Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Elderis World

Elderis World

kopici | Bersambung
Jumlah kata
110.5K
Popular
100
Subscribe
12
Novel / Elderis World
Elderis World

Elderis World

kopici| Bersambung
Jumlah Kata
110.5K
Popular
100
Subscribe
12
Sinopsis
FantasiIsekaiMonsterPertualanganSihir
Aiden, seorang binaragawan, tiba-tiba terbangun di dunia asing. Tubuhnya yang dulu kokoh kini kurus dan lemah. Terjebak dalam dunia penuh bahaya, ia bertemu dengan Lira, seorang gadis misterius yang membutuhkan bantuannya untuk menyelamatkan desanya dari ancaman monster. Tanpa kekuatan fisiknya yang dulu, apakah Aiden mampu bertahan dan menemukan jalan pulang?
1 Kemenangan Menyakitkan

Aiden Grant (33 tahun) berdiri di depan cermin besar di ruang ganti backstage, menatap refleksi dirinya dengan tatapan kritis. Tubuhnya yang kekar, dipahat oleh tahun-tahun latihan keras, terlihat sempurna di bawah cahaya lampu neon.

Otot-ototnya yang tegas, seperti patung marmer hidup, adalah bukti dari dedikasinya yang tak tergoyahkan.

Dia mengusap keringat di dahinya dengan handuk kecil, sambil tersenyum pada bayangannya sendiri.

Tingginya 185 cm, dengan bahu lebar yang seimbang dengan pinggang rampingnya.

Otot-ototnya yang terbentuk seperti patung Yunani kuno—dada bidang, bisep sebesar beton, dan garis six-pack yang tajam—terlihat jelas bahkan saat dia diam. Kulitnya kecokelatan akibat latihan di bawah sinar matahari, dengan bekas luka kecil di bahu kirinya, sisa cedera saat latihan angkat beban bertahun lalu.

Wajahnya tampan dengan struktur tulang tegas: alis hitam tebal yang hampir menyambung, hidung mancung sempurna, dan rahang berkarakter yang seolah dipahat oleh pematung ahli.

Rambutnya hitam, dipotong pendek rapi, dengan sedikit uban di pelipis yang justru menambah kesan matang. Matanya berwarna hijau keemasan, seperti kaca patri yang memantulkan tekad dan humor sekaligus.

Saat tersenyum, lesung kecil di pipi kirinya muncul—ciri khas yang membuat banyak kliennya di gym merasa nyaman. Di pergelangan tangan kanannya, gelang kulit usang bertuliskan "Never Surrender" — hadiah dari Victor dan Josh saat mereka lulus SMA.

"Sudah waktunya, champ," kata Victor Kane (33 tahun), muncul dari belakang dengan senyum lebar di wajahnya.

Tubuhnya sama besarnya dengan Aiden, dengan otot-otot yang mengesankan dan tatapan mata yang penuh semangat.

Tubuhnya setinggi Aiden, tapi lebih kekar, dengan leher sebesar batang pohon dan otot trapezius yang menonjol seperti bantalan baja. Kulitnya pucat, kontras dengan Aiden, karena lebih sering berlatih di gym tertutup. Tato ular naga melingkar di lengan kanannya—simbol ambisinya sejak remaja.

Wajahnya kasar namun menarik: alis tipis yang selalu terangkat seolah menantang, hidung pesek bekas patah saat berkelahi di SMA, dan bibir tebal yang kerap menyunggingkan senyum sarkastik.

Rambutnya pirang pendek, diwarnai dengan garis merah menyala di sisi kiri—gaya yang dia pertahankan sejak kuliah. Matanya biru tua, seperti laut dalam yang menyembunyikan badai. Di lehernya, kalung rantai perak dengan liontin berbentuk barbel—hadiah dari Aiden di ulang tahun mereka ke-25.

"Kau siap menghancurkan panggung itu?"

Aiden tertawa, suaranya dalam dan hangat. "Sudah siap sejak lama, Vic. Tapi kau tahu, aku masih merasa gugup."

"Gugup? Kau?" Victor mengangkat alis tebalnya, sambil memukul bahu Aiden dengan lembut. "Aiden 'The Titan' Grant gugup? Dunia pasti akan kiamat besok."

Aiden menggeleng, tersenyum. "Kau selalu tahu cara membuatku tenang."

Joshua Marlow (33 tahun), yang duduk di sudut ruangan dengan buku tebal di tangannya, mengangkat kepalanya. "Secara statistik, kemungkinan Aiden menang sangat tinggi. Tapi, Victor, kau juga punya peluang bagus."

Josh duduk membungkuk di sudut ruangan, tubuhnya kurus dengan tinggi 175 cm. Berbeda dengan Aiden dan Victor, ototnya nyaris tak terlihat. Tangannya panjang dan jemarinya ramping, selalu memegang buku atau tablet. Kulitnya pucat seperti kertas, dengan lingkaran hitam di bawah mata akibat begadang membaca.

Wajahnya oval dengan kacamata bulat berbingkai hitam tebal yang hampir menutupi alis tipisnya. Hidungnya kecil, bibirnya tipis, dan dagunya lancip. Rambutnya cokelat keriting tak teratur, seperti semak yang belum dipangkas.

Matanya cokelat muda, selalu berkedip cepat saat dia berpikir—tanda kecerdasannya yang tak terbantahkan.

Dia mengenakan kemeja kotak-kotak biru longgar dan celana chino cokelat yang terlalu besar untuk tubuhnya. Di sakunya, selalu terselip pulpen antik pemberian almarhum ayahnya—satu-satunya barang mewah yang dia miliki.

Victor mengerutkan kening. "Ah, Josh, kau dan statistikmu. Kadang aku bertanya-tanya apakah kau lebih mencintai angka daripada teman-temanmu."

Josh tersenyum kecil, matanya berbinar di balik kacamata tebalnya. "Angka tidak pernah mengecewakanku."

Ketiganya tertawa, suasana ruangan terasa hangat dan akrab.

Persahabatan mereka sudah terjalin sejak SMA, dan meskipun masing-masing memiliki kepribadian yang berbeda, ikatan mereka tetap kuat. Aiden, si binaragawan berhati emas; Victor, si kompetitor yang selalu bersemangat; dan Josh, si jenius pendiam yang selalu menjadi suara nalar di antara mereka.

Flashback: Awal Persahabatan

Aiden, Victor, dan Josh pertama kali bertemu di SMA. Aiden, yang baru pindah ke kota itu, adalah anak baru yang pendiam. Dia tidak banyak bicara, tapi ketertarikannya pada olahraga membuatnya cepat dikenal. Victor, yang sudah menjadi bintang di tim sepak bola sekolah, adalah orang pertama yang mendekatinya.

SMA tahun itu panas dan penuh debu. Aiden, murid baru dengan hoodie lusuh dan tatapan tertutup, berjalan pelan menuju lapangan. Ia menatap para siswa lain—keras, riuh, dan terlihat seperti dunia yang tak ingin dimasukinya.

"Hey, kau anak baru di sini, ya?" tanya Victor suatu hari, mendekati Aiden di lapangan sepak bola. "Aku Victor. Apa kau suka olahraga?"

Aiden mengangguk, sedikit gugup. "Aku Aiden. Ya, aku suka olahraga. Tapi lebih ke angkat beban."

Victor tersenyum lebar. "Bagus! Aku juga suka angkat beban. Akhirnya ada juga yang ngerti dumbbell di sekolah ini. Gabunglah dengan kami di gym nanti. Kita bisa latihan bareng." Aiden tersenyum untuk pertama kalinya hari itu.

Sementara itu, Josh adalah anak yang selalu terlihat dengan buku di tangannya. Dia tidak tertarik dengan olahraga, tapi kecerdasannya membuatnya dihormati oleh teman-temannya.

Suatu hari, saat Aiden dan Victor sedang berlatih di gym, Josh muncul dengan kalkulator di tangannya.

"Kalian tahu, jika kalian mengatur pola latihan dengan benar, kalian bisa meningkatkan massa otot hingga 20% lebih cepat," kata Josh, tanpa basa-basi.

Aiden dan Victor saling memandang, lalu tertawa. "Kau serius, Josh?" tanya Victor. "Kau benar-benar menghitung itu?"

Josh mengangguk, serius. "Tentu saja. Aku punya datanya di sini. Aku bisa bantu untuk meningkatkan performa kalian."

Sejak saat itu, ketiganya menjadi teman dekat. Aiden dan Victor berlatih bersama, sementara Josh membantu mereka dengan analisis dan strategi. Mereka menghabiskan waktu bersama di gym, di perpustakaan, dan bahkan di rumah masing-masing. Persahabatan mereka tumbuh kuat, meskipun kadang-kadang ada konflik kecil.

Kembali ke Masa Kini

Di kejauhan, suara pembawa acara menggema: “Ladies and gentlemen, welcome to the Iron Titan International!”.

Selang beberapa menit, panggung kontes binaraga internasional dipenuhi sorak-sorai penonton. “Contestant number 7—Aiden ‘The Titan’ Grant!”.

Aiden berdiri di atas panggung, tubuhnya bersinar di bawah lampu sorot. Dia melakukan pose terakhirnya—most muscular—, otot-ototnya tegang dan sempurna.

Selanjutnya giliran Victor. “Contestant number 8—Victor ‘The Dragon’ Kane”. Victor pun tidak mau kalah, dengan percaya diri berdiri di atas panggung dan berpose memamerkan otot-ototnya.

“Pemenangnya adalah : Aiden Grant.” Sorakan penonton memekakkan telinga, dan ketika nama Aiden disebut sebagai pemenang, Aiden merasa seperti melayang. Dia memenangkan gelar yang selalu dia impikan. Josh langsung menghampiri Aiden dan langsung bersalaman dengannya.

Tapi, di balik senyum kemenangannya, ada sesuatu yang hilang. Victor, yang biasanya pertama kali memberinya pelukan hangat, hanya berdiri di samping panggung dengan ekspresi datar. Josh, yang menyadari hal itu, biasanya tersenyum bangga, kini terlihat canggung dan tidak nyaman.

Di ruang ganti, Victor tidak kelihatan batang hidungnya. Aiden duduk sambil mengusap gelang kulit di pergelangannya—Never Surrender. Berpikir sejenak dan membulatkan tekadnya. “Kita harus mencari dia, Josh.” Josh mengangguk setuju.

“Tidak perlu,” Victor tiba-tiba muncul di pintu, wajahnya seperti topeng batu. “Aku sudah di sini.”

Aiden dan Josh terkejut ketika Victor dengan kemunculan Victor.

“Aku butuh jawaban. Kenapa kau selalu menang, Aiden? Apa rahasianya? Suplemen ilegal? Atau… Josh menyabotase aku?”

Aiden menahan amarah. “Kau tahu itu tidak benar.”

Victor tertawa getir. “Tidak? Lihat dirimu! Kau bahkan tidak punya kehidupan di luar gym! Kerja sebagai trainer, apartemen kosong, teman cuma kami berdua. Kau pikir trofi ini bisa mengisi kekosongan itu?”

Josh berdiri, tubuh kurusnya gemetar. “Victor, tenangkan dirimu.” Seumur hidup, Josh belum pernah melihat Victor semarah itu.

“Tidak Josh, kau diam,” Victor membentak, mata birunya menyala. “Aku lelah jadi bayanganmu, Aiden. Tapi besok… besok semuanya berubah.”

Victor kemudian beranjak pergi meninggalkan mereka berdua. Suasana pada saat itu benar-benar tidak menyenangkan. Kemenangan yang seharusnya dirayakan bertiga berujung pada keretakan persahabatan.

Tentunya Aiden sangat terpukul dan menjadi beban pikiran. Andaikan yang menang bukan saya, tetapi Victor. Tetapi hal itu sudah terjadi.

Lanjut membaca
Lanjut membaca