

Suara jangkrik mengerik nyaring, mengisi telinga Sigit yang tengah dilanda rasa bosan. Ia celingak-celinguk memperhatikan keadaan sekitar yang gelap dan sunyi. Sesekali ia menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil berdehem pelan, dia menikmati suasana malam ini. Tiba-tiba terdengar suara seseorang tengah memanggilnya.
“Git! Sigit!”
Sigit langsung tersentak dari duduknya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan bingung. “Siapa yang barusan memanggilku? Apa Fitri, ya?” batinnya bertanya-tanya.
“Bukan Fitri, Git. Tapi Astri!” sahut suara itu lagi.
Sigit tersentak hebat. “Hebat benar, bisa baca mata batinku,” gumamnya sambil melangkah maju.
Pemuda manis itu menghentikan langkahnya tepat di samping pohon cempedak yang rimbun. “Siapa sih yang manggil-manggil? Kurang kerjaan banget!”
“Di sini, Git.”
Suara itu terdengar tepat di samping telinganya. Sigit terperanjat, tubuhnya kaku seketika. Jantungnya berdegup kencang, memompa adrenalin ke seluruh tubuh.
“S—siapa?” tanya Sigit tanpa berani menoleh.
Setelah mengatur napas, Sigit memberanikan diri melirik ke arah pohon cempedak. Namun, tidak ada siapa pun di sana. Hal itu justru memancing amarah putra dari Pak RT tersebut. Karena kesal merasa dikerjai, Sigit sengaja buang air kecil di akar pohon itu sebelum melenggang pergi.
“Kurang ajar! Beraninya membuat najis tempat tinggalku!” umpat Astri, sosok yang telah meninggal tiga puluh tahun lalu karena gantung diri.
Astri pun membuntuti Sigit, siap untuk "menyantapnya". Namun, momennya tidak pas. Saat Sigit menoleh, ia justru mendapati sosok wanita itu tengah mengerucutkan bibir ke arahnya.
“Mak! Sigit mau diperkosa!” teriak Sigit sambil lari terbirit-birit. Teriakannya sukses mengejutkan Mamak dan Ayah yang sedang bersantai di kamar.
Pasangan suami istri itu bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi.
“Siapa yang berani menodai putraku?!” teriak Mamak dengan wajah sangar. Mereka berdua celingak-celinguk memeriksa halaman.
“Kambing tetangga siapa yang mau memerkosamu, Git?” tanya Ayah polos, yang langsung membuat Mamak naik pitam.
“Memangnya anak kita domba? Bisa-bisanya kamu ngomong begitu, Yah!” bentak Mamak.
“Kan Ayah berkata jujur, Mak.”
“Jujur, jujur! Itu namanya merendahkan anak
sendiri!” gerutu Mamak.
Sigit segera memotong perdebatan itu. Ia meminta Ayah dan Emak mencari sosok wanita berpakaian serba putih di sekitar pohon cempedak. Sejenak Ayah terdiam, lalu mendekati putranya dan meraba keningnya.
“Anget. Kamu lagi pusing, Git?”
“Enggak, Yah.”
“Terus, ngapain kamu minta kita berdua mencari janda di sekitar sini?”
“Siapa yang bilang janda, Yah! Maksudku sosok wanita berbaju putih!” tegas Sigit dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.
Ayah akhirnya manggut-manggut. Mereka mulai mencari sosok yang diceritakan Sigit, namun hasilnya nihil. Pak RT dan istrinya pun memutuskan kembali masuk ke rumah untuk
beristirahat.
“Kalau nggak segera dinikahkan, lama-lama Sigit bisa sembilan enam, Mak,” ucap Ayah sambil berbaring di tempat tidur.
“Memang siapa yang mau menikah sama Sigit, Yah?”
“Hah ... itu dia, Mak. Ayah juga bingung.”
“Sedihnya lagi kalau lihat Sigit duduk termenung sore-sore sambil melihat santet.”
“Santet? Memang ada yang nyantet Sigit, Mak? Kurang kerjaan banget!” jawab Pak RT dengan wajah tegang.
“Bukan santet, Yah. Itu lho ... yang kalau sore hari melihat matahari tenggelam.”
“Oalah ... satset?”
“Iya, satset!” jawab Mamak membenarkan.
“Ngomong pada salah semua, masih saja sok gibahin orang,” gumam Sigit yang sedang menguping di balik pintu kamar orang tuanya yang sedikit terbuka.
Sigit berjalan menjauh menuju kamarnya. Ia membuka jendela sambil menghela napas kasar. “Padahal umurku baru dua puluh delapan tahun, tapi Mamak sama Ayah ngebet banget pengen aku nikah. Males banget, deh,” gerutunya sambil menatap keluar jendela.
Tiba-tiba matanya menyipit. Ia melihat seseorang tengah memanjat pohon cempedak. Sontak Sigit tercengang.
“Tuh, kan! Benar kataku. Ada wanita penguntit yang berseliweran di rumahku. Jangan-jangan dia memata-matai diriku yang kelewat tampan ini. Aku harus hati-hati, bisa-bisa keperjakaanku direnggut,” gumamnya seraya menutup jendela rapat-rapat.
Pikirannya melantur ke mana-mana. Ia terus bertanya-tanya siapa sosok misterius di pohon cempedaknya itu hingga akhirnya ia jatuh tertidur.
Dalam mimpinya, Sigit bertemu wanita cantik dengan rambut hitam terurai panjang yang sedang bersandar di pohon cempedak. Sigit langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Nah, ini baru namanya perempuan. Minta lamarin Emak, ah ...” gumam Sigit mendekat.
Namun baru saja mendekat, Sigit langsung dipeluk dan dibawa terbang naik ke atas pohon oleh wanita itu.
“Ya ampun, kayak anak burung jatuh dari sarang saja, dinaikkan sama induknya,” ucap Sigit yang kini sudah nangkring di salah satu dahan.
Wanita cantik itu ikut naik dan menatap lekat wajah Sigit. “Namaku Astri.”
“Nggak nanya!” sahut Sigit sambil memalingkan muka, sok sombong.
“Heh, namaku Astri! Penghuni pohon cempedak yang sedang kesepian dan ... sedang cari laki-laki gagah untuk menemani,” sahut Astri yang membuat jakun Sigit naik turun.
“Aku juga nggak nanya,” timpal Sigit masih berusaha terlihat angkuh.
“Tiap sore aku lihat kamu selalu duduk di bawah pohon ini buat lihat sesat. Memang apa spesialnya matahari kalau mau sesat?”
“Yang sesat itu otakmu! Kalau matahari tenggelam itu sunset! Enggak Ayah, enggak Mamak, enggak setan, semuanya sama saja kalau ngomong!” semprot Sigit kesal.
Setelah menghela napas panjang, Sigit meminta Astri menurunkannya karena ia sebenarnya takut ketinggian.
“Eh, ngomong-ngomong, kamu jomblo, ya?” tanya Astri.
“Sok tahu!” sahut Sigit ketus.
“Nyatanya kamu nggak nikah-nikah. Teman-teman seumuranmu sudah pada punya anak,” ujar Astri sambil duduk santai di samping Sigit.
“Hu-uh, nih. Sejak lahir sampai umur dua puluh delapan, belum pernah ngerasain pacaran. Jomblo memang horor.” sahut Sigit sambil mengerucutkan bibirnya.
“Betul. Aku saja mati gara-gara jomblo.”
“Kok bisa?!” tanya Sigit serius.
“Ya, tahu sendiri gimana jahatnya mulut tetangga. Dikit-dikit ditanya kapan nikah, kapan kawin, jadi nggak nyebar undangan. Sementara yang diajak nikah aja, udah sama yang lain. Calonku berkhianat. Aku jadi depresi, itu makanya aku bunuh diri di pohon depan rumahnya, biar kehidupannya tak pernah tenang.” sahutnya.
“Oooo ....” Sigit manggut-manggut.
“Kenapa? Kamu depresi juga? Noh, masih ada satu dahan yang kuat. Kamu bisa gantung diri di situ,” tawar Astri yang seketika membuat Sigit gugup. “Atau ... pacaran saja sama aku?” tanya Astri dengan wajah genit dan kedua matanya berkedip cepat.
Sigit menggeleng kuat-kuat. Ia berusaha kabur dari dahan pohon yang tinggi itu hingga akhirnya terpeleset.
“Aaakh!”
Sigit yang sedang tertidur nyenyak langsung terbangun dengan wajah pucat pasi. Ia menoleh ke arah jendela yang sudah terang oleh sinar matahari pagi. “Untung cuma mimpi ...” desahnya lega.
Tiba-tiba, teriakan Mamak menggelegar dari halaman.
“Sigit!!! Itu celana dalam siapa yang nyangkut di atas pohon?!!!