Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dunia Aurora: BASKARA Sang Penakluk

Dunia Aurora: BASKARA Sang Penakluk

Jim's Freak | Bersambung
Jumlah kata
95.4K
Popular
173
Subscribe
30
Novel / Dunia Aurora: BASKARA Sang Penakluk
Dunia Aurora: BASKARA Sang Penakluk

Dunia Aurora: BASKARA Sang Penakluk

Jim's Freak| Bersambung
Jumlah Kata
95.4K
Popular
173
Subscribe
30
Sinopsis
18+FantasiIsekaiDewaPertualanganMonster
Matahari di sini berwarna ungu, dan peradaban telah lama mati. Baskara, seorang pria metropolitan Jakarta, mendapati dirinya terlempar tanpa peringatan ke dimensi neraka bernama Dunia Aurora. Di sini, tidak ada "Sistem Game" yang menyelamatkannya. Tidak ada kotak biru notifikasi level-up yang memberinya kekuatan instan. Yang tersisa hanyalah tubuh telanjang, naluri purba yang bangkit, dan ancaman kematian yang mengintai di setiap hembusan napas. Di tengah Hutan Bisikan yang lembap dan penuh monster, Baskara belajar satu hukum mutlak: Makan atau dimakan. Dominasi atau diperbudak. Untuk bertahan hidup, dia harus membuang moralitas lamanya dan berevolusi menjadi Apex Predator. Namun, dia tidak berjuang sendirian. Tiga wanita dari kehidupannya ikut terseret, dan nasib memaksa mereka bermutasi menjadi sosok-sosok yang menakutkan sekaligus mempesona: Chandra, sang analis data jenius yang menemukan bahwa di balik kehancuran dunia ini, logika matematika adalah kunci untuk membangkitkan sihir Runa kuno. Dia adalah Ratu Kebijaksanaan yang memanipulasi realitas. Seraphina, sang bodyguard tangguh yang terdampar di Gurun Besi. Di sana, dia ditempa oleh darah dan pasir menjadi Iron Valkyrie, gladiator tak terkalahkan yang kulitnya sekeras baja. Kalia, sang peretas muda yang jatuh ke dalam kegelapan Rawa Cermin. Bermutasi menjadi Xalith, Ratu Lalat yang mengendalikan wabah dan pasukan serangga, dia berjalan di garis tipis antara kemanusiaan dan keiblisam. Di Dunia Aurora, kekuatan tidak datang dari membunuh semata, melainkan dari Penyatuan. Baskara menemukan bahwa keintiman seksual adalah ritual sakral transfer energi kehidupan (Mana). Sentuhan adalah penyembuhan, ciuman adalah kontrak jiwa, dan penyatuan tubuh adalah sumber kekuatan mutlak yang mampu meruntuhkan gunung. Dari hutan purba hingga kota gladiator yang brutal, Baskara harus mengumpulkan para Ratunya. Dia bukan lagi pegawai kantoran; dia adalah Raja Surya. Namun, kebangkitannya mengusik The Dominion—ras penguasa misterius yang tinggal di menara langit, yang memandang manusia hanya sebagai ternak energi. Perang tak terelakkan. Baskara harus memimpin pasukan monster, pemberontak, dan penyihir untuk menantang para Dewa Palsu itu. Ini bukan kisah kepahlawanan klise. Ini adalah saga tentang cinta yang memuja, nafsu yang memberi hidup, dan ambisi untuk menaklukkan dunia yang ingin membunuhmu. Selamat datang di Dunia Aurora.
Bab 1

Muntah.

Itu adalah sambutan pertama yang diterima Baskara dari dunia ini.

Bukan tiupan terompet malaikat, bukan cahaya surga, melainkan isi perutnya sendiri yang mendesak keluar, membakar kerongkongan dengan rasa asam yang tajam.

"Hwekk... uhuk!"

Pria itu terbatuk keras. Tubuhnya kejang. Wajahnya terbenam di dalam lumpur yang dingin dan berbau busuk. Rasanya seperti ada tangan raksasa yang meremas lambungnya, memeras setiap sisa kehidupan dari dunia lama yang masih tertinggal di dalam dirinya.

Sakit.

Tuhan, sakit sekali.

Setiap inci kulitnya terasa perih, seolah-olah dia baru saja dikuliti hidup-hidup dan digulingkan di atas hamparan garam. Otot-ototnya menjerit. Tulang-tulangnya terasa berat, ditarik oleh gravitasi yang salah.

