Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Penghukum Malam

Penghukum Malam

Jagat Alit | Bersambung
Jumlah kata
50.4K
Popular
101
Subscribe
36
Novel / Penghukum Malam
Penghukum Malam

Penghukum Malam

Jagat Alit| Bersambung
Jumlah Kata
50.4K
Popular
101
Subscribe
36
Sinopsis
PerkotaanAksiKriminalPemburuUrban
Adam Pratama adalah mantan tenaga marketing yang hidupnya hancur ketika kekasihnya Mara terseret sebuah kejadian tragis bersama CEO berpengaruh bernama Herman Tanuwidjaya. Dendam mengantarkan Adam ke penjara, namun ia bangkit, memodifikasi motornya dan menjadi Penghukum Malam Bermotor — vigilante yang membongkar kejahatan di kota. Di “dunia antara”, Mara bertemu penjaga realitas di sana dan diberi kesempatan kedua: ia dapat hidup lagi, namun dengan syarat berubah menjadi seekor kucing yang hanya bisa memberi tanda kepada Adam, tanpa bisa muncul nyata baik sebagai kucing atau gadis. Kucing itu ditemukan oleh Wawan dan kemudian dibawa ke warung Nasi Uduk yang dibuka Adam untuk Ibu Elly. Dengan cinta Adam yang terus diuji antara kebenaran dan masa lalu, Mara dalam wujud kucing akan menemani Adam sambil memberi pertanda halus bahwa ia masih ada. Adam bekerja sama dengan seorang pengacara untuk menghadapi kejahatan Herman — namun di pengadilan, bukti selalu lenyap secara misterius. Hubungan batin antara Adam dan kucing misterius menjadi benang merah menuju akhir cerita: apakah cinta Adam cukup kuat untuk membawa Mara kembali dari dunia antara?
1. Mawar Jingga Terinjak

Adam Prada naik taksi online dari bandara dengan tubuh yang terasa lebih berat dari koper di bagasi. Pendingin udara mobil terlalu dingin, atau mungkin ia saja yang sudah kehabisan sisa hangat setelah tiga hari di luar kota. Di luar jendela, jalan tol terbentang seperti pita hitam mengilap, lampu-lampu kota berlari mundur tanpa wajah.

Ponselnya mati sejak pesawat mendarat. Bukan karena baterai habis—hanya tak ada sinyal yang mau tinggal. Notifikasi tak kunjung masuk, seolah dunia sepakat menahannya dalam sunyi sampai benar-benar tiba di apartemen Mara, setelah itu... baru pulang ke rumah. Adam tidak mencoba menyalakannya lagi. Ia membiarkan kesunyian itu bekerja, menekan-nekan dadanya perlahan.

Tiga hari. Tidak lama bagi kalender, tapi cukup untuk membuat rindu mengendap dan mengental.

Ia menyandarkan kepala ke sandaran kursi, memejamkan mata, membiarkan pikirannya kembali ke malam-malam yang ia lewati sendirian. Kamar hotel yang bersih tapi dingin. Televisi menyala tanpa benar-benar ditonton. Lampu kota asing di balik tirai. Setiap kali hendak tidur, bayangan yang datang selalu sama—apartemen kecil Mara, cahaya lampu dapur yang temaram, dan suara langkah kaki yang tak pernah benar-benar ia dengar, hanya ia ingat.

Adam menarik napas panjang.

Ia tidak menghubungi Mara sebelum berangkat, bukan karena tak mau, tapi karena pekerjaan menuntut sunyi. Ada hal-hal yang lebih aman jika disimpan sendiri. Ia tahu itu, dan ia membenci bagian dari dirinya yang terus hidup dengan prinsip itu.

Taksi melaju stabil. Sopirnya diam, hanya sesekali melirik spion. Adam bersyukur. Ia tidak ingin percakapan basa-basi. Malam ini, pikirannya sudah cukup penuh.

