Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
DARI KECAMUK PENGHIANATAN HINGGA MAKMURNYA JALAN

DARI KECAMUK PENGHIANATAN HINGGA MAKMURNYA JALAN

Iyanpermana11 | Bersambung
Jumlah kata
111.3K
Popular
135
Subscribe
60
Novel / DARI KECAMUK PENGHIANATAN HINGGA MAKMURNYA JALAN
DARI KECAMUK PENGHIANATAN HINGGA MAKMURNYA JALAN

DARI KECAMUK PENGHIANATAN HINGGA MAKMURNYA JALAN

Iyanpermana11| Bersambung
Jumlah Kata
111.3K
Popular
135
Subscribe
60
Sinopsis
FantasiIsekaiPria MiskinBisnis
DARI KECAMUK PENGHIANATAN HINGGA MAKMURNYA JALAN Di mana cinta yang dipercaya ternyata adalah jebakan, dan kehilangan adalah awal dari kebangkitan yang lebih hebat. Idan hanya ingin satu hal: hidup bahagia bersama Anggi, pacarnya selama lima tahun, dan membangun usaha elektronik kecilnya menjadi besar. Mereka merencanakan pernikahan, membayangkan rumah yang hangat, dan impian yang terwujud—semuanya terasa sempurna, sampai hari dia masuk ke kantor usaha dan menemukan segalanya hilang. Semua uang, semua barang, bahkan Anggi—semuanya hilang bersama Rafi, teman lama Anggi yang kaya dan tampak ramah. Idan menyadari dia telah ditipu habis-habisan: kontrak palsu, laporan keuangan dimanipulasi, dan cinta yang dia percaya adalah hanya bagian dari rencana penipuan. Dalam sekejap, dia kehilangan segalanya—usaha, uang, hati, dan sebagian dari dirinya sendiri. Tinggal di trotoar, dikejar hutang bank, dan ditinggalkan oleh teman-teman, Idan merasa putus asa. Tapi di tengah kegelapan itu, dia menemukan semangat yang tersembunyi: keinginan untuk bangkit dan membuktikan bahwa penghianatan tidak akan membuatnya tenggelam. Mulai dari pekerjaan paruh waktu sebagai pengantar makanan, dia membangun usaha baru dari nol—berusaha keras setiap hari, memberikan pelayanan terbaik, dan tidak pernah menyerah meskipun rintangan terus datang. Seiring waktu, usaha Idan mulai berkembang, dan dia bertemu Siti—wanita yang membawa cahaya ke kehidupannya yang gelap. Tapi ketika kesuksesan datang, dia juga berpapasan kembali dengan Anggi dan Rafi. Akankah dia mencari balas dendam, atau memilih untuk memaafkan dan melangkah ke depan? Sebuah cerita tentang cinta, pengkhianatan, keberanian, dan kebangkitan yang menginspirasi—membuktikan bahwa hidup adalah perjalanan yang penuh liku, dan yang paling penting adalah tidak pernah kehilangan harapan untuk masa depan.
1. Hari Yang Seperti Biasa

Matahari menyinari lantai toko dengan cahaya hangat yang sedikit menyengat, membuat permukaan layar hp dan laptop yang terpasang di rak terlihat bersinar. Idan mengusap keringat di dahinya dengan siku, tangan kiri masih memegang obeng yang baru saja dia gunakan untuk memperbaiki charger hp pelanggan. “Selesai, Pak Anton,” ucapnya dengan senyum lebar, menyajikan perangkat yang sudah baik-baik saja. “Sekarang chargernya tidak akan putus lagi kapan saja.”

Pak Anton, pria berusia sekitar 50 tahun yang selalu datang ke toko “Idan Elektronik” setiap kali ada masalah dengan barang elektroniknya, mengambil charger dengan senyum puas. “Kamu memang terampil, Idan. Sudah berapa kali aku datang ke sini, dan selalu selesai cepat. Berapa harganya ya?”

