Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Arga - Apartemen terakhir

Arga - Apartemen terakhir

kala Hijau | Bersambung
Jumlah kata
47.3K
Popular
100
Subscribe
13
Novel / Arga - Apartemen terakhir
Arga - Apartemen terakhir

Arga - Apartemen terakhir

kala Hijau| Bersambung
Jumlah Kata
47.3K
Popular
100
Subscribe
13
Sinopsis
HorrorHorrorZombieMayatThriller
Wabah misterius merebak di kota. Penghuni apartemen terjebak karena pemerintah memblokade seluruh akses. Arga harus bertahan hidup sambil mencari kebenaran asal infeksi dan melindungi para penyintas.
Bab 1. kehidupan Arga sebelum wabah

Pagi di Apartemen Griya Mandala Tower selalu dimulai dengan bunyi yang sama. Dengung lift yang bergerak lambat seperti raksasa logam yang baru bangun tidur. Arga sudah hafal ritme itu. Tiga ketukan rel, satu gesekan kabel, lalu pintu yang terbuka dengan suara desis. Setiap hari, suara itu menyambutnya bahkan sebelum ia mencapai lantai dasar.

Arga berjalan menyusuri koridor lantai 7, tempat ia tinggal di unit kecil berukuran 33 meter persegi. Apartemen itu bukan miliknya, hanya kontrakan yang ia bayar sebagian dari gaji bulanannya sebagai teknisi lift. Namun, baginya tempat itu sudah cukup. sederhana, sunyi, dan tidak banyak yang mengusik.

Ia memutar kunci pintu dan masuk ke dalam ruang kecil yang tertata rapi. Di rak dekat jendela, pot tanaman lidah mertua berdiri tegak satu-satunya benda yang memberi warna hidup di kamar yang penuh dengan alat kerja.

Arga bukan tipe orang yang sering merawat tanaman, tapi lidah mertua tidak butuh perhatian khusus. Ia menyukainya karena tanaman itu bisa bertahan bahkan ketika ia lupa menyiram selama seminggu.

Jam digital di dinding menunjukan pukul 06.05.

“Terlambat lima menit,” gumamnya.

Ia bukan orang yang dikejar waktu, namun kebiasaan datang tepat waktu sudah tertanam sejak dulu. kebiasaan yang dulu ia pelajari dari istrinya. Ia berhenti sejenak. Setiap kali memikirkan wanita itu, selalu ada sesak kecil di dadanya. Ia menarik napas panjang lalu menepuk pipinya pelan. Hari baru, pekerjaan baru. Tidak perlu bernostalgia.

Setelah mandi dan mengenakan seragam abu-abu teknisi, ia mengambil tas kerja yang berisi obeng listrik, kunci L, senter panjang, dan multimeter. Ia selalu membawa semuanya meskipun tugas hari itu hanya sekadar pemeriksaan rutin. “Lebih baik siap,” katanya pada dirinya sendiri.

Keluar dari unit, ia berjalan menyusuri koridor lantai 7 yang remang karena lampu di ujung lorong sudah sebulan tidak diganti.

Arga tahu itu rusak, tapi ia sengaja tidak memperbaikinya.

ia ingin melihat apakah ada penghuni yang akan melapor. Tidak ada yang melapor. Itu memperkuat pandangannya bahwa kebanyakan orang di apartemen hanya memikirkan apa yang tampak langsung di depan mata mereka.

Saat mencapai lift, ia menyapa seorang penghuni. “Pagi, Pak Surya.”

Pria tua itu menoleh dengan senyum canggung. “Ah, pagi, Ga, liftnya masih suka berhenti di lantai 11 tuh. Kadang-kadang macet.”

Arga mengangguk. “Sudah saya catat. Nanti siang saya cek.”

Lalu mereka pun masuk lift bersama. Ketika pintu menutup, pantulan wajah Arga tampak pucat di kaca stainless. Mata hitamnya terlihat sedikit sayu, tapi masih tajam. Rambutnya dipotong rapi, kulitnya kecoklatan akibat sering bekerja di ruang mesin panas. Tubuhnya tegap, tidak kekar, tapi jelas terlihat ia terbiasa dengan pekerjaan fisik.

Pintu terbuka di lobi. Suasana lobi apartemen tampak seperti biasa. resepsionis muda yang sibuk dengan komputer, aroma kopi dari kafe kecil di sudut ruangan, dan lalu-lalang penghuni menuju aktivitas mereka. Tidak ada tanda bahwa hanya dalam hitungan hari kemungkinan tempat ini akan berubah menjadi neraka.

Arga menuju ruang kendali lift di lantai basement. Di balik pintu besi bertuliskan Maintenance Only, ia menyalakan lampu neon yang berkedip-kedip sebelum stabil.

Ruangan itu penuh panel listrik, gulungan kabel, dan monitor CCTV kecil yang menampilkan peta pergerakan lift.

Ia duduk, membuka buku catatan, dan mengecek laporan harian dari operator malam. Lift 3 terlambat 8 detik mencapai lantai 15. Lift 1 mengeluarkan suara gesekan aneh. Lift 5 berhenti dua kali lebih lama dari standar.