Lampu kota semakin rapat ketika mereka keluar tol. Gedung-gedung tinggi menjulang seperti penjaga bisu, jendelanya berkilau, menyimpan kehidupan orang lain yang tak pernah bersinggungan dengannya. Adam menatap pantulan wajahnya di kaca—mata lelah, kulit kusam, dan garis tegang yang tak pernah benar-benar hilang sejak hidupnya berubah.

Ada perasaan aneh yang menyelinap, tipis tapi nyata. Seperti sesuatu yang tertinggal di belakangnya, atau justru ikut duduk di kursi belakang bersama rindu itu. Adam menggeser posisi, menekan telapak tangannya ke lutut, menenangkan diri.

“Pulang saja,” gumamnya pelan. Entah pada siapa.

Ia tidak langsung menuju tempatnya sendiri. Tanpa berpikir panjang, sejak bandara ia sudah menentukan tujuan. Apartemen Mara. Ia ingin melihat lampu jendela itu menyala. Ingin memastikan, dengan matanya sendiri, bahwa dunia yang ia rindukan masih ada dan menunggunya, meski tanpa janji apa pun.

Taksi berbelok ke jalan yang lebih sempit. Lampu jalan jarang, beberapa mati, meninggalkan sela-sela gelap yang terasa terlalu padat. Adam merasakan sensasi familiar di tengkuknya—dingin yang tidak berasal dari udara malam.

Ia membuka mata sepenuhnya.

Tidak ada apa-apa. Hanya jalan aspal, deretan pohon kurus, dan gedung apartemen yang mulai terlihat di kejauhan. Adam menelan ludah. Ia tidak asing dengan perasaan ini, dan itu justru yang membuatnya gelisah. Selama tugas luar kota, ia berhasil menjauhkannya. Kini, saat pulang, perasaan itu seolah menagih perhatian.

Taksi berhenti di depan gedung apartemen Mara.

Adam turun, membayar, dan berdiri sejenak di trotoar. Gedung itu menjulang tenang, sebagian jendelanya gelap, sebagian menyala. Matanya mencari satu titik tertentu—lantai tempat Mara tinggal.

Lampu itu menyala.

Dadanya menghangat, bercampur lega yang nyaris menyakitkan. Adam menghela napas panjang, seperti baru saja menahan udara terlalu lama. Ia meraih ponselnya, menyalakannya. Layar menyala, tetap sunyi. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan tak terjawab.

Tak apa.

Untuk saat ini, cukup tahu bahwa ia sudah sampai.

Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil. Koper di tangan kiri dan di tangan kanannya, ada setangkai mawar jingga. Bunganya tidak sempurna—sedikit layu di ujung kelopak—tapi justru itu yang membuat Adam merasa bunga ini cocok untuk mereka. Tidak sempurna, tapi nyata.

Mara pernah bilang, warna jingga itu aneh. Tidak terlalu berani, tidak terlalu ceria. Hangat, tapi menyimpan luka. Adam ingat betul cara Mara tersenyum waktu itu.

“Aku pulang,” gumam Adam pelan, seolah Mara bisa mendengarnya dari lantai dua belas.

Adam melangkah masuk ke lobi, bayangannya memanjang di lantai marmer. Di belakangnya, pintu kaca menutup perlahan, memantulkan siluetnya—dan sesaat, pantulan itu tampak sedikit terlambat bergerak, seolah ragu untuk ikut masuk.

Adam tidak menoleh.

Lift menunggu. Malam juga.

Setelah beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka. Tidak ada seorangpun di dalam, Adam menekan angka 12, lift menutup, kemudian...

Lift naik perlahan. Lampu di dalamnya berkedip sesaat. Adam berdiri diam, memikirkan bagaimana ia akan memeluk Mara nanti, bagaimana ia akan pura-pura kesal karena ditinggal sendirian, lalu tertawa sendiri. Semua rencana kecil itu berputar di kepalanya.

Lift berhenti.

Lorong apartemen sepi. Terlalu sepi untuk malam akhir pekan. Adam melangkah menuju pintu 1207. Ia sudah mengangkat tangan untuk mengetuk, tapi langkahnya terhenti.

