Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Hindia Axiom : Retakan Pertama

Hindia Axiom : Retakan Pertama

Tarjo Pandirian | Bersambung
Jumlah kata
37.8K
Popular
100
Subscribe
4
Novel / Hindia Axiom : Retakan Pertama
Hindia Axiom : Retakan Pertama

Hindia Axiom : Retakan Pertama

Tarjo Pandirian| Bersambung
Jumlah Kata
37.8K
Popular
100
Subscribe
4
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalMisteriKekuatan SuperZero To Hero
Di dunia ini, sebagian kecil manusia memiliki kekuatan misterius bernama picky. Sebuah kemampuan yang muncul tanpa bisa dipilih dan tak pernah bisa diduga kapan akan bangkit. Kekuatan ini sering kali membawa anugerah, namun tak sedikit pula yang menjadikannya kutukan bagi pemiliknya dan orang-orang di sekitarnya. Sawunggaling, seorang remaja yang hidup di jalanan setelah kehilangan ibunya, menyimpan picky yang membuat tubuhnya berubah sesuai dengan apa yang ia makan. Kekuatan itu menyelamatkannya dari bahaya sekaligus menjadikannya buruan. Ketika Sudirman, pemimpin agensi rahasia Barokah Bumi menawarinya perlindungan dan tempat di antara para pengguna picky lainnya, Sawunggaling dihadapkan pada pilihan yang mengubah hidupnya: tetap bersembunyi sebagai mangsa, atau berdiri sebagai penjaga kota yang tak pernah benar-benar menginginkannya. Di balik hiruk-pikuk Surabaya, tersembunyi dunia para pengguna picky yang selama ini tak pernah ia ketahui. Dari sanalah, Sawunggaling mulai menghadapi konflik demi konflik yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
RETAKAN PERTAMA || Bab 1 : Nutrition Shifting

Suara TV, "telah ditemukan rekaman tentang penembakan di Pelabuhan Tanjung Perak. Sampai saat ini jasad masih belum ditemukan. Para petugas pelabuhan pun tidak ada yang tau siapa pelaku penembakan itu".

Di sebuah ruang kantor sebuah agensi bernama Barokah Bumi yang tidak terlalu besar. Sudirman, seorang pria dengan tubuh tinggi dan tegap meski usianya sudah menginjak lima puluh tahun. Ubannya tumbuh acak diantara rambut hitamnya yang sedikit panjang. Diluar kemeja putihnya terdapat mantel hijau tua dengan potongan sederhana. Dia duduk di bilik tempat kerjanya mendengarkan suara TV tersebut sambil membuat angsa dari origami. Tapi sepertinya pikirannya tidak sesederhana itu, seolah dia sedang menyimak sesuatu yang tidak dilihat dan didengar oleh anggotanya di kantor.

Dedes, seorang gadis berusia dua puluh lima tahun masih merekap beberapa laporan di mejanya. Gerakannya yang tegas dan cepat memperlihatkan bagaimana telitinya dia terhadap pekerjaannya. Kemeja putih lengan panjangnya di sisingkan tiga lipatan. Kulit putih bersih, wajah yang menawan dan rambutnya yang diikat ponytail dengan poni menutupi sebagian dahinya membuatnya terlihat wajar jika diluar banyak yang mendambakannya.

Dedes dibantu oleh seorang pria yang sedikit lebih muda dari Sudirman. Tubuhnya tinggi dan terlihat masih kekar di usia yang tidak muda lagi memperlihatkan betapa disiplinnya dia menjaga kesiapan tubuhnya untuk kegiatan apapun. Dia bergerak dengan efisien memindahkan tumpukan laporan dari meja Dedes ke meja Sudirman. Dia adalah Gatot, wakil Sudirman di tempat kerja ini.

"Aaaku tau", Sudirman mengangkat tanganya mengenai tumpukan laporan yang dibawa Gatot dan jatuh

"Ah merepotkan, rapikan sendiri", kesal Gatot melihat laporan yang tersebar di lantai.

"Baik-baik", Sudirman dengan wajah kecut mengangkat tangannya diatas laporan itu.

Seketika laporan itu terbang, kembali tersusun rapi, dan meletakkan tubuh mereka di atas meja Sudirman. Ini adalah Picky Sudirman yang bernama Origami. Dia bisa mengendalikan kertas sesuai dengan keinginannya.

"Oke, sekarang waktunya pergi", Sudirman berdiri dari kursinya.

Gatot, "hei apa maksudmu? Kau harus baca dulu laporannya dan membaginya pada siapa yang harus bertugas"

Sudirman, "hah aku?"

Gatot, "ya kau kan ketuanya"

Sudirman menerima nasib itu dan mulai membaca laporannya satu-satu.

Siang hari saat istirahat kerja, Sudirman dan gatot duduk di suatu tempat makan di pinggir sungai jagir. Mereka makan ikan bakar dan seafood lainnya.

