Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Skandal Playboy Kampus Hyper

Skandal Playboy Kampus Hyper

R.Astuti | Bersambung
Jumlah kata
81.8K
Popular
2.3K
Subscribe
319
Novel / Skandal Playboy Kampus Hyper
Skandal Playboy Kampus Hyper

Skandal Playboy Kampus Hyper

R.Astuti| Bersambung
Jumlah Kata
81.8K
Popular
2.3K
Subscribe
319
Sinopsis
18+PerkotaanSekolahHaremBadboy21+
Warning! Cerita dewasa, sesuaikan usia ya. Seorang pemuda broken home bernama Boy Wingston. Terlahir dari keluarga kaya. Kekayaan yang di miliki Papanya membuat dirinya bisa melakukan apapun yang ia inginkan, terlebih lagi dalam urusan wanita. Namun, paling anti bagi Boy jalan dua kali dengan wanita yang sudah pernah tidur dengannya. Ketampanan dan kekayaannya membuat setiap wanita yang ia inginkan menyerahkan diri padanya. Namun, ada satu mahasiswi yang bernama Erlina terlihat biasa saja pada Boy. Sikap gadis itu membuat Boy penasaran dan ingin mendapatkan gadis itu. Apakah Boy mampu menaklukkan hati Erlina?Apakah status playboy kampus akan tetap Boy sandang? Siapa saja wanita yang mampu Boy tiduri?Siapa wanita yang ingin Boy jauhi tapi Boy tidak bisa melakukan hal itu? Ikuti keseruannya ya guys.
Bab 01 Mahasiswi Teladan VS Primadona Kampus

Sebuah mobil mewah dengan model elegan dari merk terkenal memasuki gerbang kampus favorite. Semua mahasiswa mengetahui siapa pemilik mobil mewah berwarna hitam itu.

Keangkuhan mobil itu, sesuai dengan harganya. Pengendara mobil itu adalah Boy Wingston, sang playboy kampus.

Banyak cewek kampus yang terpana saat memandang ketampanan Boy. Banyak juga wanita yang sudah dia jadikan pelampiasan birahi nya.

Dengan santainya Boy menghentikan mobilnya, dan terparkir di sembarang tempat.

Seorang gadis cantik menghampiri mobil mewah itu, lalu mengetuk kaca pintu mobil tepat di samping pintu pengemudi.

Kaca mobil terbuka. Terpampang wajah tampan yang dihiasi salju, duduk di belakang setir mobil.

"Bebeb, aku kangen," ucap gadis itu, menunjukkan sikap manjanya di depan sang palyboy kampus.

Gadis primadona kampus itu, selalu saja bersikap manja pada pria tampan berwajah es batu.

Primadona kampus itu bernama Wanda. Dia selalu mencari perhatian dari Boy sang idola kampus.

"Elu kenapa selalu bersikap manja gitu di depan umum?" ucap Boy dengan ketus, tanpa menjaga perasaan gadis itu yang sangat mencintainya.

"Aku manja hanya ama kamu aja, emang nggak boleh manja ama pacar sendiri?" Wanda terlihat merajuk, dia selalu mengharapkan Boy hanya fokus pada satu gadis, yaitu dirinya.

Setiap masuk kuliah, Wanda selalu berusaha untuk membatasi Boy, agar tidak memperhatikan cewek kampus yang lainnya.

Pesona yang di miliki Boy, selalu membuat para cewek kampus rela menyerahkan diri untuk bisa tidur dengan sang idola.

'Siapa juga yang pacaran sama lo? Jangan sok manis di depan gue deh, cewek munafik!' Boy membatin dalam hatinya, dia sangat mengetaui sikap Wanda, yang menurutnya hanya pura-pura di depannya.

Di sisi lain, Boy juga hanya ingin menunjukkan pada semua mahasiswa bahwa ia bisa menundukkan primadona kampus. Padahal Boy tidak mencintai gadis itu dengan sungguh-sungguh

"Bebeb, kenapa malah ngelamun," tegur Wanda, membangunkan Boy dari lamunan.

Wanda mencondongkan setengah badannya, masuk ke jendela pintu mobil yang kacanya telah terbuka.

Bibr Wanda langsung melmat bibir manis Boy, jari lentiknya dengan sengaja terparkir tepat di atas adiknya Boy.

Boy pun tidak bisa menolak serangam bbr Wanda, dia membalas lmtn Wanda yang memancing gelora brhi nya.

"Masuk!" titah Boy, setelah melepaskan pgtan Wanda.

Wanda bersorak dalam hati, sambil tersenyum penuh kemenangan, dia berjalan mengelilingi mobil mewah itu lalu masuk ke dalam mobil bagian belakang.

Boy yang tadinya duduk di belakang setir, melompat ke kursi penumpang. Lalu membuka kancing celananya, dan mengeluarkan sang adik yang sudah terlihat berdiri.

Wanda yang melihat adik Boy yang sudah berunjuk rasa, langsung merebahkan diri pada kursi mobil, kepalanya ia letakkan di pangkuan Boy.

"Hmm … Udah gede aja," ucap Wanda senang, terpana melihat kegagahan adik Boy.

Tangan Wanda langsung menggenggam adik Boy, tanpa ragu ia menciumi dan mnjlti, seolah sedang makan es cream.

Wajah Boy nampak memerah menahan sesuatu, dadanya bergerak cepat karena nafasnya memburu.

"Akh! Pagi- pagi lo udah, akkhh!" lirih Boy, protes dalam desahannya.

Bersamaan dengan setengah adik Boy yang ada dalam mulut Wanda. Tiba-tiba hantaman keras datang dari arah belakang mobil.

Goncangan yang sangat keras mengakibatkan tubuh Boy terdorong kedepan, adiknya yang sudah membesar masuk seluruhnya ke dalam rongga mulut Wanda.

"Heg!" Kedua mata Wanda melotot, tidak menyangka si adik akan memenuhi rongga mulutnya.

"Lagian elo ada-ada aja sih! Ngapain juga masih pagi mancing-mancing nafsu gue." Sambil menggerutu, Boy mengeluarkan adiknya dari mulut Wanda.

"Tapi bebeb suka, kan?" balas Wanda, sambil menyambar tissu lalu menyeka bibirnya.

"Tapi yang bener aja, ini masih pagi!" ucap Boy, sambil membersihkan adiknya yang basah oleh air liur.

"Aku kan kangen, bebeb? Bebeb nggak kangen sama aku?" Wanda masih merasa mual akibat ulah adik Boy yang baru saja memenuhi rongga mulutnya.

Wanda mengharapkan Boy merasa iba padanya, dan membelai kepalanya. Namun, Boy sama sekali terlihat tidak peduli padanya.

"Awas! Minggir dulu bisa, nggak!" Boy tambah kesal ketika hendak membuka pintu mobil, Wanda masih saja bersandar pada lengannya.

"Bebeb mau kemana," ucap Wanda dengan suaranya yang terdengar sangat manja.

"Barusan ada suara dari belakang mobil, emang lu nggak denger?" Boy membuka pintu lalu keluar dari dalam mobil.

"Bebeb, ikut." Wanda ikut keluar dari mobil, tangannya langsung memeluk lengan Boy dan ngegelendot manja.

Wanda selalu berusaha menunjukkan pada lingkungan kampus, bahwa Boy adalah kekasihnya.

***

Di belakang mobil Mercedes, Erlina sedang berusaha melepaskan separuh badannya yang tertindih motornya sendiri.

Ada dua pemuda yang keberadaannya tidak jauh dari mobil Boy, mereka bergegas berlari menghampiri Erlina, lalu membantu mengangkat motor yang masih menindihi badan pemiliknya.

"Ck, elu cari gara-gara aja, Lin!" tegur Sion, tangannya berusaha membantu Erlina berdiri.

Pemuda satunya lagi menyetandarkan motor Erlina.

"Lagian temen lo markir mobil sembarangan aja! Mana gue lagi buru-buru. Pagi ini gue ada kuis," ucap Erlina sambil meringis menahan sakit pada tubuhnya.

Motor butut milik Erlina yang ada di belakang mobil mewah milik Boy, dikerumuni oleh para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di sekitar halaman kampus.

Melihat semakin banyak kerumunan di belakang mobilnya, Boy langsung menyingkirkan tangan Wanda yang memegangi lengannya. "Kek orang buta aja lo ya. Nggak bisa liat jalan apa harus dituntun?"

Ucapan Boy tentu saja membuat Wanda tambah sewot. Mana dia sedang menikmati dan mengagumi kegagahan adiknya Boy, harus terhenti secara mendadak.

Boy berjalan ke arah belakang mobil, dia menyibak kerumunan para mahasiswa yang sedang berdiri di belakang mobilnya. Dia sangat ingin tau apa sebenarnya yang telah terjadi?

"Misi ... Misi ... Cewek cantik mau lewat," ucap Wanda sambil menyingkirkan orang- orang yang sedang berkerumun.

"Oh My God! Erlina! Lu yang nabrak mobil my bebeb, ya!" pekik Wanda, jari tangannya mendorong kening Erlina yang banyak luka.

Primadona kampus yang disandang Wanda, membuat dia cukup terkenal di kalangan kampus.

Boy yang juga sudah ada di antara kerumunan, memandangi kerusakan bagian bumper mobil mewahnya. Ekor matanya melirik ke arah motor butut milik Erlina.

"Kakak, aku izin masuk kelas dulu. Pagi ini aku ada kuis. Aku janji, selesai kelas aku pasti akan selesaiin masalah ini." Wajah Erlina sangat memohon pada Boy.

