

"Kau mengotori jalan masukku."
Suara itu datang dari atas, dingin dan tajam, memotong udara malam Manhattan yang beku. Ethan Christopher Vance, yang kini berusia lima puluh tahun dan mengenakan pakaian compang-camping yang basah oleh salju yang mencair, mengangkat pandangannya yang keruh. Di puncak tangga marmer yang diterangi lampu sorot, berdiri Aleena Rose Vance, putrinya.
Aleena adalah wanita yang sukses, CEO yang cakap, dingin, dan efisien. Semua sifat buruk terbaik yang ia warisi dari ayahnya, tetapi tanpa cacat moral. Ia melihat pria yang memohon di jalanan itu dengan jijik yang tak tersamarkan. Ethan, yang dulu dikenal sebagai Tiran Vance Consolidated, seorang obsesif kebersihan yang menolak perselingkuhan karena takut penyakit. Kini ia adalah simbol kotor dan kegagalan total.
"Aku hanya. Aku hanya ingin melihatmu, Aleena," bisik Ethan, suaranya serak dan nyaris tak terdengar.
Aleena tidak bergerak. "Aku tahu yang kau inginkan adalah uang. Aku tidak akan memanggilmu dengan gelar itu, dan aku tidak akan memberimu waktu berhargaku. Aku hanya akan memberimu ini."
Aleena melemparkan gulungan uang tunai tebal ke jalanan. Uang itu mendarat beberapa inci dari kaki Ethan, beberapa lembar tersapu angin. "Ambil uang itu dan jangan pernah berani kembali ke dekat lingkungan ini! Kau tidak pantas berada di dekat rumahku!"
Ethan tidak merasakan sakit fisik akibat penghinaan itu. Penghinaan adalah harga yang pantas ia bayar. Rasa sakit sesungguhnya ada di inti jiwanya.
"Apakah kau bahagia?" tanya Ethan, pertanyaan itu lebih merupakan penyesalan daripada rasa ingin tahu.
Wajah Aleena menegang. "Aku tidak bahagia," jawabnya dengan suara yang bergetar karena kebencian yang mendalam. "Aku tidak akan pernah bahagia selama aku ingat kau, Ethan Christopher Vance, telah membunuh ibuku. Kau mengambil semua yang tersisa dari ibuku. martabatnya, keinginannya untuk hidup, dan membuangnya ke dalam minuman keras dan kekasaranmu. Pergi!"
Ethan menunduk. Ia menerima kebenaran pahit itu. Ia telah menghancurkan istrinya, Anna Marie Vance, hingga wanita itu bunuh diri, mencari kedamaian yang tidak pernah ia temukan di sisi Ethan.
Ethan berbalik dari cahaya yang disimbolkan putrinya dan kembali menyusuri jalanan yang dingin.
Ia mengingat bagaimana ia, CEO dari Vance Consolidated, sebuah perusahaan real estate dan investasi multinasional, kehilangan segalanya. Selama masa jayanya, Ethan adalah seorang tiran. Ia memerintah dengan ketakutan. Kekasarannya meluas dari ruang rapat hingga ke kamar tidur. Ia menghina Anna setiap hari, membuatnya merasa tidak berharga, dan kekerasan fisik adalah hukuman yang ia berikan jika Anna berani membantah.
Kebangkrutan datang cepat. Setelah bertahun-tahun diperlakukan seperti anjing oleh Ethan, wakil presiden kepercayaannya membalas dengan kejam, meruntuhkan kekaisaran Vance. Dalam waktu lima tahun, Ethan, Sang Tiran yang sombong, menjadi gelandangan.
Dinginnya malam menusuk tulang, dingin yang begitu intens hingga ia merasakan sendi-sendinya memohon untuk berhenti. Ethan tersandung dan jatuh di gang yang basah oleh salju yang mencair, di balik tumpukan sampah restoran. Ia mencoba bangkit, tetapi tenaganya habis. Rasa lapar yang menyiksa, sensasi yang sudah menjadi teman setianya, kini mencengkeramnya.
Salju mulai turun lagi, menutupi tubuhnya yang kaku. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding bata yang dingin, merasakan suhu tubuhnya turun drastis. Napasnya terengah-engah, kabur di udara. Ia tahu, ini adalah akhirnya.
Pikirannya kembali kepada Anna. Ia tidak memikirkan kantornya, musuh-musuhnya, atau uangnya. Ia hanya memikirkan wajah Anna yang lembut, yang ia pukul, yang ia hina dengan kata-kata kasar.
