

Sore itu langit mulai berubah jingga. Angin membawa aroma debu dan rumput basah dari lapangan kecil dekat jembatan.
Di sanalah Saka duduk di tepi beton. Rambut di dahinya tertiup angin memperlihatkan matanya yang tajam menatap sungai yang bergerak pelan. Pikirannya terlalu penuh untuk diucapkan.
Galang datang lebih dulu sambil menenteng es teh plastik yang sudah setengah mencair.
"Mikirin apaan?..Mikirin gimana caranya pesugihan?" candanya sambil duduk di sebelah Saka.
Saka menaikkan sudut bibirnya, "Kalian kenapa lama banget?"
"Farhan yang lama, mana minta di tungguin." Galang menunjuk ke arah jalan. "Tuh, pangeran datang."
Farhan muncul dengan napas teratur, memakai kemeja rapi. Ia meletakkan tas kecilnya lalu duduk di sisi kanan Saka.
"Maaf telat. Biasa, ngomongin soal kuliah lagi. Papa nolak lagi soal penundaanku kuliah," ujarnya pelan. Suaranya lelah. "Katanya aku buang-buang waktu."
Galang menimpali cepat, "Ya namanya kamu kan kaya. Bisa kuliah tapi malah ditunda. Malah pengennya barengan."
"Kamu kan tahu sendiri, aku trauma pernah di bully waktu masuk SMA. Kalau gak ada kalian, mungkin aku bakal home schooling lagi." jawab Farhan, tak terdengar marah.
Hening sejenak. Hanya suara sungai dan burung-burung.
Saka akhirnya bicara, "udah. Kalau itu keputusan Farhan, ya gak apa-apa. Asal jangan jadi masalah aja sama papa kamu nanti."
Galang mengangguk. "Haaaaaah... Kalau di pikir-pikir, kayaknya kita bertiga emang di takdirkan buat bareng terus." ia menarik napas panjang. Lalu lanjutnya;
"Aku disuruh mandiri. Kuliah pake uang sendiri, jadinya mau gak mau harus kerja dulu baru bisa kuliah. Farhan sendiri gak bisa pisah sama kita. Dan kamu..." Galang menepuk bahu Saka pelan. Ucapannya terhenti, ia seakan ragu untuk melanjutkan.
Saku yang tahu maksud Galang langsung tersenyum.
"Dan aku... aku harus berusaha keras untuk mencari uang kalau mau lanjut kuliah. Karena aku yatim piatu dan sudah tidak punya keluarga lagi."
Farhan dan Galang saling pandang, mereka menunduk merasa tidak enak.
"Kamu tahu kan, maksud aku bukan gitu, Ka" ucap Galang pelan.
Saka tertawa.
"Aku tahu. Aku sama sekali gak marah kok."
Hening sejenak menyelimuti tempat itu.
Hanya suara anak-anak yang bermain bola di lapangan, dan suara air sungai yang mengalir pelan.
Sampai akhirnya Farhan menarik napas panjang. "Andai bisa, sebenarnya aku pengen kerja aja, daripada harus kuliah, harus mikirin skripsi, belajar lagi, ngerjain ini itu. Tapi orangtua nuntut harus jadi sarjana.
"Kalau aku, maunya makan tidur aja." sahut Galang mencoba mencairkan suasana.
Saka menunduk. "Kalau aku… aku bahkan nggak tahu pilihan apa yang kupunya."
Mereka terdiam lagi.
Farhan mendorong bahu Saka sambil tertawa kecil. "Hei. Gak usah mikirin tentang masa depan. Saat ini, kita jalani hidup untuk bahagia aja. Masa depan gak ad yang tau ."
"Benar," ucap Farhan. "Mana tau nanti, kamu malah bakal lebih sukses dari kami."
Galang mengangguk setuju.
"Iya iya. Aku nanti akan traktir kalian kalau sudah kaya, dan bawa kalian liburan ke luar negeri," ucap Saka sambil tertawa keras.
"Bener ya?" sahut Galang tertawa juga.
---
Senja menggelap perlahan ketika mereka berjalan menyusuri jalan tanah desa. Lampu-lampu rumah mulai menyala. Suara ibu-ibu memanggil anaknya dari kejauhan membuat suasana terasa hangat.
Di ujung jalan, Galang dan Farhan berpisah. Saka melanjutkan langkah sendirian menuju rumah kecil peninggalan kakeknya di tepi sungai.
Rumah itu sederhana—dua kamar, ruang depan, dan dapur kecil—tapi penuh kenangan. Sejak kakeknya meninggal tiga tahun lalu, Saka tinggal sendirian di sana.
Begitu membuka pintu, aroma kayu tua menyambutnya. Ia meletakkan tas, lalu menyalakan lampu ruang tengah. Cahaya kuning temaram mengungkap sudut-sudut rumah yang dipenuhi benda-benda lama.
Matanya tertuju pada satu laci tua. Jarang ia sentuh, tapi malam ini ada rasa penasaran yang kuat.
Saka membuka laci itu. Di dalamnya tergeletak sebuah buku catatan bersampul cokelat tua—buku yang dulu sering dibawa kakeknya ke mana-mana. Ia meniup debu yang menempel lalu duduk di kursi bambu.
Halaman pertama bertuliskan:
"Catatan perjalanan: untuk yang ingin memahami."