Erlina tahu, dan semua mahasiswa serta mahasiswi kampus juga sangat mengenal mobil hitam nan mewah itu adalah milik Boy.

"Enak aja! Lu udah bikin rusak mobil my bebeb! Sekarang lo mau kabur!" Wanda terdengar sangat angkuh saat menegur Erlina "Lo harus ganti rugi! 200 juta!'"

"Iya kan my bebeb Boy? Bebeb kan harus bawa mobil ini ke bengkel." Suara Wanda langsung berubah manja, ketika berbicara dengan Boy.

"Kakak tolongin aku, please. Aku harus masuk kelas. Aku udah telat, Kak." Erlina bersimpuh di dekat Boy, dia tidak menghiraukan ucapan ketus dari Wanda. Bagi Erlina, yang terpenting dapat izin dari pemilik mobil.

Dengan ekspresi wajahnya yang datar, Boy membungkuk, "Berdiri, itu celana lu kotor."

Tangan Boy menyentuh pundak Erlina, lalu membantu Erlina berdiri.

Boy, tidak tega melihat raut wajah Erlina yang sudah lama diam-diam bersembunyi di dalam hatinya.

"Lu masuk kelas aja dulu, tapi motor lu tinggalin di sini. Selesai kuliah gue tunggu di kantin," ucap Boy dengan wajah datar.

"Terima kasih, Kakak." Secepat kilat Erlina keluar dari kerumunan. Dia berlari ke arah ruangannya.

Saat itu, Erlina tidak merasakan sakit pada tubuhnya yang banyak luka. Di dalam pikirannya, hanya ingin segera masuk ke kelas, karena dia tidak mau terlambat mengikuti kuis di pagi itu.

"Bebeb, kenapa bebeb bolehin dia pergi? Biaya rawat mobil bebeb mahal, tau. Dia harus ganti rugi, bebeb." Wanda terus aja mengompori Boy, dia tidak mau Boy kasihan pada Erlina. Apalagi kalau sampai suka pada wanita itu.

Wanda terus aja membujuk Boy, agar menuntut kerugian pada Erlina.

"Lu kenapa masih di sini? Elo ke kampus mau kuliah apa mau cari kepuasan!" tegur Boy, sinis.

Para mahasiswa dan mahasiswi sudah banyak yang mengetaui, bahwa Wanda adalah kekasih Boy. Semua itu karena Wanda sendiri yang mendeklarasikan bahwa Boy kekasihnya. Namun, bagi Boy. Wanda hanya salah satu tempat untuk menuntaskan birahnya.

Banyak juga cewek kampus yang rela menawarkan diri pada Boy dengan cuma-cuma.

Sebagai lelaki normal, Boy tidak pernah menolak ajakan para wanita yang suka rela menawarkan diri padanya. Namun, pantang bagi Boy, tidur dua kali dengan wanita yang sama. Boy hanya mau tidur satu kali dengan para wanita tersebut.

***

Siang itu, Boy duduk di kantin kampus. Dewa dan Sion, kedua pengikutnya juga ada di sana.

Dengan langkah tertatih, Erlina mendekati meja Boy.

Tadi pagi saat masuk kelas, Erlina tidak merasakan sakit pada tubuhnya. Namun, sekarang saat usai kuliah. Erlina merasakan perih pada kulit badannya, dan ngilu pada tulang kakinya.

"Kak ...," lirih Erlina.

Bibir Erlina bergetar saat memanggil Boy. Dia tidak sanggup memandang wajah tampan si playboy kampus itu.

"Luka lo belum diobati?" tanya Boy, terkejut melihat kulit mulus tangan Erlina dipenuhi banyak luka baret, akibat kejadian tadi pagi tertindih motor. Jalan Erlina pun harus tertatih.

"Kita ke mobil!" ajak Boy.

"Auw!" Erlina berteriak saat tangan Boy menarik pergelangan tangannya.

"Sorry," gumam Boy, dia tidak mengerti dengan sikapnya sendiri, ketika harus berhadapan dengan Erlina

"Tak apa, Kak," jawab Erlina.

Dengan langkah tertatih sambil menahan rasa nyeri, Erlina berusaha mengikuti langkah Boy.

Pria tampan itu menghentikan langkahnya, badannya berbalik dengan mendadak. Alhasil, Erlina yang langkahnya tertatih dan berjalan sambil menunduk harus menabrak badan kekar Boy.

"Ma-maaf kak," ucap Erlina gugup.

"Lu seneng amat sih minta maaf? Jalannya nggak bisa lebih cepet lagi?" balas Boy, lalu mengarahkan langkah Erlina menuju sebuah mobil di parkiran kampus.

Erlina mengamati mobil yang  ada di depannya. Walaupun mobilnya sama-sama mewah, tapi Erlina sangat yakin kalau mobil itu bukan lah yang tertabrak motornya tadi pagi.

"Masuk!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca