Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Budak Keluarga Kaya

Budak Keluarga Kaya

astoria | Bersambung
Jumlah kata
47.7K
Popular
496
Subscribe
157
Novel / Budak Keluarga Kaya
Budak Keluarga Kaya

Budak Keluarga Kaya

astoria| Bersambung
Jumlah Kata
47.7K
Popular
496
Subscribe
157
Sinopsis
18+PerkotaanAksiBadboyPria MiskinPria Dominan
Ronan Byrne lahir sebagai anak simpanan—tak pernah diinginkan dan akhirnya “dijual” ke keluarga kaya O’Callaghan untuk membayar hutang ayahnya. Di rumah megah itu, Ronan belajar satu hal: bertahan hidup berarti memanipulasi keadaan.Namun semuanya berubah ketika Maeve, putri keluarga itu, jatuh cinta padanya… dan hamil.Lebih rumit lagi, ibu tirinya pun memandang Ronan dengan cara yang tak seharusnya.Ketika Tuan O’Callaghan murka dan mengancam akan menyingkirkan Ronan selamanya, satu hal menjadi jelas: bertahan hidup tak lagi cukup.Akankah Ronan mampu memutar balik nasibnya dan mencapai ambisi yang ia sembunyikan selama ini?
Bab 1

Ronan baru saja menginjakkan kaki di ambang pintu ketika suara teriakan menyambar dari ruang tamu. Keributan sudah jadi seperti udara di rumah ini, ada setiap hari dan tidak pernah ditujukan untuknya, tapi entah bagaimana selalu terasa mengenai dirinya.

Biasanya ia akan berjalan lurus ke kamarnya. Menghilang. Menjadi tidak terlihat seperti yang mereka inginkan.

Tapi hari itu, Lumi memanggilnya.

“Ronan! Cepat ke sini!”

Nada suaranya seperti membunyikan sirine peringatan. Ronan tetap masuk tanpa tergesa, walau hatinya menegang.

Di ruang tamu, dua pria berjas hitam berdiri kaku. Tatapan mereka menusuknya seperti sedang menilai barang dagangan.

“Ada apa?” Ronan bertanya. Tenang. Atau setidaknya mencoba terlihat tenang.

Lumi tertawa kecil—tawa yang tidak lucu. “Ada apa, katanya.”

Ronan menatap ke arah Nyonya Winston. Wanita itu menatapnya seperti menatap bayangan kesalahan masa mudanya yang tidak pernah bisa ia hapus.

“Ayahmu punya utang pada mereka,” katanya, datar. Dingin. Seperti sedang mengumumkan berita cuaca.

Ronan menunggu pencerahan. Tidak datang.

“Lalu?” Ia benar-benar tidak mengerti. Ia bahkan tidak punya uang saku kecuali diberi belas kasihan.

Lumi mencondongkan tubuhnya. “Lunasi utang ayahmu. Aku tidak mau membayar sepeser pun untuk pria yang ternyata punya istri simpanan.”

Ah, bagian itu lagi.

Ronan sudah kebal. Ia sudah mendengarnya sejak bahkan ia bisa menyebut nama sendiri. Dipanggil anak haram, dipanggi anak simpanan, anak gundik semua sudah dia terima.

“Dan aku belum bekerja,” katanya pelan. “Jadi bagaimana aku… ”

“Kamu tinggal ikut mereka.”

Lumi menunjuk dua pria itu seolah mereka petugas barang hilang yang datang menjemput paket.

Ronan merasakan sesuatu di dadanya turun perlahan. Tapi tidak kaget.

“Jadi… kalian menjualku?” katanya datar.

“Jangan bertingkah bodoh. Kamu bukan siapa-siapa,” potong Lumi.

“Keluarga kami hampir hancur karena ibumu.”

Ronan mengangguk.

Sialnya, itu yang membuat mereka paling membencinya—karena ia tidak pernah membantah.

Ia berdiri.

“Kamu mau ke mana?” tanya Lumi.

“Ke kamar. Mengambil pakaian.”

Ia kembali beberapa menit kemudian dengan sebuah tas lusuh.

Dan hanya itu, ia dimasukkan ke dalam mobil. Seperti kiriman yang siap dikirimkan ke alamat baru.

Setelah mobil itu pergi, Lumi membuang napas panjang.

“Uangnya masih sisa, kan, Bu?” katanya. “Kita jual dia mahal.”

Nyonya Winston tersenyum—senyum tipis yang seperti goresan pisau.

“Tentu. Sisanya bisa kau gunakan untuk pernikahanmu.”

Lumi mengangguk cepat.

“Jangan biarkan Johanna tahu,” bisiknya.

---

Ada hal aneh yang terjadi ketika seseorang terbiasa tidak dianggap manusia,

pada satu titik, tubuh berhenti bereaksi terhadap kehilangan.

“Kau tidak marah dijual?” tanya pria di sebelahnya.

Ronan menatap jendela. Perjalanan memantulkan bayangannya sendiri—pucat, acuh, kosong.

“Untuk apa marah.”

Pria itu tertawa pelan. “Syukurlah. Yang sebelumnya berteriak seperti orang gila.”

