

Koridor Asrama Wijaya terasa lebih sempit dari foto-foto yang ditunjukkan pihak kampus.
Jewo berhenti tepat setelah melangkah masuk, koper kecilnya masih tergenggam di tangan kanan. Roda koper itu berdecit pelan, kriiit…, lalu mati ketika ia menahannya. Lampu di langit-langit menyala kekuningan, bukan redup, tapi juga tidak terang. Cahayanya jatuh miring ke dinding, menyoroti cat yang mengelupas dan retakan halus yang memanjang seperti bekas kuku.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
Padahal ini asrama mahasiswa. Seharusnya ada suara tawa, musik bocor dari kamar, atau minimal notifikasi ponsel yang saling bersahutan. Tapi yang terdengar hanya napas Jewo sendiri, pelan dan teratur—setidaknya ia berusaha terdengar tenang.
“Fix, ini bukan asrama normal,” gumamnya.
Ia melirik layar ponsel. 23.43.
Jewo tidak pernah punya rencana tinggal di asrama. Tapi surat dari kampus membuatnya tidak punya pilihan. Penelitian antropologinya baru disetujui dengan satu syarat: ia harus menetap langsung di lingkungan yang menjadi objek kajian—Asrama Wijaya.
Katanya, biar dapat pengalaman lapangan yang utuh.
Jewo melangkah pelan. Tap… tap… sepatunya berbunyi di lantai keramik. Suaranya memantul, lalu kembali ke telinganya dengan jeda yang aneh, seperti ada ruang kosong yang terlalu luas di antara dinding.
Pintu-pintu kamar berjajar rapi di kiri dan kanan. Semuanya tertutup. Tidak ada nama. Tidak ada hiasan. Nomor kamar ditulis kecil, nyaris malu-malu.
1.
2.
3.
Jewo memperlambat langkah.
Ada rasa aneh yang menempel di tengkuknya. Bukan takut yang meledak-ledak. Lebih ke perasaan diawasi, seperti ada mata yang tidak berkedip, mengikuti tiap geraknya dari sudut yang tidak bisa ia lihat.
Tik.
Satu lampu di ujung koridor mati.
Jewo berhenti.
Refleks.
Dadanya berdetak mengeras. Ia berdiri tanpa bergerak, menunggu. Tidak ada angin. Tidak ada suara ledakan kecil. Lampu itu mati begitu saja, menyisakan lorong yang separuh tenggelam dalam bayangan.
“Ehemmmm ... Cuma lampu,” bisiknya, mencoba santai. “Bangunan tua, wajar.”
Tapi sebelum logikanya benar-benar bekerja, sesuatu menyala di ujung gelap itu.
Bukan lampu.
Cahayanya kecil. Bergoyang pelan. Kuning pucat, dengan semburat hijau samar yang bikin mata perih kalau ditatap terlalu lama.
Sebuah lentera.
Jewo menelan ludah.
Lentera itu tergantung rendah, nyaris sejajar dengan pintu-pintu kamar. Api di dalamnya menyala tenang, tidak berkedip. Tidak ada tangan yang memegangnya. Tidak ada tali yang terlihat.
“Halo…?” suara Jewo keluar pelan.
Tidak ada jawaban.
Namun terdengar suara lain.
Tok… tok…
Langkah kaki.
Bukan cepat. Bukan berat. Ritmenya santai, seperti orang yang sedang jalan malam tanpa tujuan. Suaranya memantul dari dinding ke dinding, membuat Jewo sulit menebak asalnya.
Ia mundur satu langkah. Klek. Tumitnya menghantam lantai lebih keras dari yang ia mau.
Langkah kaki itu berhenti.
Lentera bergoyang sedikit lebih kuat.
Lalu—bisikan.
“Je… wo…”
Nama itu disebut perlahan, seolah lidah yang mengucapkannya belum terbiasa menyusun huruf.
Jewo berbalik cepat. Srek! Jaketnya bergesek dengan udara.
Kosong.
Koridor di belakangnya tetap sama. Lampu-lampu menyala stabil, seakan tidak terjadi apa-apa. Ketika ia menoleh kembali ke ujung lorong, lentera itu masih ada. Diam. Menunggu.
Deg!
“Enggak,” gumam Jewo. “Enggak sekarang,plissss argghhh." teriak jewo dan berlari ke arah depan.
Ia berlari.
Langkahnya menggema, Darp-tap-Drap, napasnya memburu. Lorong yang tadi terasa panjang kini seperti menekan dari dua sisi. Pintu kamar 07 muncul di sisi kiri. Jewo meraih gagangnya, memutar, lalu masuk dan menutup pintu keras-keras.
Duk! Klik!
Ia mengunci pintu. Sekali. Dua kali.
Hening.
Lampu kamar menyala terang. Putih. Normal. Ranjang besi, meja kayu, lemari tua. Semua tampak… biasa.
Jewo bersandar di pintu, dadanya naik turun.
"Haa ..haa..haaa.." Suara napas bersahutan naik turun.
“Hahh...Gue capek,” gumamnya. “Iya, pasti ini cuma halu Gue doang.” Kata Jewo meyakin kan dirinya sendiri.
