

Lorong yang Tidak Pernah Memberi Ampunan
Hujan turun seperti kebencian yang tidak punya tujuan. Jalan aspal berlubang di gang Cakrawala memantulkan lampu motor menjadi cahaya patah-patah, seolah kota ini sendiri enggan menatap lurus ke depan.
Raka berlari.
Napasnya berat, bukan karena capek—tapi karena takut yang dipaksa diam. Di tangan kanannya ada tas selempang lusuh. Isinya bukan senjata, bukan narkoba. Hanya dokumen dan uang tunai yang jumlahnya tidak seberapa bagi orang atas, tapi cukup untuk membuat orang bawah saling bunuh.
Teriakan terdengar dari belakang.
“KEJAR!”
Raka tidak menoleh. Menoleh adalah kesalahan pertama yang sering dilakukan orang miskin. Ia sudah belajar: di kota ini, refleksi lebih mahal daripada logika.
Ia melompat melewati tumpukan sampah, terpeleset, jatuh dengan lutut menghantam beton. Rasa sakit menyambar, tapi ia bangkit lagi. Darah boleh keluar. Waktu tidak.
Gang itu sempit, dindingnya penuh coretan iklan pinjol dan nama geng yang sudah mati. Bau got, rokok murahan, dan nasi basi bercampur jadi aroma yang akrab—bau rumah.
Motor melintas di ujung gang. Bukan miliknya. Bukan temannya.
Raka berbelok tajam ke lorong kanan, masuk ke pintu besi setengah terbuka, lalu menutupnya perlahan. Ia menahan napas. Di balik pintu itu, bangunan kosong bekas gudang konveksi. Mesin-mesin jahit berkarat berdiri seperti kerangka hewan purba.
Langkah kaki mendekat. Suara sepatu menghantam air.
“Pasti ke sini,” seseorang berkata. Suaranya tenang. Orang seperti itu justru yang paling berbahaya.
Raka merogoh tasnya. Tangannya menyentuh amplop cokelat. Nama perusahaan tercetak rapi di pojok kiri—perusahaan properti besar yang sering muncul di berita bisnis. Di dalamnya, kontrak tanah. Tanah tempat rumah ibunya berdiri.
Mereka mau menggusur. Murah. Paksa. Legal di atas kertas.
Raka mengepalkan tangan. Ia bukan pencuri. Ia hanya mengambil kembali sesuatu yang memang tidak pernah diberikan dengan adil.
Pintu gudang ditendang.
“Keluar,” suara itu kembali terdengar. “Kita bisa bicara baik-baik.”
Raka tertawa kecil. Kota ini tidak mengenal kata *baik-baik*. Yang ada cuma kuat dan lemah.
Ia melempar baut ke sudut ruangan. *DENTANG*. Saat mereka menoleh, Raka sudah berlari keluar lewat pintu belakang, menyusup ke gelap yang lebih pekat.
Ia berhasil lolos malam itu.
Tapi ia tahu satu hal dengan pasti saat berdiri terengah di bawah lampu jalan yang mati setengah:
orang-orang yang mengejarnya bukan preman biasa.
Ini bukan soal utang.
Ini bukan soal dokumen.
Ini soal bisnis.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raka mengerti aturan tak tertulis kota ini dengan sangat jelas:
"Kalau kau terlalu miskin, kau tidak punya pilihan."
"Kalau kau mulai mengganggu uang orang kaya, kau jadi target."
Raka menatap langit kota yang tertutup awan. Tidak ada bintang. Tidak ada tanda.
Ia memasukkan amplop ke jaketnya dan berjalan pulang dengan langkah pelan, wajah datar.
Malam itu, di gang sempit yang selalu ia benci, satu keputusan lahir tanpa diumumkan:
Raka tidak akan lari lagi.
Jika kota ini bicara dengan uang dan kekerasan, maka ia akan belajar bahasanya—sampai fasih.
Dan mahal.