

Hujan rintik turun seperti ikut menertawakan nasib Leon. Shift malam di minimarket baru saja selesai, tubuhnya pegal, tapi hatinya yang lebih sakit. Malam itu kota tampak terlalu romantis untuk seorang jomblo akut sepertinya.
Di trotoar, sepasang muda-mudi berdiri berpelukan. Lampu jalan menyinari mereka seperti panggung utama drama Korea. Leon berjalan cepat melewati mereka sambil pura-pura menatap ponsel, padahal matanya melirik penuh iri. Beberapa langkah kemudian, ada lagi pasangan lain yang tertawa sambil saling dorong-dorong manja. Dan lagi, dan lagi.
“Astaga… sebanyak ini, serius?” gumam Leon, merasa dadanya sesak.
Ia mencoba fokus pada jalan, tapi justru satu pasangan di depannya saling bercumbu sambil tertawa pelan. Dan tanpa sadar, frustasi yang ia pendam akhirnya meledak.
“SIALAN KALIAN SEMUA!!!”
Suara itu keluar jauh lebih keras dari niatnya. Seketika keramaian terdiam. Orang-orang menoleh bersamaan. Ada yang kaget, ada yang menahan tawa karena disangka orang gila lewat.
Leon membeku seperti patung, wajahnya sedikit pucat, menyadari bahwa teriakannya sangat kencang.
“Maaf… maaf… lanjutkan saja… aku cuma… ya udah…”
Dan ia kabur seperti penjahat kecil.
Saat tiba di depan apartemen, cobaan lain sepertinya sudah menunggu. Pak Yasmin—tetangga tua yang sudah bau tanah tapi entah kenapa hidupnya lebih “berwarna” dari Leon—keluar dari tangga sambil merangkul seorang cewek muda imut bergaun ketat.
“Leonnn! Pulang malam lagi?” sapanya dengan nada bangga.
Leon hanya memaksa tersenyum. “Iya, Pak.”
Cewek yang digandengnya tersenyum menggoda.
Pak Yasmin pun menepuk pinggangnya. “Kamu kapan kayak gini? Jangan jomblo terus. Hidup itu harus dinikmati, Leon.”
Dalam hati Leon menjerit: Saya juga mau, Pak. Tapi dunia tidak mendukung saya.
Yang keluar hanya, “Iya Pak, selamat malam.”
Leon masuk ke apartemennya dan menutup pintu sedikit terlalu keras.
BRAK!
“Leon! Jangan keras-keras dong! Malam-malam!” teriak Ibu Pengawas dari bawah lantai satu.
“Maaf ya Bu!” Teriak Leon balas sambil kembali masuk ke ruangan kecilnya. Ia melempar tas, jatuh ke kasur, dan menarik bantal menutupi wajah.
“Aaaaaakh… hidup kenapa gini sih…”
Suara teriakannya menggema, membuat beberapa penghuni lantai lain mengintip dari celah pintu.
Belum sempat ia melanjutkan kegalauannya, tiba-tiba suara aneh terdengar dari pintu.
Seperti percikan listrik—dan cahaya biru muncul sesaat. Leon menurunkan bantal.
“…Hah?”
Pintu apartemennya terbuka pelan, dan di sana berdiri sosok gadis dengan rambut perak panjang, mata zamrud, pakaian seperti elf dari komik fantasy, dan… telinga panjang runcing.
Leon mengedip tiga kali.
“…Oke. Aku sudah gila.”
Gadis itu tampak bingung. “Hah?”
Leon menatap langit-langit. “Ini halusinasi. Stress. Overwork. Aku lihat elf sekarang. Normal, normal…”
Gadis itu mendekat, memegang pipinya.
Leon masih mengoceh, “Ini pasti mimpi aneh—”
CECET!
Lyaria mencubit pipinya dengan kekuatan penuh.
“AW! Sakit! Hei!”
“Aku nyata!” katanya kesal. “Namaku Lyaria Valva Saradina! Aku datang dari dunia Megalune!”
Leon memekik. “HAHAHA, YA TUHAN AKU SUDAH GILA BENARAN!”