Ada suara dari dalam.

Bukan suara televisi. Bukan musik. Suara yang membuat dadanya langsung menegang.

Adam mendekatkan telinga ke pintu. Suaranya tidak jelas, terpotong-potong. Ada tawa pendek, berat, lalu suara perempuan yang terdengar… tidak seperti biasanya. Nafasnya terengah. Seperti orang mabuk.

Jantung Adam berdetak lebih cepat.

“Mara?” panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Adam mengetuk pintu. Sekali. Dua kali. Tidak ada respons. Tangannya bergetar saat ia memutar kenop pintu.

Tidak terkunci.

Begitu pintu terbuka, dunia Adam runtuh dalam satu detik.

Di dalam kamar, lampu temaram. Di atas ranjang, seorang pria asing menindih Mara. Tubuh Mara setengah telanjang, rambutnya berantakan, wajahnya memerah. Tangannya bergerak lemah, seperti mendorong tapi tidak benar-benar punya tenaga.

Di mata Adam, semuanya tampak jelas. Terlalu jelas.

“Kurang ajar…” suara Adam keluar parau.

Pria itu menoleh. Mabuk. Wajahnya santai, bahkan tersenyum tipis. “Santai, Bro. Ini urusan orang dewasa.”

Kalimat itu mematikan sisa logika Adam.

Adam tidak melihat Mara yang matanya kosong. Tidak melihat bibir Mara yang gemetar. Tidak melihat bagaimana tubuh Mara sebenarnya kaku, bukan menikmati.

Yang Adam lihat hanyalah pengkhianatan.

Ia melempar koper dan mawar jingga itu ke lantai. Bunganya terinjak tanpa sengaja saat Adam menerjang maju. Tangannya menarik pria itu dari atas Mara dan menghajarnya sekuat tenaga.

Pukulan pertama menghantam rahang. Pria itu terjatuh ke lantai. Pukulan kedua mendarat di hidung. Bunyi retakan terdengar jelas. Darah muncrat.

“Awas, gila lo!” teriak pria itu.

Adam tidak peduli.

Semua rindu yang ia simpan berubah jadi amarah. Semua kepercayaan yang ia jaga runtuh dalam sekejap. Ia menghajar tanpa henti. Pukulan demi pukulan. Rahang. Hidung. Dada. Wajah.

Mara menjerit pelan. Suaranya serak. “Adam…?”

Adam menoleh sekilas. Mara menatapnya dengan mata setengah terbuka, basah, bingung. Tapi di kepala Adam, tatapan itu justru terasa seperti pengakuan diam-diam.

“Jangan panggil nama gue,” bentak Adam.

Pria itu mencoba bangkit. Adam menghantamnya lagi. Tubuh pria itu jatuh dengan posisi aneh. Tangannya tertekuk tidak wajar.

Akhirnya Adam berhenti. Napasnya tersengal. Tangannya gemetar hebat.

Pria itu tergeletak di lantai, tidak bergerak banyak. Dada kirinya naik turun dengan jeda yang tidak wajar, seolah paru-parunya lupa ritme bernapas. Wajahnya nyaris tak berbentuk lagi—gigi depan patah, sebagian tertelan darahnya sendiri. Hidungnya bengkok, tulang rawan retak dan menekan ke pipi. Darah mengalir dari pelipis, menyusuri celah nat keramik, membentuk garis-garis gelap yang perlahan melebar.

Bau logam menusuk udara. Bercampur alkohol, keringat, dan sesuatu yang lebih dingin—aroma ketakutan yang belum sepenuhnya menguap.

Sirene terdengar dari kejauhan.

Awalnya samar. Seperti dengung yang tersangkut di antara gedung-gedung tinggi. Lalu makin jelas, teredam tembok beton, naik turun seperti napas yang dipaksa. Suara itu tidak datang begitu saja; ia merambat lewat lorong, naik lewat poros lift, menembus lantai-lantai dengan gema yang tidak pernah lurus. Di lantai dua belas, bunyinya terdengar tidak pada tempatnya—asing, tapi tak terbantahkan.