Dua jam kemudian, Ronan terbangun di tempat asing. Ia dibawa masuk ke ruangan penuh orang. Wajah-wajah tanpa harapan. Mata kosong.

Ronan duduk.

Ia memejamkan mata.

Udara dingin. Bau lembap.

Lalu pintu besi dibuka.

“Aku mau dia,” suara berat berkata.

Seseorang menyikut bahunya. “Hei, bangun. Itu kamu.”

Ronan membuka mata tepat ketika lengannya ditarik.

“Selamat,” kata pria itu dengan nada enteng.

“Kamu tidak perlu tinggal lama di sini.”

Ia tidak yakin apakah itu kemenangan atau kutukan baru.

Tangan Ronan diikat. Penutup mata dipasang. Dan ia digiring masuk ke mobil lain.

“Semoga hari Anda menyenangkan, Tuan!” seru pria itu riang.

Ronan menutup mulutnya rapat.

Kata-kata terasa seperti kemewahan yang terlalu mahal untuk ia pakai saat ini.

---

Saat penutup mata dilepas, Ronan mendongak.

Rumah besar itu memantulkan cahaya lampu malam—indah, megah, dan tidak masuk akal.

Ia seperti sedang melihat dunia lain yang biasanya cuma ia lihat lewat kaca toko.

“Hei,” supir itu memanggil. “Kamu pelayan di sini sekarang.”

Ronan tidak bereaksi. Hanya menatap bangunan itu, seolah mencoba mengukur besarnya dengan napas sendiri.

“Kamu dengar? Patuhi semua perintah Tuan O’Callaghan,” tambahnya.

Ronan hendak bertanya tentang sekolah, tapi suaranya tidak keluar.

Dan Ronan melihatnya.

Seorang gadis turun dari mobil lain. Jumlah cahaya yang memantul dari matanya terasa… memecah sesuatu di dalam Ronan.

Ia belum tahu namanya. Tapi ia tahu: gadis itu membuat dunia tidak lagi terasa datar.

Supir itu mendesah. “Dan jangan pernah lupa posisimu. Kamu hanya pelayan.”

Ronan tidak mendengar apa pun setelah itu.

Ia hanya mendengar degupan aneh di dadanya.

Pertama kalinya ia merasa… hidup?

PLAK!

Tamparan itu menyambar cepat. Kepalanya menoleh. Gadis itu memekik.

Supir itu menarik Ronan pergi menuju kamar para pelayan.

Ronan duduk di ranjang keras itu, menyentuh pipinya yang panas.

Lumi pernah memukulnya. Tapi ini terasa berbeda—lebih dalam. Lebih… memalukan.

Ada ketukan di pintu.

“Siapa?” suaranya serak.

“Aku,” sebuah suara lembut menjawab. “Maeve. Putri keluarga ini.”

Dan untuk pertama kalinya hari itu, Ronan menarik napas sedikit lebih cepat dari biasanya.

Ronan belum sempat menyentuh gagang pintu ketika suara itu muncul dari luar kamar.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya cepat, tubuhnya menahan pintu agar tidak terbuka penuh. Kalau supir melihat Maeve ada di lorong pekerja, habislah dia.

Maeve menunduk sedikit, seolah mengintip lewat celah pintu yang sempit. “Aku cuma… ingin menyapamu,” katanya. Ringan. Seperti itu hal paling normal sedunia.

Ronan ragu. Lalu membuka pintu beberapa sentimeter lagi. Dan begitu aroma Maeve masuk, jantungnya—yang biasanya selalu patuh—mulai tidak teratur.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Maeve. Suara lembut yang tidak pernah benar-benar ditujukan untuknya sepanjang hidup.

Ronan mengangguk, meski tenggorokannya terasa seret. Selama beberapa detik ia hanya diam, memerhatikan wajah Maeve yang lebih dekat dari seharusnya. Terlalu dekat untuk seseorang yang bahkan tidak boleh ia tatap lebih dari lima detik.

“Kupikir kita seumuran,” kata Maeve tiba-tiba. “Berapa umurmu?”

“Delapan belas.”

Maeve mengerutkan kening, seperti ada yang tidak sesuai dengan logika kecilnya. “Oh. Jadi kamu setahun lebih tua dariku,” gumamnya, suaranya terdengar seperti seseorang yang baru sadar hadiah ulang tahunnya salah ukuran.

Ronan tidak tahu apa yang membuatnya bodoh, tetapi ia merasakan sesuatu menyerupai harapan menendang dadanya dari dalam. Bukan harapan besar—yang menghancurkan kalau jatuh. Hanya percikan kecil. Tapi itu lebih dari apa pun yang pernah ia miliki.

Maeve tersenyum. Senyum yang membuat Ronan ingin mundur karena terlalu terang, tapi juga membuatnya ingin tetap berdiri di sana.

“Kalau begitu… senang bertemu denganmu, Ronan. Semoga kamu betah bekerja di sini.”

Dan sebelum Ronan sempat bernapas dengan normal lagi, Maeve sudah berjalan pergi, meninggalkan wangi dan kebingungan yang terlalu lama tinggal di pintu kamarnya.

“Ya… kuharap aku betah bekerja di sini,” gumam Ronan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca