Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
THE RISE OF RADITYA

THE RISE OF RADITYA

KIMUK | Bersambung
Jumlah kata
47.0K
Popular
160
Subscribe
87
Novel / THE RISE OF RADITYA
THE RISE OF RADITYA

THE RISE OF RADITYA

KIMUK| Bersambung
Jumlah Kata
47.0K
Popular
160
Subscribe
87
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalSupernaturalHaremMafia
Seorang pria miskin, jelek, dan terpinggirkan dipermainkan oleh wanita kaya yang dicintainya. Setelah mendapatkan kekuatan luar biasa, dia bangkit menjadi sosok yang berkuasa dan tampan, lalu membalas dendam dengan cara menikmati kehidupan haremnya, menjadikan mantan kekasihnya salah satu dari sekian banyak wanita yang tunduk padanya.
Bab 1. Terhina di lumpur kehidupan

Hujan deras mengguyur kota Jakarta sore itu. Raditya berdiri mematung di depan lobi kafe mewah 'The Glass House'. Bajunya yang lusuh basah kuyup, kontras dengan deretan mobil mengkilap yang terparkir rapi. Di tangannya, sebuah kotak kecil terbungkus kertas kado murah yang mulai luntur warnanya.

"Woi! Gembel! Ngapain lo diri di situ? Ngalangin jalan aja!" teriak seorang petugas keamanan sambil mendorong bahu Raditya.

Raditya hampir tersungkur. "Maaf, Pak. Saya cuma mau nunggu teman," lirihnya.

"Teman? Teman siapa? Orang kayak lo mana punya teman di tempat kayak gini. Pergi sana!" Usir si petugas keamanan, kasar.

"Sebentar lagi, Pak. Saya janji. Dia mau keluar," mohon Raditya, gigih.

"Halah, alasan! Muka lo aja udah bikin pelanggan mual. Sana pergi ke kolong jembatan!" ejek si petugas keamanan lagi, kali ini penuh hinaan yang tiada ditutup-tutupi lagi.

Tiba-tiba, pintu kaca otomatis terbuka. Serombongan anak muda dengan pakaian bermerek keluar sambil tertawa-tawa. Di tengah mereka, seorang wanita cantik dengan gaun merah marun tampak bersinar. Itu Dian, teman yang dimaksud Raditya tadi.

"Dian!" panggil Raditya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan.

Dian menoleh. Ekspresi cerianya seketika lenyap, digantikan oleh kerutan jijik di dahi.

"Siapa tuh, Yan? Kenalan lo?" tanya seorang pria jangkung di samping Dian. Itu Rico, pria yang kabarnya sedang mendekati Dian.

Dian memutar bola matanya malas. "Bukan siapa-siapa. Cuma orang gila yang suka ngikutin gue," sangkal Dian tanpa perasaan.

"Dian ... ini aku, Radit," sapa Raditya sambil melangkah mendekat. Dia masih gigih dengan usahanya mendapatkan hati sang gadis, meski tiada yang dapat disuguhkan untuk membuat sang gadis bertekuk lutut padanya.

"Berhenti disitu! Jangan deket-deket! Bau lo busuk banget!" bentak Dian sambil menutup hidungnya dengan tangan.

Raditya terpaku. "Aku... aku cuma mau kasih ini. Selamat ulang tahun, Dian."

Raditya menyodorkan kotak kecil itu dengan tangan gemetar.

"Apaan nih?" Rico menyambar kotak itu dari tangan Raditya. "Kado? Bungkusnya aja pakai kertas koran gini?" ejeknya lagi..

"Itu ... itu kalung perak. Aku nabung tiga bulan buat beli itu," bisik Raditya.

Rico tertawa terbahak-bahak. Teman-teman Dian yang lain ikut tertawa sinis.

"Tiga bulan buat barang sampah kayak gini? Yan, lo liat nih. Selera pengagum rahasia lo rendah banget," ejek Rico sambil melempar kotak itu ke lantai.

"Radit, lo denger ya," bentak Dian dengan nada dingin yang menusuk. "Gue udah bilang berkali-kali, jangan pernah muncul di depan gue lagi. Lo nggak liat kaca? Muka lo itu... menjijikkan. Dekil, jerawatan, item. Lo itu sampah," maki Dian seolah tidak akan ada yang namanya lain kali.

"Tapi Dian, dulu kamu bilang kita teman …."

"Itu karena gue kasihan! Gue butuh orang buat ngerjain tugas-tugas gue, buat beliin gue makan pas gue bokek. Sekarang? Gue udah punya Rico. Gue nggak butuh babu kayak lo lagi." Hinaan itu meluncur begitu bebas dari mulut Dian sendiri. Meremukkan hati Raditya tanpa perikemanusiaan.

"Yan, kok kamu gitu ...." Raditya berharap ini hanyalah mimpi buruknya semata. Tidak menyangka perempuan yang dicintainya bisa Setega itu, bahkan di hadapan teman-temannya sendiri. Dian tega mempermalukannya.

"Gitu gimana? Emang kenyataan kan? Lo itu miskin, buruk rupa, nggak punya masa depan. Lo pikir dengan kasih kalung murah ini, gue bakal jatuh cinta sama lo? Mimpi!" cibir Dian lagi.

Rico melangkah maju, lalu dengan sengaja menginjak kotak kado yang tergeletak di lantai hingga hancur.

"Oops, sori. Nggak sengaja. Eh, tapi emang pantesnya di bawah sepatu gue sih," kata Rico sambil tersenyum meremehkan.

"Jangan ... itu perjuanganku ...." Raditya berlutut, mencoba memungut sisa-sisa kado yang sudah hancur dan kotor oleh lumpur.

"Liat tuh, Yan. Dia malah nyembah sepatu gue. Cocok banget kan jadi anjing?" tawa Rico semakin meledak.

Dian hanya menatap Raditya dengan tatapan kosong. "Ayo pergi, Sayang. Males banget liat pemandangan nggak mutu kayak gini. Bikin mood aku hancur aja."

"Bentar, Yan. Kayaknya dia butuh ongkos pulang," Rico merogoh dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang sepuluh ribu yang sudah lecek, lalu melemparnya ke wajah Raditya.

"Nih, buat beli sabun. Biar muka lo nggak terlalu kayak aspal remuk."

Uang-uang itu jatuh di kubangan air di depan Raditya.

"Ayo, cabut!" ajak Rico sambil merangkul pinggang Dian.

Mereka berjalan menuju mobil sport mewah milik Rico. Sebelum masuk, Dian sempat menoleh sekali lagi.

"Satu hal lagi, Radit. Jangan pernah sebut nama gue lagi. Gue malu punya kenalan kayak lo. Mati aja lo sekalian, nggak bakal ada yang peduli."

Mobil itu menderu, meninggalkan cipratan air lumpur yang langsung mengenai wajah dan tubuh Raditya.

Raditya terdiam di tengah hujan. Tangannya menggenggam sisa kalung perak yang sudah patah dan berlumuran tanah. Air matanya jatuh, menyatu dengan rintik hujan.

"Kenapa ... kenapa harus begini?" bisiknya parau.

"Woi! Masih di sini aja lo! Pergi!" Petugas keamanan tadi kembali lagi, kali ini membawa tongkat pemukul.

Raditya berdiri dengan susah payah. Kakinya terasa lemas, tapi hatinya jauh lebih hancur.

"Iya, saya pergi," jawab Raditya datar.

Dia berjalan menyusuri trotoar, tidak peduli lagi dengan dingin yang menusuk tulang. Setiap tawa ejekan Dian dan Rico terus terngiang di telinganya seperti kaset rusak.

"Sampah ... menjijikkan ... mati aja lo ...."

Raditya sampai di sebuah gang sempit yang gelap dan becek. Itu adalah jalan menuju tempat kos sempitnya yang lebih mirip gudang.

Tiba-tiba, tiga orang pria berbadan besar menghadangnya.

"Eh, ada si buruk rupa. Baru balik dari mana lo? Habis ngemis?" tanya salah satu preman yang sering mangkal di situ.

Raditya tidak menjawab. Dia hanya ingin lewat.

"Minggir," ucap Raditya pelan.

"Wah, berani lo sekarang? Mana setoran buat hari ini?" sergah salah satu si preman.

"Saya nggak punya uang!" tolak Raditya, pasrah.

"Bohong lo! Tadi gue liat lo di depan kafe. Pasti lo dapet banyak dari orang-orang kaya di sana."

Preman itu merogoh saku celana Raditya secara paksa. Dia hanya menemukan dompet tua yang kosong dan sisa kalung yang patah.

"Cuma ini? Sampah!" Preman itu membuang kalung patah itu ke selokan.

"Jangan! Itu punya saya!" Raditya mencoba mengambilnya, tapi sebuah pukulan keras mendarat di perutnya.

Bugh!

Raditya tersungkur, memegangi perutnya yang mulas.

"Udah jelek, miskin, belagu lagi. Hajar aja, biar makin rata tuh mukanya!"

Ketiga preman itu mulai mengeroyok Raditya. Pukulan dan tendangan mendarat bertubi-tubi di wajah, dada, dan punggungnya. Raditya hanya bisa meringkuk, melindungi kepalanya sambil menahan sakit yang luar biasa.

"Ampun ... tolong ...." rintih Raditya, mengenaskan.

"Ampun? Nggak ada ampun buat gembel kayak lo!"

Salah satu preman menginjak kepala Raditya ke dalam lumpur gang. "Makan tuh tanah! Itu tempat yang pantes buat lo!"

Setelah merasa puas, mereka meninggalkan Raditya yang tergeletak tak berdaya di tengah lumpur dan sampah.

Darah mengalir dari pelipis dan bibirnya. Pandangan Raditya mulai kabur. Dia melihat ke arah langit yang masih menumpahkan hujan.

"Tuhan ... kalau memang hidupku hanya untuk dihina ... kenapa aku harus dilahirkan?"

Raditya memejamkan matanya. Dia merasa tubuhnya semakin ringan, seolah nyawanya perlahan mulai meninggalkan raga yang sudah hancur itu.

Namun, di tengah kesadarannya yang mulai menipis, dia mendengar suara langkah kaki yang tenang. Bukan langkah kaki preman, bukan pula langkah kaki orang yang terburu-buru menghindari hujan.

Langkah kaki itu berhenti tepat di depan kepalanya.

Raditya mencoba membuka sedikit matanya. Dia melihat sepasang sepatu pantofel hitam yang sangat bersih, seolah-olah air hujan dan lumpur tidak berani menyentuhnya.

"Kasihan sekali," sebuah suara berat dan berwibawa terdengar dari atas.

Raditya tidak bisa melihat wajah orang itu karena kegelapan dan air mata.

"Apakah kamu ingin membalas mereka, Nak?" tanya suara itu lagi.

Raditya hanya bisa mengerang pelan.

"Dunia ini kejam bagi mereka yang lemah. Tapi, jika kamu memiliki kekuatan ... dunia ini akan berlutut di bawah kakimu."

Orang itu berjongkok. Raditya merasakan sebuah tangan yang hangat menyentuh keningnya. Seketika, rasa sakit di tubuhnya sedikit mereda.

"Siapa ... Anda?" bisik Raditya dengan sisa kekuatannya.

"Aku adalah jawaban dari doa-doamu yang putus asa. Tapi ingat, kekuatan yang akan kuberikan memiliki harga. Apakah kamu siap membuang kemanusiaanmu demi sebuah pembalasan?"

Raditya teringat wajah Dian yang penuh kebencian. Dia teringat tawa Rico. Dia teringat semua orang yang pernah meludahi harga dirinya.

"Aku ... aku mau ... aku mau mereka semua membayar ...."

Pria misterius itu tersenyum tipis di balik kegelapan. "Bagus. Mari kita mulai prosesnya."

Tiba-tiba, sebuah cahaya keemasan yang sangat terang muncul dari telapak tangan pria itu, menyelimuti seluruh tubuh Raditya. Raditya merasakan sensasi terbakar yang luar biasa, seolah setiap sel di tubuhnya sedang dihancurkan dan disusun kembali.

Dia ingin berteriak, tapi suaranya tidak keluar. Kesadarannya benar-benar hilang saat cahaya itu semakin menyilaukan.

Esok paginya, berita tentang pernikahan megah Dian dan Rico mulai tersebar di media sosial. Dian tampak sangat bahagia di foto-foto pre-wedding yang ia unggah, tanpa tahu bahwa pria yang ia hina habis-habisan baru saja melewati gerbang neraka untuk kembali sebagai mimpi terburuknya.

Di sebuah kamar hotel mewah yang entah bagaimana bisa ia tempati, Radit terbangun. Dia merasakan tubuhnya berbeda. Lebih ringan, lebih kuat, dan ... ada sesuatu yang mengalir di nadinya.

Dia melangkah menuju cermin besar di kamar itu. Tangannya gemetar saat menyentuh wajahnya sendiri.

"Ini ... aku?" ungkap tidak percaya pada apa yang kini ia lihat.

Raditya menatap pantulan dirinya. Wajah yang dulunya penuh jerawat dan kusam kini bersih tanpa noda. Struktur wajahnya menjadi tegas dan tampan, seolah dipahat oleh dewa. Matanya yang dulu sayu kini bersinar dengan kilatan dingin yang mematikan.

Akan tetapi, yang paling mengejutkan bukan hanya perubahan fisiknya. Di sudut penglihatannya, sebuah layar transparan muncul dengan tulisan yang bercahaya.

[Sistem Kaisar Langit Diaktifkan] [Status: Inisialisasi Selesai] [Misi Pertama: Menghancurkan Kesombongan Pertama]

Raditya menyeringai. Sebuah seringai yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Seringai seorang predator yang baru saja mendapatkan taringnya.

"Dian ... Rico ... permainan baru saja dimulai."

Akankah Raditya langsung melancarkan balas dendamnya, atau ada harga yang harus ia bayar kepada Arya atas kekuatan barunya ini?

Lanjut membaca
Lanjut membaca