Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Di Antara ABU dan CAHAYA

Di Antara ABU dan CAHAYA

dinadhiemy | Bersambung
Jumlah kata
38.1K
Popular
100
Subscribe
2
Novel / Di Antara ABU dan CAHAYA
Di Antara ABU dan CAHAYA

Di Antara ABU dan CAHAYA

dinadhiemy| Bersambung
Jumlah Kata
38.1K
Popular
100
Subscribe
2
Sinopsis
FantasiIsekaiDunia GaibPertualanganTeka-teki
Abu hanyalah pemuda desa yang terbiasa tidak diperhitungkan. Hidupnya berubah ketika ia mendengar panggilan yang tak didengar orang lain dan menyentuh sebuah artefak kuno bernama Paku Cahaya. Tanda itu menyeretnya ke dalam pelarian, diburu oleh makhluk bayangan dan manusia yang menginginkan kekuatan. Tanpa kekuatan yang mudah dikendalikan, Abu dipaksa menghadapi rasa takut, kehilangan, dan pilihan-pilihan sulit. Dalam perjalanan yang menguji fisik dan batin, ia belajar bahwa cahaya bukan selalu jawaban, dan abu bukan sekadar sisa kehancuran. Di Antara Abu dan Cahaya adalah kisah fantasi perjalanan tentang keberanian sunyi: memilih bertahan dan berubah, meski dunia tak pernah menjanjikan kemenangan.
JEJAK YANG TAK DI INGINKAN

Bab I: Jejak yang Tidak Diinginkan

Abu selalu percaya bahwa dunia tidak pernah memintanya untuk lahir. Ia tumbuh di desa kecil bernama Lembah Rungau, tempat kabut turun lebih setia daripada hujan, dan nama seseorang hanya penting sejauh ia bisa bekerja di ladang atau mengangkat karung gandum. Ayahnya hilang di hutan ketika Abu berusia tujuh tahun atau begitulah kata orang-orang dewasa yang menghindari tatapannya. Ibunya menyusul dua musim dingin kemudian, meninggalkan Abu dengan tangan kapalan sebelum waktunya dan hati yang belajar menutup diri.

Ia belajar bertahan dengan cara paling sederhana: bangun sebelum matahari terbit, bekerja tanpa mengeluh, dan pulang sebelum gelap. Namun ada satu hal yang tidak bisa ia hindari bisikan. Bukan bisikan manusia, melainkan suara yang muncul ketika ia sendirian, di antara desir angin dan derak ranting. Suara itu seperti memanggil namanya tanpa menyebutkannya. Abu mengira semua orang mengalaminya, sampai suatu hari ia menyadari tidak ada orang lain yang menoleh ketika suara itu datang.

Hari ketika segalanya berubah dimulai seperti hari-hari lain. Abu sedang menebang kayu di pinggir hutan, menahan dingin yang merayap lewat sepatu bututnya. Mata kapaknya mengikuti urat kayu, ritme yang menenangkan pikirannya. Lalu tanah bergetar bukan gempa, melainkan sesuatu yang lebih terarah, seperti langkah besar yang ragu-ragu. Burung-burung beterbangan, dan kabut yang biasanya jinak mengental, membentuk dinding putih di antara batang-batang pohon.

Dari kabut itu muncul seorang pria tua berjubah biru kelabu, rambutnya perak kusut dan matanya setajam batu api. Ia memandang Abu lama sekali, seakan menimbang beban yang tak terlihat. “Kau mendengarnya, bukan?” tanyanya tanpa salam.

Abu mengencangkan genggaman pada kapak. “Mendengar apa?”

Pria itu tersenyum tipis. “Panggilan.”

Senyum itu seharusnya menenangkan, tetapi justru membuat kulit Abu merinding. Ia hendak pergi ketika pria itu melangkah mendekat, mengangkat tangan. Udara bergetar. Kabut memisah, membuka lingkaran tanah yang berpendar samar. Di tengahnya, tergeletak sebuah benda seperti batu hitam berurat cahaya keemasan, berdenyut pelan.

“Ambil,” kata pria itu.

Abu mundur. “Bukan milikku.”

“Justru karena itu milikmu.”

Tanpa benar-benar memahami mengapa, Abu melangkah maju. Ketika jari-jarinya menyentuh batu itu, dunia seperti menghela napas panjang. Cahaya keemasan mengalir, bukan membakar, melainkan menghangatkan—dan untuk pertama kalinya sejak lama, Abu merasa dilihat. Bukan dinilai, bukan diukur, tetapi dikenali.

Ia tersentak, jatuh terduduk. Batu itu kini dingin di telapak tangannya, tampak biasa. Pria tua itu mengangguk, seolah sebuah teka-teki baru saja menemukan jawabannya. “Namaku Edrin. Dan kau, anak muda, baru saja menandai dirimu.”

Tidak ada waktu untuk bertanya. Dari balik pepohonan terdengar raungan—bukan suara binatang yang dikenal Abu. Tanah kembali bergetar, lebih kuat. Edrin memutar tubuhnya, jubahnya berkibar. “Mereka mencium jejaknya. Kita harus pergi.”

“Ke mana?”

“Ke tempat kau akan belajar berlari, lalu berhenti berlari.”

Mereka berlari. Abu jarang berlari sejauh itu, napasnya tercekik, paru-parunya terbakar. Di belakang, sesuatu mengejar bayangan besar dengan mata seperti bara di balik kabut. Edrin melafalkan kata-kata yang terdengar tua dan retak, dan akar-akar pohon bangkit, memperlambat pengejar. Namun setiap kali mereka berhenti, bayangan itu semakin dekat.

Akhirnya mereka mencapai tepi jurang kecil yang membelah hutan. Di bawahnya mengalir sungai sempit, airnya hitam berkilau. Edrin berhenti. “Kau harus melompat.”

Abu menatap jurang itu, lalu menoleh ke belakang, mendengar napas panas di antara ranting. “Aku tidak bisa berenang.”

Edrin menatapnya dengan keseriusan yang tidak memberi ruang tawar-menawar. “Kau tidak akan tenggelam.”

Ketika bayangan itu menerjang, Abu melompat. Air menyambutnya dengan dingin yang memukul. Ia menutup mata, menunggu rasa panik yang biasa datang, tetapi tidak ada. Batu hitam di tangannya berdenyut, dan air di sekelilingnya terasa padat, seakan menyangga tubuhnya. Ia muncul di permukaan, terengah, sementara Edrin sudah berdiri di tepi seberang.

Malam itu, mereka berjalan hingga kaki Abu mati rasa. Mereka berhenti di sebuah reruntuhan menara tua, batu-batunya berlumut, separuh runtuh. Api kecil menyala di antara mereka. Abu akhirnya bertanya, “Apa benda itu?”

“Paku Cahaya,” jawab Edrin. “Sisa-sisa perjanjian lama antara dunia dan apa yang ada di luarnya.”

“Kenapa aku?”

Edrin menatap api. “Karena kau mendengar. Karena kau memilih menyentuh, bukan lari.”

Abu terdiam. Sepanjang hidupnya, ia selalu lari dari pertanyaan, dari tatapan, dari kemungkinan. Kini, pilihannya menjeratnya dalam sesuatu yang jauh lebih besar.

Hari-hari berikutnya adalah perjalanan tanpa peta. Mereka menyeberangi rawa yang menguji kesabaran, melewati kota-kota kecil yang menutup pintu ketika melihat jubah Edrin, dan bertemu orang-orang yang menginginkan Paku Cahaya untuk alasan yang tidak pernah sepenuhnya jujur. Abu belajar cepat, bukan karena ia kuat, tetapi karena ia takut kembali menjadi tak terlihat.

Konflik pertama yang benar-benar mengubahnya datang di Pass Batu Gigi, jalur sempit di antara tebing bergerigi. Sekelompok pemburu bayaran menghadang, mata mereka berkilat oleh janji emas. “Serahkan benda itu,” kata pemimpinnya, seorang pria bertopeng besi.

Edrin mengangkat tongkatnya, tetapi Abu melangkah ke depan sebelum ia sadar apa yang ia lakukan. Jantungnya berdebar, lututnya gemetar. “Tidak,” katanya, suaranya nyaris pecah.

Tawa meledak. Pedang terhunus. Ketika serangan datang, Abu mengangkat tangannya secara refleks. Paku Cahaya berdenyut, dan udara di depannya mengeras, menahan tebasan pertama. Rasa sakit menjalar, bukan di tubuh, melainkan di ingatan wajah ibunya, punggung ayahnya yang menjauh ke hutan. Ia ingin menutup diri, tetapi kali ini ia bertahan.

“Bernapas,” teriak Edrin.

Abu bernapas. Dalam-dalam. Ia menyadari bahwa kekuatan itu bukanlah api atau petir. Ia adalah keputusan untuk hadir, untuk tidak lari. Cahaya keemasan menyebar tipis, mendorong para pemburu mundur. Tidak ada yang mati, tetapi pesan itu jelas.

Setelah mereka pergi, Abu jatuh berlutut, gemetar. Edrin berjongkok di depannya. “Kau belajar hari ini,” katanya lembut. “Kekuatanmu akan selalu menguji niatmu.”

Malam itu, di bawah langit penuh bintang, Abu menatap tangannya. Ia masih lelaki yang sama kurus, bekas luka di jari, takut akan masa depan. Namun ada sesuatu yang bertumbuh, bukan kepercayaan diri yang meledak-ledak, melainkan kesediaan untuk melangkah meski takut.

Perjalanan mereka belum selesai. Bayangan masih mengikuti, dunia masih menuntut. Tetapi untuk pertama kalinya, Abu tidak merasa dunia memintanya untuk pergi. Dunia menantangnya untuk tinggal, untuk memilih, dan untuk berubah. Dan di antara abu dan cahaya, ia mulai memahami siapa dirinya bisa menjadi.

Ia tahu perjalanan ini belum memberinya jawaban, hanya pertanyaan yang lebih jujur. Namun untuk pertama kalinya, Abu menerima bahwa ia tidak perlu menjadi hebat untuk berarti. Cukup berjalan, cukup memilih, dan cukup bertahan meski dunia terus mencoba menghapus jejaknya

Lanjut membaca
Lanjut membaca