Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dokter Yang Dirasuki Dukun Legendaris

Dokter Yang Dirasuki Dukun Legendaris

Ersula | Bersambung
Jumlah kata
197.2K
Popular
1.2K
Subscribe
128
Novel / Dokter Yang Dirasuki Dukun Legendaris
Dokter Yang Dirasuki Dukun Legendaris

Dokter Yang Dirasuki Dukun Legendaris

Ersula| Bersambung
Jumlah Kata
197.2K
Popular
1.2K
Subscribe
128
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalDokterDukunSupernatural
Dhaneswara-24 tahun, seorang dokter umum pemerintah yang ditugaskan ke pedalaman Papua, di Lembah Nakwira yang sangat terpencil. Suatu hari pemberontak menghancurkan kliniknya. Saat berada dalam kondisi terluka dan kesakitan, dia menemukan dua lempengan kayu yang ternyata merupakan segel kuburan seorang Kerei atau dukun. Sejak itu, Dhaneswara memperoleh kemampuan unik. Dengan bantuan kerei itu, dia memiliki keahlian pengobatan tradisional yang jauh melampaui kemampuan tabib biasa, bahkan dia pun mampu membantu proses kelahiran. Terlebih lagi, kerei juga memberinya keahlian gaib dan bertarung. Puncaknya, kerei itu membongkar rahasia Gunung Emas tersembunyi di pedalaman Lembah Nakwira.
1: Kedatangan Seorang Dokter

***

Tidak pernah ada di bayanganku. Aku berada di tempat ini. Tempat yang jauh dari kehidupan normal.

Normal?

Dunia lain? Antah berantah?

Tidak.

Aku pun sampai sakit kepala kalau diminta untuk menjelaskannya.

Perjalanan dimulai dengan pesawat komersial besar, ok, masih aman kalau Surabaya ke Makassar. Lanjutnya aku harus terbang ke Jayapura–Wamena Durasi total udara kurang lebih 6–8 jam, dan itu tergantung maskapai dan waktu tunggu.

Begitu sampai Wamena, kami menyebutnya perjalanan masuk fase "pedalaman". Transportasi satu-satunya hanya pesawat kecil seperti Pilatus Porter atau Cessna Caravan. Penerbangan tidak ada jadwal pasti ini tergantung cuaca, bisa saja pilot mendarat manual bahkan kadang harus putar balik bila lembah tertutup kabut.

Saat roda pesawat akhirnya menyentuh tanah di Lapangan Terbang Nakwira, aku sadar sekali, betapa terpencilnya tempat ini. Landasan hanya hamparan tanah padat bercampur kerikil, dengan tepi yang langsung menganga ke jurang berbatu. "Ruang tunggu"-nya pun tak lebih dari satu pos kayu miring yang berdiri sendirian di tengah-tengah hutan.

"Dokter … Dhaneswara? Pace dokter dari kota to?"

Seseorang berkulit gelap dan rambut afro menyapaku menyapaku dengan logat timor yang khas. Dari senyumnya, aku melihat cara merah yang membekas dan bau sirih bercampur tembakau tercium keras.

"Ah-i-iya," jawabku terbata, buru-buru meraih ransel dan mengulurkan tangan.

"Saya Yafet. Ayo, pace ikut saya sekarang," ucapnya ramah.

Aku mengangguk. Pria besar itu pun singgap mengambil barang-barang bawaanku.

Tahap akhir menuju Lembah Nakwira adalah dengan motor trail. Rasanya seperti lagu Ninja Hatori–mendaki gunung, melewati lembah–ditambah sungai kecil yang harus diseberangi lewat jembatan kayu yang menantang maut. Perjalanan ini memakan waktu sekitar lima puluh menit, itu terasa jauh lebih panjang.

Total perjalanan… 2 hingga 3 hari untuk mencapai Lembah Nakwira. Aku berdengus ketika menuliskannya ke buku jurnalku.

Sebuah desa yang hidup… tetapi seolah benar-benar terputus dari dunia luar.

Ya, terisolir.

Lembah Nakwira seperti terkurung oleh tembok-tembok tinggi–pohon-pohon Eusideroxylon zwageri besi yang mengelilinginya seperti halaman labirin yang susah ditelusuri jalan keluarnya. Apalagi jika cuaca hujan deras seperti ini, kabut tebal terasa sebagai ujian yang mustahil ditaklukan.

Meminta bantuan polisi?

Mereka bilang–mustahil polisi akan datang dengan cepat.

Jadi, tidak ada yang bisa kulakukan ketika–tangan kiriku patah.

Media sering memberitakan mengenai aktivitas pemberontak di pedalaman. Terutama apabila terdapat kabar tentang manusia asing yang tiba-tiba memasuki wilayah tersebut. Mereka diketahui kerap mengancam, merampok, bahkan terdapat laporan mengenai dokter perempuan yang mengalami kekerasan dan pelecehan. Banyak dari mereka akhirnya mengundurkan diri sebelum sempat menuntaskan kewajibannya ke daerah pedalaman.

