

Aku selalu percaya satu hal:
hidup bisa diatur selama kamu cukup rasional.
Itu sebabnya aku bisa menjadi CEO startup advertise & financial store di usia dua puluh tujuh, mengatur jadwal tidur, rapat, bahkan emosi.
Atau setidaknya, itu yang kupikirkan—sampai perempuan itu duduk di depanku, menatap layar laptopku, dan berkata dengan santai:
“Mas Arka, menurut aku brand ini kelihatan pintar, tapi nggak punya hati.”
Aku mengangkat kepala perlahan.
Tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang berani bicara seperti itu kepadaku.
“Maaf?” tanyaku, dingin.
Dia tidak terlihat gentar. Rambutnya diikat asal, hoodie abu-abu kebesaran, dan mata yang terlalu jujur untuk dunia korporat. Jemarinya masih bergerak di trackpad laptopku, seolah itu memang miliknya.
“Produk Mas bagus,” lanjutnya. “Tapi narasinya kayak cowok mapan yang takut kelihatan butuh siapa-siapa.”
Ruangan mendadak sunyi.
Direktur pemasaran menelan ludah.
Asistenku pura-pura membaca catatan.
Aku seharusnya menyuruhnya berhenti.
Menyuruh HR mengantarnya keluar.
Atau setidaknya mengingatkan bahwa ini ruang rapat, bukan kolom komentar TikTok.
Tapi entah kenapa, aku malah bertanya,
“Dan menurut kamu, seharusnya seperti apa?”
Dia menoleh. Senyum kecil muncul, bukan senyum menggoda—lebih seperti senyum orang yang tahu ia sedang menginjak ranjau, tapi tetap melangkah.
“Lebih jujur,” katanya.
“Kalau brand ini manusia, dia tipe yang pengin dicintai tapi pura-pura nggak peduli.”
Kalimat itu menempel di kepalaku lebih lama dari seharusnya.
Rapat berakhir sepuluh menit kemudian.
Orang-orang keluar dengan wajah canggung.
Dia masih duduk di sana, menutup laptopnya, berdiri, lalu mengulurkan tangan.
“Nara,” katanya.
“Freelance content strategist. Dan tenang aja, aku nggak berniat bikin Mas Arka jatuh cinta sama brand ini.”
Aku menatap tangannya beberapa detik sebelum menjabatnya.
Hangat.
Terlalu hangat untuk seorang asing.
“Aku Arka,” kataku. “Dan kamu baru saja bilang hal paling berbahaya yang pernah kudengar.”
Alisnya terangkat.
“Yang mana?”
“Bahwa aku kelihatan seperti orang yang takut butuh siapa pun.”
Dia tertawa kecil.
Bukan tawa sopan. Bukan tawa profesional.
Tawa orang yang melihat celah, lalu memilih tidak menutupinya. Dia menawarkan solusi, strategi advertise buat brand tadi, sekaligus seakan menyinggung keadaanku.
"solusinya soft launch," katanya ringan. "biar brand ini gak terlihat butuh, tapi masih tetap bisa mendapat cinta meski disembunyikan hubungannya dengan advertise"
Kata 'softlaunch' dan 'disembunyikan' seketika langsung mengena di benakku bagai menyeduh kopi pait americano yang langsung membuka mata seketika, terang.
"nah..." sahutku dangkal dan cuman satu kata itu yang tepat menggambarkan keadaan produknya sekaligus menyinggung keadaanku.
“Aku Gen Z,”
“Kami peka sama orang-orang yang pura-pura kuat.” ucapnya santai menyeringai sambil ngedipin mata sebelah, sok iye.
Dia melangkah pergi, meninggalkanku berdiri di ruang rapat yang terlalu luas.
Aku menatap layar laptopku kembali.
Slide presentasi yang barusan terasa sempurna, kini terlihat kosong.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menyadari satu hal yang tidak bisa kuatur:
Perempuan itu baru saja membaca diriku—
lebih cepat dari siapa pun yang pernah kukenal.
Dan aku belum tahu apakah aku ingin dia pergi…
atau kembali.
---
Tepat jam 5 sore tenggo jadi rutinitasku langsung cabut dari ruang kantor CEO, agar menjadi panutan bagi karyawan untuk tidak menyia-nyiakan waktu, tidak kurang dan tidak lebih, disiplin, manajemen tugas tepat guna, selesaikan semua urusan kerjaan di kantor, tanpa ada menyita waktu after hours — diluar jam kerja.
Selama perjalanan pulang hingga balik ke apartemen, cuman kepikiran satu hal, softlaunch.
Bagaimana bisa perempuan itu kepikiran softlaunch buat produknya biar bisa dicintai di market. Padahal produk itu brand besar, ternama, punya kuasa, iklannya dimana-mana, tapi tidak punya cinta di market.
Aku paham betul yang dimaksud perempuan itu tentang softlaunch ini, tekniknya mengenalkan produk di market tanpa secara terang-terangan terbuka memasarkan produk, sehingga dari situ dapat memperoleh cinta sesuai yang ditargetkan. Tapi aku juga paham betul dualitas makna yang dimaksud softlaunch buat aku. Omongannya seolah menargetkan aku, buat nglakuin softlaunch perkara cinta.
Memangnya dia siapa, sebelum dia meminta jabat tangan aja aku udah tau profilnya. Gak ada yang spesial. Dia cuman seorang mahasiswi semester akhir yang nyobak-nyobak kerja di dunia freelance. Aku liat job history nya pun mayoritas cuman freelance. Bukan mahasiswi yang aktif organisasi, bukan dari keluarga besar pewaris, cuman anak tunggal kelahiran dari Semarang yang mencoba ngrantau di Jakarta. Bahkan nama lengkapnya pun aku inget di cv nya, Nara Adhisti. Aku search gugel, sosmed nama itu juga bukan bagian orang-orang penting di dunia, bukan bagian orang kaya atau keluarga sultan di Indonesia, atau juga... bukan bagian orang-orang penting di dunia advertise dan finansial. Damn...! tapi kenapa aku kok kepikiran dia terus daritadi.
Aku mulai inget-inget pas dia ngeliat laptopku, pas dia memulai manggil namaku 'mas Arka' sebelum resmi kenal jabat tangan, pas jemarinya menggerakkan trackpad laptopku, pas dia mengedipkan mata, awal komen dia mengkritisi produkku tanpa segan, hingga titik puncak yang paling kuingat-ingat pas dia bilang softlaunch. Seolah pada titik itulah aku sadar kalo dia mengkritisi profilku. Seolah dia menawariku solusi bermain cinta tanpa terbuka.
Ini gak logis. Ini mulai irasional. Baru saja aku ketemu dia, masak iya aku jatuh cinta ke dia. Aku gak percaya dengan perasaan jatuh cinta yang terlalu cepat. Tidak sedikit pun aku merencanakan jatuh cinta. Bagaimana bisa dia mengusik pikiranku berlayer-layer. Daritadi aku mencoba mengalihkan pikiran tetap saja cuman dia yang tidak ada jawabnya dan menggantung dalam setiap lembaran pikiran.
Selama ini apa yang aku pikirkan, selalu menemukan titik ujungnya dan ada jawabnya. Tapi kalo urusan dia, aku coba mencari jawabannya justru malah yang kutemukan titik alpha. Tak terhitung dalam deretan rencana dan rasa. Damn...!!