

Di ruang tamu yang luas, dalam rumah megah, Sultan duduk di ujung sofa, punggungnya tegak namun bahunya terasa berat. Sejak kematian Prasna, ayahnya, tujuh hari yang lalu, ia lebih banyak diam, memilih menyimpan segala perasaannya sendiri, berbeda dengan kedua kakaknya, Pandu dan Fira, yang sama sekali tak menunjukkan kesedihan saat ayahnya meninggal dunia.
Pandu duduk bersandar santai, satu kaki disilangkan di atas lutut, jemarinya sesekali mengetuk sandaran sofa—gelagat orang yang merasa sudah menang bahkan sebelum permainan dimulai. Di sebelahnya, Fira sibuk membetulkan lipstik dengan cermin kecil, seolah pembagian warisan ini tak lebih penting dari janji makan siang.
Hayati, sang ibu duduk di kursi tunggal dekat jendela. Wajahnya kaku, tatapannya dingin, jauh dari kesedihan seorang istri yang baru kehilangan suami. Matanya beberapa kali melirik Sultan.
Seorang pria berusia lima puluhan, Pak Wiryo, notaris keluarga, berdeham pelan sebelum membuka map cokelat yang ada di meja.
“Baik,” ucapnya dengan suara datar dan terlatih. “Sesuai amanat almarhum Bapak Prasna, pembagian harta warisan akan saya bacakan hari ini, disaksikan oleh seluruh ahli waris.”
Suara ketukan jam dinding terdengar lebih keras dari biasanya. Detik demi detik terasa memanjang.
Pandu menyeringai tipis.
“Langsung saja, Pak. Biar cepat selesai.”
Pak Wiryo melirik singkat ke arah Hayati, yang mengangguk kecil, lalu mulai membaca.
“Harta pertama, pabrik roti Prasna Jaya beserta seluruh aset operasionalnya—diserahkan kepada putra sulung, Pandu Surya Pratama, ditambah dengan sebuah mobil yang selama ini digunakan oleh almarhum Bapak Prasna Hadi Winata, dan juga uang sebesar lima miliar."
Pandu menghela napas puas, senyum lebarnya tak lagi disembunyikan.
“Sudah saya duga, Papa memang paling ngertiin aku, dari dulu aku menginginkan mobil mewah itu,” gumamnya, cukup keras untuk didengar semua orang.
Fira dan Hayati mencebikkan bibirnya, dua wanita itu tak bisa menyembunyikan rasa iri dan kesalnya.
Pak Wiryo melanjutkan,
“Harta kedua, dua unit ruko restoran di Jalan Kartini dan di jalan Garuda, serta rumah berlantai dua di kawasan Cempaka Wangi—diserahkan kepada putri kedua, Fira Ayudya Kenanga, ditambah dengan uang sebesar lima miliar."
Fira menurunkan cerminnya, tersenyum kecil penuh kemenangan.
“Papa memang tahu seleraku,” katanya ringan, sambil tersenyum tipis.
Pak Wiryo tak menanggapi, wajah lelaki itu datar dan serius. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Hayati Arum, yang sedari tadi menatapnya dengan penuh harap. Wajah wanita berusia empat puluh delapan tahun itu tampak cemas.
"Untuk saya apa Pak?" Karena tak sabar, akhirnya Hayati bertanya.
"Sabar dong Ma, pasti ada bagian untuk mama," ucap Pandu, sambil terkekeh pelan.
Hayati mendengus, dia melirik ke arah Sultan, anak bungsunya yang juga belum mendapat bagian.
Pak Wiryo menghela napas panjang, dan menegakkan tubuhnya. Lalu bicara lagi.
"Untuk Bu Hayati Arum, mendapatkan rumah yang sedang ibu tempati ini, beserta mobil Mazda CX-30, warna putih mutiara, lengkap dengan surat kepemilikan dan asuransi aktif, dan tabungan yang ada dalam rekening almarhum, ditambah lagi ... sebuah minimarket yang ada di pusat kota."
Senyum Hayati langsung mengembang, dia menoleh ke arah Sultan dengan tatapan penuh kemenangan.
Pandu dan Fira saling pandang, keduanya mengernyitkan keningnya.
"Terus, Sultan dapat apa? Kok semua dikasih ke mama?" tanya Fira dengan raut wajah heran.
Hayati tak menanggapi pertanyaan putrinya, wanita cantik itu sibuk melayani hatinya yang sedang senang tak terkira karena ia tak menyangka akan mendapat warisan sebanyak itu.
Sultan tetap diam. Tangannya mengepal di atas lutut, jantungnya berdetak tak beraturan. Ia bukan berharap banyak—tapi diam-diam masih menunggu.
Pak Wiryo menarik napas, membuka lembar terakhir.
“Dan yang terakhir ..., untuk mas Sultan ..." Pak Wiryo berhenti sejenak, ia menatap Sultan dengan tatapan iba, tak tega rasanya untuk melanjutkan kata-katanya.
"Memang masih ada lagi harta Papa? Setahu aku, semua sudah habis dibagi-bagi," ucap Fira, matanya tertuju ke arah adik lelakinya, ada sedikit iba yang menyelinap di dasar hatinya, meskipun dia tak pernah menyukai adiknya itu.
"Jangan-jangan, ada harta Papa yang tersembunyi, yang kita nggak tahu." Pandu menimpali ucapan adik perempuannya.
Hayati mendongak, wanita berambut pendek itu membetulkan posisi duduknya, dengan tatapan lurus ke arah sang pengacara.
