Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Mizukashii Sentaku S2: The Veiled Dawn Reborn

Mizukashii Sentaku S2: The Veiled Dawn Reborn

Begenk Zerofour | Bersambung
Jumlah kata
62.9K
Popular
100
Subscribe
6
Novel / Mizukashii Sentaku S2: The Veiled Dawn Reborn
Mizukashii Sentaku S2: The Veiled Dawn Reborn

Mizukashii Sentaku S2: The Veiled Dawn Reborn

Begenk Zerofour| Bersambung
Jumlah Kata
62.9K
Popular
100
Subscribe
6
Sinopsis
18+PerkotaanAksiMisteriUrbanPertualangan
Mizukashii Sentaku Season 2 menceritakan tentang kembalinya The Veiled Dawn, organisasi bayangan yang bekerja di luar hukum untuk menegakkan keadilan bagi mereka yang tak pernah mendapatkannya. Setahun setelah kepergian Leo Laurent atau Arthur Blackwood, dunia yang awalnya baik-baik saja kini mengalami guncangan besar, hingga para mantan anggota The Veiled Dawn yang telah berpencar kembali dipertemukan oleh serangkaian kejadian misterius. Wekly Lysander dan Bogu Sage yang kini berada di bawah naungan WHSA, Tuiseki Nobara yang sibuk mengembangkan Restoran Sentier bersama keluarganya, serta Chase dan Freya yang menjalani kehidupan pernikahan mereka berdua… semuanya dipaksa menghadapi kenyataan bahwa kejahatan tidak pernah benar-benar hilang dari dunia ini. Sesuatu yang lebih besar perlahan bangkit dari kegelapan. Dan untuk pertama kalinya sejak perpecahan mereka, The Veiled Dawn harus berkumpul kembali.
Bab 01. Langkah Kecil yang Terus Berlajan

Satu tahun.

Sudah satu tahun sejak suara Leo Laurent tidak lagi terdengar di rumah ini.

Tidak ada ketukan pintu paginya. Tidak ada tawa konyol yang dulu menjadi warna setiap sudut rumah.

Hanya keheningan yang perlahan mereka pelajari untuk diisi meski tidak pernah benar-benar terbiasa.

Pagi di Rumah Laurent

Matahari pagi menembus jendela besar ruang makan, menciptakan garis-garis cahaya lembut yang jatuh ke meja kayu panjang itu.

Molina Laurent berdiri di dapur, memotong buah untuk sarapan. Tangannya cekatan, ekspresinya lembut, tapi tatapannya sekali-sekali berhenti pada satu titik:

Kursi kedua dari ujung.

Kursi Leo.

Ia tidak pernah memindahkannya. Tidak pernah menyingkirkannya.

Tidak ada yang menyentuhnya sejak hari itu.

“Bu… roti bakarnya boleh dua?” suara kecil memanggil.

Ethan muncul dari lorong, rambutnya sedikit berantakan, seragam SD-nya sudah rapi. Bocah itu kini berusia delapan tahun dan terlihat lebih dewasa dari anak seusianya.

“Boleh, Nak.” Molina tersenyum, menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.

Ethan duduk di meja makan. Ia meletakkan tasnya dengan hati-hati, lalu menatap kursi kosong itu sebentar. Ia tidak mengatakan apa pun, hanya menarik napas pendek dan menunduk.

Beberapa detik kemudian, dua anak kecil muncul: Rivel ceria tapi sedikit lebih pendiam sejak orang yang menyelamatkan keluarganya tiada.

Aira, 4 tahun, si kecil yang tak mengerti apa itu duka, tapi mengerti bahwa rumah ini tidak sama lagi.

“Ethan! Lomba mewarnai hari ini, kan?” Rivel bertanya dengan penuh energi.

Ethan mengangguk sambil tersenyum tipis. “Iya. Kamu juga ikut, ‘kan?”

“Hm!” Rivel duduk, menggoyang-goyangkan kakinya.

Aira memeluk boneka kelinci sambil bergumam, “Bang Leo kemana?”

Molina terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum lembut dan membelai rambut adik Jisan itu.

“Abang Leo sedang tidur panjang, Sayang.”

Aira mengangguk, tidak benar-benar mengerti.

Di ruang tamu, Bastian Laurent sedang membantu Jisan menyiapkan keperluan sekolah Ethan dan Rivel. Ketika suara tawa kecil terdengar dari ruang makan, ia menoleh.

