

Areka itu adalah nama aku. Seorang remaja labil yang hidup sendiri. Malapetaka dan kematian selalu ikut menyeret di nama ini.
Hidup seperti nyamuk... datang sedikit saja, lalu diburu dengan amarah, seolah keberadaanku adalah salah.
Jika ini memang jati diriku, maka aku akan menerimanya tanpa kebanggaan sedikit pun...
Sekarang, aku berada di bawah langit gelap dan hujan deras menyertainya. Aku berdiri dengan muka yang lesu.
Kubertanya-tanya pada diriku ini,
"Bukankah ini kelihatan bahagia yah, karena kebanyakan orang suka mandi hujan.
Bukankah begitu..?"
***
Setiap sore-malam hari, Areka selalu bekerja di rumah makan, walaupun tahu ia masih seorang pelajar.
Hidupnya susah, dan tak memiliki orang tua, ataupun kerabat. Sehingga terpaksa bekerja, walaupun di bawah usia.
Hanya saja malam ini tak jauh berbeda dari malam yang biasanya dia jalani.
Huhhh.. Selesai juga kerjaanku, sekarang tinggal berpamitan untuk pulang... ujar Areka dari dalam hati.
Tiba-tiba namanya dipanggil oleh Pak Manajer.. "Arekaa.. kesini dulu!"
"Si-si-siap pak!" .. jawabnya dengan gagap, karena takut kalau dirinya dimarahi.
Areka mendatangi Pak Manajer dengan pikiran dipenuhi firasat buruk.
Saat mereka berdua berada di ruangan kerja Pak Manajer itu, mereka duduk di kursi masing-masing, layaknya seperti orang diwawancarai.
"A-anuu.. A-ada a-pa yah pak?" Ucap Areka dengan bicara gagap..
"Jadi gini.. Kamu tahu kalo rumah makan ini sangat rame, sehingga Boss ada keinginan buka beberapa cabang juga di beberapa luar kota."
"Benar..."
"Otomatis, kita butuh banyak pekerja yang terdidik dan terampil. Perlu namanya, Penghematan Finansial."
Dadanya mengeras. Napasnya terasa tertahan.
"Jangan-jangan..."
"Yah, kamu benar Areka."
Suasana makin mencekam akibat suara detak jam dinding terasa nyaring. Detak jam dinding terdengar begitu keras di telinganya -- tik... tak... tik... tak... -- seolah setiap dentangnya menembus tulang.
Areka dengan spontan melampiaskan emosinya langsung di hadapan Pak Manajer..
"AKU UDAH BEKERJA KERAS SELAMA 5 TAHUN DI RUMAH MAKAN INI!! RUMAH MAKAN INI DAPAT RAME PELANGGAN BERKAT AKU!!
AKU YANG WAKTU SD ITU BERKELILING KEMANA-MANA UNTUK MEMBAGIKAN LEMBARAN PROMOSI RUMAH MAKAN INI. APAKAH ANDA LUPA!?" .. ucapnya sembari berdiri, dan menggebrak meja berkali-kali.
"Ini adalah keputusan atasan, dan saya tidak berbuat lebih." .. ucap Pak Manajer dengan tujuan menenangkan Areka..
"Setiap hari, saya datang lebih awal, dan pulang paling akhir. Tetap saja rasanya semua pengorbanan itu nggak pernah cukup.
Keinginanku itu mau dihargai sedikit, Pak... bukan karena uangnya saja, tapi karena usaha saya yang benar-benar tulus."
Kemudian, Pak Manajer memalingkan muka, dan memainkan pulpennya, ketika Areka bercurhat.
Suasana kembali hening sementara, dingin AC itu seolah membekukan di ujung jari-jari kaki dan tangannya..
Pada akhirnya, Areka kembali duduk lagi dengan kepala menunduk, kedua tangannya dikepal dan bergetar.
Ia tahu, semua ini percuma. Pak Manajer sudah membulatkan keputusan—tanpa penyesalan sedikit pun.
"Baiklah jika begitu keputusannya...
Terima kasih untuk selama ini."
Areka langsung meninggalkan Pak Manajer sendirian di ruangan. Setiba keluar dari tempat kerjanya, telah disambut oleh seluruh rekan sekerjanya... dan bersama-sama mengatakan.
"Selamat sudah dipecat, Areka!"
Telinga Areka makin memerah dan kelihatan panas, seperti air mendidih. Ia hanya bisa mengepal tangan sekuat mungkin, dan meninggalkan tempat sambil menunduk.
Tak kuasa melihat teman-temannya yang tertawa riang.
"Kenapa jadi begini.." gumamnya.
***
15 menit kemudian...
Areka berjalan pulang ke rumahnya saat masih hujan deras, pulang membawa perasaan yang bercampur aduk.
Terdiam sejenak...
Hujan di luar makin menderas, dadanya masih terasa sesak, seolah badai belum benar-benar pergi.
Merenungkan yang terjadi seharian ini.
Kenapa begini terus hidupku? Salahkah.. kalo aku bisa hidup tenang?
Tadi pagi di sekolah juga...
***
Loker sepatunya penuh coretan penghinaan. Kata-kata kotor itu sudah usang, seperti debu, namun setiap membacanya rasa sakitnya selalu muncul.