“Kerjaan hari ini lumayan,” katanya sambil meregangkan tangan.

Beberapa menit kemudian, ia naik ke ruang mesin di lantai 26. Angin kencang dari ventilasi membuat kemejanya berkibar. Ruangan itu bising oleh dengung motor lift yang berputar cepat.

Arga membuka panel dan mulai memeriksa tegangan. Tangannya bekerja cekatan, seolah setiap kabel dan baut sudah ia kenal sejak lama. Memang benar, ia sudah lima tahun bekerja di sana. Lima tahun menghabiskan hidup di lorong sempit, ruang mesin panas, dan ruang kontrol yang lembab.

Kadang ia merasa hidupnya terjebak antara dinding-dinding apartemen yang menyerupai labirin. Namun, ia tetap bertahan. Tidak banyak tempat baginya di luar sana. Kehilangan istrinya tiga tahun lalu membuat ia memilih hidup sunyi, menjauh dari keramaian.

Ia menegaskan baut terakhir lalu menutup panel.

“Selesai.”

Ketika ia hendak turun, ponselnya bergetar. Sebuah telepon dari temannya, Rio, yang bekerja sebagai satpam di lobby.

Rio “Ga, lihat berita ga? Katanya ada kasus orang ngamuk di pusat kota. Kaya rabies, tapi aneh.”

Arga menjawab telepon sambil berjalan ke lift. Ia membalas singkat“Nanti lihat. Sibuk.”

"Serius, Ga. Orang-orang bilang ada yang nggak wajar. Mereka gigit orang, terus... kayak hilang akal.”sambung Rio

Arga (sambil menekan tombol lift)“Iya, iya. Kabar macam itu sering muncul di kota besar. Jangan lebay, Ri.”

Rio“Gue nggak lebay, Ga! Gue cuma khawatir kalo sampai nyebar ke sini. Apartemen kan padat. Susah dikontrol.”

Arga“Santai. Gue cek nanti kalo sempat. Sekarang kerjaan nunggu.”

Rio“Hati-hati ya, Ga. Gue cuma ngingetin.”

Lift menutup. Arga mematikan panggilan teleponnya lalu menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca. Ia menghela napas panjang, sedikit mengernyit. Ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan, tapi ia segera menepisnya.

Baginya, berita tentang orang “mengamuk” seperti itu tidak asing. Kota besar selalu punya kejadian aneh. Ia tak mau langsung percaya teori konspirasi yang berkembang cepat.

Namun satu hal mengganggunya, Rio biasanya tidak mudah heboh.

Saat ia tiba di lantai dasar, seseorang memanggilnya.

"Mas Arga! Mas Arga!” Suara itu milik Bu Wina, penghuni lantai 12 yang selalu cerewet soal kerusakan kecil.

“Lampu lorong depan unit saya mati lagi,” keluhnya.

“Tolong segera diganti, ya. Saya takut gelap.”

Arga mengangguk sabar. “Saya cek nanti siang, Bu.”

Bu Wina pergi sambil mengomel pelan. Arga tersenyum kecil, senyum lelah, tapi tulus. Ia tahu setiap penghuni punya ketakutannya masing-masing. Mereka tinggal di gedung tinggi yang dikelilingi beton dan lampu neon jadi wajar kalau sedikit kerusakan saja membuat orang gelisah.

Sebelum kembali ke ruang kontrol, ia melihat ke arah pintu kaca utama apartemen. Di luar, jalan sempit dipenuhi kendaraan seperti biasa, tapi ada beberapa ambulans lewat dengan sirine meraung. Arga menatapnya beberapa detik, alisnya sedikit berkerut.

“Mungkin kecelakaan,” pikirnya.

Ia tidak tahu bahwa hari itu sirine akan terus terdengar sampai malam. Ia tidak tahu bahwa berita “orang mengamuk” akan muncul lagi dan lagi, hingga akhirnya memenuhi timeline media sosial. Ia juga tidak tahu bahwa apartemen tempat ia bekerja, tempat yang ia anggap monoton dan membosankan akan menjadi benteng terakhirnya.

Yang ia tahu, hari itu berjalan seperti biasanya. Ia mengambil obeng, menyalakan senter, dan memeriksa panel berikutnya. Pekerjaan terus memanggilnya.

Namun jauh di bawah sana, di basement paling bawah yang jarang dikunjungi penghuni, ada sesuatu yang tidak biasa. Seekor tikus berlari melewati genangan air yang berubah agak kemerahan. Suara gemerisik terdengar dari balik pintu gudang yang harusnya kosong.

Tak ada yang melihat, termasuk Arga.

Belum.

Karena dalam hitungan hari, seluruh hidupnya dan seluruh apartemen itu akan berubah selamanya, menjadi tempat yang tak lagi dikenal menjadi tempat penuh jeritan, ketakutan, dan mayat hidup yang harus darah.

Lanjut membaca
Lanjut membaca