Ia mundur, Lyaria maju. Leon menutup wajah. Lyaria menarik kerah bajunya. Mereka bergerak seperti dua anak kecil ribut rebutan mainan.
“JANGAN DEKAT-DEKAT! Aku belum siap masuk RSJ!”
“AKU BUKAN HALUSINASI! Pegang saja telingaku! Ini asli!”
“NO! Itu fetish banyak cowok, nanti aku dianggap mesum!”
Ketegangan aneh itu makin menjadi ketika dari luar terdengar suara:
“LEON! ADA APA LAGI?!” Ibu Pengawas berteriak kesal.
“NGGAK ADA BU!! LYARIA—JANGAN TARIK CELANAKU!”
Astaga, siapa sebenarnya gadis elf ini? Apakah ini hanya mimpi karena aku ketiduran sepulang kerja?
Namun sebelum situasi makin tidak karuan, Leon melihat bayangan hitam muncul di belakang lorong apartemen. Sosok bertopeng, berseragam hitam, bergerak senyap seperti ninja.
Empat orang. Meski pergerakan mereka senyap. Anehnya, Leon dan Lyaria menyadari kehadiran mereka yang tipis seperti bayangan.
Lyaria melihat mereka langsung pucat. “Sohei… mereka menemukanku…”
Leon menelan ludah. “O-oke… ini sudah level delusi yang beda…”
Sebelum ninja itu menyerang, Leon spontan menarik tangan Lyaria dan lari menuruni tangga.
“LARI AJA DULU!!”
Lyaria terhuyung. “Tapi—“
“JANGAN ‘TAPI’! Aku nggak ngerti apa-apa, tapi kita mati kalau diem!”
Mereka berlari di koridor kosan reyot itu. Langkah ninja terdengar cepat dan ringan, seperti penjagal profesional.
Sementara sang gadis elf yang berpakaian indah layaknya tuan putri, hanya diam saja saat tangannya yang putih pulen nan lembut kutarik dengan kencang.
Ini buruk, sangat buruk! mereka terlihat seperti saat aku sedang mimpi buruk saat sedang sakit demam.
Leon ngos-ngosan. “Gila… aku cuma… pegawai minimarket… kenapa kayak begini…”
Dalam keputusasaan itu, Leon terpikir sesuatu yang tragis sekaligus kocak:
“Kalau saja aku punya kekuatan spirit seperti di komik yang aku baca pagi ini… mungkin aku bisa lawan mereka…”
Dan seolah dunia menjawab keinginannya—
FOOOM!
Tangan Leon bercahaya biru.
Lyaria tersentak. “Huh?!”
Leon menatap tangannya seperti seorang pria baru sadar bisa menjadi Avatar. “APAAN INI?! AKU MENGELUARKAN CAHAYA?!”
Salah satu ninja melompat ke arah mereka.
Tanpa berpikir, Leon mengayunkan tangan. Cahaya biru meledak seperti perisai energi.
DOOOONG!
Ninja itu terpental jauh, menghantam dinding.
Lyaria menutup mulut. “I-Itu… kekuatan…? Milikmu!?”
Leon masih tertegun. “Aku… punya kekuatan… aku punya kekuatan?! BENERAN?!”
Tiba-tiba Leon berdiri tegak, menunjuk ke langit koridor.
“AKU PUNYA KEKUATAN TERSEMBUNYI!!!”
Para Ninja Sohei yang melihat hal itu bahkan berhenti sejenak, tercengang, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.
Sementara Leon masih di alam imajinasinya, Lyaria yang melihat itu jadi ingin mati saja karena malu. “Leon… bukan waktunya…”
Leon masih heboh.
“AKU—LEON—SANG SHADOW DRAGON—”
Mulutnya langsung ditutup Lyaria dengan kedua tangan. “Diam. Atau kita mati sekarang juga.”
Para ninja kembali bergerak, dan Leon akhirnya sadar.
Malam ini, hidupnya baru saja berubah menjadi anime fantasy paling absurd yang pernah ia impikan.