Sudirman memakan sepotong gurita pedas, "waaah enaknya makan habis kerja"

"tumben sekali kau mengajak kesini?", tanya Gatot sebelum minum

"yah anggap saja aku ingin coba ke tempat baru", Sudirman melihat ke sekitarnya. Beberapa orang lalu lalang keluar masuk toko. Para ojek online rapi duduk menunggu dengan seragam hijau hingga oren mereka.

Pandangan Sudirman berhenti tepat di pagar pembatas sungai. Matanya menyipit seolah menunggu sesuatu dari arah sungai melewati pagar.

Sebuah sobekan kertas terbang seakan alami terbawa angin. Diikuti seorang remaja berusia delapam belas tahun dengan sebuah hoodie lusuh berwarna coklat dan celana cargo selutut melewati pagar itu. Dia membawa sebuah pancingan usang dan sebuah tali yang di ujungnya terdapat 2 ekor ikan mujair. Remaja tersebut bernama Sawunggaling. Merasa dilihat oleh Sudirman dari seberang jalan, mereka pun saling bertatap pandang. Sudirman tersenyum seolah tau mereka akan bertemu.

Sudirman memanggil remaja itu dengan sedikit berteriak. "Le le, sini, sudah makan belum? Ah mksdku makan siang"

Sawunggaling berjalan mendekat untuk memastikan apa yang dia dengar. "makan? Siapa yang bayar?"

Sudirman sedikit gugup dengan keberanian remaja di depannya, "bukan aku, tapi dia", Sudirman menunjuk Gatot

Gatot terkejut, "hah aku?"

Sudirman tidak mempedulikannya, "oke kau bisa pesan apa saja disini"

Sawunggaling menuruti perkataan Sudirman. Dia melihat kearah papan menu untuk memilih.

Sudirman mengangkat sebuah piring berisi gurita pedas, "nak e, ini ini … cobalah guritanya. Enak sekali"

Sawunggaling mengambil sepotong gurita dengan tangannya lalu memakannya.

"Mmm… enak", Sawunggaling masih mengunyah.

"Hahaha… kau benar, rupanya selera kita sama. Ambil lagi, ambil", Sudirman tertawa dan tetap menodongkan makanannya.

Sawunggaling memakannya lagi, hingga ia habis dua potong lagi.

"Oh ini coba juga kerang dan kepitingnya", Sudirman mengambil sepiring kerang rebus dan capit kepiting daru tangan Gatot yang baru saja dibuka.

"Hah?", Gatot melongo dengan tindakan Sudirman. Hanya angin yang masuk mulutnya menggantikan daging kepiting tadi.

Sawunggaling secara bergantian memakan yang disuguhkan oleh Sudirman.

"Lah? Ga jadi pesen sendiri ta ini aku?", batin Sawunggaling menikmati capit kepiting ditangannya.

Namun, suasana tenang itu tidak berlangsung lama, tiba-tiba terdengar suara riuh dari seberang jalan. Suara klakson kendaraan dan teriakan orang-orang bersahutan memperingatkan bahwa ada sebuah mobil kargo tak terkendali, remnya blong. Mobil itu melaju cukup cepat mengarah ke sungai. Sudirman dan Gatot ikut berteriak agar semua orang minggir.

"Minggir pak! Awas!", Teriak Gatot ke arah seorang pria yang sedang memancing di balik pagar sungai.

Merasa situasi sangat genting, Sawunggaling menutup kepalanya dg hoodie. Secepat mungkin dia berlari ke arah bus itu dan menghadangnya.

Sudirman terkejut melihat tindakan nekad itu, "hey bocah! Jangan gila!"

Sawunggaling hanya meliriknya dibalik bayangan hoodie di kepalanya. Tepat beberapa detik saat sebelum mobil menabraknya, tangannya berubah wujud menjadi tentakel gurita. Dia menahan mobil itu dengan tentakelnya. Ini adalah Picky Sawunggaling, Nutrition Shafting.

"Brak!", Suara mobil menghantam Sawunggaling.

Sawunggaling terdorong menabrak pagar sungai di belakangnya. "Agh"

Mobil itu berhasil berhenti. Terlihat asap keluar dari bagian penyok karena tabrakan dengan Sawunggaling tadi.

Sawunggaling mencoba untuk bangkit, tangannya masih berbentuk tentakel. Sejenak Sawunggaling dan Sudirman saling bertatapan, kemudian ia menceburkan diri ke sungai dan pergi. Bersamaan dengan itu orang-orang panik dan penasaran dengan siapa orang menghentikan mobil itu.

"Aaaaa", Teriak seorang wanita histeris.

"Eh apa tadi?"

"Dia tertabrak!"

"Ta ta tangannya? Aku tidak salah lihat kan?"

Dengan cepat sebagian yang lain membuka kamera di HPnya untuk merekam.

"Hah? Aku nabrak orang?", Panik supir mobil. Dia keluar dari mobilnya tapi sudah tidak menemukan Sawunggaling.

***

Di bawah sebuah jembatan, sekumpulan barang bekas terkumpul membentuk rumah ala kadarnya. Tempat tidur beralas kardus, lemari kayu yang tinggal setengah, dan sebuah meja kusam yang diatasnya ada beberapa barang berserakan. Ini adalah tempat dimana Sawunggaling tinggal selama satu tahun belakangan.

Sawunggaling memeras baju basahnya. Dia menjemurnya di salah satu besi pondasi di bawah jembatan tersebut. Mencari baju lain di lemari dan memakainya. Dia pulang tanpa membawa ikan dan pancingannya tertinggal. Meratapi hal itu, dia duduk memandang ke arah sungai mengalir.

"Ah harusnya aku ga usah coba mancing kesana-sana"

Di malam harinya, Sawunggaling tidur berselimut sarung dan beralas kardus. Angin malam di bawah jembatan tidak pernah benar-benar menjadi sahabatnya selama ini. Namun malam itu datang 4 orang bertopeng yang lebih tidak bersahabat. Sawunggaling terbangun oleh langkah kedatangan mereka yang sedikit berisik. Sawunggaling merangkak ke pojok tempat tidurnya.

Seorang diantara mereka membuka HP melihat foto Sawunggaling di layarnya. "Iya, ini benar dia", Kata salah satu orang tersebut menyamakan wajah di layar dg Sawunggaling yang sedang panik.

"Siapa kalian?", Balas Sawunggaling yang panik.

"Tidak perlu penjelasan berlebih, kau harus ikut kami", Kata orang lainnya mengeluarkan sebuah pistol dan menodongkannya ke Sawunggaling.

Sesaat sebelum orang tersebut menekan pelatuknya, kaki Sawunggaling berubah menjadi tentakel gurita dan menampar tangan orang itu. Pistolnya terbuang. Orang-orang bertopeng lain dengan sigap langsung mengeluarkan pistol dan menembak ke arah Sawunggaling.

"Dor, dor, dor, dor", Suara tembakan beruntun.

Dengan gesit Sawunggaling menghindari semua serangan itu. Tangan kirinya menjadi tentakel yang beberapa bagiannya terdapat cangkang kerang. Sawunggaling mencambuk salah satu dari mereka dengan tentakelnya. Orang tersebut terlempar jauh ke sungai.

"Byur"

Saat tembakan yang lain datang, Sawunggaling melompat ke pondasi jembatan dan berayun. Memanfaatkan momentum loncatan tersebut, dia menyerang 2 dari mereka dengan kaki yang sudah dilindungi oleh cangkang kerang tepat di dagu dan perut mereka. 2 orang tersebut langsung pingsan. Selanjutnya orang pertama yang pistolnya sudah terlempar mengeluarkan pisau dan menghunuskannya ke Sawunggaling. Tangan kanan Sawunggaling secara cepat berubah menjadi capit kepiting.

"Ting", suara benturan capit kepiting dg pisau.

Kemudian seorang bertopeng yang masih berdiri pun melepaskan tembakan ke arah Sawunggaling.

"Dor"

Dengan cepat Sawunggaling menangkap orang bertopeng yang sedang menyerangnya menggunakan pisau tadi dg tentakelnya. Dia menjadikan orang tersebut sebagai tameng hidup.

"Aakh", suara orang bertopeng yang tertembak. Sebuah darah keluar dari

Sawunggaling melempar orang tersebut ke arah orang yang menembak tadi.

"Brug"

Dia melompat ke arah mereka dan menendang kepala mereka hingga pingsan.

"Sial, kenapa akhir-akhir ini banyak orang mengejarku", Kesal Sawunggaling yang tubuhnya perlahan berubah seperti semula

"apa mungkin karena kekuatan ini?", Lanjut Sawunggaling menoleh ke arah tempat tidurnya dan mengambil sebuah kalung dengan sebuah liontin.

Sawunggaling membuka liontin itu. Terdapat foto seorang wanita bersama anak kecil di sampingnya.

"Ibu, aku harus apa?", Kata Sawunggaling menatap wajah wanita di foto tersebut.

Merasa tempat tinggalnya kini tidak aman, dia mengemasi barang-barangnya ke dalam sebuah tas. Kemudian dia berjalan dalam gelap mencari tempat untuk bersembunyi dan tidur.

Hingga tiba di belakang suatu gedung, Sawunggaling melihat ke atas. Berpikir bahwa di atas suatu gedung lebih aman dia langsung memanjat ke atas dengan mengubah tangannya menjadi tentakel.

Di sana terdapat sebuah tempat dengan kanopi. Beberapa kursi dan meja di bawah kanopi itu. Tapi tempat tersebut hanya diterangi oleh cahaya rembulan. Sawunggaling berjalan ke arah sudut di bawah kanopi itu. Menggelar sebuah kain dari salah satu taplak meja disana sebagai alas tidurnya. Dengan perasaan cemas, dia pun tidur.

Lanjut membaca
Lanjut membaca