Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pendekar Angin Selatan

Pendekar Angin Selatan

Ravenna Aksara | Bersambung
Jumlah kata
23.5K
Popular
100
Subscribe
6
Novel / Pendekar Angin Selatan
Pendekar Angin Selatan

Pendekar Angin Selatan

Ravenna Aksara| Bersambung
Jumlah Kata
23.5K
Popular
100
Subscribe
6
Sinopsis
18+PerkotaanAksiKriminal
Sinopsis "Pendekar Angin Selatan" Di sebuah kabupaten di Jawa Timur, Xivano menjalani hidupnya sebagai seorang pekerja keras yang tak kenal lelah, namun tertutup dan dingin bagi semua orang. Bagi teman-temannya, yang memanggilnya Vano, dia adalah sosok yang tangguh—seorang petarung yang menikmati hidup sesuka hatinya. Mereka tahu bagaimana ia berjuang dan bertarung untuk mencapai kesuksesan, tetapi tidak ada yang tahu tentang kemarahannya, kebangkitannya, atau pencarian arah dalam hidupnya. Bagi mereka, Vano adalah seperti bongkahan batu karang yang tak bisa ditembus oleh waktu. Tanpa disadari, ia adalah "Pendekar Angin Selatan," yang berjuang melawan kegelapan dalam dirinya, sebuah pertarungan yang pada akhirnya ia menangkan. Sebuah kecelakaan tragis dan fitnah kejam mengantarkannya ke dalam jeruji besi. Di titik terendah hidupnya, di mana semua yang ia tahu hancur, ia menemukan jalan baru. Ia mulai melawan, bukan dengan pedang atau kekerasan, melainkan dengan jiwanya sendiri. "Pendekar Angin Selatan" adalah epos modern tentang perjuangan sejati. Ini adalah kisah tentang seorang pria yang berani menghadapi takdirnya sendiri, melepaskan masa lalu yang gelap, dan membuktikan bahwa kekuatan terbesar tidak terletak pada kekuasaan atau gelar, melainkan pada kemurnian jiwa yang berhasil ia rebut dari kegelapan. Novel ini dipersembahkan untuk seseorang yang menginspirasi banyak orang tentang bagaimana caranya bangkit, meski sudah hancur berkali-kali. Melawan musuh mungkin hal mudah, namun melawan diri sendiri di masa lalu demi menjadi pribadi yang lebih baik adalah jalan terberat. Terima kasih karena telah menjadi pria terfavoritku, dan telah menjadi begitu kuat dalam menjalani hari-hari berat yang tak pernah orang lain lihat.
**BAB 1**ANGIN DARI SELATAN

Angin dari selatan selalu datang tanpa suara.

Ia tidak pernah meminta izin, tidak pula memberi peringatan. Ia hanya hadir, menyentuh apa saja yang dilewatinya, lalu pergi seolah tidak pernah singgah. Begitulah Xivano menjalani hidupnya. datang, bertahan, lalu pergi tanpa meninggalkan banyak kata.

Di sebuah kota besar di belahan Jawa Timur, paginya selalu dimulai dengan hiruk pikuk dan debu jalanan yang tidak pernah reda. Kota yang telah menjadi saksi bagaimana dunia menghancurkan dan meluljh lantahkan hidupnya hingga tak tersisa. Namun, kita yang telah berjuang dengannya sejak awal hingga akhir nanti. Kita yang akan menjadi saksi bahwa pendekar terkadang tidak memerlukan senjata di tangannya. Karena ada beberapa pendekar yang memegang sebuah keyakinan atas dirinya sendiri sebagai pelindungnya.

Xivano berdiri di depan jendela ruang kerjanya, menatap halaman yang masih basah oleh embun. Memperlihatkan. Banyak mobil lalu lalang untuk memulai langkah mereka. Berjuang demi dirinya sendiri maupun keluarga yang mereka cintai. Jam di dinding menunjukkan pukul lima lewat dua belas menit. Waktu yang sama setiap hari. Tidak pernah berubah.

Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung rapi, celana gelap tanpa lipatan, dan jam tangan sederhana yang tak pernah diganti selama bertahun-tahun. Tidak ada aksesori berlebihan, tidak ada tanda-tanda kemewahan dari seorang lelaki yang bagi banyak orang, telah sampai pada puncak yang diimpikan. Hidupnya tampak tertata, nyaris tanpa celah. Namun hanya ia yang tahu betapa sunyinya ruang-ruang yang telah ia bangun sendiri.

Di luar, suara kendaraan mulai terdengar satu per satu. Dunia bergerak seperti biasa. Tidak ada yang tahu bahwa di balik ketenangan itu, ada seseorang yang setiap pagi harus memastikan dirinya masih utuh.

Xivano menarik napas panjang.

Ia tidak sedang mengingat apa pun, tetapi juga tidak sedang melupakan. Hidup yang mengajarkannya satu hal penting: mengingat terlalu banyak hanya akan membuat seseorang berhenti berjalan.

Orang-orang di sekitarnya mengenalnya sebagai Vano. Nama panggilan yang terdengar ringan, bersahabat, dan jauh dari kesan keras yang melekat dalam dirinya. Bagi rekan-rekan bisnisnya, ia adalah lelaki dingin yang efisien, tidak banyak bicara, dan selalu tepat mengambil keputusan. Bagi para pekerja di usahanya, ia dikenal tegas namun adil. Tidak mudah tersenyum, tetapi tidak pernah mengabaikan.

