku tidak jatuh. Aku hanya berdiri terpaku seperti patung rusak.

Ada seorang ibu yang menangis sambil menutup mulut. Ada laki laki dengan wajah gelisah yang mencoba menelepon polisi. Ada anak kecil yang memegang tangan ibunya dan bertanya sesuatu yang membuat ibunya hanya bisa menggeleng.

Aku melangkah dengan kaki gemetar. Perlahan aku mendekat. Saat aku berjongkok, jari-jariku bergetar seperti orang kedinginan. Aku menyentuh bahunya. Kulitnya dingin. Sangat dingin.

Aku memanggil namanya pelan. Tidak ada jawaban. Aku panggil lagi. Masih tidak ada. Dunia sekitarku seperti hilang. Hanya ada aku dan dia di tengah gelap yang tidak mau pergi.

Polisi datang terlambat menurutku. Terlambat untuk apa pun. Terlambat untuk membuat perasaanku kembali utuh. Terlambat untuk membawa adikku pulang.

Mereka mulai mengambil foto, mengukur posisi, dan bertanya hal yang tidak penting pada orang yang tidak tahu apa pun. Mereka bicara soal prosedur. Soal penyelidikan. Soal dugaan kecelakaan. Ada yang bilang mungkin dia terpeleset. Ada yang bilang mungkin ditabrak dan pelakunya kabur. Ada juga yang menyarankan aku tenang. Kata tenang itu seperti pisau baru yang menancap di tenggorokanku.

Satu kalimat polisi membuat aku hampir marah.

“Kami akan melihat apakah ini melibatkan unsur kesengajaan.”

Bukan itu masalahnya. Masalahnya mereka bicara sambil memainkan senter. Sambil melihat jam. Sambil menghela napas seolah mereka ingin cepat pulang.

Sementara adikku tidak akan pulang lagi.

Malam itu aku menjemput tubuhnya dari rumah sakit. Tidak ada suara apa pun sepanjang jalan. Tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutku. Bahkan untuk menangis pun aku tidak mampu. Aku hanya duduk sambil memandangi langit malam yang seperti menertawakan aku dari atas.

Ketika kami sampai di rumah, kontrakan terasa seperti kuburan tanpa nisan. Ada sepatu kecilnya di pojok pintu. Ada gelas yang tadi pagi dia gunakan untuk minum. Ada jaketnya yang masih tergantung di belakang pintu. Semua benda itu terlihat seperti sedang menunggu dia kembali. Tapi mereka tidak tahu bahwa orang yang mereka tunggu tidak akan pernah membuka pintu itu lagi.

Aku duduk di lantai. Punggungku bersandar ke dinding. Aku memeluk kepala dan mengatur napas yang terus tersengal. Rasa sakit itu tidak langsung muncul. Dia tumbuh perlahan dari dalam. Awalnya seperti duri kecil. Lalu makin panjang. Makin tajam. Sampai akhirnya menusuk seluruh tubuhku.

Orang-orang bilang waktu bisa menyembuhkan. Tapi malam itu aku mengerti sesuatu. Ada luka yang tidak bisa sembuh. Ada luka yang justru mengubah seseorang menjadi sesuatu yang lain.

Beberapa hari setelahnya, orang-orang mulai bicara. Suara mereka pelan tetapi cukup jelas untuk sampai ke telingaku. Ada yang menyebut nama seseorang. Nama yang membuat tengkukku meremang. Nama yang sudah sering aku dengar dari cerita warga sekitar yang takut tetapi tidak berani bicara terang terang. Nama yang selalu muncul ketika ada masalah yang tidak pernah terselesaikan.

Mereka bilang orang itu terlihat di gang malam itu. Mereka bilang dia punya masalah dengan banyak orang. Mereka bilang dia sering membuat orang takut. Dan mereka bilang adikku sempat terlihat berbicara dengan seseorang sebelum kejadian itu.

Semua itu tidak terdengar seperti desas desus bagi telingaku. Semuanya terdengar seperti potongan gambar yang mulai menyatu jadi satu wajah.

Aku tidak butuh polisi untuk menjelaskan apa pun. Aku tidak butuh orang berkata aku harus ikhlas. Aku tidak butuh nasihat bahwa dendam hanya akan menyakitkan diriku sendiri. Semua itu cuma ucapan kosong dari orang yang tidak merasakan apa yang aku rasakan.

Kalimat yang paling jujur malam itu muncul dari diriku sendiri.

Kalimat yang mengalir begitu saja tanpa aku pikirkan.

Aku akan mencari orang itu.

Dan aku tidak akan berhenti.

Tidak sampai aku berdiri tepat di depannya.

Di hari ketiga setelah pemakaman, aku diam sepanjang pagi. Tidak ada yang tahu apa yang sedang aku pikirkan. Bahkan aku sendiri pun tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi tubuhku bergerak sendiri. Aku mengambil jaket. Aku mengambil kunci motor. Aku mengambil ponsel yang sudah penuh pesan belasungkawa yang tidak ingin aku baca.

Langkahku berat ketika keluar dari rumah. Tapi semakin jauh dari pintu, semakin jelas tujuan yang terukir dalam kepalaku. Aku berjalan tanpa melihat kiri kanan. Bahkan suara kendaraan pun tidak begitu masuk ke telingaku.

Yang ada hanya satu suara.

Suara adikku yang memanggil namaku di dalam kepalaku.

Aku mengelus helm yang aku pegang. Dan saat aku duduk dijok motor, kata kata itu muncul dengan sendirinya. Kata kata yang seperti diambil langsung dari amarahku.

Woy...tunggu!

Itu bukan panggilan. Itu ancaman. Itu janji. Itu kompas yang akan menuntunku. Dan aku tahu betul kepada siapa kata kata itu aku tujukan.

Malam itu, ketika aku menghidupkan motor dan meninggalkan kontrakan, aku sadar bahwa hidupku tidak akan kembali sama. Rasa takutku berubah wujud. Rasa sedihku berubah warna. Semuanya berubah jadi satu hal yang sederhana tetapi berat seperti besi.

Dendam.

Dan aku tahu, sekali aku melangkah, tidak ada jalan untuk kembali.

Lanjut membaca
Lanjut membaca