Ini bukan gravitasi bumi. Ini lebih berat. Lebih menekan. Seperti memakai rompi timah di seluruh tubuh.

Baskara mencoba mengangkat kepala. Lehernya kaku, berderak protes.

Hal pertama yang dilihatnya adalah warna ungu.

Ungu yang sakit. Ungu memar.

Langit di atas sana bukan langit biru Jakarta yang tertutup polusi, atau langit malam yang berbintang. Itu adalah bentangan kulit lebam raksasa yang berdenyut pelan. Dua bulan menggantung di sana, satu berwarna perak retak, satu lagi merah darah, meneteskan cahaya suram ke hutan di bawahnya.

Hutan.

Dia berada di hutan.

Tapi pohon-pohon ini... mereka salah. Batangnya hitam legam seperti arang basah, melintir menyerupai otot manusia yang tegang menahan beban. Tingginya tidak masuk akal, menusuk langit, dengan daun-daun biru tua yang lebar dan berlendir.

"Di mana..."

Suaranya parau. Pecah. Seperti suara orang asing di telinganya sendiri.

Baskara mencoba duduk. Tangannya terbenam ke dalam tanah yang gembur.

Tunggu.

Tangannya kosong.

Di mana jam tangan Tag Heuer miliknya? Di mana cincin emasnya?

Dia melihat ke pergelangan tangannya. Kosong. Hanya ada kulit telanjang yang kotor oleh lumpur.

Di dekat lututnya, ada gundukan debu abu-abu halus. Di tengahnya, tergeletak sisa-sisa per kawat dan baut kecil yang sudah berkarat parah, hancur menjadi serpihan merah saat tersentuh angin.

Itu jam tangannya.

Benda seharga ratusan juta itu telah menjadi sampah dalam hitungan detik.

Dunia ini memakan logam. Dunia ini menolak teknologi.

Baskara menunduk melihat tubuhnya sendiri.

Telanjang.

Benar-benar telanjang bulat. Seperti bayi yang baru lahir, tapi tanpa kepolosan.

Jas Armani-nya, kemeja sutranya, sepatu kulit Italianya—semuanya lenyap. Menjadi debu yang kini bercampur dengan lumpur di selangkangannya.

Pria itu menggigil. Angin di sini dingin, membawa aroma belerang dan bunga bangkai yang manis memualkan.

"Baskara..."

Suara itu kecil. Lemah. Hampir tertelan oleh suara angin yang menderu di sela-sela pohon raksasa.

Baskara menoleh cepat. Gerakan itu membuat kepalanya berputar pusing.

Chandra.

Dia ada di sana. Dua meter di sebelah kirinya.

Kondisinya membuat jantung Baskara berhenti berdetak sesaat.

Chandra Adiyatma, wanita jenius yang biasanya berdiri tegak dengan tatapan angkuh dan tablet di tangan, kini meringkuk seperti janin di atas akar pohon yang menonjol.

Dia juga telanjang. Kulit putihnya yang pucat terlihat kontras dengan kayu hitam di bawahnya. Rambut hitam panjangnya kusut masai, menutupi sebagian wajahnya.

Tapi yang mengerikan adalah matanya.

Wanita itu menatap kosong ke arah lumut di depannya. Bibirnya bergerak-gerak cepat, menggumamkan sesuatu tanpa henti.

"Satu koma enam satu delapan... rasio emas tidak valid... termodinamika rusak... massa jenis udara tidak konsisten..."

Baskara menyeret tubuhnya mendekati wanita itu. Kakinya lemas, jadi dia merangkak. Seperti binatang.

"Chandra," panggilnya. Dia menyentuh bahu wanita itu.

Dingin. Kulitnya sedingin es.

Chandra tersentak hebat saat disentuh, seolah-olah tangan Baskara adalah bara api. Dia menatap pria itu, tapi tatapannya tembus pandang. Dia tidak melihat Baskara. Dia melihat kehancuran di dalam kepalanya sendiri.

"Baskara... angkanya salah," bisiknya histeris. Air mata mengalir di pipinya. "Semuanya salah. Gravitasi ini... seharusnya tulang kita patah. Oksigen ini... seharusnya paru-paru kita terbakar. Kenapa kita hidup? Ini tidak logis. Tidak logis..."

Dia memukul-mukul kepalanya sendiri dengan kepalan tangan.

"Hentikan!" Baskara menangkap pergelangan tangan wanita itu. "Chandra, lihat aku! Lupakan angkanya!"