"Pace dokter bagaimana punya tangan?" Seorang remaja mendekatiku, namanya Yohanes. "Pace nanti kita bawa ke Kerei Yowela."

Mereka menyebutnya Kerei. Dia adalah sang penyembuh, panggilan itu lebih halus daripada dukun. Tapi, Kerei itu tidak menyukaiku.

"Tanganku… tidak apa-apa," ucapku sambil memperhatikan tangan kiriku. Padahal jelas tidak. Lengan bawahku tampak aneh–fraktur distal radius dan ulna, patah menjadi dua. Bengkaknya sudah mengeras, menandakan perdarahan di jaringan lunak. Yang lebih mengkhawatirkan, kulit di sekitar area patahan tampak memucat sementara sisi lainnya kebiruan tanda sirkulasi darah mulai terganggu. Denyutnya pun terasa ditusuk dari dalam, ngilu, karena ujung tulangnya saling menggesek. Kalau dibiarkan, ini akan infeksi dan harus dimutasi.

Aku menghela napas, mencoba untuk tetap jernih. Setidaknya… beruntung… aku masih hidup ketika dikeroyok–dengan sok jagoan--aku menangkis balok yang dipukulkan berkali-kali.

Klinikku–pondok kayu ini sudah porak-poranda, lantai tanah becek dan bau asap kayu dari perapian yang menempel di udara lembap.

Tas medisku remuk rata dengan lantai, semua stok obat-obatanku dibawa mereka.

Aku cidera juga berdarah.

Tidak ada gips.

Tidak ada perban.

Tidak ada yang steril.

Aku harus melakukan sesuatu.

Yohanes menatapku ragu. "Pace… ."

Air hujan yang bocor dari atas sudah membasahi bahunya. Obor yang dibawanya mengeluarkan desis karena tetesan air hujan.

"Pulanglah, Yohanes. Bapakmu pasti khawatir," perintahku.

"Tapi pace dokter…"

"Ya, aku seorang dokter, jadi tak usah khawatir. Pulanglah." Aku berusaha menunjukkan wajah baik-baik saja.

Akhirnya, Yohanes pergi. Satu-satunya penerangan pun hilang.

Aku menyandarkan punggungku di dinding kayu yang kasar. Butiran hujan berisik menghantam atap seng. Tetesannya mirip suara drum yang beriringan dengan sakitku yang berdenyut-denyut.

Kemudian, mata ini mulai berat, pikiran mulai mengabur. "Menyerahlah," bisik sebuah suara lembut di kepalaku. "Apa gunanya…."

Dan di ambang kegelapan itu, entah dari mana….

Suara diriku sendiri?

Ah, tidak. Kami beramai-ramai mengucapkannya. Lantang dan penuh keyakinan, mengucapkan kata-kata itu sebagai sumpah...

"Sumpah dokter."

"Bahwa saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh..."

Aku mengerang, berusaha mengusir suara itu.

"...untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat…".

Suara itu semakin keras.

"Diam!" teriakku.

"...saya ikrarkan sumpah ini... dengan mempertaruhkan kehormatan pribadi dan profesi saya!!!"

DIAM!

Lihatlah aku sekarang! Terjebak! Terluka! Tak Berdaya!

NYUUTT!!!

Nyeri di tanganku langsung menyadarkanku.

"Si-sial!"

Aku segera menarik napas dalam-dalam, memaksakan mata yang hampir terpejam untuk tetap terbuka.

Suara itu bukan lagi sekadar ingatan… itu adalah cambuk. Sebuah cermin yang memantulkan wajah asliku sebelum luluh lantak oleh keputusasaan ini.

"Okay, Dhaneswara… calm ... Ayo, tenang." Aku mengatur napas yang tersengal-sengal, memaksakan logika untuk mengatasi kepanikan.

Pandanganku menyapu ruangan, berhenti di dapur. Di sana, dari tumpukan abu, sepercik bara memerah tapi sekarat.

Aku merayap, lalu mendorong tubuhku untuk berdiri. Sakit di lenganku langsung menyambar, sampai aku berteriak.

Akh! Aku harus cari solusi. Harus mencari sesuatu yang kering, tipis dan mudah terbakar.

Aku melirik ke arah tas medisku, merayap, lalu menggunakan tubuhku untuk menutupi tas itu dari tetesan hujan. Ketika membukanya, aku berdoa panjang-panjang … entah apa ada kasa.. atau ada kapas di dalamnya… dan beruntung… ada sisa kapas bekas mengobati pasien yang luka terkena pisau beberapa hari lalu, ujung kapas itu masih kering dan putih.

Kuletakkan sarang kapas itu persis di atas titik merah yang masih berkedip.

"Huuh... huuh... huuh..."

Aku meniupnya.

Tidak terjadi apa-apa.

Keringat bercampur air hujan menetes dari pelipisku. Keputusasaan mulai merayap lagi. "Percuma," bisikan itu datang lagi.

