

Di Kota Sangkala, kota yang maju dengan rakyat yang makmur dan damai, semua itu hanya berlaku bagi kalangan menengah dan kalangan atas. Lain halnya dengan kalangan bawah yang hidup sederhana dan secukupnya saja, dan tidak jarang menjadi bahan candaan bagi kalangan atas. Di sinilah seorang anak remaja yang hidup tentram bersama kawannya, yang sama-sama pemulung untuk menghidupi diri mereka sendiri, dan di sinilah kisah tentang Indra Kusuma dimulai.
"Indra, kira-kira dari besi ini kalau kita jual ke pengepul dapat berapa ya?" tanya Rey, kawan Indra yang sedang memikul karung di belakangnya berisi besi-besi sisa dari trotoar rusak.
Indra yang sedang mencabut beberapa besi dari trotoar melihat ke arahnya. "Entahlah. Kan itu tergantung berapa berat juga," jawab Indra yang masih berusaha mencabut besi di trotoar. Rey yang melihatnya merasa aneh dengan tingkah Indra.
"Indra, kau kan punya sihir elemen api. Kenapa tidak kau bakar saja biar jadi lunak, baru bisa kau patahkan?" ujar Rey yang melihat Indra berusaha payah mencabut besi itu.
Indra mendengarnya, melihat ke arah Rey, lalu menepuk jidatnya pelan. "Iya, kau benar juga. Tapi Mana-ku tidak cukup lagi karena sudah banyak besi yang kulelehkan tadi," jawab Indra sambil menunjuk tumpukan besi yang agak jauh darinya yang sudah ia lelehkan.
Rey melihat ke arah yang ditunjuk Indra dan terkejut. "Benar-benar rayap besi. Kalau begitu sini, aku bantu melunakkan besinya biar mudah kau patahkan," pinta Rey agar Indra membiarkan dirinya membantu. Indra mengerutkan alis, penasaran sekaligus bingung.
"Memangnya kau bisa menggunakan elemen api? Bukannya tipe elemenmu lebih ke petir?" tanya Indra.
"Tentu saja bisa. Aku sudah belajar dari perpustakaan di tempat kita tinggal," jawab Rey percaya diri. Ia maju ke arah besi tersebut, mengarahkan tangannya, lalu api sebesar kepalan tangan menyembur dari telapaknya dan langsung memanaskan besi itu hingga memerah. Dalam beberapa detik, warnanya sudah cukup untuk dipatahkan.
"Oke, sudah siap. Sekarang coba kau patahkan," pinta Rey.
Indra langsung memegang besi itu dengan sarung tangannya dan mematahkannya dengan satu hentakan kuat. "Wah, akhirnya bisa. Sekarang Mana-ku sudah cukup. Sekarang giliran ku untuk melelehkannya," ucap Indra. Ia memegang besi tersebut, mengalirkan Mana sihir ke telapak tangan, dan langsung meleburkannya.
"Pemanasan maksimal," gumamnya.
Suhu di telapak tangannya meningkat drastis. Besi yang ia pegang meleleh menjadi cairan merah-oranye, menggumpal di udara, dan terus dipanaskan oleh api miliknya. Setelah beberapa saat, peleburan itu pun selesai. Indra mengarahkan besi cair tersebut ke genangan air di sampingnya dan menjatuhkannya. Dalam sekejap, bola besi itu memadat dan mendingin.
"Sudah jadi. Ayo kita jual. Punyaku juga sudah sangat banyak. Lumayan mungkin dapat seratus lebih," ucap Indra sambil memasukkan semua bola besinya ke dalam karung.
Sementara itu, Rey hanya terpelongo melihatnya, lalu menepuk jidatnya sendiri. "Kalau tahu begini, lebih baik aku melelehkan saja semua seperti cara yang kau lakukan. Tapi sekarang hari sudah sore. Tidak ada waktu lagi untuk meleburkan semua besi milikku ini," keluh Rey tentang kebodohannya sendiri.
"Sudahlah, nanti itu juga laku kalau dijual. Ayo cepat, kita jalan ke pengepul," ajak Indra yang sudah memasukkan semua besinya dan berjalan duluan.
Rey menghela napas panjang, lalu mengikuti dari belakang. Keduanya sesekali bercanda, tertawa kecil, dan bercerita hal-hal konyol sepanjang perjalanan.
Setelah beberapa saat mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di tempat pengepul besi. Mereka pun langsung membawa besi-besi mereka kepada pemilik pengepul untuk dijual.
“Paman Jaya, ini ada beberapa besi yang ingin kami jual,” panggil Rey.
Tak lama kemudian, seorang pria yang sudah sedikit berumur keluar dari dalam gudang dan langsung menghampiri mereka.
