

Rio melangkah keluar dari mobil, menatap ke sekeliling dengan rasa tidak percaya. Ini adalah hari pertama dia di sekolah baru, dan dia tidak tahu apa yang akan terjadi.
Rio adalah anak yang pendiam, rajin di sekolah, dan suka berkhayal tentang hal-hal magis. Dia memiliki imajinasi yang sangat kuat, dan sering kali dia lebih suka menghabiskan waktu sendiri daripada bermain dengan teman-temannya.
Rio mengambil tasnya dan berjalan menuju gerbang sekolah. Dia merasa sedikit gugup, tapi dia juga merasa siap untuk memulai petualangan baru.
"Rio, cepatlah! Kamu akan terlambat!" teriak ibunya dari dalam mobil.
Rio tidak menjawab, hanya mengangguk dan mempercepat langkahnya. Dia sudah terbiasa dengan ibunya yang selalu sibuk dan tidak pernah memperdulikan dia.
Rio memasuki gerbang sekolah, dan langsung disambut oleh wajah-wajah baru. Dia merasa sedikit canggung, tapi dia mencoba untuk tersenyum dan memperkenalkan diri.
"Hai, aku Rio," katanya dengan suara pelan.
Seorang anak laki-laki dengan rambut coklat dan mata biru tersenyum dan menjawab, "Hai Rio, aku Leo. "Salam kenal ya"
Rio hanya menggelukkan bahu, "Di sekolah lain.
Rio merasa sedikit lega, memiliki seseorang untuk menyambutnya di sekolah baru. "Terima kasih, Leo. Aku senang berkenalan denganmu."
Leo mengangguk, lalu menunjukkan jalan menuju kelas. "Kamu dan aku satu kelas di sini, Rio".
Saat mereka berjalan, Rio dan Leo berbicara tentang berbagai hal, dari hobi hingga makanan favorit. Rio merasa semakin nyaman dengan Leo, dan dia tahu bahwa mereka akan menjadi teman baik.
"Hey, Rio, kamu mau ikut makan siang dengan aku?" tanya Leo, saat mereka tiba di kantin.
Rio tersenyum, "Mau banget, Leo!"
Rio dan Leo berjalan masuk ke dalam kelas, masih berbicara tentang rencana mereka untuk makan siang bersama. Saat mereka mencari tempat duduk, mereka melihat dua kursi kosong di dekat jendela.
"Hey, kita duduk di sana aja, ya?" usul Leo, menunjuk ke arah kursi kosong.
Rio mengangguk, dan mereka berdua duduk di kursi tersebut. Saat mereka membuka buku dan alat tulis, guru masuk ke dalam kelas.
"Selamat pagi anak-anak! saya adalah Pak Suryo, guru Matematika kalian," kata Pak Suryo, sambil menulis nama di papan tulis.
Rio dan Leo saling menatap, lalu kembali memperhatikan Pak Suryo yang mulai menjelaskan materi pelajaran. Rio merasa sedikit gugup, tapi dengan Leo di sebelahnya, dia merasa lebih nyaman.
"Baik, sekarang kita akan membahas tentang persamaan linear," kata Pak Suryo, sambil menulis contoh soal di papan tulis.
Rio dan Leo berdua memperhatikan dengan seksama, sambil mencatat materi pelajaran. Saat Pak Suryo menulis soal di papan tulis, Rio melihat Leo mengacungkan tangan.
"Pak, boleh saya mencoba menjawab?" tanya Leo.
Pak Suryo tersenyum, "Tentu saja, Leo. Silakan."
Leo berdiri dan menjawab soal dengan lancar. Rio merasa bangga dengan temannya itu, dan dia tahu bahwa mereka akan memiliki hari yang baik di kelas.
Pak Suryo menatap sekeliling kelas, lalu berhenti di Rio. "Ah, saya lihat ada anak baru di kelas ini. Kamu, anak baru, bisa memperkenalkan diri di depan kelas?"
Rio merasa sedikit gugup, tapi dengan Leo yang memberikan sinyal dukungan, dia berdiri dan berjalan ke depan kelas.
"Halo, saya Rio," kata Rio, mencoba berbicara dengan suara yang jelas. "Saya baru pindah ke sini dari... dari luar kota. Saya senang bisa bergabung dengan kelas ini."
Pak Suryo tersenyum, "Selamat datang, Rio. Kami senang memiliki kamu di kelas ini."
Kelas memberikan tepuk tangan, dan Rio merasa sedikit lebih nyaman. Saat dia kembali ke tempat duduk, Leo memberikan sinyal "jempol" dan bisikan, "Keren, Rio!"
