

Matahari di Desa Sukasamping, tidak pernah terasa hangat bagi Alon Krill. Baginya, sang cahaya surya hanyalah alarm alami yang meibusa otot-ototnya yang pegal untuk kembali bergelut dengan lumpur sawah. Tahun 2020 seharusnya menjadi tahun kemajuan bagi dunia luar, namun di pelosok desa ini, waktu seolah berhenti pada kemiskinan yang mencekik dan terik.
Alon menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang sudah bolong di bagian ketiak. Di sampingnya, ibu Rani orang desa memanggilnya dengan nama tersebut, ibunya yang sedang membungkuk memanen sisa-sisa padi yang menguning tidak merata.
Hidup mereka hanya berkecukupan. Jika hasil panen mereka bagus, mereka bisa ibuan nasi 3 kali sehari. Jika tikus atau hama menyerang, singkong rebus adalah kemewahan tertinggi yang bisa mereka syukuri.
"Alon, istirahat dulu, Le," ucap Ibu Rani dengan pelan. Suaranya sedikit serak, mencerminkan keletihan yang sudah daritadi pagi.
Alon pun hanya tersenyum tipis, memperlihatkan wajahnya yang kusam tertutup debu tanah. "Bentar lagi, bu. Ini ini juga Alon ingin kelarin sekarang biar besok kita bisa bawa ke pasar."
Pada saat itu, suasana desa sedang ramai. Mereka hendak merayakan syukuran dalam rangka memperingati hari jadi desa Sukasamping. Sebuah rasa bangga untuk desa yang kemajuannya atas bantuan yang diberikan. Poster-poster pun ditempel di setiap tiang listrik, mengumumkan berbagai lomba: makan kerupuk, balap karung, hingga tukar hasil pangan antar tetangga sebuah tradisi yang sebenarnya menyakitkan bagi Alon karena ia tak punya banyak hal untuk ditukarkan.
Baru saja Alon hendak mencuci kakinya di Aliran irigasi sawahnya, rombongan pemuda desa yang dipimpin oleh seorang anak orang kaya setempat lewat. Mereka mengenakan pakaian rapi, mengendarai motor keluaran terbaru yang knalpotnya sengaja digeber di depan wajah Alon.
"Woiiiii….. Alon! Masih narik cangkul aja? Gak cape miskin terus?" teriak salah satu dari mereka, disambut gelak tawa yang memekakkan telinga.
"Denger-denger di acara syukuran desa nanti, lu mau tukar apa, Alon? Rumput liar? Atau mau tukar nasib?" olok dari salah satu anak tersebut.
Alon pun hanya diam. Ia tahu sudah biasa Alon dianggap sampah masyarakat. Namun, puncaknya terjadi saat Pak Surya, sang Kepala Desa Sukasamping, lewat membawa tumpukan poster.
"Selamat pagi, Pak Surya. Mau kemana hari ini? Banyak bener bawa posternya," sapa Alon berusaha sopan, mencoba mencairkan suasana daritadi.
Kemudian Pak Surya menoleh, membenarkan letak kacamata yang sedikit melorot. Ia menatap Alon dari ujung kaki ke ujung kepala dengan tatapan yang lembut tercampur antara kasihan dan rasa jijik yang ditutupi.
"Anu... Mas Alon. Ini loh, bapak lagi nyebarin poster buat acara syukuran desa kita," jawab Pak Surya singkat.
Alon mencoba sedikit bercanda untuk menghibur diri. "Wah, ada acara apa emang Pak Jon? Mau ngadain konser kah? Undang artis terkenal gitu, kayak Pia Palen atau Walis. Atau kalau mau yang bening-bening, undang Dewi Perisik biar asik, Pak!"
Tawa Alon pecah, namun tidak ada yang menyambutnya. Pemuda-pemuda yang tadi berhenti justru meludah ke tanah.
"Mimpi lu ketinggian, Alon!" sentak salah satu pemuda yang berteriak. "Artis kayak Justin Bleber aja ogah ke sini kalau tahu penontonnya cuma petani kumuh kayak lu. Lu itu ibarat kerak nasi di dasar kuali, gak ada gunanya selain dibuang tau!"
Pak Surya pun menghela napas, memberikan satu lembar poster dengan kasar ke dada Alon. "Sudahlah, Alon. Baca ini yang teliti. Baca semua! Jangan cuma bisa mimpi yang enggak-enggak. Lu itu orang susah, mending pikirin gimana caranya biar lu gak kelaparan besok, bukan mikirin konser."
Penghinaan itu terasa lebih tajam dari mata cangkulnya. Alon menggenggam poster itu hingga remas. Ia melihat ibunya, berdiri tidak jauh di belakangnya. Ibunya mendengar semuanya. Dan sedang menunduk, matanya berkaca-kaca, seolah menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa memberikan kehidupan yang lebih layak bagi putranya.
Rasa sakit di dada Alon bergejolak. Ia tidak peduli jika dirinya dihina, tapi melihat ibunya merasa terhina karena kemiskinan mereka, itu adalah luka yang tidak akan pernah kering.
Malam harinya, setelah makan malam malam dengan garam dan sisa sambal, Alon berbaring di kasur bambunya yang berderit. Kamarnya pengap, hanya diterangi lampu minyak yang sudah mau habis. Di luar, suara jangkrik seolah mengejek nasibnya.
Lalu Alon pun menutup matanya, namun pikirannya terus mengulang kata-kata Pak Surya dan para pemuda tadi.
Perlahan, kesadarannya mulai memudar, dan ia jatuh ke dalam lelap yang sangat dalam. Begitu dalam hingga kegelapan di sekitarnya berubah menjadi hamparan taman yang tak berujung. Namun, taman ini tidak berwarna hijau. Semuanya berwarna emas keperakan, dengan sungai yang mengalirkan air sebening kristal.
Di tengah taman itu, berdiri seorang kakek tua misterius. Pakaiannya bukan seperti baju orang desa, melainkan jubah megah yang sepertinya terbuat dari sutra paling halus di dunia. Rambut dan janggutnya putih panjang, namun auranya sangat kuat hingga Alon merasa lututnya gemetar hanya dengan berdiri di hadapannya.
"Alon Krill..." suara kakek itu berat, seolah menggema dari dasar bumi.
"Kkk-kakek siapa? Di mana saya?" tanya Alon dengan suara gagap.
Kakek itu tidak menjawab. Ia mendekat, setiap langkahnya tidak menyentuh tanah, melainkan melayang tipis di atas rerumputan emas. Ia meletakkan tangannya yang keriput namun kokoh di pundak Alon.
"Jangan biarkan lidah orang-orang licik itu membutakan matamu, anak Bagus," ucap si kakek dengan nada penuh wibawa. "Mereka melihatmu sebagai debu, karena mereka tidak tahu bahwa di dalam nadimu mengalir darah naga yang bisa melindungi seluruh negeri ini."
Alon mengerutkan dahinya dengan ekspresi bingung. "Darah naga? Kek, saya cuma petani miskin di Sukasamping. Saya cuma orang yang dibuang."
Kakek itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh rahasia. "Hanya ada satu orang di dunia ini yang bisa menghentikan langkahmu jika kau sudah terbangun nanti... dan orang itu adalah dirimu sendiri. Kau bukan orang biasa, Alon. Ayahmu, Dalot Krill, tidak meninggalkanmu di lumpur ini untuk selamanya."
"Ayah? Tapi Ibu bilang Ayah cuma merantau ke negara Linggis dan gak pernah pulang lagi!" seru Alon sambil mencari jawaban kakek tersebut.
"Waktunya akan segera tiba, Alon!" kakek itu mulai memudar, berubah menjadi ribuan bulu putih yang beterbangan. "Bangunlah, Tuan Muda. Takdirmu bukan di sawah ini. Batakia dan negeri sedang menunggu tuannya yang sah kembali pulang."
"ALON! BANGUN, NAK!"
Alon tersentak, tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Ia melihat Ibu Rani berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah cemas. Cahaya matahari pagi mulai menembus sela-sela dinding bambunya yang retak.
"Kamu kenapa, Le? Ibu dengar kamu Teriak-teriak panggil Ayah terus," tanya ibunya lembut sembari mengusap dahi Alon.
Kemudian Alon pun terengah-engah, jantungnya masih berdegup kencang. Ia menatap telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan. Mimpi itu terasa begitu nyata. Tuan muda, Darah naga, Dalot Krill,
"Enggak apa-apa, Ibu. Alon cuma bermimpi aneh," jawab Alon mencoba menenangkan diri.
Namun, jauh di dalam hatinya, sebuah api kecil mulai menyala. Ia tidak tahu apa arti mimpi itu, atau siapa kakek tua tersebut. Ia hanya tahu satu hal, mulai hari ini, tatapannya terhadap Desa Sukasamping tidak akan pernah sama lagi.
Sambil berjalan menuju Gudang untuk mengambil dua karung beras pesanan Ibu Rani untuk acara desa nanti, Alon terus bergumam dalam hati. Ia tidak tahu bahwa dalam beberapa hari ke depan, pertemuannya dengan seorang pria berjas rapi yang memanggilnya "Tuan Muda" di sebuah minimarket akan mengubah hidupnya dari seorang petani miskin menjadi penguasa yang paling ditakuti.
Sebab, hanya ada satu orang yang bisa menghentikannya sekarang, dan orang itu bukan lagi warga desa yang menghinanya, melainkan keraguan di dalam dirinya sendiri.
BERSAMBUNG.............