

Susu Panas dan Janji Malam Jumat
Sruputtt...
Nikmat.
Adi memejamkan mata sejenak, membiarkan cairan hitam pekat kopi Robusta Temanggung itu membasuh tenggorokannya. Pagi di Prawirotaman, Yogyakarta, memang punya vibe yang beda. Tenang, lambat, dan udaranya... ah, udara Jogja yang lembab dan hangat.
Di luar jendela kaca kafe "Trowulan Coffee" miliknya, seorang tukang becak sedang tertidur pulas di jok penumpangnya sendiri. Dua turis bule lewat sambil menenteng botol air mineral, tertawa-tawa dengan kulit memerah terbakar matahari.
Semuanya terasa damai. Sampai badai itu datang.
Brak!
Pintu ruang belakang terbuka kasar. Bukan angin, bukan gempa. Tapi Istri.
"Adi! You teh ngapain sih bengong aja?!"
Alina muncul sambil mengibas-ngibaskan kemeja tipisnya. Wajah cantiknya merah padam, keringat mengkilap di pelipis. Rambutnya dicepol asal-asalan, menyisakan anak rambut yang basah menempel di leher jenjangnya.
Pemandangan itu... bagi Adi, jauh lebih indah daripada Candi Borobudur pas sunrise.
"AC udah nyala full, tapi I masih kepanasan! Ini Jogja apa neraka sih? Hareudang pisan!" omel Alina. Dia berjalan cepat ke balik meja bar, aroma parfum vanila bercampur keringat tubuhnya langsung menyergap hidung Adi.
Adi tersenyum tipis, meletakkan gelas kopinya.
"Sabar, Sayang. Namanya juga Jogja. Kalau dingin mah Puncak," jawab Adi santai.
"Jawab terus!" Alina mencubit pinggang Adi. "Cekit."
"Aduh!"
"Pelanggan sepi, tagihan listrik naik, you malah santai kayak di pantai," Alina cemberut, tapi tubuhnya merapat. Dia menyandarkan pinggulnya ke meja bar, tepat di samping Adi.
Tangan Alina yang nakal mulai merayap. Dari lengan kekar Adi, naik ke bahu, lalu jari telunjuknya bermain-main di kerah kaos Adi.
"I pusing mikirin omzet, Yang," suaranya berubah. Dari mode 'Bos Galak' jadi mode 'Kucing Manja'. "Badan I pegel semua. Tadi malem you tidurnya ganas, I jadi kurang istirahat..."
Adi menelan ludah. Gleg.
Ingatan tentang aktivitas mereka semalam berputar di kepala Adi. Alina memang hobi mengeluh, tapi di ranjang, wanita ini punya stamina kuda.
"Nanti malem aku pijitin lagi," bisik Adi, suaranya memberat. Dia menatap leher Alina yang basah oleh keringat. Ada dorongan purba untuk mengecupnya di sana.
Alina mendongak, matanya menyipit menggoda. Dia menjilat bibir bawahnya yang agak kering.
"Pijit doang?" tantangnya. Tangan kirinya turun, meremas pelan paha Adi. "Gemes"
"Tergantung..." Adi mendekatkan wajahnya. Napas mereka beradu. "Bos mintanya apa?"
"I minta..." Alina berjinjit, bibirnya hampir menyentuh telinga Adi. "I minta you bikin I nggak bisa jalan besok pagi."
Darah Adi mendidih. Dia baru saja akan menyambar bibir istrinya, persetan dengan kafe yang buka ketika suara bising merusak segalanya.
BLARRR! BLARRR! TENG-TENG-TENG!
Suara knalpot motor bobokan yang memekakkan telinga. Asap putih mengepul masuk lewat celah pintu.
Tiga motor RX-King berhenti seenaknya di depan pintu masuk, menghalangi jalan. Tiga pria turun. Seragam loreng oranye-hitam. Wajah berminyak, mata merah. Ormas lokal.
Romansa hancur. Gairah Adi langsung anjlok digantikan rasa jengkel.
Kringgg...
Pintu didorong kasar.
"Kulonuwun!" teriak si pemimpin preman. Tanpa nunggu jawaban, dia langsung nyelonong masuk dan duduk di kursi pelanggan paling depan. Kakinya yang pakai sepatu boots kotor langsung naik ke atas meja. "Buk."
Alina langsung mundur selangkah dari Adi. Mode manja hilang. Mode 'Cici Glodok' aktif.
"Heh, Mas! Turunin kakinya!" semprot Alina. "Itu meja makan! You pikir ini pos ronda?!"
Si preman pemimpin memperlihatkan gigi kuning, ada bekas luka di pipi, tertawa meremehkan.
"Galak men Mbakyu iki," katanya dalam bahasa Jawa ngoko. Dia menatap Alina dari atas sampai bawah. Tatapan yang membuat Adi, yang berdiri diam di balik mesin kopi, mengeratkan cengkeramannya pada milk jug (teko susu) di tangannya.
"Kita mau ambil uang keamanan, Mbak. Iuran kampung. Lima ratus ribu," kata preman itu santai sambil menyalakan rokok. "Ces." Asapnya sengaja dihembuskan ke arah Alina.
"Lima ratus ribu?!" Alina melotot. "Nggak ada! Bulan lalu udah bayar! Lagian keamanan apa? You jagain juga nggak, malah bikin pelanggan kabur!"