Saka mengernyit, tidak mengerti maksudnya. Ia membuka halaman berikutnya. Awalnya berisi catatan sederhana tentang tanaman obat, cuaca, dan cerita-cerita kecil.
Namun di halaman tengah… semuanya berubah.
Aksara Jawa kuno memenuhi lembaran, melingkar seperti pusaran. Di sisi kanan ada satu kalimat dengan huruf latin, ditulis tergesa-gesa:
"Jika gerhana datang lagi, garis waktu akan menjemput darah terakhir kami."
Bulu kuduk Saka berdiri.
"Darah terakhir…? Siapa maksudnya?"
Ia hendak membuka halaman terakhir ketika suara dari luar memotong pikirannya.
"Saka… Saka, Nak! Kamu di rumah?"
Saka menutup buku dan berjalan ke pintu. Di teras berdiri Bu Marni dengan senyuman ramah dan piring berlapis daun pisang.
"Ini, Nak. Ibu masak lebih."
Saka tersenyum hangat. "Terima kasih, Bu. Maaf merepotkan."
"Loh, merepotkan apa? Daripada kebuang." Bu Marni tertawa kecil.
Setelah berterima kasih, Saka kembali ke dalam rumah. Lapar membuatnya menunda memikirkan buku itu.
---
Pagi berikutnya, Saka sudah berada di sawah kecil milik kakeknya. Matahari baru muncul. Suara ayam dan sungai menemani ia membersihkan gulma.
Tiba-tiba suara motor mendekat. Galang berhenti di pinggir sawah sambil melambai.
"Hei! Aku bawa ini buat kamu!" serunya.
Saka menepuk-nepuk tangannya yang kotor. "Tumben pagi-pagi begini?"
Galang memberikan kantong berisi beberapa bungkus makanan dan kopi panas. "Biar semangatmu nggak kendor," katanya sambil tertawa.
Saka tersenyum. "Thanks, Lang."
Saka membuka kopi hangat pemberian Galang. Uapnya naik pelan, bercampur dengan aroma tanah basah pagi itu.
"Seriusan kamu bangun sepagi ini cuma buat ngasih kopi sama makanan?" tanya Saka sambil tersenyum.
"Enggak lah," jawab Galang sambil menendang kerikil. "Ibu nyuruh beli gula, sekalian mampir. Lagian kamu kalau pagi pasti belum makan."
Saka hanya tertawa kecil, lalu kembali menikmati kopinya.
Angin pagi bertiup dingin dari biasanya. Daun-daun padi bergoyang seolah ada sesuatu yang bersembunyi di baliknya.
Tiba-tiba, suara dari belakang membuat keduanya menoleh.
"Saka...."
Suara itu lirih, seperti terbawa angin.
Galang berdiri cepat. "Kamu denger?"
Saka menelan ludah. "Iya."
Dari arah sungai, kabut tipis mulai muncul meski matahari sudah tinggi. Kabut itu bergerak... seperti mengikuti irama sesuatu yang tak terlihat.
Dan tiba-tiba dunia sekeliling menjadi sangat hening.
Tidak ada angin.
Tidak ada suara burung.
Tidak ada suara air.
Galang mundur selangkah. " Sa...ini kenapa?"
Saka merasakan bulu kuduknya berdiri. Ada getaran halus di ujung jarinya, seperti aliran listrik ringan. Ia memegang tas kain kecilnya.. tempat buku kakeknya disimpan.
Buku itu terasa hangat.
Semakin lama...semakin panas.
Saka memekik kecil dan menjatuhkannya ke tanah. Begitu tas terbuka, buku bersampul coklat tua itu mengeluarkan cahaya merah samar.
Galang terbelalak. "SAKA! Benda apa itu?!"
Namun sebelum Saka sempat menyentuh atau mendorong buku itu jauh-jauh, cahaya merah itu tiba-tiba menyambar ke langit..membentuk lingkaran seperti cincin.
Dan dari balik awan tipis, muncul bayangan gelap menutupi matahari
GERHANA
Angin kembali datang, tapi kali ini kencang, seperti memutar seluruh sawah. Padi-padi merunduk, tanah bergetar, dan cahaya merah dari buku semakin kuat hingga menyilaukan mata.
"Saka!!" Galang berteriak dan berusaha menarik sahabatnya.
Tapi Saka tidak bisa bergerak.
Kakinya seperti mengakar ke tanah.
Buku itu membuka sendiri, halamannya berputar cepat. Aksara-aksara kuno melompat keluar melingkari tubuh Saka, berputar seperti ribuan kelopak api.
"GALANG!" jerit Saka. Ia ingin meraih tangan sahabatnya, tapi seluruh tubuhnya di tarik kedepan oleh kekuatan yang tidak terlihat.
"Saka!!! Awas!!"
Bumi di bawah kaki Saka retak perlahan seperti kaca pecah, dan cahaya merah menyembur dari retakan itu.
Galang hanya sempat memeluk udara kosong...
Dalam sekejap, tubuh Saka di telan cahaya merah menyilaukan itu.
Lalu semuanya ....gelap.
Debu padi perlahan turun kembali ke tanah. Angin berhenti. Cahaya merah yang menyilaukan itu menghilang seolah tak pernah ada.
Galang masih berdiri terpaku di tengah sawah, dadanya naik turun cepat, nafasnya patah-patah.
Tangannya gemetar. Matanya menatap kosong di depannya, tempat Saka berdiri beberapa detik lalu.