Raut wajahnya tetap keras seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda dari ayah Leo sekarang:

Ia lebih sering duduk bersama keluarga.

Lebih sering tersenyum kecil.

Lebih sering mencoba hadir.

Seolah kematian Leo memaksanya menyadari berapa banyak hal yang ia lewatkan selama menjadi komandan WHSA.

“Bastian,” panggil Molina dari dapur, “sarapan sudah siap.”

Bastian mendekat, tapi langkahnya terhenti tepat di depan kursi kosong itu.

Kursi Leo.

Tatapannya melembut, tetapi matanya juga berkaca. Ia selalu berdiri di tempat yang sama setiap pagi seolah menunggu Leo turun dari kamar dan berkata, “Pagi, Ayah.

Tapi suara itu tidak pernah datang.

Ia duduk perlahan, menenangkan dirinya sebelum melihat ke arah Ethan.

“Kamu sudah siap sekolah?”

Ethan mengangguk tapi matanya memancarkan banyak hal yang tidak ia ucapkan.

Tangisan kecil terdengar dari lantai atas.

Molina bergegas naik, lalu kembali turun sambil menggendong Elio, bayi laki-laki berusia tiga bulan adik kandung Leo yang lahir setelah kematiannya.

“Dia bangun pas mau makan,” ujar Molina sambil tertawa tipis.

Ethan menatap adiknya itu agak lama.

Karena Elio… sangat mirip almarhum Kakaknya.

Rambut hitam.

Bola mata bening.

Ekspresi lembut.

Kadang Ethan merasa seperti melihat kembali kenangan yang tidak pernah ia miliki.

“Elio!” seru Aira, berusaha meraih tangan bayi itu.

Elio tertawa pelan, tangannya yang kecil meraih udara. Suara tawanya memenuhi ruangan suara baru yang perlahan mengisi kekosongan.

Namun di balik senyum keluarga itu, ada satu kenyataan pahit: Elio adalah satu-satunya keluarga Laurent yang tidak pernah mengenal Leo.

Mereka makan bersama hangat, sederhana, penuh suara sendok garpu.

Namun ada pola yang sama sejak setahun lalu.

Tidak ada yang duduk di kursi Leo.

Tidak ada yang meletakkan makanan di depannya.

Tidak ada yang menggeser kursinya.

Keluarga ini tetap hidup… tetapi mereka masih menjaga ruang untuk seseorang yang tidak akan kembali.

Setelah beberapa saat hening, Ethan akhirnya bicara.

“Bu,” katanya pelan, “Boleh aku tanya sesuatu?”

Molina menoleh lembut. “Tentu, sayang.”

Ethan menatap kursi kosong itu, lalu berkata: “Kalau Kak Leo masih ada… dia bakal bangga sama kita nggak?”

Sunyi.

Hening panjang.

Bastian menunduk, memejamkan mata.

Molina tidak menjawab seketika. Ia berjalan ke samping Ethan, meraih bahu anak itu, lalu menjawab dengan suara bergetar: “Kakak Leo selalu bangga pada kamu. Pada kita semua. Dia selalu bangga… bahkan sebelum kamu bertanya.”

Ethan mengangguk perlahan, air mata yang ia tahan sepanjang minggu akhirnya jatuh satu.

Bastian meraih kepala Ethan dan mengacak rambutnya lembut.

“Kak Leo cinta sekali sama kamu,” katanya dengan suara yang lebih pelan daripada biasanya. “Dan sebagai ayahnya… aku yakin Kakak kamu ingin kamu bahagia. Bukan sedih.”

Untuk pertama kalinya sejak lama, mereka bertiga Bastian, Molina, dan Ethan berbagi pelukan kecil.

Rivel dan Aira ikut mendekat, memeluk mereka meski tidak mengerti semuanya.

Elio bergumam kecil dalam pelukan ibunya, seolah merespons energi hangat itu.

Setahun telah berlalu.

Luka itu belum sembuh, tapi keluarga Laurent telah belajar berdiri lagi.

Mereka tersenyum, menangis, dan tumbuh bersama.

Karena bagi mereka, cara terbaik menjaga Leo adalah dengan hidup.

Dan itulah yang mereka lakukan.

Pintu rumah Laurent tertutup pelan, meninggalkan kehangatan keluarga di belakang mereka. Ethan dan Rivel berjalan berdampingan menuju pintu rumah, seragam SD mereka terlihat rapi.

Udara pagi terasa sejuk, dengan aroma embun dan sinar matahari yang lembut. Jalan setapak menuju gerbang terlihat tenang sebuah ketenangan yang hanya muncul di kota kecil pada pukul tujuh pagi.

Ethan membawa tas birunya, sementara Rivel menyeret tas hitam bergambarkan mobil balap yang hampir sama besar dengan dirinya.

“Kamu bawa bekal?” tanya Ethan.

Rivel mengangguk cepat. “Iya! Kak Jisan kasih roti cokelat. Kamu apa?”

“Roti keju.” Ethan tersenyum tipis.

“Wah, enak banget!”

Suara ringan itu menjadi latar perjalanan mereka. Meskipun baru delapan tahun, Ethan sudah terbiasa berjalan tenang, dewasa, dan sedikit pendiam. Sebaliknya, Rivel seperti baterai yang tidak pernah habis setiap kalimat keluar dengan semangat penuh.

Ketika mereka belok di ujung jalan, suara tawa kecil terdengar dari arah kiri.

“ETHAN! RIVEL!”

Dua sosok kecil berlari mendekat: Cleo Suyo dan Edmond Ourson

Cleo melambai heboh. “Aku kira kalian udah duluan!”

“Kami nunggu kamu di tikungan,” jawab Rivel sambil tertawa kecil.

Edmond mendekati Ethan dan mengangguk kecil. “Pagi, Ethan.”

“Pagi, Mond,” jawab Ethan lembut.

Cleo langsung meraih tangan Rivel. “Ayo jalan bareng! Aku tadi lihat kucing gede banget di depan warung Bu Nita! Warnanya oranye kayak Garfield!”

“Apa dia gendut?” tanya Rivel penuh antusias.

“Banget!”

Ethan memperhatikan ketiga temannya yang mengobrol heboh. Ada senyum kecil yang muncul di wajahnya. Tidak lebar, tapi tulus senyum yang membuat Edmond ikut memandangnya sebentar.

“Kamu baik-baik aja?” Edmond bertanya pelan, hanya pada Ethan.

Ethan mengangguk. “Iya, kok.”

Mereka berjalan lagi, empat anak kecil yang saling mengisi kekosongan di hidup satu sama lain.

Rumah-rumah mulai tampak ramai. Para ibu menyapu halaman, pedagang bubur membuka lapaknya, dan beberapa anak dari sekolah lain bergegas melewati mereka.

Cleo melompat kecil sambil berkata, “Eh, hari ini Bu Guru bilang kita belajar menggambar! Aku mau gambar laut!”

“Aku mau gambar mobil balap!” kata Rivel.

“Kalau kamu?” Edmond bertanya pada Ethan.

Ethan menatap langit pagi yang cerah. “Aku… mungkin gambar langit.”

Cleo mendongak. “Langit? Kenapa langit?”

Ethan tersenyum tipis. “Karena langit selalu ada… walaupun kita nggak lihat.”

Cleo berhenti sebentar, tidak mengerti. Rivel juga bingung.

Tapi Edmond… Edmond menunduk sedikit, memahami sesuatu yang bahkan anak seusianya tidak seharusnya pahami.

Ia hanya berkata pelan, “Bagus, itu bagus.”

Perjalanan mereka kini terasa lebih hangat. Tidak ada obrolan berat, tidak ada tangisan. Hanya empat anak berjalan menuju sekolah tetapi masing-masing membawa cerita dan kehilangan yang hanya mereka mengerti.

SD Cahaya Harapan sudah terlihat. Banyak anak berlari masuk, beberapa guru berdiri menyapa murid-murid.

“AYO KITA BALAPAN MASUK!” teriak Cleo tiba-tiba.

“AYO!” Rivel menyahut, langsung berlari seperti roket.

Edmond tertawa kecil dan ikut berlari tidak sekencang mereka berdua, tapi cukup cepat untuk menyusul.

Ethan berjalan sedikit di belakang. Ia melihat ketiga sahabatnya berlari menuju gerbang dengan tawa lepas… dan hatinya terasa hangat.

Satu tahun lalu, ia tidak pernah membayangkan bisa tertawa lagi.

Tapi hari ini, ia tersenyum.

Perlahan, tapi pasti.

Ia berlari kecil menyusul mereka.

Hari baru telah dimulai.

Lanjut membaca
Lanjut membaca