Rio tersenyum, merasa lebih percaya diri dengan kehadiran Leo di sebelahnya.
Pak Suryo melanjutkan pelajaran, dan Rio mencoba memperhatikan dengan seksama. Tapi, dia tidak bisa tidak memperhatikan bahwa ada beberapa anak di kelas yang menatapnya dengan curiga.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Rio akan bisa menyesuaikan diri dengan kelas barunya?
Bel istirahat berbunyi, dan Rio merasa perutnya mulai bergunyi. Leo segera mengajaknya ke kantin, "Hey, Rio, ayo makan siang! Aku tahu tempat yang jual mie ayam enak banget!"
Rio mengikuti Leo ke kantin, dan mereka membeli mie ayam yang lezat. Saat mereka makan, mereka berdialog tentang pelajaran matematika tadi.
"Gak terlalu susah, kan?" tanya Leo, sambil mengunyah mie ayam.
Rio mengangguk, "Iya, gak terlalu susah. Tapi aku masih perlu belajar lagi."
Leo tersenyum, "Aku juga. Aku gak terlalu pintar matematika, tapi aku suka mencoba."
Rio tersenyum, "Aku juga suka mencoba. Aku gak mau ketinggalan pelajaran."
Mereka berdua terus berbicara tentang pelajaran dan hobi mereka, sambil menikmati mie ayam yang lezat. Saat mereka selesai makan, Leo mengajak Rio ke lapangan untuk bermain sepak bola.
"Ayo, Rio! Aku tahu kamu pasti bisa main sepak bola!" kata Leo, sambil mengajak Rio ke lapangan.
Rio tersenyum, "Aku gak tahu, Leo. Aku gak terlalu pintar main sepak bola."
Leo tertawa, "Gak apa-apa, aku akan ajarin kamu!"
Rio dan Leo berlari di lapangan, mengejar bola yang bergulir. Mereka berdua bermain sepak bola dengan gembira, tanpa khawatir tentang kemampuan mereka. Leo memberikan umpan kepada Rio, dan Rio mencoba menendang bola ke gawang.
"Aaaah!" Rio berteriak, saat bola meluncur ke gawang.
Leo berlari ke arah Rio, dan mereka berdua berpelukan, sambil tertawa. "Kamu bisa, Rio!" kata Leo, sambil memukul punggung Rio.
Rio tersenyum, merasa sangat gembira. Dia tidak pernah merasa begitu bahagia bermain sepak bola sebelumnya. Mereka terus bermain, sambil berteriak dan tertawa.
Saat istirahat, mereka duduk di pinggir lapangan, sambil minum air. "Aku gak tahu aku bisa main sepak bola kayak gini," kata Rio, sambil tersenyum.
Leo tersenyum, "Aku tahu kamu bisa. Kamu hanya perlu percaya diri."
Rio mengangguk, merasa sangat berterima kasih kepada Leo. Dia tahu bahwa dia telah menemukan teman yang baik di sekolah baru ini.
Bel masuk kelas berbunyi, dan mereka berdua berlari kembali ke kelas, sambil tertawa dan berbicara tentang permainan sepak bola mereka.
Setelah bermain sepak bola, Rio dan Leo kembali ke kelas, masih berbicara tentang permainan mereka. Mereka duduk di tempat duduk masing-masing, sambil menunggu guru masuk.
Bel berbunyi, dan guru masuk ke dalam kelas. "Baik, anak-anak, kita lanjutkan pelajaran berikutnya," kata guru.
Rio dan Leo memperhatikan pelajaran dengan seksama, sambil mencatat materi yang disampaikan. Mereka berdua sangat fokus, tidak ingin ketinggalan pelajaran.
Waktu berlalu, dan akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Rio dan Leo berdua mengpack barang-barang mereka, sambil berbicara tentang rencana mereka setelah pulang sekolah.
"Ayo, Rio, kita makan es krim dulu!" usul Leo.
Rio tersenyum, "Aku mau banget!"
Mereka berdua berjalan keluar dari kelas, sambil berbicara tentang rencana mereka. Saat mereka tiba di luar sekolah, mereka melihat beberapa teman sekelas mereka sudah menunggu.
"Halo, Rio! Halo, Leo!" sapa teman-teman mereka.
Rio dan Leo membalas sapa, sambil bergabung dengan teman-teman mereka. Mereka berdua merasa sangat bahagia, telah menemukan teman-teman yang baik di sekolah baru ini.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Rio dan Leo akan terus memiliki petualangan menarik di sekolah?