

Malam ini dingin, dan itu terasa semakin berat menekan rumah kecil yang sangat sederhana di sebuah desa. Di dalamnya dua orang pria sedang duduk bersama dengan penerangan seadanya.
Abah Leman, pria tua yang hampir menginjak enam puluh tahun, duduk membungkuk di atas tikar pandan. Punggungnya tak lagi tegak, waktu dan kerja kasar telah melengkungkannya perlahan. Rambutnya memutih tak merata, kulitnya keriput dan menghitam oleh matahari ladang orang. Setiap tarikan napasnya terdengar dalam, seolah paru-parunya ikut lelah menjalani hidup yang tak pernah benar-benar memberinya jeda.
Di hadapannya duduk Nasril. Dua puluh tahun usianya, tapi sorot matanya terlalu tua untuk seusia itu. Nasril tak pernah lagi mengenakan seragam sekolah sejak lulus SD. Bukan karena ia tak ingin belajar, melainkan karena hidup lebih dulu menagihnya untuk bertahan. Sejak remaja, tangannya sudah akrab dengan cangkul, sabit, dan karung pupuk. Pekerja serabutan di ladang warga, hari ini menanam, besok membersihkan rumput, lusa mengangkut hasil panen. Upahnya tak menentu, kadang hanya cukup untuk membeli singkong dan minyak tanah.
Ia pemuda yang jarang bergaul. Bukan sombong, bukan pula membenci orang. Dunia di luar rumah selalu terasa terlalu bising baginya.
Tatapan orang-orang desa sering kali menusuk, entah mengasihani, entah meremehkan. Maka Nasril memilih diam. Pulang sebelum senja, menunduk saat berpapasan, dan mengurung dirinya dalam rumah reyot yang hanya dihuni ia dan Abahnya.
Di tengah mereka, piring seng berisi singkong rebus kembali menjadi saksi makan malam yang sederhana, terlalu sederhana untuk dua manusia yang bekerja seharian. Uapnya naik perlahan, lalu lenyap ditelan dingin.
Abah Leman memecah singkong itu dengan tangan gemetar. Urat-uratnya menonjol, kukunya menghitam oleh tanah.
"Ambil yang ini, nak!" katanya lirih, menyodorkan potongan paling besar.
Nasril hendak menolak, tapi tatapan Abah Leman menghentikannya. Tatapan seorang ayah yang sudah kehilangan banyak hal, dan tak ingin kehilangan harga diri sebagai pelindung anaknya.
Di luar, hujan menggila. Angin menggoyang dinding papan, membuatnya berderit seperti rintihan orang tua. Lampu minyak berkedip, bayang-bayang mereka menari di dinding, tampak seperti dua sosok rapuh yang dipeluk malam tanpa ampun.
Nasril menggigit singkongnya pelan. Hambar. Keras. Tapi ia menelan juga. Dalam dadanya, ada rasa sesak yang tak bisa dikeluarkan lewat kata-kata. Ia tahu hidup mereka sempit, tertutup, dan mudah dilupakan. Ia tahu, di desa ini, pemuda pendiam tanpa kuasa sering kali menjadi sasaran paling empuk. Dia tertunduk mengingat orang-orang yang kerap menghinanya karena sangat miskin.
Abah Leman menatap hujan lewat celah jendela. Wajah tuanya terlihat makin letih.
"Mikirin apa, jangan melamun!" kata Abah.
Nasril tersenyum pada ayahnya.
"Gak bah!"
Hujan belum berhenti ketika suara gedoran itu datang keras, membabi buta, seperti ingin merobohkan rumah reyot itu sekaligus.
DUG! DUG! DUG!
Pintu papan bergetar hebat. Lampu minyak di dalam rumah bergoyang liar, apinya nyaris padam. Abah Leman tersentak berdiri. Nasril yang sedang duduk di sudut rumah menoleh, wajahnya pucat, alisnya mengernyit bingung.
"Siapa itu?" gumam Abah kaget.
Dari luar terdengar seseorang yang berteriak, sangat kencang. Awalnya satu suara, tapi mendadak menjadi ramai.
"Keluar!"
"Buka pintunya!"
"Jangan pura-pura nggak dengar!"
Suara-suara itu bercampur hujan, kasar, penuh amarah yang belum jelas asalnya.
Abah Leman yang memang tidak merasa melakukan kesalahan apapun segera menuju ke arah pintu. Namun, sebelum Abah Leman sempat mencapai pintu, papan tipis itu ditendang dari luar.
BRAKK!
Engselnya menjerit, lalu pintu terbuka dengan hentakan keras.
Warga desa memenuhi ambang rumah. Obor menyala di tangan mereka, apinya meneteskan cahaya jingga yang membuat bayangan wajah-wajah itu tampak bengkok dan kejam. Air hujan mengalir di pipi mereka, bercampur keringat dan kebencian.
Abah Leman dan Nasril tersentak kaget di tempat mereka berdiri.
"Nasril!" teriak seseorang.
Seorang pria melangkah maju. Jeki, anak kepala desa. Pakaiannya basah, tapi wajahnya kering, dingin. Matanya langsung mengunci Nasril.
"Juwita mati," katanya lantang, tanpa emosi.
"Mati mengenaskan… setelah diperkosa."
Kata-kata itu jatuh seperti petir di dalam rumah sempit itu.
"Kamu suka sama Juwita kan? aku lihat kamu keluar dari gubuk tua di dekat kebun singkong itu tadi sore!" katanya yakin.
Nasril menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak ke tempat itu, aku tidak tahu..."
"Bohong, aku dan Jeki juga Mamat dan Santo melihatmu keluar dari gubuk tua itu sambil berlari!" aku Takim.
"Apa… apa maksud kalian…?” suaranya bergetar. "Anakku nggak pernah..."
"Tidak, aku tidak melakukan apapun!" bantah Nasril mencoba membela dirinya.
"Diam!" bentak seseorang.
"Anak juragan Rais mati! Kamu masih berani berkilah!"
Jeki melangkah lebih dekat, menunjuk Nasril dengan jari basah.
"Aku lihat sendiri," katanya. "Nasril keluar dari gubuk tua dekat kebun singkog sore tadi. Setelah itu Juwita nggak pernah pulang. Dan kalian semua temukan dia mati di gubuk itu kan?"
Tiga pemuda lain maju, berdiri sejajar dengan Jeki.
"Kami juga lihat."
"Iya."
"Orangnya dia."
Empat suara. Satu kebohongan yang disepakati. Seolah tak ada jalan bagi Nasril membela dirinya.
Di belakang mereka, Juragan Rais muncul. Tubuhnya besar, napasnya memburu, wajahnya merah padam oleh amarah dan duka yang berubah menjadi kebencian. Obor di tangannya bergetar.
"Anak saya mati!" raungnya.
"Anak saya diperlakukan seperti binatang!"
Ia menatap Nasril dengan mata liar.
"Kalau bukan dia… siapa lagi?!" pekik juragan Rais.
Nasril maju selangkah, tubuhnya gemetar.
"Juragan… demi Allah, bukan saya, saya seharian di ladang"
Kalimatnya terpotong oleh tamparan keras.
PLAK!
Kepalanya terhempas ke samping. Darah langsung terasa di bibirnya. Abah Leman menjerit.
"Jangan sentuh anakku!"
Juragan Rais melirik tajam.
"Dia membunuh anakku setelah memperkosanya. Dia pantas mati!" pekik juragan Rais penuh emosi.
"Nasril tidak mungkin melakukan itu, dia bersamaku setelah pulang dari ladang, juragan..."
Namun pembelaan Abah Leman sama sekali tidak disengarkan. Dua tangan kasar sudah mencengkeram Nasril. Satu di kerah bajunya, satu lagi di lengannya. Ia diseret keluar rumah.
"Bukan aku, aku tidak membunuh Juwita!"
Nasril mencoba untuk terus membela dirinya kakinya tersandung ambang pintu, tubuhnya terjatuh ke lumpur.
Hujan mengguyur wajahnya tanpa ampun.
"Pemerkosa!"
"Dasar binatang!"
"Bikin malu desa!"
Dan tali entah dari mana sudah melilit pergelangan tangannya.
Nasril ditarik paksa, diseret tanpa ampun dan belas kasihan. Hanya ada kemarahan di swjua mata warga desa. Ucapannya di anggap omong kosong dan ucapan anak kepala desa di anggap benar. Sungguh tragis.
Nasril meraung kesakitan, kukunya mengais tanah, lumpur masuk ke mulutnya.
Abah Leman mencoba mengejar, namun seseorang mendorongnya hingga jatuh tersungkur.
"Anakku tidak salah, anakku tidak salah!" teriaknya tapi sama sekali tidak ada yang perduli dan mendengarnya.
Obor-obor bergerak. Arak-arakan terbentuk begitu saja. Di tengah hujan dan teriakan, Nasril diseret menjauh dari rumahnya dan dari ayahnya yang terus berusaha mengejarnya.
Di antara kerumunan, Jeki menoleh sebentar ke arah rumah Nasril dimana Abah Leman berusaha bangkit setelah terjatuh di lumpur.
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya dengan cepat, puas, dan kejam.
'Salah siapa kalian miskin!' batinnya.
***
Bersambung...