Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Tabib Ajaib Penakluk Wanita

Tabib Ajaib Penakluk Wanita

Hyuga Hinata | Bersambung
Jumlah kata
49.2K
Popular
3.7K
Subscribe
417
Novel / Tabib Ajaib Penakluk Wanita
Tabib Ajaib Penakluk Wanita

Tabib Ajaib Penakluk Wanita

Hyuga Hinata| Bersambung
Jumlah Kata
49.2K
Popular
3.7K
Subscribe
417
Sinopsis
FantasiIsekai21+HaremDokter Genius
Peringatan 21+ dan banyak adegannya. Fahmi Mahendra adalah putra bungsu dari keluarga Mahendra yang tertukar ketika masih balita. Dia baru kembali ke keluarganya ketika berusia 21 tahun. namun kembalinya tidak begitu diterima oleh keluarganya sebab sudah ada pria lain yang menggantikan posisinya. Di dalam sebuah perjalanan, Fahmi Mahendra tertabrak mobil dan kehilangan kesadarannya. Di saat itulah di alam bawa sadarnya, Fahmi menerima warisan habib ajaib dari masa lalu. Namun cara pengobatannya begitu aneh, yaitu melalui hubungan badan dan sentuhan pada area sensitif wanita yang membuat Fahmi mengarungi lautan gairah para wanita.
Chapter 1

Fahmi Mahendra akhirnya kembali tercatat di dalam silsilah keluarga Mahendra setelah menghilang selama dua puluh satu tahun. Namun kembalinya nama itu tidak serta-merta disambut dengan bahagia.

Di sebuah rumah besar bergaya klasik modern, Fahmi berdiri kaku di ruang tamu yang luas. Lampu gantung memantulkan cahaya ke lantai mengilap, membuat sepatu lusuh yang ia kenakan tampak semakin tidak pantas berada di sana.

Tangannya menggenggam tas ransel tua, satu-satunya benda yang menemaninya sejak keluar dari panti asuhan tempat ia dibesarkan.

“Jadi… ini dia Fahmi?”

Suara itu datang dari arah sofa panjang. Seorang perempuan berambut panjang tergerai, mengenakan gaun rumah mahal berbahan sutra tipis yang melekat ketat, menatap Fahmi dari ujung kepala sampai kaki.

Tatapannya tajam, penuh penilaian. Dialah Kak Citra, kakak perempuan tertua Fahmi. Citra memiliki tubuh yang sangat menggoda, payudaranya yang besar tampak menyembul penuh di balik kerah gaunnya yang rendah, memberikan pemandangan vulgar yang sengaja ia pamerkan.

Di sebelahnya duduk Kak Naya, kakak kedua, tak kalah cantik, dengan riasan tipis namun aura percaya diri yang kuat. Naya menyilangkan kakinya dengan santai, memperlihatkan paha mulusnya yang jenjang.

Tak kalah dengan kakaknya, ukuran dada Naya yang besar juga terbungkus ketat oleh pakaian mahalnya, memancarkan pesona wanita kota yang terbiasa hidup nyaman dan penuh gairah.

“Penampilannya… sederhana sekali,” gumam Naya sambil menyilangkan kaki, membiarkan gaunnya tersingkap lebih tinggi. “Apa benar dia anak Papa?”

Fahmi mendengar semuanya dengan jelas. Ia menunduk sedikit. Bukan karena malu, melainkan karena sudah terbiasa. Sejak kecil di panti asuhan, ia sering dipandang rendah, anak buangan, anak tanpa orang tua, anak yang harus tahu diri.

Kini, meski darah Mahendra mengalir di tubuhnya, tatapan merendahkan itu kembali ia terima.

Mahendra, sang ayah, duduk di kursi utama. Wajahnya datar, nyaris tanpa emosi.

“Tes DNA sudah jelas,” kata Mahendra singkat. “Dia memang adik bungsu kalian.”

Ratna, ibu mereka, berdiri tak jauh dari sana. Tangannya saling menggenggam, matanya berkaca-kaca menatap Fahmi. Ada rindu yang terpendam… tapi juga rasa bersalah yang tak terucap.

“Maafkan Mama…” bisiknya pelan.

Fahmi mengangguk sopan. “Tidak apa-apa, Bu.”

Satu suara tawa kecil terdengar. “Wah, sopan sekali,” ucap seseorang dengan nada santai tapi menusuk. “Benar-benar seperti anak panti.”

Fahmi menoleh. Pemuda itu berdiri bersandar di dinding, mengenakan kemeja mahal yang menonjolkan otot tubuhnya, jam tangan bermerek, dan senyum yang terlalu percaya diri.

Namanya Dio, Dio Mahendra. Anak angkat keluarga Mahendra yang selama dua puluh satu tahun menggantikan posisi Fahmi, sebagai putra bungsu, sebagai pewaris, sebagai kebanggaan keluarga.

“Dio,” tegur Ratna lirih.

Namun Dio hanya mengangkat bahu. “Aku cuma jujur.”

Fahmi tersenyum kecil. “Tidak apa-apa.”

Jawaban itu justru membuat Dio sedikit menyipitkan mata, merasa diremehkan oleh ketenangan Fahmi. Hari-hari berikutnya, Fahmi tinggal di rumah itu, tapi rasanya seperti menumpang.

Kak Citra dan Kak Naya sering memandangnya dengan sinis. Bukan karena benci, melainkan karena mereka menganggap Fahmi tidak selevel.

Mereka sering kali lewat di depan Fahmi dengan pakaian yang sangat minim, seolah sengaja memamerkan lekuk tubuh vulgar mereka untuk menunjukkan dominasi.

“Cara makannya aneh,” bisik Citra suatu pagi, sambil membungkuk rendah di depan meja makan hingga belahan dadanya terekspos jelas di mata Fahmi.

“Seperti belum pernah lihat meja makan mewah,” balas Naya sambil tertawa kecil, menggoyangkan pinggulnya saat berjalan melewati Fahmi.

Fahmi mendengar, tapi memilih diam. Baginya, kemewahan hanyalah benda. Ia lebih terbiasa berbagi nasi bungkus dengan anak-anak panti, daripada duduk di meja panjang penuh peralatan perak.

Satu-satunya hal yang benar-benar ia pedulikan adalah masa depan.

Suatu malam, Fahmi memberanikan diri berbicara.

“Ayah,” katanya pelan saat makan malam. “Aku ingin melanjutkan kuliah.”

Mahendra menatapnya. “Kuliah?”

“Iya. Aku sudah mendaftar di universitas di Kota Pesisir.”

Ruangan mendadak hening.

“Kota Pesisir?” Naya tertawa kecil, bibirnya yang merah merekah tampak mengejek. “Universitas ternama di sana itu mahal, loh.”

Fahmi mengangguk. “Aku tahu. Saya siap berusaha.”

Dio tersenyum miring, menatap Fahmi dengan pandangan meremehkan. “Kamu yakin bisa bertahan di sana? Mahasiswa di Kota Pesisir itu… beda.”

Fahmi menatap Dio dengan tenang. “Setiap orang berhak mencoba.”

Ratna akhirnya angkat bicara. “Biarkan dia, Pa. Fahmi sudah cukup lama hidup susah.”

Mahendra terdiam beberapa detik, lalu mengangguk singkat. “Baik. Tapi jangan mempermalukan nama keluarga.”

Fahmi menunduk hormat. “Terima kasih.”

Ia tidak tahu bahwa keputusan itu, keinginannya untuk pergi, justru menjadi awal dari bencana. Kejadian itu terjadi tiga hari sebelum keberangkatannya.

Malam hari. Fahmi berjalan sendirian di pinggir jalan besar setelah membeli buku bekas tentang biologi dan pengobatan tradisional.

Ia memang selalu tertarik pada dunia kesehatan, mungkin karena sejak kecil ia sering sakit dan melihat banyak orang menderita di panti asuhan. Lampu jalan menyala redup.

Tiba-tiba suara mesin meraung keras, memecah kesunyian malam. Fahmi menoleh. Sebuah mobil hitam melaju kencang ke arahnya.

Mata mereka bertemu sesaat. Di balik kaca mobil, Fahmi melihat wajah itu. Dio. Dan senyum tipis yang sama sekali tidak bersahabat.

“!!!”

BRAK!

Tubuh Fahmi terpental dihantam besi keras. Tasnya terlepas, buku-bukunya berserakan di aspal yang dingin. Dunia berputar cepat, rasa sakit yang luar biasa menghujam tubuhnya sebelum semuanya menjadi gelap total.

Dalam kegelapan itu, Fahmi tidak mati. Ia terbangun di tempat lain. Ia berdiri di sebuah ruangan tua beraroma rempah yang sangat tajam.

Rak-rak kayu dipenuhi botol ramuan. Seorang pria tua berjubah sederhana berdiri membelakanginya.

“Kau datang lebih cepat dari yang kuduga,” ucap pria itu tanpa menoleh.

“Siapa… Anda?” tanya Fahmi.

Pria itu berbalik. Matanya tajam, bercahaya, seolah mampu menembus jiwa.

“Aku adalah Tabib Agung Arya Wisesa,” katanya. “Dan tubuhmu kini menjadi wadah warisanku.”

Seketika, ribuan ingatan membanjiri kepala Fahmi dengan paksa, meraba nadi, membaca aliran energi tubuh, mengenali penyakit hanya dari napas, hingga menyembuhkan orang yang sudah divonis mati.

“Kenapa aku?” teriak Fahmi menahan sakit di kepalanya.

“Karena kau hidup di antara penolakan dan penderitaan,” jawab sang tabib. “Hanya orang seperti itu yang bisa menjadi penyembuh sejati.”

Fahmi terbangun di rumah sakit. Suara monitor berdetak pelan. Kepalanya terasa berat, tapi tubuhnya… terasa aneh. Lebih ringan. Lebih peka.

“Dia sudah sadar,” kata seorang perawat.

Dokter mendekat. “Kamu beruntung. Tulangmu hanya memar.”

Fahmi menatap tangan sendiri. Ia bisa merasakan detak jantung dokter itu. Bahkan bisa tahu bahwa pria itu kurang tidur dan punya masalah lambung hanya dengan melihat rona wajahnya.

Ini… tidak normal.

Malam itu, tanpa menunggu siapa pun, Fahmi bangkit dan keluar dari rumah sakit. Ia berdiri di bawah lampu jalan, napasnya teratur, merasakan energi baru yang mengalir di nadinya.

“Kalau ini nyata…” gumamnya, mata Fahmi kini menyorotkan ketegasan yang berbeda, “aku harus membuktikannya sendiri,”

Lanjut membaca
Lanjut membaca