"Tabletku..." dia merengek seperti anak kecil yang kehilangan mainan. "Dataku... di mana dataku..."

Dia menunjuk ke tumpukan debu kaca dan plastik di sebelahnya. Sisa-sisa dunianya.

Hancur.

Baskara menariknya ke dalam pelukan. Membenamkan wajah wanita itu ke dadanya yang telanjang dan kotor.

"Dengar aku," geram Baskara di telinganya. "Kita masih hidup. Itu satu-satunya data yang kau butuhkan sekarang."

Dia merasakan tubuh Chandra gemetar hebat di pelukannya. Syok. Bagi Chandra, logika adalah Tuhan. Dan di tempat ini, Tuhannya sudah mati.

Baskara mengangkat wajah. Mencari yang lain.

"Sera! Kalia!" teriaknya.

Hening.

Hanya gema suaranya yang diredam oleh pepohonan raksasa.

Tidak ada tanda-tanda Seraphina. Tidak ada tawa gila Kalia.

Jantung Baskara berpacu lebih cepat. Rasa panik yang dingin mulai merambat naik dari perutnya.

Mereka hilang. Terpisah saat jatuh.

Seraphina yang tangguh... Kalia yang liar... mereka sendirian di luar sana. Di neraka ungu ini. Tanpa pakaian. Tanpa senjata.

"Bangsat," umpatnya pelan.

KRESEK!

Suara itu datang dari balik semak belukar berdaun merah di depan mereka.

Itu bukan suara angin. Itu suara langkah kaki. Berat. Menginjak ranting kering dengan sengaja.

Tubuh Baskara menegang. Insting purba yang selama ini tertidur di balik jas mahal dan ruang ber-AC tiba-tiba terbangun. Saraf-saraf di tengkuknya berdiri.

Bahaya.

"Chandra, diam," bisiknya.

Dia melepaskan pelukannya perlahan. Menempatkan Chandra di belakang punggungnya.

Baskara mencoba berdiri. Lututnya goyah, tapi dia memaksanya lurus.

Dari kegelapan di antara dua pohon raksasa, sepasang mata muncul.

Kuning. Vertikal. Menyala.

Lalu moncongnya keluar.

Napas itu... baunya seperti amonia dan daging busuk yang sudah lama didiamkan.

Seekor serigala melangkah keluar.

Tapi menyebutnya serigala adalah penghinaan bagi hewan bumi. Makhluk ini adalah mimpi buruk.

Ukurannya sebesar sapi jantan. Otot-otot bahunya menonjol tidak wajar, bergerak-gerak di bawah kulit yang penuh borok dan bulu hitam berminyak yang jarang-jarang. Tulang punggungnya mencuat keluar, membentuk deretan duri tajam sampai ke ekor.

Mulutnya terbuka, memperlihatkan gusi hitam dan gigi-gigi kuning yang tidak beraturan. Liur hijau kental menetes dari lidahnya yang menjulur.

Cesss...

Liur itu mendesis saat jatuh ke tanah. Asam.

Makhluk itu adalah Warg dan menatap mereka.

Dia tidak menggeram marah. Dia mendengus. Suara yang menjijikkan. Suara lapar.

Dia melihat dua potong daging segar yang empuk, tidak berbulu, dan tidak bercangkang. Makan malam yang mudah.

"Mundur, Chandra," perintah Baskara tanpa menoleh.

Dia mundur selangkah. Kakinya menyentuh sesuatu yang keras di tanah.

Batu.

Batu seukuran kepalan tangan, dengan ujung yang runcing dan tajam.

Baskara membungkuk perlahan, matanya tidak lepas dari mata kuning monster itu. Tangannya meraba tanah, mencengkeram batu itu erat-erat.

Permukaannya kasar, dingin, dan nyata.

Ini senjata pertamanya. Bukan pistol. Bukan saham. Batu.

Warg merendahkan tubuhnya. Kaki belakangnya menekuk, memamerkan otot paha yang meledak-ledak.

Dia tahu mangsanya takut. Dia bisa mencium bau ketakutan Baskara.

Tapi monster itu salah satu hal.

Di balik rasa takut itu, ada amarah.

Baskara marah karena dia telanjang. Dia marah karena dia kotor. Dia marah karena dia dipisahkan dari wanitanya. Dan dia marah karena anjing kampung ini berani menatapnya seperti makanan.

"GRRRRRHH!"

Monster itu menerjang.

Gerakannya cepat. Terlalu cepat untuk ukuran tubuh sebesar itu.

"Baskara!" Chandra menjerit.