Tidak ada yang berani bertanya tentang masa lalunya.

Karena Xivano pun tidak pernah memberi ruang untuk itu.

Ia melangkah menjauh dari jendela, duduk di kursi kerjanya, dan membuka berkas-berkas yang telah tertata rapi. Angka-angka, laporan, jadwal pertemuan—semua berjalan sesuai rencana. Seperti hidup yang telah ia susun ulang setelah berkali - kali runtuh. Ia belajar mengendalikan hal-hal yang bisa dikendalikan, dan menerima sisanya sebagai takdir yang tidak perlu dilawan.

Namun, ada hal yang tidak pernah benar-benar bisa ia kuasai yaitu dirinya sendiri.

Julukan Pendekar Angin Selatan pertama kali ia dengar dari seseorang yang tak ia ingat namanya. Lelaki itu menyebutnya demikian karena Xivano dikenal tak pernah benar-benar menetap di satu tempat yang emosional. Ia hadir saat dibutuhkan, membantu tanpa pamrih, lalu menarik diri ketika semuanya mulai terasa terlalu dekat.

“Seperti angin,” kata lelaki itu dulu.

“Datang dari selatan. Keras, dingin, tapi membersihkan.”

Xivano tidak menyangkal, juga tidak membenarkan. Ia hanya tahu satu hal: bertahan hidup sering kali menuntut seseorang untuk menjadi seperti alam—diam, kuat, dan tidak menjelaskan dirinya sendiri.

Ia telah belajar bahwa terlalu banyak menjelaskan hanya akan membuka luka yang seharusnya tetap tertutup.

Telepon di meja kerjanya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk, menanyakan kesiapannya untuk pertemuan siang nanti.

"Pak, hari ini ada pertemuan dengan klien dari Bandung. Semua sudah saya persiapkan."

Xivano membalas singkat: Siap. Satu kata cukup. Selalu cukup.

Di luar jam kerja, hidupnya nyaris tanpa warna. Tidak ada pergaulan ramai, tidak ada pesta, tidak ada pertemanan yang berisik. Ia memilih pulang lebih awal, menghabiskan waktu dengan membaca, atau sekadar duduk diam ditemani suara malam. Kesendirian bukan hal yang menakutkan baginya—justru sebaliknya. Di sanalah ia merasa aman.

Namun, aman bukan berarti bebas.

Ada malam-malam ketika ia terbangun dengan dada sesak tanpa mimpi yang jelas. Ada hari-hari ketika ia merasa terlalu lelah meski tidak melakukan apa pun. Ada banyak waktu ketika ia berdiri di depan cermin dan bertanya dalam diam:

Apakah aku sudah benar-benar menang?

Tidak ada jawaban.

Orang-orang sering mengira kemenangan adalah soal apa yang terlihat—uang, jabatan, pengaruh. Xivano bahkan tahu lebih baik dari itu. Ia tahu bahwa kemenangan sejati adalah ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri. Dan di titik itulah, ia belum sampai.

Angin kembali berembus dari arah selatan. Tirai jendela bergerak pelan. Xivano menutup berkas terakhir, lalu berdiri. Hari harus dijalani. Seperti biasa.

Langkah lebarnya terasa begitu yakin. Seperti sebuah janji abadi yang tidak pernah mengkhianati, begitu pula langkah tegasnya setiap akan menjalani harinya. Tidak ada lelah yang tidak terasa acal kali dia pulang kepada rumah ternyamannya. Namun, lelah jiwa selalu mampu ia sembunyikan tatkala banyak mata yang berusaha menatap pada dalamnya netral pekatnya.

Bukan karena mengalihkan fokus atas apa yang terjadi, namun banyak hal yang harus ia lakukan selama napasnya masih berada di tempatnya.

Ia tidak tahu bahwa suatu hari nanti, seseorang akan melihat sisi dirinya yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Seseorang yang datang tanpa meminta, tanpa menuntut, dan tanpa janji. Seseorang yang akan berjalan di sisinya—bukan untuk menyelamatkannya, tetapi untuk mengingatkannya bahwa ia masih manusia.

Seseorang yang akan membuatnya menyadari bahwa dia memiliki emosi, dia memiliki rasa, dan dia masih memiliki jiwa yang terkadang menjerit karena terlalu lelah berlaga kuat di depan banyak mata

Seseorang yang tidak akan berjalan di depannya untuk menuntun dia berjalan.

Bukan juga berjalan di belakangnya sebagai pendorong akan langkahnya.

Namun, ia akan berjalan disampingnya sebagai pengingat, dan menggenggam tangannya saat ia merasa lelah. Memeluk raganya saat ia merasa ingin pulang. Menyentuh hatinya saat ia merasa terluka.

Dimana?

Tidak ada yang tahu bahkan takdir sekalipun.

Kapan ?

Saat ia merasa bahwa ia sedang menunjukkan sisi lain dalam dirinya yang sama dengan orang itu.

Seperti layaknya sisi mata uang, dia akan melihat dirinya dalam diri orang itu namun dengan versi yang berbeda.

Namun hari itu belumlah tiba.

Untuk saat ini, Xivano masih berjalan sendirian.

Masih menjadi pendekar tanpa pedang.

Masih melawan musuh paling sunyi: dirinya sendiri.

Dan angin dari selatan tetap berembus, setia menyertai langkahnya—tanpa pernah bertanya ke mana dan seperti apa arah tujuan akhirnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca