

Mati itu ternyata tidak sesakit yang digambarkan orang-orang dalam film horor. Tidak ada malaikat maut dengan jubah hitam yang membawa sabit besar, tidak ada api yang langsung menjilat kaki. Yang ada hanyalah rasa dingin yang perlahan merambat, seperti selimut es yang membungkus tubuh di tengah malam musim penghujan.
Aku mengembuskan napas terakhirku di atas ranjang rumah sakit yang bau karbolnya begitu menyengat. Di sampingku, suara mesin elektrokardiograf perlahan berubah menjadi satu nada panjang yang statis.
Tiiiiiiiiiiiiiiiitt
Satu garis lurus. Itu adalah tanda bahwa peranku di dunia ini sudah selesai.
Aku melihat Ibuku jatuh terduduk di lantai, tangisnya pecah tanpa suara—jenis tangis yang begitu menyakitkan hingga napas pun sulit untuk ditarik. Aku melihat Ayahku, lelaki tangguh yang jarang bicara itu, kini menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan yang gemetar.
Anehnya, aku tidak merasa sedih. Aku merasa ... tenang. Akhirnya, penyakit sialan yang menggerogoti paru-paruku selama dua tahun ini menyerah juga. Aku tidak perlu lagi meminum belasan pil setiap pagi. Aku tidak perlu lagi mencium bau rumah sakit yang menyesakkan.
Aku mati dengan tenang. Di usia dua puluh lima tahun, aku merasa sudah cukup.
“Selamat tinggal,” bisik jiwaku, yang perlahan merasa ditarik oleh cahaya putih di ujung kegelapan.
Aku menutup mata. Aku bersiap untuk tidur panjang yang abadi.
Kegelapan itu terasa nyaman. Seperti pelukan seorang ibu yang paling hangat. Namun, perlahan-lahan, rasa hangat itu berubah menjadi gangguan. Ada suara berisik yang masuk ke telingaku.
Cring! Cring! Cring!
Itu bukan suara harpa surga. Itu ... suara alarm ponsel?
Mataku terbuka dengan sentakan hebat. Aku menarik napas panjang, sangat panjang, hingga paru-paruku terasa sakit—seolah-olah oksigen adalah benda asing yang baru saja dipaksakan masuk ke dalam tubuhku.
Aku terengah-engah. Keringat dingin membanjiri keningku. Hal pertama yang kulihat bukan lagi plafon putih rumah sakit yang penuh noda bocor, melainkan langit-langit kamarku yang berwarna biru laut. Kamar kosku.
“Apa ... apa yang terjadi?” Suaraku serak, tapi tidak lagi terdengar lemah seperti orang sekarat.
Aku meraba dadaku. Jantungku berdetak kencang. Sangat kencang. Tidak ada selang oksigen di hidungku. Tidak ada jarum infus yang menusuk punggung tanganku.
Aku duduk dengan kaku, kepalaku berputar hebat. Mataku tertuju pada meja kecil di samping tempat tidur. Di sana, sebuah ponsel sedang bergetar hebat, menampilkan alarm pagi yang menyebalkan.
Tanganku gemetar saat meraih ponsel itu. Aku menekan tombol stop dan seketika ruangan menjadi sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar.
Tik. Tok. Tik. Tok.
Aku melihat layar ponselku. Mataku membelalak. Jantungku seolah berhenti berdetak sesaat.
Senin, 07:00 AM.
12 Februari.
“Mustahil,” bisikku.
Ini adalah tanggal yang sama. Hari yang sama saat aku pertama kali didiagnosis mengidap kanker paru-paru stadium lanjut dua tahun lalu. Tapi di ingatan terakhirku, aku sudah mati di bulan Desember tahun yang berbeda.
Aku bangkit dari tempat tidur, berlari ke arah cermin besar di sudut kamar. Aku menatap pantulan diriku. Tidak ada wajah pucat pasi. Tidak ada lingkaran hitam di bawah mata. Pipiku masih berisi, rambutku masih lebat—tidak rontok karena kemoterapi.
Aku terlihat ... sehat.
“Apakah itu semua hanya mimpi?” Aku bertanya pada pantulan diriku sendiri.
Mimpi yang begitu nyata? Aku bisa mengingat rasa sakitnya saat jarum menusuk kulitku. Aku bisa mengingat rasa pahit obat yang kutelan setiap hari. Aku bahkan bisa mengingat dinginnya tangan Ibuku saat dia menggenggam jemariku untuk terakhir kalinya. Bagaimana mungkin semua itu hanya mimpi?
Tiba-tiba, sebuah notifikasi masuk ke ponselku.
Sebuah pesan WhatsApp dari Ibuku.
Ibu. [Arka, jangan lupa sarapan, ya. Hari ini jadwalmu cek kesehatan ke dokter, kan? Ibu sudah transfer uangnya. Hati-hati di jalan.]
Duniaku serasa runtuh seketika. Pesan ini. Kalimat ini. Titik dan komanya pun sama persis dengan apa yang kuterima dua tahun yang lalu.
Aku terduduk di lantai, menyandarkan punggungku pada lemari kayu yang dingin. Napasku kembali memburu. Jika ini mimpi, kenapa aku tidak bangun-bangun? Jika ini kenyataan, lalu hidup yang kujalani selama dua tahun kemarin itu apa?
Aku mencoba menenangkan diri. “Tenang, Arka. Mungkin ini hanya déjà vu yang luar biasa kuat. Mungkin kau hanya kelelahan.”
Aku mencoba menjalani pagi itu sesuai dengan ingatanku. Aku mandi, mengenakan kemeja biru yang sama, dan berangkat menuju rumah sakit yang sama untuk melakukan pemeriksaan rutin yang awalnya kupikir hanya cek kesehatan biasa.
Di sepanjang jalan, semuanya terasa seperti naskah yang sedang diputar ulang. Aku melihat tukang bubur yang sama sedang melayani pelanggan dengan daster merah. Aku melihat lampu merah yang mati di perempatan jalan. Aku melihat seorang anak kecil menangis karena balonnya terlepas ke langit. Semuanya ... presisi.
Saat aku sampai di depan gerbang rumah sakit, langkahku terhenti. Keringat dingin kembali mengucur. Di dalam sana, dalam waktu tiga jam lagi, dokter akan memanggil namaku. Dia akan memasang wajah prihatin, menghela napas panjang, dan menunjukkan hasil rontgen yang akan menghancurkan seluruh masa depanku.
“Aku tidak mau masuk ke sana,” gumamku.
Aku berbalik arah. Aku memutuskan untuk tidak pergi ke rumah sakit. Jika aku tidak mendengar diagnosis itu, mungkin penyakit itu tidak akan ada. Aku ingin mengubah jalannya cerita.
Aku pergi ke sebuah taman kota, duduk di bangku kayu yang menghadap ke kolam. Aku menghabiskan waktu berjam-jam di sana, mematikan ponselku, mencoba meyakinkan diri bahwa aku bebas.
Namun, tepat pukul 11:00 siang—waktu yang sama saat dokter seharusnya membacakan diagnosis itu—dadaku tiba-tiba terasa seperti dihantam palu godam.
“Ah!” Aku tersungkur dari bangku taman.
Rasa sakit itu datang. Rasa sesak yang amat sangat. Aku mencengkeram dadaku, berusaha mencari oksigen, tapi paru-paruku seolah mengeras menjadi batu. Pandanganku mengabur. Orang-orang di sekitar mulai berkerumun, meneriakkan namaku yang entah bagaimana mereka tahu.
“Dia pingsan! Cepat panggil ambulans!” Kesadaranku perlahan menghilang. Hal terakhir yang kulihat adalah bayangan seseorang yang berdiri di kejauhan. Sosok yang tidak jelas wajahnya, mengenakan pakaian serba hitam, hanya berdiri diam sambil menatap jam tangannya.
Dunia menjadi gelap.
Dan saat aku membuka mata kembali.
Cring! Cring! Cring!
Aku tersentak. Aku kembali berada di atas kasur biru kosku. Aku kembali menatap langit-langit yang sama. Tanganku segera menyambar ponsel di samping meja.
Senin, 07:00 AM.
12 Februari.
Jantungku berdegup kencang hingga terasa ingin melompat keluar. Ini bukan mimpi. Ini bukan sekadar déjà vu. Aku terjebak.
Aku membuka ponsel dengan jari gemetar, dan sebuah pesan baru muncul di layar. Bukan dari Ibu. Tapi, dari sebuah nomor yang tidak dikenal, berisi satu baris kalimat yang membuat seluruh bulu kudukku berdiri.
[Cerita belum selesai. Silakan ulangi bab ini dari awal.]