"Pak Wiryo, saya nggak mau bertele-tele. Cepat katakan, apa masih ada harta suami saya yang kami nggak tahu?"
Pak Wiryo diam cukup lama. Jemarinya membolak-balik berkas di dalam map cokelat itu, seolah mencari halaman yang sebenarnya sudah sangat ia hafal. Ruangan terasa makin pengap. Semua mata tertuju padanya.
“Ya,” ucap Pak Wiryo akhirnya, suaranya tetap tenang, nyaris tanpa emosi. “Memang masih ada.”
Serentak, Pandu, Fira, dan Hayati menoleh lebih tajam. Sedangkan Sultan mendongak, menatap Pak Wiryo dengan hati tak karuan.
Wajah Hayati menegang, rona merah naik ke pipinya. Tangannya mencengkeram sandaran kursi. “Cepat bilang, Pak Wiryo,” desaknya. “Apa itu hotel mewah? Atau ratusan hektare tanah atas nama Sultan? Kami berhak tahu. Dan kami nggak rela kalau dia mendapat sebanyak itu. Harus adil!"
Pandu tertawa kecil, nada suaranya sinis. “Papa ini, sudah mati kok masih suka nge-prank!"
Fira mengangguk setuju, meski matanya sesekali melirik Sultan, mencoba membaca ekspresi adik bungsunya itu. Tapi Sultan tetap diam. Wajahnya datar, meski dadanya terasa sesak.
Pak Wiryo mengangkat kepalanya, menatap satu per satu wajah di hadapannya, lalu berhenti di Sultan.
"Harta terakhir,” katanya perlahan, “sesuai amanat almarhum, diberikan sepenuhnya kepada putra bungsu, Sultan Erlangga."
Pandu mendengus. “Langsung saja, Pak. Apa itu?”
Pak Wiryo membuka lembar terakhir, kertasnya sedikit menguning. “Sebidang kebun durian seluas satu hektare, terletak di Desa Sukamakmur, pinggiran Kabupaten—lengkap dengan surat hak milik.”
Hening.
Detik jam dinding kembali terdengar, lebih nyaring dari sebelumnya.
“Hah?” Fira spontan bersuara, alisnya terangkat tinggi. “Kebun durian? Sepetak?"
Pandu terkekeh, kali ini lebih keras.
“Serius, Pak? Hanya sepetak kebun durian?” Ia menepuk lututnya sendiri. “Papa ini benar-benar… lucu, ha ha!"
Hayati terdiam beberapa detik, lalu tertawa pendek, tanpa senyum. “Jadi cuma itu?” tanyanya dingin. “Tanah kebun di desa?”
Pak Wiryo tersenyum, lalu berkata, "Ada lagi, Mas Sultan juga mendapatkan uang sebesar tiga puluh juta, ditambah dengan sebuah motor besar, yang selama ini digunakan oleh almarhum."
Pak Wiryo menutup map cokelat itu perlahan, lalu menegakkan punggungnya.
“Yang saya bacakan barusan adalah amanat terakhir almarhum Bapak Prasna,” katanya tegas. “Tidak ada yang keliru. Tidak ada yang terlewat. Semua sudah sesuai wasiat.”
Tawa Pandu kembali pecah, kali ini tanpa usaha menahannya.
“Ya ampun, Sultan,” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Papa benar-benar bijak dan kreatif. Pabrik, restoran, rumah mewah, uang miliaran, semua untuk kami, lalu kamu dapat kebun durian dan motor tua? Ini pembagian warisan atau hukuman?”
Fira ikut menyeringai. Ia menyilangkan tangan di dada, menatap Sultan dari ujung kepala sampai kaki.
“Makanya jangan sok alim kalau hidup,” ujarnya ringan tapi menusuk. “Ternyata doa dan kesabaranmu cuma dibayar kebun di desa. Cuma sepetak pula!"
Pandu menimpali cepat, suaranya penuh ejekan.
“Cocok sih. Kamu kan memang paling betah hidup sederhana. Nanti tiap panen durian, jangan lupa kirim satu ke rumah ya. Lumayan, buat camilan.”
Tawa mereka berdua bersahut-sahutan, memantul di dinding ruang tamu yang luas itu, terasa semakin kejam di telinga Sultan.
Hayati tak ikut tertawa keras. Ia hanya tersenyum puas, senyum tipis yang mengandung kemenangan. Matanya kembali melirik Sultan—kali ini tanpa perlu menyembunyikan rasa lega.
Pak Wiryo berdeham lagi, kali ini lebih keras.
“Saya ulangi sekali lagi,” katanya, nada suaranya dingin dan profesional.
“Pembagian ini sah, telah ditandatangani almarhum dalam kondisi sadar sepenuhnya, dan disaksikan saksi secara hukum. Tidak ada perubahan.”
Ia menatap Pandu dan Fira secara bergantian.
“Baik besar maupun kecil nilainya, setiap ahli waris menerima bagian sesuai kehendak almarhum.”
Pandu mengangkat kedua tangannya, pura-pura menyerah.
“Ya sudah, Pak. Kami cuma heran saja.”
Fira mengangkat bahu.
“Namanya juga hidup. Ada yang lahir untuk memimpin, ada yang lahir untuk… berkebun.”
Sultan akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapannya tenang, meski di balik dada yang bergemuruh. Ia menunduk sebentar, lalu berdiri dengan gerakan pelan.
“Terima kasih, Pak Wiryo,” ucapnya lirih tapi jelas. “Saya terima.”