Ia berbisik, suaranya nyaris tidak terdengar di antara angin yang menderu. Ia memejamkan mata, membiarkan penyesalan membakar sisa-sisa kesadarannya.
Ia mencoba mengangkat tangannya yang gemetar. Tangannya tidak lagi dapat meraih kekuasaan atau papan nama perusahaan, hanya dapat meraih udara dingin.
"Anna," bisiknya, suaranya nyaris hilang ditelan angin dingin Aegis.
"Aku minta maaf. Aku menyia-nyiakanmu. Aku menyia-nyiakan segalanya. Semua uang itu. Semua kekuasaan itu, tidak ada artinya tanpamu. Aku adalah pria paling bodoh di Aegis." Air mata yang sudah lama kering akhirnya menetes dari matanya, membeku di pipinya yang kotor.
Ia memejamkan mata. Rasa sakit memuncak. Ia tahu ini adalah akhir dari Ethan Christopher Vance, Sang Tiran.
"Jika ada kehidupan kedua," ia memaksa kalimat itu keluar dengan napas terakhirnya, kalimat terakhir seorang mantan CEO sombong yang telah kehilangan segalanya. "Aku bersumpah demi semua yang kupegang, aku akan memperlakukan Anna dengan baik. Aku akan melindunginya. Aku akan menjadi suaminya yang benar, dan bukan iblisnya."
Napasnya terhenti. Ethan Christopher Vance, si gelandangan, si mantan raja bisnis, telah mati, dikalahkan oleh penyesalan. Dan kematian, menjadi penebus dosa yang tidak akan bisa hilang dari hidupnya.
1997~
Ethan tersentak bangun, dadanya naik turun dengan liar. Tubuhnya terasa panas, bukan dingin. Kepalanya berdenyut, bukan karena kedinginan, tetapi karena bourbon murah yang ia tenggak semalam.
Ia buru-buru menyentuh wajahnya. Kencang. Muda. Kuat. Tidak ada keriput. Ia tidak berada di trotoar. Ia berada di kasur yang empuk. Ia mencium aroma apek dari kasur tua, aroma yang sangat asing dibandingkan dengan aroma linen mahal di penthousenya.
Ia melihat sekeliling ruangan kecil yang pengap itu, kamar tidur mereka di pinggiran Aegis. Catnya mengelupas. Sebuah tanggal samar terpampang di kalender dinding yang buram, Desember 1997.
Usianya dua puluh dua tahun. Ia baru menikah satu tahun.
Ethan yang berusia 50 tahun menatap langit-langit, terperangkap di dalam tubuhnya yang berusia 22 tahun. Sumpahnya telah didengar. Ia telah kembali ke masa ia belum benar-benar menghancurkan segalanya, meski ia sudah mulai. Ia kembali ke waktu setelah ia sudah mulai melakukan KDRT.
Kesempatan kedua. Bukan hadiah, melainkan medan perang untuk penebusan.
Ethan mendengus. Rasa jijik pada dirinya yang muda, yang kasar, bercampur dengan tekad baja. Ia telah mati dengan penyesalan, kini ia akan hidup dengan tujuan.
"Anna," gumamnya, suaranya yang serak dan muda itu kini membawa bobot penyesalan seumur hidup. "Aku kembali."
Di sampingnya, Anna Marie Vance meringkuk, memunggungi dirinya. Dia masih sangat muda, 19 tahun. Cara tidurnya sangat menyakitkan untuk dilihat Ethan, melengkung sekecil mungkin, punggungnya menghadap Ethan, memeluk bantal seperti perisai.
Ethan ingat, mereka sudah menikah satu tahun. Dan ya, kekerasan, makian, dan alkohol sudah menjadi rutinitas yang Ethan ciptakan dalam rumah tangga mereka. Di sudut ruangan, terdengar suara cooing dan rengekan lembut. Aleena Rose Vance, putri mereka yang berusia 3 bulan. Hidup.
Air mata penyesalan membasahi pipi Ethan. Ia ingin menyentuh Anna. Ia ingin mengatakan segalanya.
Ethan mengangkat tangannya, mencoba menggapai Anna.
Gerakan kecil itu, hembusan udara yang dihasilkan oleh tangannya, adalah pemicu ketakutan yang mengakar.
Anna tersentak hebat. Dia langsung membalikkan badan dan bangkit ke posisi duduk, punggungnya menempel ke sandaran kepala. Dia melihat Ethan, melihat tangannya yang terulur di udara, dan wajahnya dipenuhi ketakutan murni yang tak terkendali.