Tapi kemudian... sehelai asap tipis, sehalus benang sutra, mengepul dari sarang kapas. Jantungku berdetak kencang. Kuikuti dengan tiupan yang lebih kuat.

"Huuh... huuh...!"

Sebuah kilat api, menjilat keluar dari sarang kapas. Cahayanya langsung menerangi sekitar pondok itu.

Dengan merintih, aku mencari sesuatu untuk bahan bakar—kebetulan ada satu rim kertas HVS baru yang masih dalam plastik. Aku segera menyulutnya sebelum menambahkan beberapa kayu bakar. Meskipun berdesis beberapa kali karena basah, tungku itu akhirnya menyala.

Aku mengusap air yang jatuh dari pipiku, aku sendiri tidak yakin itu air mata atau air hujan bercampur keringat.

Sekarang urusan tanganku…

"Spalk... aku butuh spalk."

Aku butuh sesuatu yang mencari sesuatu yang lurus dan kuat, seperti papan untuk penahan tulang agar tetap lurus–supaya cidera tidak merusak jaringan sekitar.

Aku kembali membongkar tas medisku, mencari alat potong. Gunting kasa! Aku segera merobek bagian bawah celanaku, memotongnya menjadi beberapa helai kain panjang yang bisa digunakan sebagai perban.

Oke, sekarang soal spalk…

Pilihanku terbatas. Kayu dari perapian terlalu lapuk dan tidak rata. Buku tebal? Tidak ada. Tumpukan kertas HVS pun akan hancur jika basah.

Dengan langkah terseok dan gigitan rasa sakit, aku memutuskan untuk menjelajah keluar pondok. Mungkin ada sesuatu di sekitar tempat ini.

Di depan pondok, suasana berantakan. Motor trail bantuan pemerintah itu sudah hancur tak berbentuk. Setelah mendekat dan memeriksanya, tidak ada bagian yang bisa kugunakan.

Hujan semakin deras dan aku menuju belakang pondok, ke area bekas kandang kambing. Di antara tumpukan sampah dan kayu lapuk, mataku menangkap sebuah papan yang tampak rata. Tapi saat kuambil, teksturnya yang keropos dan lembek membuatku menghela napas

Jadi aku terus mencari sampai menemukan papan yang pas.

Dan … tiba-tiba ketika hampir mencapai tumpukan trakhir, aku menyentuh sesuatu yang dingin.

Aku tidak tahu apa itu, berbekal cahaya dari tungku dapur aku pastikan itu adalah–lempengan kayu hitam?

Ada dua lempengan kayu.

Aku mengangkatnya. Kayu sepanjang lenganku itu terlihat aneh sekali,seperti logam dan sehalus gading. Permukaannya diukir dengan tulisan-tulisan asing yang berkelok-kelok–mungkin aksara Jawa Kuno.

"Apa ini... papan nama? Nisan?" gumamku, rasa ngeri singkat pun menyelinap.

Tapi naluri logikaku menyela, dua lempengan ini pas benar untuk menyangga tulangku!

Kalau di rumah sakit, pasien biasanya diberi anestesi lokal atau analgesik. Aku tidak punya itu. Aku memutuskan memasukkan kain sebagai gigitan penahan rasa sakit, lalu mulai membalut lengan yang bengkak itu. Saat memeriksa, aku sadar, tulang ini tidak hanya patah, tapi ada serpihan–pecahan kecil di dalam.

"Oh, sialan!"

Aku menelan ludah, lalu meletakkan lempengan kayu hitam itu berjejer di sepanjang lenganku, lalu mulai melilitkan perban kain dari robekan celana. Saat aku melilitkannya terlalu kencang, rasa sakit yang tajam menyambar, membuatku menjerit sekeras-kerasnya.

"Damn it…! Damn!"

Aku terengah-engah, setiap tarikan napas seperti mengiris paru-paru. Tubuhku gemetar, meremas erat apa pun yang bisa kugenggam. Sensasi itu mengerikan–bagaimana tulang yang patah itu dipaksa lurus pada posisinya dan serpihan itu ikut menusuk daging!

Dan saat puncak rasa sakit itu reda sesaat, sebuah keheningan aneh menyergap… seolah dunia di sekitarku masuk ke dalam ruang hampa. Deru hujan dan desis api lenyap, tersisa hanya frekuensi tinggi yang menusuk telingaku.

BBZTTT

Dari balik perban, dari dalam daging dan tulangku sendiri, sebuah setruman yang menyambar–

Ukiran-ukiran di lempengan kayu itu tiba-tiba berpendar!

Cahayanya keemasan, seperti aliran lava yang mengalir di permukaannya. Tulisan-tulisan itu seperti bernapas!

"What the–"

Sebelum otakku sempat memproses keanehan itu, sebuah keanehan lain terjadi. Lempengan kayu itu... meleleh?

BUKAN!

Dua Lempengan kayu itu menyatu!

***

Lanjut membaca
Lanjut membaca