"Lho, nek ora bayar, yo ora aman," ancam preman itu. Dia berdiri, mendekati Alina. Tangannya mulai kurang ajar, mau mencolek dagu Alina. "Nek ora duwe duit, bayar nganggo 'bodi' yo rapopo..."
Detik itu, waktu seolah melambat bagi Adi.
Dia melihat tangan kotor preman itu terulur ke wajah istrinya.
Adi tidak berteriak. Dia tidak pasang kuda-kuda. Dia hanya... bergerak.
Di tangannya ada milk jug berisi susu segar yang baru saja dia steam sampai suhu 70 derajat. Panas. Mendidih.
"Mas..." panggil Adi lembut.
Preman itu menoleh. "Opo?!"
Adi keluar dari balik bar dengan wajah polos, membawa teko susu itu.
"Maaf Mas, istri saya emang cerewet," kata Adi sambil membungkuk sopan, gestur tubuhnya merendah. "Ini lho, minum susu anget dulu biar adem."
Preman itu menyeringai, merasa menang. "Nah, ngono! Bojomu diajari sopan santun!"
Dia menjulurkan tangan mau mengambil gelas.
Tapi Adi tidak memberikan gelasnya.
"Monggo..."
BYURRR!
Dengan gerakan yang terlihat sangat natural seolah-olah tersandung kaki meja, Adi menumpahkan seluruh isi susu panas itu tepat ke selangkangan celana jins ketat si preman.
"ADUH! MAAF MAS! SAYA KESANDUNG!" seru Adi dengan nada panik yang sangat meyakinkan.
"ARGHHHHHHHH!!! PANAS!! PANAS CUK!!!"
Preman itu melompat seperti kera kena setrum, tangannya memegangi area vitalnya yang baru saja direbus susu. "Gubrak!" Dia menabrak kursi sampai jatuh.
Dua temannya kaget dan langsung maju mau menghajar Adi. "Woy! Jancuk!"
Adi, yang masih dalam posisi membungkuk "minta maaf", memutar badannya sedikit. Sikunya "tidak sengaja" menghantam ulu hati preman kedua yang berlari mendekat.
Bugh.
Padat. Keras. Telak.
Preman kedua langsung berhenti napas. Matanya melotot, mulutnya menganga tanpa suara. Dia ambruk pelan ke lantai. "Brukk."
Preman ketiga melayangkan pukulan asal-asalan. Adi cuma menggeser kepala sedikit, lalu kakinya menginjak punggung kaki preman itu.
Krek.
Bunyi tulang metatarsal yang patah terdengar renyah di telinga Adi.
"Aduh! Mas hati-hati dong kalau jalan!" omel Adi, masih dengan wajah polos orang bingung.
Tiga preman. Satu selangkangan matang, satu sesak napas, satu kaki remuk. Semuanya terjadi dalam lima detik, terlihat seperti rentetan kecelakaan konyol.
"Sayang! Ambilin es batu! Cepetan! Kasian Mas-nya kepanasan!" teriak Adi pada Alina yang masih bengong di belakang mesin kasir.
Alina mengerjap. Dia bingung. Tadi suaminya kesandung? Kok pas banget?
"Adi! You teh ceroboh pisan! Itu susu mahal tau!" omel Alina, tapi dia tetap lari mengambil es batu.
Si pemimpin preman, dengan wajah merah padam menahan sakit yang luar biasa di "burung"-nya, menunjuk Adi dengan tangan gemetar.
"Awas kowe yo! Awas! Tak laporne Bos Gundul!"
Mereka bertiga tertatih-tatih keluar kafe, menyeret teman yang sesak napas, lalu kabur dengan motor mereka. Blarrr... meninggalkan jejak asap dan bau susu hangus.
Adi berdiri tegak. Dia mengambil kain lap, membersihkan sisa susu di lantai. Wajah paniknya hilang, berganti datar.
"Maaf, Sayang. Lantainya lengket," kata Adi pelan.
Alina keluar membawa baskom es batu, tapi musuhnya sudah hilang. Dia menatap Adi curiga. Matanya menyipit.
Dia mendekat, menarik kerah kaos Adi sampai wajah mereka sejajar.
"Adi..."
"Ya?"
"Tadi you sengaja kan?"
Adi menggeleng. Matanya bulat inosen. "Sumpah enggak. Karpetnya licin."
Alina mendengus. Dia tidak percaya, tapi dia juga tidak peduli. Dia melihat preman-preman itu lari ketakutan, dan itu membuatnya lega.
Senyum nakal kembali ke bibirnya.
"Bagus," bisik Alina. Dia mengecup bibir Adi sekilas. Cup.
"Karena you udah ngusir tikus-tikus itu... nanti malem you dapet bonus."
"Bonus apa?"
Alina meremas biceps Adi lagi, kali ini lebih keras.
"Bonus 'lembur' sampai pagi. Siapin stamina you."
Alina melenggang pergi ke dapur sambil bersenandung, meninggalkan Adi yang berdiri mematung.
Jantung Adi berdegup kencang. Bukan karena preman tadi. Preman itu sampah. Tapi janji "lembur" dari Alina... itu ancaman yang manis.
Adi melirik ke arah pintu keluar. Tatapannya menajam.
"Bos Gundul," batinnya.
Dia harus membereskan si Gundul itu malam ini juga. Kalau tidak, waktu "lembur"-nya dengan Alina bisa terganggu lagi besok pagi. Dan Adi paling benci kalau waktu bermanja-nya diganggu.