Baskara tidak lari. Tidak ada gunanya lari.

Saat bayangan hitam itu melayang di udara ke arahnya, waktu seolah melambat. Dia melihat rahang monster itu terbuka lebar, siap mencabik lehernya.

Baskara menjatuhkan tubuhnya ke samping. Ke dalam lumpur.

BRUK!

Monster itu mendarat di tempatnya berdiri tadi. Cakar depannya merobek tanah, menciptakan parit sedalam sepuluh sentimeter.

Baskara berguling. Bangkit dengan cepat.

Warg itu berputar. Ekor berdurinya menyabet udara.

Baskara tidak memberinya kesempatan kedua.

Dia melompat.

Bukan menjauh. Tapi mendekat.

Dia menerjang punggung monster itu. Melingkarkan kakinya di pinggang makhluk itu seperti menunggang banteng gila.

Monster itu meraung kaget. Dia melompat-lompat, mencoba melempar kutu yang menempel di punggungnya.

Baunya memuakkan. Bau kematian. Bulunya yang berminyak dan berduri menusuk kulit paha dan dada Baskara. Darah mengalir dari goresan di perutnya.

"MATI KAU!"

Baskara berteriak.

Dia menghantamkan batu di tangannya ke kepala monster itu.

BUK!

Batu bertemu tengkorak.

Monster itu melolong. Dia membanting tubuhnya ke pohon.

Punggung Baskara menghantam kulit kayu yang keras.

ARGH!

Tulang rusuknya rasanya retak. Napasnya hilang. Tapi dia tidak melepaskan pegangannya. Jika dia jatuh, dia mati.

Dia memukul lagi.

BUK!

Lagi.

KRAK!

Suara tulang retak.

Monster itu limbung. Dia jatuh berlutut.

Baskara tidak berhenti. Adrenalin mengambil alih. Dia bukan lagi CEO. Dia adalah orang purba yang mempertahankan hidup.

Dia memukulkan batu itu ke pelipis sang Warg. Darah hitam kental muncrat ke wajahnya. Panas. Asin.

Monster itu kejang-kejang. Lalu ambruk ke tanah bersamanya.

Napasnya tersengal-sengal, meniupkan gelembung darah dari hidungnya.

Baskara berguling turun dari mayatnya.

Dia terbaring telentang di sebelah bangkai itu. Dadanya naik turun dengan kasar, mencoba menyedot oksigen sebanyak-banyaknya. Seluruh tubuhnya gemetar. Tangan kanannya mati rasa, masih mencengkeram batu yang kini basah oleh darah hitam.

Dia... menang.

Baskara melihat ke arah kakinya yang terluka karena duri punggung Warg tadi.

Darahnya sendiri menetes ke tanah. Darah merah segar.

Dan di sana, di tempat darahnya jatuh, sesuatu terjadi.

Rumput merah di sekitar kakinya bergerak. Mereka tidak mati terkena darahnya. Mereka... tumbuh.

Tanaman itu melilit bangkai Warg, seolah-olah mendapat perintah darinya untuk memakan musuhnya. Tunas-tunas baru bermunculan dari tanah yang terkena darahnya, mekar dalam hitungan detik.

Baskara menelan ludah.

Darahnya bukan racun. Darahnya adalah pupuk.

"Baskara..."

Chandra merangkak keluar dari balik pohon. Wajahnya pucat pasi. Dia menatap pria itu—pria telanjang yang berlumuran lumpur dan darah hitam, berdiri di samping mayat monster.

Di matanya, Baskara tidak melihat jijik.

Dia melihat ketakutan. Dan pemujaan.

Baskara melempar batu di tangannya.

Dia berjalan terpincang-pincang mendekati wanita itu. Mengulurkan tangan yang kotor.

"Ayo," katanya. Suaranya berat, parau, dan absolut. "Darah ini akan memancing yang lain. Kita harus bergerak."

Chandra menyambut tangannya. Jari-jarinya mencengkeram erat, seolah Baskara adalah satu-satunya tiang di dunia yang runtuh ini.

Mereka berjalan tertatih-tatih menembus hutan yang semakin gelap. Meninggalkan bangkai pertama yang menjadi saksi bisu lahirnya sang Raja.

Di suatu tempat di Selatan, Seraphina sedang menjerit dalam rantai. Di suatu tempat di Barat, Kalia sedang tertawa dalam kegelapan.

Dan Baskara akan menemukan mereka.

Satu per satu.

Lanjut membaca
Lanjut membaca