Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dari Gengster Menjadi Crazy Rich

Dari Gengster Menjadi Crazy Rich

Kadal | Bersambung
Jumlah kata
70.4K
Popular
1.5K
Subscribe
132
Novel / Dari Gengster Menjadi Crazy Rich
Dari Gengster Menjadi Crazy Rich

Dari Gengster Menjadi Crazy Rich

Kadal| Bersambung
Jumlah Kata
70.4K
Popular
1.5K
Subscribe
132
Sinopsis
PerkotaanAksiBalas DendamGangsterMafia
Geng Macan Putih adalah organisasi terbesar dan paling ditakuti di negeri ini—sebuah kerajaan kriminal yang merangkak dari bawah hingga ke puncak, dibangun dengan darah, strategi, dan kegilaan satu orang: Jafar si Macan Putih. Saat ia akhirnya berdiri di puncak kekuasaan, tak ada lagi yang tak bisa ia miliki. Namun, dalam sekejap, segalanya runtuh. Ia dikhianati dari dalam, dijatuhkan oleh orang-orang yang pernah ia percayai. Di ambang kematian, satu kalimat terakhir terngiang di benaknya: "Uang menguasai segalanya." Kematian ternyata bukanlah akhir bagi Jafar. Ia terbangun kembali—bukan dalam tubuhnya sendiri, melainkan dalam raga seorang pemuda bernama Jafran... Jafran Mahardika. Pewaris Keluarga Mahardika. Keluarga terkaya di negara ini. Dengan identitas baru, kekayaan tak terbatas, dan kesempatan kedua dalam hidup, Jafar seolah mendapatkan segalanya kembali. Namun kehidupan di balik dinding kemewahan keluarga Mahardika jauh dari kata damai—dipenuhi intrik, kecemburuan, dan permainan kekuasaan para elit busuk. Anak-anak manja, para bangsawan sombong, dan musuh-musuh tersembunyi mulai menantangnya. Mereka lupa satu hal: Ia pernah menjadi Macan Putih. Kini, dengan wajah baru dan kekuatan yang lebih besar, Jafar bersiap membangun kerajaan baru—dan menghadapi bayangan masa lalunya sendiri: geng yang dulu ia ciptakan.
Aku Sekarat

Kakakku, Rasyid, meninggal—dan kurasa, di situlah semuanya bermula.

Pikiran itu menggema menyakitkan di kepala Jafar saat sensasi tajam seperti terbakar menjalar di kedua kakinya. Tubuhnya semakin dingin. Pandangannya perlahan-lahan ditelan kegelapan. Satu-satunya suara yang masih mampu ia tangkap hanyalah gesekan lirih yang terseret di atas lantai.

Ia tahu persis suara apa itu.

Itu adalah tubuhnya sendiri—diseret di lantai, terkurung rapat dalam sebuah kantong hitam tebal yang berat dan menyesakkan. Tangan dan kakinya terikat erat. Sekalipun ia memiliki sisa tenaga untuk melawan, semua itu tak ada artinya. Ia sepenuhnya tak berdaya.

Dalam momen-momen singkat itu, seluruh hidupnya terputar jelas di benaknya. Kenangan demi kenangan mengalir deras tanpa henti.

Sejak Rasyid meninggal, nasib buruk seolah terus mengejarnya.

Di hari yang sama, ayahnya juga tewas. Pria itu bergegas menuju rumah sakit dengan putus asa, hanya untuk kehilangan nyawanya dalam kecelakaan mobil yang tragis. Ibunya tak sanggup menanggung dua kehilangan sekaligus. Rasa sakit itu menghancurkannya, meninggalkan satu-satunya yang masih bernapas—Jafar.

Namun, alih-alih membiarkan masa lalu kelam itu menyeretnya ke jurang, Jafar justru menolak tunduk. Kehilangan-kehilangan itu membentuknya menjadi siapa dirinya sekarang. Sejak hari itu, ia bersumpah dunia tidak akan lagi mengambil darinya begitu saja. Jika dunia merampas, maka ia akan merampas kembali—apa pun caranya.

Pencurian. Penipuan. Kekerasan. Pemerasan.

Kompas moralnya lenyap, digantikan tekad yang membaja. Tak lama kemudian, orang-orang lain yang sama-sama terluka, disisihkan, dan dipenuhi amarah mulai berkumpul di sekelilingnya. Dari sanalah lahir Geng Macan Putih—kelompok yang kemudian dikenal sebagai salah satu yang paling kejam.

Nama yang memalukan, kalau dipikir-pikir sekarang.

Kenangan itu membuatnya meringis dalam hati. Mereka memanggilnya Macan Putih hanya karena ia sering memakai baju putih. Atau mungkin karena ia sebuas macan. Entahlah. Apa pun alasannya, ia dengan bodoh menerimanya begitu saja.

Seandainya ia masih bisa bergerak, Jafar pasti bertemu sudah menampar dirinya sendiri saat itu juga.

Kebanyakan orang dihantui kenangan memalukan masa SMA atau remaja yang canggung. Namun ia—ia membawa dosa-dosa yang jauh lebih berat hingga dewasa.

Bahkan hari ini pun, ia sempat mengenakan celana dalam merah keberuntungan. Namun jelas, keberuntungan sama sekali tidak berpihak padanya.

Rasa sakit kian merajalela, mengingatkannya pada belasan luka tusuk yang menutupi tubuhnya. Ia bahkan sudah tak mampu menghitungnya lagi.

"Baiklah, turunkan dia di sini. Lalu kalian pergi. Aku ingin bicara berdua dengannya."

Perintah itu terdengar teredam dari atas.

Derap langkah kaki menjauh. Lalu suara ritsleting memecah keheningan. Cahaya redup menembus masuk saat kantong itu dibuka. Jafar menyipitkan mata, mati-matian berusaha melihat melalui pandangan yang kabur. Darah yang menetes dan pusing yang menghantam membuat segalanya hampir mustahil. Namun ia masih bisa menangkap sosok yang berdiri di atasnya—wajahnya tersembunyi di balik balaklava.

"Setahu saya… mungkin saja saya diculik John Wick," gumam Jafar lemah. Kesadarannya melayang di antara hidup dan mati.

"John Wick… wah, itu pria yang menakutkan. Bagaimana mungkin aku bisa mengalahkannya? Tandukan mungkin… atau tendangan cepat di antara kedua kakinya… Aku ingin melihatnya mengeja jalan keluar dari situasi itu."

"Masih sempat bercanda, bahkan sekarang?"

Sosok bertopeng itu terkekeh sinis. Tangannya menjambak rambut hitam Jafar segenggam, memaksa kepalanya mendongak dengan kasar.

"Aku masih tak percaya orang sepertimu memimpin Geng Macan Putih. Merangkak naik dari ketiadaan, mengubah dirimu menjadi sosok yang ditakuti. Benar-benar lelucon yang menyedihkan."

Jafar memaksa matanya tetap terbuka, berJafarg mati-matian melawan kabut gelap yang menelan penglihatannya. Ia ingin melihat jelas siapa pria di hadapannya. Namun penglihatannya benar-benar gagal.

Mataku tak berguna…

Apakah suaranya disamarkan, atau aku hanya membayangkannya?

"Kau pasti sudah tahu hari ini akan tiba," lanjut pria itu. "Merupakan kehormatan bagiku menjadi orang yang menghabisi Jafar si Macan Putih yang hebat."

Pria itu melepas tudungnya dengan gerakan dramatis. Namun darah yang mengalir ke mata Jafar benar-benar merampas kesempatan terakhirnya untuk mengenali wajah itu.

"Aku ingin kau melihat wajah algojomu. Kau selalu bilang tak seorang pun bisa memilikimu. Tapi kau salah. Bukan gengster yang menguasai kota ini—melainkan uang."

Tangan itu dilepaskan. Sebuah tendangan brutal menghantam tubuh Jafar, membuatnya terjengkang ke belakang.

Seketika, semburan air dingin memenuhi mulut dan hidungnya.

Ia tenggelam.

Cahaya redup di atas kepalanya lenyap dengan cepat, terseret masuk ke dalam kegelapan tanpa dasar.

Apakah aku tenggelam?

Apakah hidupku benar-benar berakhir seperti ini?

Tanpa tahu siapa yang membunuhnya. Tanpa tahu alasannya.

Uang berkuasa? Apakah kematianku dibeli oleh seseorang?

Kemarahan membara di dalam dirinya—jelas, menyala, dan menyakitkan.

Kata-kata itu…

'Tak seorang pun bisa memilikiku'.

Hanya seseorang yang sangat dekat dengannya yang tahu kalimat itu.

Apakah seseorang dari gengku sendiri yang melakukannya?

Apakah aku dikhianati?

Belum cukupkah penderitaannya?

Siapa pun yang mengawasi dari atas sana… siapa pun yang mengendalikan dunia yang kejam ini… tidakkah kau berutang padaku sebuah jawaban? Setidaknya beri aku kesempatan untuk tahu siapa yang melakukan ini padaku!

Pikirannya yang dipenuhi amarah perlahan meredup. Amarah itu padam seiring kesadarannya menghilang.

Momen itu menandai akhir dari Jafar—pemimpin Geng Macan Putih yang terkenal kejam.

---

---

---

Kedamaian yang menyusul terasa begitu singkat.

Rasa sakit yang menyilaukan meledak di dalam tengkorak Jafar. Jauh lebih parah daripada luka tusuk mana pun yang pernah ia alami. Tenaganya terkuras habis, digantikan sepenuhnya oleh penderitaan yang luar biasa.

Apakah ini hukuman karena telah menantang takdir?

Namun sebuah kesadaran lain menghantamnya.

Tunggu… kalau aku bisa merasakan sakit, apa artinya aku masih hidup?

Ia berusaha menggerakkan jari-jari tangannya. Berusaha membuka matanya. Namun ia tak mampu memastikan apakah usahanya berhasil atau tidak.

"Kami mendapat respons! Cepat, hubungi petugas medis! Dia bereaksi!"

Suara-suara panik mengelilinginya. Bunyi bip yang konstan di sampingnya kini terdengar semakin jelas dan semakin keras. Ia tahu persis di mana seharusnya ia berada sekarang.

Sebuah suara yang lebih dalam, tajam, dan penuh wibawa membentak perintah,

"Kalian harus melakukan segala daya untuk menyelamatkan Jafran. Soal biaya tidak penting. Keluarga Jafran Mahardika akan membayar berapa pun. Kalau gagal—kalian semua tidak perlu kembali besok."

Siapa brengsek sombong dan sok berkuasa ini…

Namun kesadaran itu menghantamnya dengan brutal.

Orang itu sedang berbicara tentang dirinya.

Dan nama yang disebut bukan lagi Jafar.

Melainkan—

Jafran....

Jafran Mahardika.

Tidak… Ini tidak mungkin…

Keluarga Mahardika? Salah satu keluarga terkaya di seluruh negeri?

Lanjut membaca
Lanjut membaca