Ia duduk di tepi ranjang. Tangan kirinya bergetar sedikit saat ia mengusap wajah. Belum sempat membuka koper, suara langkah kaki terdengar lagi—kali ini ramai.
Ada obrolan.
“Eh, kamar tujuh ya?”
“Iya, katanya penghuni baru.”
“Buset, berani juga dateng jam segini.”
Pintu diketuk.
Tok. Tok.
Jewo berdiri, ragu sebentar, lalu membuka pintu.
Tiga orang berdiri di luar. Cowok berambut keriting dengan kaus hitam, cewek berkacamata pakai hoodie, dan satu cowok bertopi yang kelihatan kalem.
“Yo,” kata si keriting. “Gue Raka.”
“Nisa,” cewek itu nyengir kecil.
Cowok bertopi angkat tangan. “Damar.”
Jewo mengangguk. “Jewo.”
Raka melirik ke dalam kamar. “Masih aman, berarti.”
“Aman apanya?” Jewo refleks nyeletuk.
Nisa langsung nyenggol Raka. “Mulut lo, Rak.”
Raka ketawa pelan. “Santai. Lo liat lentera, kan?”
Ruangan seketika terasa lebih sempit.
Jewo tidak langsung jawab.
“Itu tandanya lo udah masuk daftar,” lanjut Raka santai.
“Daftar apaan?” Jewo menatap tajam.
“Penghuni yang dipilih,” jawab Damar, suaranya datar.
Nisa menarik napas. “Dengerin aja dulu. Asrama ini punya aturan.”
Jewo menyandarkan diri ke meja. “Oke. Aturan apa?”
Nisa mengangkat satu jari. “Satu. Jangan keluar kamar lewat tengah malam.”
“Dua,” sambung Raka. “Kalau denger suara manggil nama lo, pura-pura budek.”
“Tiga,” kata Damar. “Jangan tatap lentera terlalu lama.”
Jewo mengernyit. “Kalau dilanggar?”
Tidak ada yang langsung jawab.
Dari luar, koridor mendadak sunyi lagi.
Lampu kamar berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Tik… tik…
Raka melirik jam tangannya. “Oke. Ini waktunya.”
“Waktu apa?” tanya Jewo.
Belum sempat dijawab, cahaya kuning menyusup dari bawah pintu. Perlahan. Tipis. Seperti cairan.
Grek…
Ada suara logam bergeser.
Nisa menahan napas. Damar menunduk. Raka mengepalkan tangan.
Dari balik pintu, terdengar bisikan yang kini sangat jelas.
“Je… wo…”
Jewo berdiri kaku.
Bukan karena takut semata.
Tapi karena ia sadar satu hal.
Lentera itu tidak sekadar memanggil.
Ia mengenali.
Mereka terdiam membeku dan saling bertatap -tatapan.
Tidak ada yang langsung bicara setelah suara itu menghilang.
Cahaya kuning di bawah pintu perlahan memudar, seperti napas terakhir yang ditarik kembali ke dalam koridor. Hening jatuh lagi—lebih berat dari sebelumnya. Jewo masih berdiri di tempat yang sama, punggungnya dingin, telapak tangannya basah oleh keringat.
Raka adalah orang pertama yang bergerak. Ia mengusap wajah, lalu tertawa pendek tanpa suara. “Oke… itu tanda buat bubar.”
Tidak ada yang membantah.
Nisa meremas jaketnya lebih erat. “Gue balik duluan. Jujur aja, gue nggak kuat kalau lama-lama di sini.”
Damar hanya mengangguk. Wajahnya pucat, matanya menunduk. Tanpa banyak kata, ia melangkah ke pintu. Tangannya sempat berhenti di gagang, lalu membuka perlahan. Kriiik… Pintu terbuka sedikit. Koridor di luar tampak normal—lampu menyala, lorong sunyi.
Terlalu sunyi.
Sari mendahului keluar. Langkahnya cepat, nyaris berlari. “Kalau denger apa-apa, jangan panggil nama gue,” katanya setengah bercanda, tapi suaranya pecah di ujung kalimat.
Satu per satu mereka keluar. Tidak ada pamit. Tidak ada bercanda seperti sebelumnya. Hanya anggukan kecil, tatapan singkat, lalu punggung yang menjauh.
Jewo berdiri di ambang pintu, memperhatikan mereka berjalan ke arah masing-masing kamar. Langkah kaki mereka terdengar pelan, tap… tap…, lalu menghilang di balik pintu-pintu yang tertutup satu per satu.
Klik.
Klik.
Suara kunci berderet seperti hitungan mundur.
Jewo menutup pintunya sendiri. Mengunci. Menarik napas panjang.
Di luar, koridor kembali sunyi.
Namun sebelum ia menjatuhkan diri ke ranjang, terdengar satu suara pelan dari balik dinding.
Tok… tok…
Bukan ketukan.
Seperti langkah kaki yang berhenti.
Dan Jewo tahu—malam ini belum benar-benar selesai.
Dan Asrama Wijaya—pelan, tenang , tanpa emosi—sedang memutuskan apakah Jewo hanya akan tinggal atau pergi terbebas.
atau selamanya menjadi bagian dari koridor ini.