“Ya sudah, bawa ke sini besi-besinya,” ucap Paman Jaya. Mereka segera meletakkan besi-besi yang sudah dikumpulkan, sementara Paman Jaya menimbangnya. Indra berjalan berkeliling di area tumpukan besi tua dan matanya tertuju pada sebuah belati di antara tumpukan tersebut.
“Belati yang sangat keren. Bilahnya memang kurang tajam, tapi sangat ringan dan lengkungan desainnya bagus,” batin Indra. Ia langsung mengambil belati itu dan berjalan ke arah Paman Jaya yang sedang menghitung uang hasil penjualan besi mereka.
“Semua hasil besi yang kalian bawa, jumlah uangnya dari kedua karung milik Indra dan milikmu juga, Rey, semuanya empat ratus dua puluh ribu,” ucap Paman Jaya sambil menyerahkan uang tersebut kepada Rey.
“Terima kasih, Paman,” ucap Rey yang sudah menerima uang itu.
Indra datang menghampiri mereka sambil membawa belati itu. “Paman Jaya, belati ini punya siapa?” tanya Indra.
Paman Jaya yang sedang membereskan sisa-sisa besi melihat ke arah Indra. “Oh, belati itu milik seorang hunter yang memburu monster yang merusak trotoar di jalan blok B minggu lalu. Karena bilahnya sudah tidak tajam, dia memberikan belati itu pada Paman. Kalau kau mau, ambil saja, tapi bayar tiga puluh ribu,” ucap Paman Jaya sambil melihat belati di tangan Indra.
Indra yang sudah terlanjur tertarik tidak ingin berpikir lama. Ia mengambil uang bagiannya dari hasil penjualan besi. “Rey, minta uang hasil penjualan besi milikku tiga puluh ribu,” kata Indra.
Rey yang sudah tahu maksudnya langsung memberikan uang bagian Indra. Indra pun langsung menghampiri Paman Jaya lagi. “Paman Jaya, ini uangnya untuk harga belati ini,” ucap Indra sambil menyerahkan uang tersebut.
Paman Jaya menerima uangnya dan melanjutkan merapikan besi-besi yang berserakan.
Indra dan Rey pun meninggalkan tempat pengepul dan mereka mampir membeli beberapa bahan makanan di pinggir jalan. Indra memberikan separuh uangnya kepada Rey agar Rey bisa membeli bahan makanan yang cukup.
“Rey, sekalian juga beli lebih banyak sedikit,” ucap Indra sambil menyerahkan setengah uangnya.
Rey mengangguk dan langsung pergi ke seberang jalan untuk membeli bahan makanan.
Sementara itu, Indra berdiri di sebuah gang sempit menunggu Rey kembali. Matanya tertuju pada seorang kakek yang sedang duduk meringkuk di depan gang dengan pakaian lusuh.
“Kasihan sekali orang tua itu,” batin Indra.
Ia melihat sisa-sisa uang di tangannya, lalu memutuskan untuk membeli sebungkus nasi dan menghampiri orang tua tersebut.
Kakek itu mengangkat sedikit kepalanya ketika melihat seorang anak muda mendekat. Saat melihat Indra, sepasang mata kakek itu sempat bersinar hijau samar.
“Anak muda yang hebat. Pengendalian sihirnya juga lumayan untuk seusianya,” batin kakek itu sambil memperhatikan setiap gerakan Indra. “Mungkin dia cocok untuk mewarisi kelima elemen sihir milikku ini,” pikirnya.
Indra kini sudah berdiri di depan kakek itu.
“Kakek, ini ada sedikit makanan untuk kakek,” ucap Indra sambil berjongkok dan meletakkan nasi serta air minum di depan lelaki tua itu.
Kakek tersebut langsung mengambil makanan itu dan memakannya dengan lahap. Setelah selesai makan, ia menatap Indra yang masih berdiri di depannya.
Tanpa peringatan, tubuh kakek itu melesat ke arah Indra dengan kecepatan mengejutkan. Tangannya mencengkeram perut Indra dengan sangat kuat.
“Jagalah kelima kekuatan elemen milikku ini. Kapasitas mana milikmu sudah aku perluas secara paksa,” ucapnya.
Indra bahkan tidak sempat berkata apa-apa. Tubuhnya lemas, kesadarannya lenyap, dan sosok kakek itu menghilang begitu saja, seolah-olah hanya ilusi.
Beberapa detik kemudian, Indra terbangun karena ditampar oleh Rey.
“Hey, Indra, kenapa kau tidur di sini? Cepat bangun,” ucap Rey sambil menampar pipi Indra cukup keras.Indra tersentak bangun, memegang kepalanya, dan melihat sekeliling dengan tatapan bingung dan juga heran.