“Cuma lima puluh ribu saja, Pak. Cukup untuk biaya perbaikan dan bahan kecil,” jawab Idan sambil membersihkan tangan di kain pel yang tergantung di pinggang celananya. Dia tahu Pak Anton bekerja sebagai supir angkutan kota, pendapatannya tidak terlalu banyak. Jadi, Idan selalu menentukan harga yang terjangkau, bahkan kadang lebih murah dari biaya sebenarnya.

“Terima kasih, ya, Idan. Nanti aku bawa temanku yang punya masalah dengan TV, ya,” kata Pak Anton sambil membayar dan berjalan keluar dari toko. Idan mengangguk dengan senyum, menyapa pakai tangan sampai Pak Anton menghilang di sudut jalan.

Toko “Idan Elektronik” adalah usaha kecil yang Idan dirikan sendiri dua tahun yang lalu. Tempatnya tidak terlalu luas—hanya sekitar 20 meter persegi—dengan rak-rak yang dipenuhi barang elektronik bekas yang sudah diperbaiki, charger, kabel data, dan aksesoris kecil lainnya. Dindingnya dipenuhi stiker merk elektronik dan foto-foto Idan bersama pelanggan yang puas. Di sudut dalam toko, ada meja kecil dengan komputer yang dia gunakan untuk mencatat penjualan dan mencari informasi perbaikan.

Idan duduk di kursi di balik meja, mengambil gelas minum dan menuangkan air dingin dari ember yang ada di bawah meja. Dia melihat jam di dinding: jam 10 pagi. Masih lama sampai siang, dan dia berharap ada lebih banyak pelanggan hari ini. Usaha dia memang mulai berkembang, tapi belum cukup untuk membayar sewa toko, bahan perbaikan, dan kebutuhan sehari-hari secara lancar. Tapi dia tidak pernah patah semangat. Dia tahu, usaha kecil membutuhkan waktu dan kerja keras untuk berkembang.

Tiba-tiba, pintu toko terbuka dengan cepat, dan suara tertawa yang dia kenal baik mengisi ruangan. “Hai, sayang! Sudah ada pelanggan banyak hari ini?”

Idan mengangkat kepala, dan wajahnya langsung bersinar. Di depan dia berdiri Anggi—pacarnya selama lima tahun—dengan rambut lurus hitamnya yang terikat rapi, mengenakan baju kerja kantoran berwarna biru muda dan celana panjang hitam. Wajahnya cantik dengan senyum yang selalu membuat hati Idan berdebar.

“Anggi! Kamu kok datang ke sini? Bukannya hari ini kamu kerja?” tanya Idan sambil berdiri dan mendekati dia, memeluknya erat. Bau parfum Anggi yang harum masuk ke hidungnya, membuat dia merasa tenang dan bahagia.

“Ya, tapi aku punya waktu istirahat sebentar, jadi mau lihat kamu,” jawab Anggi sambil memeluk Idan kembali. Dia melihat ke sekeliling toko, mengangguk puas. “Toko kamu semakin rapi ya, sayang. Aku bangga padamu.”

“Terima kasih, sayang. Semua karena dukunganmu,” kata Idan sambil memegang tangan Anggi, membawanya ke meja dan menyuruhnya duduk. “Aku sudah sediakan makanan untukmu, lho. Ayam goreng yang aku beli tadi pagi.”

Anggi tersenyum bahagia. “Wah, kamu paling tahu apa yang aku suka. Terima kasih, sayang.” Dia mengambil bungkus makanan yang Idan berikan, membukanya dan mulai makan. Sementara itu, Idan duduk di depan dia, melihat dia makan dengan senyum. Dia selalu senang ketika Anggi datang ke toko. Dia merasa lebih semangat dan bersemangat untuk bekerja.

“Sayang,” ucap Anggi sambil menelan makanan, “nanti sore kamu ada waktu? Aku mau minta tolong sesuatu.”