Adam berdiri beberapa langkah dari tubuh itu. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Dadanya sesak, bukan karena pemandangan di lantai, melainkan karena sesuatu yang runtuh di dalam kepalanya. Ia lalu menoleh ke Mara.

“Sejak kapan?” tanya Adam dingin.

Mara tidak langsung menjawab. Kepalanya berat. Pandangannya berkunang, dinding apartemen seolah bergoyang pelan. Alkohol masih menahan lidahnya, ketakutan menekan dadanya. Ia bersandar ke meja, berusaha tidak jatuh.

“Aku… aku nggak…” Suaranya pecah. Kata-kata keluar terpatah-patah, jatuh sebelum sempat disusun.

Adam tertawa pahit—pendek, tanpa humor. “Nggak apa? Nggak sengaja?”

Mara menggeleng lemah. Air mata mengalir tanpa ia sadari, membasahi pipinya, bercampur dengan sisa maskara. “Aku cuma… aku nggak kenal dia…”

Sirene makin dekat. Sekarang jelas—bukan satu, tapi dua. Suara langkah kaki terdengar di luar unit. Ada yang memukul pintu tetangga, ada yang berteriak memanggil keamanan. Seseorang pasti menelepon. Seseorang selalu menelepon. Gedung setinggi ini hidup dari gema kepanikan kecil yang saling memanggil.

Adam memalingkan wajah. “Cukup.”

Ia tidak mau mendengar. Tidak sanggup. Otaknya sudah mengunci satu kesimpulan—rapi, dingin, dan menyakitkan: Mara selingkuh. Sisanya hanyalah kebisingan yang mencoba membantah keputusan yang sudah telanjur ia ambil.

Pintu lift di ujung koridor terbuka dengan bunyi "ding" yang terasa terlalu ringan untuk malam seperti ini. Petugas keamanan muncul lebih dulu, wajahnya tegang, mata menyapu cepat. Di belakangnya, dua perawat mendorong tandu lipat, napas mereka tertahan oleh lorong sempit dan lantai yang terlalu tinggi untuk tragedi semacam ini. Sirene berhenti—bukan karena jauh, tapi karena ambulans sudah parkir di bawah, menunggu poros lift menelan mereka satu per satu.

Pria itu diangkat. Tubuhnya terkulai, kepala miring ke satu sisi. Salah satu perawat menekan kain kasa ke wajahnya, yang lain memeriksa nadi dengan cepat.

“Luka berat,” kata seorang perawat, singkat. “Trauma wajah. Pendarahan.”

Nama itu disebut saat gelang identitas dicatat, seperti formalitas yang tak peduli pada akibat: Hendra Tanuwidjaya.

Adam mendengar nama itu, tapi tidak benar-benar menyimpannya. Yang tertinggal hanya bunyi—asing, mengganggu, tak relevan dengan kehancuran yang ia rasakan. Tandu didorong masuk ke lift servis. Pintu menutup perlahan, memantulkan wajah-wajah tegang yang tertinggal di koridor.

Sunyi jatuh kembali di lantai dua belas.

Lebih berat dari sebelumnya tapi Adam tidak peduli. Ia mengambil kopernya, menyambar mawar Jingga yang hancur, lalu melangkah ke pintu.

“Adam…” suara Mara terdengar lirih, hampir hilang. “Aku nggak mau ini…”

Adam berhenti sejenak. Bahunya naik turun. Tangannya mengepal.

“Kamu yang pilih,” jawabnya tanpa menoleh. “Aku pulang bukan buat ini.”

Pintu tertutup.

Mara berusaha mengejar, tapi selepas keluar pintu, ia terjatuh ke lantai. Pandangannya berputar. Dalam kepalanya, potongan-potongan kejadian bercampur. Club. Minuman. Pria asing. Rasa takut. Dan terakhir, wajah Adam… marah, kecewa, menjauh.

Ia pingsan dengan air mata masih mengalir.

Bersambung...

Lanjut membaca
Lanjut membaca