Terkadang juga, rak sepatunya biasanya diisi sampah dan hewan-hewan kecil, tapi kali ini.. terdapat sebuah amplop dengan segel berbentuk 'hati'.
Dalam hati Areka berkata..
Siapa yang mengirimkanku ini? Mustahil kalo yang ngirim perempuan. Palingan preman-preman itu mau ngerjain aku lagi!
Ia mengacak-acak kertas itu, lalu membuangnya di tong sampah.
Setiba di kelas, suasana begitu ramai. Dipenuhi canda tawa, gosip-gosipan yang hangat, dan lain-lainnya.
Tapi orang seperti Areka selalu diabaikan oleh orang-orang sekitar.. bahasa kasarnya tak ada yang minat menjalin hubungan pertemanan dengannya.
Kebisingan ini... ga begitu bagus bagiku. Karena selalu mengingatkanku akan kenyataan pahit. Tapi mau diapakan lagi, ga mungkinkan yah kusuruh mereka diam!
***
Beberapa jam kemudian, jam istirahat pun tiba. Areka berjalan ke arah taman sekolahnya.
Taman sekolah merupakan tempat beristirahat terbaik baginya, bukan karena tanpa alasan, tapi tempat yang paling sunyi dan hening di seluruh area sekolah.
Disebabkan taman ini memiliki luas area yang besar, dan untuk menjangkau ke sana butuh waktu yang lama.
Ketika berjalan ke arah sana, tak sengaja melihat, seorang laki-laki dengan raut muka kelelahan..
Orang itu tampak familiar baginya...
Berjalan beberapa langkah lagi, sesaat mengedipkan mata. Orang itu hilang seketika. Dan tepat di depannya ini, ada preman-preman sekolah yang menanti kedatangannya.
"Halo Areka!"
"Aku benci kalian. Tolong tinggalkan aku sendiri."
"Jadi begitu mainnya sekarang. Oke!" ucap Preman itu yang bernama Firman dengan senyuman jahat yang menghiasi wajahnya.
Areka berdiam, tak ada niat untuk melarikan diri. Dalam hatinya meyakinkannya.. Takdir, kamu gak bisa menolaknya!
Dan benar saja, Areka pun dipukul bergeliran oleh preman-preman sekolah tersebut.
Lubang hidungnya dijelali rokok yang masih menyala.
"ARGHH!"
Tawa mereka meledak, puas melihat tubuh Areka menggeliat kesakitan.
Saat mereka pergi, Areka tertinggal—lemah, gemetar, dan babak belur.
Dengan tenaga tersisa, ia berjalan ke arah bangku taman. Setiap langkah, selalu meneteskan darah dari hidungnya. Tak sampai duduk, ia sudah terjatuh duluan.
Napas terputus-putus.
To-tolong aku, Jamil!
Aku... butuh kamu.
Seekor merpati hinggap di telapak tangannya. Merpati itu mematuknya, hanya saja Areka tak menyingkirkannya, sebab tenaganya sudah habis duluan.
***
Kembali ke saat ini..
Hujan yang deras membasahi dirinya..
Berdiri sendirian di trotoar, tanpa ditemani oleh payung. Meratapi langit yang sedang bertangisan.
Areka berdiri tepat di depan panti asuhan. Di bawah lampu jalan yang berkedap-kedip.
3 menit sebelum berganti hari..
Kedua tangan dikepal kuat. Hembusan napas yang berat.
Kadang aku iri kepada orang-orang yang dapat tertawa lepas. Yang bisa pulang ke rumah dan disambut hangat.
Sedangkan aku? Bahkan gak tahu di mana rumahku sebenarnya!!
2 menit sebelum berganti hari..
Areka berteriak sekuat tenaga. Tenggorokannya terasa kering, dadanya sesak. Namun hujan menelan jeritannya, menyamarkan air matanya yang mengalir tanpa henti.
1 menit sebelum berganti hari...
Areka.. yah itu memang namaku.
Seorang pecundang yang terlahir di dunia ini. Orang yang pantas mati menyedihkan, itu adalah aku.
Mencengkram dadanya yang terasa kosong. Tangannya gemetaran tanpa sebab, dan langkahnya melambat meskipun hujan semakin deras.
Justru, hujan itu berupa obat baginya. Menghilangi jejak tangisan yang menetes dari matanya. Setiap tetes air matanya terasa dingin; dingin yang perlahan meresap hingga ke dadanya.
Tepat pukul 00:00 WITA, pada tanggal 17 Oktober 2024.. Menandakan hari telah berganti.
Kegelapan yang ada di sekeliling Areka mulai bergerak ke arahnya. Seolah-olah hujan dan kegelapan itu bersatu untuk menenggelamkannya.
Perlahan, cahaya di sekitarnya mulai pudar. Suara hujan berubah menjadi bisikan hampa.
Kegelapan itu telah menjalar dari ujung jari hingga perlahan melahapnya.
Namun, bukannya melawan Areka justru memejamkan mata, membiarkan dirinya larut dalam pekat yang menenangkan sekaligus menyakitkan.
"Gelap ini.. selalu membuatku takut.
Tapi gelap ini jugalah yang satu-satunya dapat menerimaku seutuhnya.."
Areka tertelan sepenuhnya oleh kegelapan tersebut...
Bersambung..