“Boleh apa saja, sayang. Apa yang mau kamu minta?” tanya Idan.

“Aku mau kamu temani aku ke toko baju di mall. Ada baju baru yang kelihatan bagus, dan aku mau tahu pendapatmu,” jawab Anggi. “Selain itu, aku mau ngobrol tentang sesuatu yang penting.”

Idan mengangguk. “Baik, sayang. Aku tutup toko lebih awal hari ini, ya. Kita pergi ke mall bersama.” Dia penasaran apa yang Anggi mau bicarakan. Dia melihat ekspresi wajah Anggi yang sedikit serius, tapi dia tidak khawatir. Dia yakin itu adalah hal yang baik.

Setelah Anggi selesai makan dan kembali ke kantor, Idan kembali bekerja. Sejam kemudian, seorang pelanggan datang dengan laptop yang rusak. Idan memeriksa laptop itu dan menemukan bahwa masalahnya ada di harddisk. Dia memberitahu pelanggan bahwa perbaikan akan membutuhkan waktu satu hari, dan pelanggan setuju. Idan mulai membongkar laptop itu, fokus pada pekerjaannya.

Selama bekerja, Idan tidak bisa tidak berpikir tentang Anggi. Dia mengenal Anggi sejak masa kuliah. Mereka bertemu di acara organisasi kampus, dan langsung saling menyukai. Sejak itu, mereka selalu bersama. Anggi adalah orang yang paling penting di hidupnya. Dia selalu mendukung Idan, bahkan ketika Idan memutuskan untuk mengundurkan diri dari kuliah di semester akhir untuk mendirikan usaha elektronik. Keluarga Anggi awalnya tidak setuju dengan hubungan mereka—karena Idan hanya anak dari keluarga sederhana dan tidak punya pekerjaan tetap—tapi Anggi tidak pernah menyerah. Dia selalu membela Idan, mengatakan bahwa Idan adalah orang yang rajin, cerdas, dan akan sukses suatu hari nanti.

Idan tersenyum memikirkan itu. Dia berjanji kepada dirinya sendiri dan kepada Anggi bahwa dia akan sukses, sehingga mereka bisa hidup bahagia bersama. Dia ingin menikahi Anggi, membangun rumah sendiri, dan memiliki anak-anak yang lucu. Itu adalah impiannya yang terbesar.

Jam 3 sore, Idan memutuskan untuk tutup toko lebih awal seperti yang dia janjikan kepada Anggi. Dia membersihkan meja, menutup rak-rak, dan mengunci pintu toko. Dia mengambil motornya yang parkir di depan toko, memakai helm, dan menuju kantor Anggi untuk menjemputnya.

Ketika sampai di kantor Anggi, dia melihat Anggi sudah menunggu di depan gerbang. Dia memarkir motornya, mendekati Anggi, dan memegang tangannya. “Siap pergi ke mall, sayang?” tanya dia.

“Siap!” jawab Anggi dengan senyum. Mereka naik motor, dan Idan mengendarainya menuju mall terdekat. Di jalan, angin meniup rambut Anggi yang terlepas dari ikatannya, dan dia menempelkan badan ke punggung Idan. Idan merasa sangat bahagia. Dia merasa bahwa ini adalah hidup yang dia inginkan—bersama dengan orang yang dicintainya, melakukan hal-hal sederhana yang menyenangkan.

Setelah sampai di mall, mereka berjalan ke toko baju yang Anggi maksudkan. Anggi melihat-lihat baju yang ada di rak, dan memilih beberapa baju untuk dicoba. Dia masuk ke kamar ganti, dan beberapa menit kemudian keluar dengan baju rok berwarna merah muda yang sangat cocok padanya.

“Bagaimana, sayang? Kelihatan bagus tidak?” tanya Anggi sambil memutar badannya agar Idan bisa melihat dari semua sisi.

