
- Jumlah kata
- 453

Di sebuah desa kecil di Jawa Tengah, tersembunyi di antara sawah dan kebun bambu, hiduplah seorang anak SMA bernama Wiro. Umurnya baru 17 tahun, badannya kurus, rambutnya selalu acak-acakan, dan mulutnya… jangan ditanya—tidak pernah berhenti bercanda. Wiro terkenal penakut setengah mati, tapi anehnya justru hobi mendatangi tempat angker dan kramat. Katanya sih, “Biar berani, bro… walau biasanya lari juga.” Suatu sore sepulang sekolah, Wiro nongkrong di gardu ronda sambil main HP. Ia membaca pesan dari grup WA teman-temannya: “Berani nggak ke Punden Kali Ireng malam Jumat?” Punden Kali Ireng adalah tempat keramat di pinggir desa. Ada pohon beringin tua, mata air hitam pekat, dan konon katanya—tempat itu dijaga makhluk tak kasat mata sejak zaman Mataram. Jantung Wiro langsung deg-degan. “Ngapain juga aku baca beginian…” gumamnya, sambil menelan ludah. Tapi jarinya sudah terlanjur mengetik: “Gas. Takut itu biasa, kabur itu sunnah.” —-- Malam Jumat pun tiba. Jam menunjukkan pukul 23.45. Wiro datang sendirian—karena teman-temannya PHP semua. Dengan senter kecil dan jaket almamater, Wiro melangkah menuju punden. “Tenang, Wi… paling cuma angin… atau tikus… atau—YA ALLAH APA ITU?!” Daun bambu bergerak pelan. Wiro langsung jongkok sambil baca doa campur aduk: “Bismillah… Al-Fatihah… Ayat Kursi… Pokoknya lengkap!” Saat ia berdiri, tiba-tiba udara berubah dingin. Angin berhenti. Suara jangkrik lenyap. Dari arah beringin, terdengar suara berat: “Kowe ngopo mriki, Le?” (Kamu ngapain ke sini, Nak?) Senter Wiro mati. “K-k-k-kulo cuma lewat, Pak… eh, Mbak… eh… makhluk halus…?” Kakinya gemetar, mulutnya masih sempat bercanda karena panik. —-- Perlahan, muncul sosok pria tua berpakaian lurik, berdiri di dekat mata air. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam menembus hati. “Aku dudu sing arep medeni kowe,” katanya pelan. (Aku bukan mau menakutimu) Wiro justru tambah takut. “Biasanya yang bilang gitu justru serem…” Pria itu tersenyum tipis. “Kowe duwe ati sing resik, tapi pikiranmu rame.” (Hatimu bersih, tapi pikiranmu terlalu ribut) Tiba-tiba Wiro merasakan kepalanya ringan. Semua rasa takutnya seolah ditarik keluar. “Kamu sering ke tempat angker, padahal penakut. Kenapa?” tanya sosok itu. Wiro menggaruk kepala. “Entahlah… mungkin pengin ngerti dunia yang nggak kelihatan… walau saya penakut dan sering salah kostum.” Pria itu tertawa pelan—suara tawanya seperti angin melewati daun. —-- Sebelum Wiro sempat bertanya lagi, angin berhembus kencang. Senter menyala kembali. Sosok itu menghilang. Di tanah dekat mata air, ada koin kuno dan bekas telapak kaki. Di telinganya terdengar bisikan: “Iki dudu sing terakhir. Ojo dolanan karo wedi.” (Ini bukan yang terakhir. Jangan bermain-main dengan rasa takut) bersambung...
Di sebuah desa kecil di Jawa Tengah, tersembunyi di antara sawah dan kebun bambu, hiduplah seorang anak SMA bernama Wiro. Umurnya baru 17 tahun, badannya kurus, rambutnya selalu acak-acakan, dan mulutnya… jangan ditanya—tidak pernah berhenti bercanda.
Wiro terkenal penakut setengah mati, tapi anehnya justru hobi mendatangi tempat angker dan kramat.
Katanya sih, “Biar berani, bro… walau biasanya lari juga.”
Suatu sore sepulang sekolah, Wiro nongkrong di gardu ronda sambil main HP. Ia membaca pesan dari grup WA teman-temannya:
“Berani nggak ke Punden Kali Ireng malam Jumat?”
Punden Kali Ireng adalah tempat keramat di pinggir desa. Ada pohon beringin tua, mata air hitam pekat, dan konon katanya—tempat itu dijaga makhluk tak kasat mata sejak zaman Mataram.
Jantung Wiro langsung deg-degan.
“Ngapain juga aku baca beginian…” gumamnya, sambil menelan ludah.
Tapi jarinya sudah terlanjur mengetik:
“Gas. Takut itu biasa, kabur itu sunnah.”
—--
Malam Jumat pun tiba. Jam menunjukkan pukul 23.45.
Wiro datang sendirian—karena teman-temannya PHP semua.
Dengan senter kecil dan jaket almamater, Wiro melangkah menuju punden.
“Tenang, Wi… paling cuma angin… atau tikus… atau—YA ALLAH APA ITU?!”
Daun bambu bergerak pelan.
Wiro langsung jongkok sambil baca doa campur aduk:
“Bismillah… Al-Fatihah… Ayat Kursi… Pokoknya lengkap!”
Saat ia berdiri, tiba-tiba udara berubah dingin. Angin berhenti. Suara jangkrik lenyap.
Dari arah beringin, terdengar suara berat:
“Kowe ngopo mriki, Le?”
(Kamu ngapain ke sini, Nak?)
Senter Wiro mati.
“K-k-k-kulo cuma lewat, Pak… eh, Mbak… eh… makhluk halus…?”
Kakinya gemetar, mulutnya masih sempat bercanda karena panik.
—--
Perlahan, muncul sosok pria tua berpakaian lurik, berdiri di dekat mata air. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam menembus hati.
“Aku dudu sing arep medeni kowe,” katanya pelan.
(Aku bukan mau menakutimu)
Wiro justru tambah takut.
“Biasanya yang bilang gitu justru serem…”
Pria itu tersenyum tipis.
“Kowe duwe ati sing resik, tapi pikiranmu rame.”
(Hatimu bersih, tapi pikiranmu terlalu ribut)
Tiba-tiba Wiro merasakan kepalanya ringan. Semua rasa takutnya seolah ditarik keluar.
“Kamu sering ke tempat angker, padahal penakut. Kenapa?” tanya sosok itu.
Wiro menggaruk kepala.
“Entahlah… mungkin pengin ngerti dunia yang nggak kelihatan… walau saya penakut dan sering salah kostum.”
Pria itu tertawa pelan—suara tawanya seperti angin melewati daun.
—--
Sebelum Wiro sempat bertanya lagi, angin berhembus kencang. Senter menyala kembali. Sosok itu menghilang.
Di tanah dekat mata air, ada koin kuno dan bekas telapak kaki.
Di telinganya terdengar bisikan:
“Iki dudu sing terakhir. Ojo dolanan karo wedi.”
(Ini bukan yang terakhir. Jangan bermain-main dengan rasa takut)
Wiro berlari pulang sambil terengah-engah.
Sesampainya di rumah, ia melihat jam: 00.00 tepat.
Sejak malam itu, Wiro mulai sering melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain, mendengar bisikan di tempat sepi, dan tanpa sadar… makhluk-makhluk halus mulai memperhatikannya.
Padahal dia masih:
penakut
tukang bercanda
dan cuma anak SMA biasa
Tapi takdirnya… sudah terlanjur mengetuk.
bersambung...
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.







