

Wira adalah seorang lelaki desa berusia dua puluh tiga tahun. Tubuh tinggi, sekitar 172 cm, dengan bahu yang sempit namun lengan yang terbiasa bekerja membuat ototnya samar terlihat.
Tubuhnya memang agak kurus, bukan karena kurang makan, tetapi karena pekerjaan keras dan hidup sederhana membuat tubuhnya kurang terisi, meski tidak sampai tampak ringkih.
Wajahnya sebenarnya cukup tampan, namun tidak didukung dengan penampilan yang menarik, membuat ketampanannya seringkali diabaikan dunia luar.
Bentuk wajah yang simetris, hidung lurus, garis rahang tegas meskipun tertutup sedikit cambang, mata cokelat gelap yang lembut. Kulit sawo matang bersih.
Sayangnya, semua itu tertutup oleh penampilan yang membuatnya kurang menarik, rambutnya berantakan, pakaian lusuh seperti tidak pernah ganti, sandal jepit yang sudah usang, dan cara berjalan yang selalu menunduk.
Orang-orang tidak pernah benar-benar memperhatikan wajahnya, hanya melihat kesederhanaan yang melekat padanya.
Wira terbiasa memikul beban sendiri. Ia pendiam, tidak suka merepotkan orang, dan tak pandai membela diri ketika diejek.
Dan hari itu, kelemahannya kembali jadi bahan olok-olok.
Wira berjalan di jalur tanah desa sambil memanggul kayu bakar yang ia kumpulkan sejak pagi. Bahunya terasa pegal, tapi pikirannya justru melayang pada satu sosok, Nilamsari.
Dia adalah primadona desa. Gadis desa yang kecantikannya terkenal ke seluruh penjuru. Kulitnya cerah, hidung mancung, bibir merah alami. Rambut hitam panjangnya dikepang rapi, bergoyang pelan setiap langkahnya.
Saat itu, Nilamsari berjalan bersama dua sahabatnya. Mereka tertawa-tawa, membicarakan pesta pernikahan teman sekolahnya yang meriah.
Wira yang melihat dari jauh hanya bisa menunduk, namun tetap mencuri pandang, seolah berharap ia memiliki keberanian sekecil apa pun untuk menyapa.
Matanya terpaku terlalu lama. Langkahnya menjadi tidak terarah.
BRUK!
Wira menabrak batang pohon ketapang di pinggir jalan. Kayu bakar di pundaknya terpelanting, beberapa jatuh berserakan ke tanah. Ia terhuyung, hampir jatuh, wajahnya memerah karena malu.
Seketika tawa meledak. Nilamsari menutup mulutnya sebentar, tetapi hanya untuk menahan geli. Sementara dua gadis lain sudah tertawa terbahak-bahak.
Wira mencoba tersenyum, meski sangat malu. Dia merapikan bajunya, menepuk celananya yang kotor terkena tanah basah.
Lalu Nilamsari mendekat sambil mendongak sedikit, menatap Wira dari ujung kepala sampai kaki dengan pandangan meremehkan.
"Ya ampun, Mas Wira. Kamu ini seperti kambing dungu. Jangan tidak tahu arah. Masa iya ada pohon segede itu kamu tabrak!" ledeknya.
Teman-temannya menimpali dengan lebih pedas.
"Kasihan kayunya, pasti sakit dan malu banget," timbal Kuswati.
"Sudah miskin, jelek, bodoh lagi. Pantas tidak ada gadis yang mau sama kamu," sambung Minati.
Nilamsari menyilangkan tangan, bibirnya menyungging sinis. “Sudahlah, Mas Wira. Jangan harap bisa dekat sama aku. Laki-laki yang miskin, kumal, dan memalukan sepertimu… aku jijik, tahu?”
Nilamsari yang selama ini tahu Wira diam-diam menyukainya, hari itu meluapkan kekesalannya. Meski Wira tak langsung menyatakan cintanya, namun sudah terlihat jelas dari gerak-geriknya.
Kata jijik itu menghantam lebih keras daripada pukulan apa pun. Wira hanya menunduk, memungut kayu satu per satu. Tangannya gemetar. Tidak tahu apakah karena amarah, malu, atau sakit hati.
Tiga perempuan itu berlalu sambil tertawa, meninggalkan Wira sendirian di bawah terik matahari. Ia menggigit bibir, mengepalkan tangannya dan menghantam udara.
*****
Pagi itu, Wira bangun lebih awal dari biasanya. Meski hatinya masih perih, ia tetap mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin Nilamsari bersikap kasar kemarin karena malu dilihat orang.
"Nilam mungkin hanya malu karena ada Minati dan Kuswati. Aku cuma butuh merubah penampilan saja," gumamnya ambil menap cermin.
Ia mandi, merapikan rambutnya dengan sisir plastik tua yang sudah menghitam, lalu mengambil baju terbaik yang ia punya. Kemeja biru pudar yang hanya ia pakai saat hari besar. Celananya ia setrika dengan botol berisi air panas, sebisa yang ia tahu. Setelah semua rapi, ia berdiri di depan cermin retak di kamarnya.
Wira menatap pantulan itu lama. Tersnyum dan membalikkan badan, memastikan penampilannya sudah sempurna.
"Nggak buruk-buruk amat, mungkin aku cuma kurang percaya diri aja. Sebenarnya aku ganteng sih," gumamnya, entah pada diri sendiri atau sekadar menenangkan hati.
Sebelum pergi, ia menghitung uang recehan dari celengan ayam yang ia bongkar semalam. Tidak banyak, tapi cukup untuk mewujudkan satu hal, membeli sebuah cincin perak sederhana dari pasar.
Dengan motor tuanya yang mengepulkan asap hitam, Wira melaju ke pasar.
Tidak menoleh kemanapun, tujuannya hanya ke toko perhiasan. Ia memegang kotak kecil itu sepanjang perjalanan pulang, seakan takut menghilangkannya.
Dengan mantap, ia pergi ke rumah Nilamsari tanpa menunda lagi
Rumah Nilamsari berdiri paling megah di desa itu, temboknya rapi dan halaman dipenuhi bunga warna-warni. Wira menarik napas panjang sebelum mengetuk pagar besi.
Nilamsari keluar, rambutnya dikepang rapi dan wajahnya bersih bersinar. Saat melihat siapa yang datang, senyumnya langsung turun.
Sebenarnya ia sejak tadi sedang menunggu seseorang. Namun yang datang malah Wira, membuat senyumnya seketika pudar.
“Mau apa kamu kesini?” suaranya dingin.
Wira mencoba tersenyum tipis, gugup, tapi tulus.
“Nilam, aku cuma mau ngomong sebentar. Boleh?”
Nilamsari tidak menjawab. Ia hanya mengangkat dagu. Wira membuka kotak kecil berisi cincin perak. Tangannya gemetar sedikit.
“Aku tahu aku nggak punya apa-apa. Tapi aku sungguh suka sama kamu, Nilam. Ini cuma tanda kecil. Kalau kamu mau...”
Belum selesai ia bicara, Nilamsari mengangkat tangan dan meludah ke tanah, tepat di depan kaki Wira. Tatapannya penuh jijik.
“Cih!! Kamu ngerti nggak, sih? Aku udah bilang nggak suka sama kamu.”
Ia mendekat setengah langkah, suaranya tajam seperti duri.
“Perlu aku ulang lagi? Aku nggak suka sama kamu. Malah aku jijik!”
Wira terdiam, menunduk malu.
“Dan satu lagi, muka kamu tuh kayak kambing bodoh. Cara jalanmu pun mirip kambing gila!” katanya sambil menatap Wira dari ujung kepala sampai sandal jepitnya yang kusam.
Darah Wira serasa berhenti mengalir. Cincin itu tetap ia genggam, tapi senyumnya seketika hilang. Ia berusaha tersenyum lagi, meski bibirnya kaku.
“Aku ngerti. Maaf kalau aku ganggu kamu.”
Ketika Wira melangkah pergi, suara deru motor besar terdengar dari ujung jalan. Hendra, anak juragan kaya, turun dengan santai. Rambutnya tertata rapi, pakaiannya tampak mahal, dan motor sportnya berkilap.
Nilamsari berubah drastis. Tatapannya berbinar, senyum lebar menghias wajahnya.
“Mas Hendraaa!” serunya manja sambil berlari kecil.
Tanpa ragu ia memeluk Hendra di depan Wira, sengaja memastikan Wira melihat semuanya. Hendra membalas pelukan itu sambil melirik Wira dengan senyum meremehkan.
“Eh, Wira. Kok kusut banget kayak nggak peenah mandi. Kasihan banget," ejek Hendra.
Nilamsari menatap Wira sambil menempel manja di lengan Hendra.
“Makanya, tahu diri sedikit. Aku itu sukanya yang mapan dan tampan, bukan yang jalan pakai motor obrok-obrok dan badan mirip jemuran,”ucap Nilamsari.
Mereka tertawa bersama. Kemudian Nilamsari naik ke motor besar itu, mendekap pinggang Hendra erat-erat.
“Ayo, Mas Hendra, kita pergi. Biar ada yang tahu diri,” katanya sambil melirik tajam ke arah Wira.
Hendra menggeber motor keras-keras sebelum melaju pergi, meninggalkan Wira dalam debu dan suara tawa yang masih memekakkan telinga.
Wira berdiri mematung. Kotak cincin di tangannya hancur remuk karena genggamannya sendiri.
Dan di dalam dadanya, luka yang semula perih berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Mengendap, tumbuh, menunggu waktu meledak.