“Kamu kelihatan sangat cantik, sayang. Sangat cocok,” jawab Idan dengan mata terbuka lebar. Dia benar-benar terpesona dengan kecantikan Anggi.

Anggi tersenyum bahagia. Dia mencoba baju lain—baju kemeja berwarna putih yang sederhana tapi elegan. Idan juga mengatakan bahwa baju itu cocok padanya. Akhirnya, Anggi memutuskan untuk membeli kedua baju itu. Idan ingin membayarnya, tapi Anggi menolak. “Aku beli sendiri, sayang. Gaji ku baru keluar kemarin,” kata dia.

Setelah selesai di toko baju, mereka berjalan ke food court untuk makan malam. Mereka memesan nasi goreng spesial dan es teh manis. Sementara menunggu makanan, Anggi melihat Idan dengan ekspresi wajah yang serius.

“Sayang,” ucap dia, “aku mau bicarakan tentang hal yang aku katakan tadi.”

Idan mengangguk, merasa sedikit gugup. “Apa itu, sayang?”

Anggi mengambil tangan Idan, memegangnya erat. “Sayang, kita sudah bersama selama lima tahun. Aku sangat mencintaimu, dan aku ingin hidup bersamamu selamanya. Aku tahu bahwa usaha mu masih kecil, dan kita belum punya banyak uang. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin bersamamu.” Dia berhenti sejenak, melihat mata Idan dengan tatapan yang penuh cinta. “Jadi, sayang… kapan kamu akan melamariku?”

Idan merasa hatinya berdebar kencang. Dia tidak menyangka bahwa Anggi akan membicarakan hal itu. Dia sudah merencanakan untuk melamar Anggi, tapi belum menemukan waktu yang tepat dan belum punya cukup uang untuk membeli cincin yang bagus.

“Anggi… aku juga ingin melamarmu,” kata Idan dengan suara yang sedikit gemetar. “Aku sudah merencananya lama. Tapi aku belum punya cukup uang untuk membeli cincin yang layak untukmu. Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu.”

Anggi tersenyum, mengusap pipi Idan dengan jari-jarinya. “Sayang, aku tidak butuh cincin yang mahal. Yang aku butuh hanyalah kamu. Cincin bisa nanti, ketika usaha mu sudah lebih sukses. Yang penting, kamu punya niat yang tulus.”

Idan merasa air mata ingin keluar. Dia memeluk Anggi dengan erat, mencium kepalanya. “Terima kasih, sayang. Kamu adalah orang terbaik di dunia. Aku berjanji, nanti aku akan melamar mu dengan cincin yang bagus, dan kita akan menikah dengan bahagia.”

Makanan tiba, dan mereka mulai makan sambil bercanda dan berbicara tentang rencana masa depan. Mereka berbicara tentang rumah yang akan mereka bangun, anak-anak yang akan mereka miliki, dan usaha yang akan mereka kembangkan bersama. Idan merasa sangat bahagia. Dia merasa bahwa hidupnya sempurna. Dia punya orang yang dicintainya, usaha yang mulai berkembang, dan impian yang akan terwujud.

Tapi dia tidak tahu, bahwa hari yang sepertinya sempurna ini adalah awal dari masa-masa yang akan mengubah hidupnya selamanya. Sebuah penghianatan yang dia tidak sangka akan datang, akan merobek hatinya dan merusak semua impian yang dia miliki. Tapi pada saat itu, Idan hanya merasa bahagia dan penuh harapan. Dia tidak bisa membayangkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.

Setelah selesai makan, mereka berjalan keluar dari mall. Idan mengendarai motornya, membawa Anggi pulang ke rumahnya. Di jalan, Anggi menempelkan badan ke punggung Idan, dan Idan merasakan kehangatan tubuhnya. Dia berdoa agar momen bahagia ini bisa bertahan selamanya. Tapi takdir memiliki rencana sendiri.

Lanjut membaca
Lanjut membaca