Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
MATA YANG MELIHAT KEMATIAN

MATA YANG MELIHAT KEMATIAN

farida_aul | Bersambung
Jumlah kata
30.8K
Popular
100
Subscribe
0
Novel / MATA YANG MELIHAT KEMATIAN
MATA YANG MELIHAT KEMATIAN

MATA YANG MELIHAT KEMATIAN

farida_aul| Bersambung
Jumlah Kata
30.8K
Popular
100
Subscribe
0
Sinopsis
18+HorrorHorrorMisteriDunia GaibIndigo
Aidan Pratama adalah mahasiswa biasa. Hidupnya datar, realistis, dan tidak percaya hal mistis.Semua berubah setelah kecelakaan fatal yang hampir merenggut nyawanya.Sejak malam itu:Aidan melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lainIa mencium bau kematian sebelum kejadianIa melihat peristiwa yang belum terjadiDan arwah… lebih dulu melihatnyaMata batin Aidan tidak terbuka sepenuhnya.Kadang aktif, kadang tidak.Kadang menolong, kadang justru membahayakan.
Bab 1 Malam pertama

Malam itu seharusnya berakhir biasa.

Aidan Pratama baru keluar dari gedung kampus menjelang pukul sepuluh. Tas selempang menggantung di bahu, kepala sedikit pusing setelah menyelesaikan presentasi kelompok yang molor lebih lama dari jadwal. Hujan turun rintik sejak sore, membuat aspal di jalan utama mengilap seperti kaca.

Aidan menyalakan motor.

Lampu-lampu kota berpendar, lalu lintas mulai lengang. Ia memilih jalur memutar—lebih sepi, lebih cepat sampai ke kontrakan. Jalan itu memang gelap, tapi Aidan sudah sering melewatinya.

Tidak ada firasat buruk.

Tidak ada tanda apa pun.

Sampai suara klakson itu terdengar terlalu dekat.

Cahaya putih menyilaukan memenuhi pandangan Aidan.

Semua terjadi terlalu cepat.

Motor oleng. Ban kehilangan kendali. Tubuh Aidan terlempar, menghantam aspal dengan suara keras. Kepalanya membentur sesuatu—mungkin trotoar, mungkin besi pembatas jalan.

Rasa sakit itu hanya datang sesaat.

Setelahnya, dunia menjadi sunyi.

---

Aidan tidak langsung pingsan.

Ia justru sadar—sangat sadar—namun tubuhnya tidak bisa digerakkan.

Hujan terasa dingin di wajahnya. Suara orang-orang terdengar jauh, teredam, seolah datang dari balik air. Lampu jalan di atasnya berkedip pelan.

Di antara suara itu, Aidan melihat sesuatu.

Seseorang berdiri di tepi jalan.

Bukan pengendara.

Bukan pejalan kaki.

Sosok itu berdiri diam, terlalu diam, menatap ke arah tubuh Aidan yang tergeletak. Wajahnya tidak jelas, tertutup bayangan. Namun matanya—

Menatap.

Aidan ingin berteriak. Ingin bergerak. Tapi kelopak matanya terasa berat. Pandangannya mengabur.

Sebelum semuanya gelap, Aidan mencium bau aneh.

Bau anyir.

Seperti darah.

Seperti hujan yang jatuh di tanah lama.

---

Aidan terbangun di rumah sakit.

Lampu putih menyilaukan mata. Bau antiseptik menusuk hidung. Kepalanya terasa berat, seperti ditekan dari dalam.

“Ia sadar,” suara perempuan terdengar. “Pak, Bu… Aidan sudah sadar.”

Wajah ibunya muncul pertama kali. Matanya sembab, tangannya gemetar saat menggenggam tangan Aidan.

“Dan…” suaranya bergetar. “Kamu dengar Ibu?”

Aidan mengangguk pelan.

Ia ingin bertanya sudah berapa lama ia pingsan. Tapi sebelum sempat membuka mulut, pandangannya tertarik ke sudut ruangan.

Ada bayangan.

Bukan orang.

Bukan perawat.

Bayangan itu berdiri di dekat lemari obat, menempel di dinding seperti noda hitam yang tidak sempurna. Bentuknya samar, tapi Aidan bisa melihatnya dengan jelas.

Bayangan itu menoleh.

Aidan menutup mata cepat.

Saat ia membukanya lagi, bayangan itu sudah tidak ada.

“Dan?” ibunya memanggil cemas.

“Capek,” jawab Aidan lirih.

Namun dadanya terasa dingin.

---

Hari-hari setelah kecelakaan tidak kembali normal.

Aidan sering mencium bau anyir tanpa sebab. Ia terbangun pukul tiga pagi tanpa alasan jelas. Kadang-kadang, ia melihat bayangan bergerak di sudut matanya—selalu menghilang saat ditoleh.

Suatu malam, saat ia berjalan ke kamar mandi, Aidan berhenti di depan cermin.

Pantulannya berdiri seperti biasa.

Namun di belakangnya—

Ada sosok lain.

Kali ini lebih jelas.

Aidan tidak berteriak.

Tidak pingsan.

Ia hanya menatap pantulan itu dengan napas tertahan.

Dan untuk pertama kalinya, ia sadar—

Kecelakaan itu tidak hanya hampir merenggut nyawanya.

Sesuatu ikut pulang bersamanya.

---

Rumah sakit tidak pernah benar-benar sunyi.

Meski malam sudah larut, selalu ada suara langkah perawat, roda ranjang yang berdecit, atau dengung alat medis yang tidak pernah berhenti. Aidan berbaring menghadap jendela, matanya terbuka, menatap pantulan lampu kota yang buram oleh kaca.

Ia tidak tidur.

Setiap kali memejamkan mata, bayangan di cermin itu kembali muncul.

“Aidan?” suara ayahnya terdengar pelan dari kursi di samping ranjang.

Aidan menoleh. Pak Rahmat duduk dengan jaket masih melekat, wajah lelahnya terlihat jelas di bawah lampu neon. “Belum ngantuk?” tanya ayahnya.

“Belum,” jawab Aidan singkat.

Ayahnya mengangguk, lalu menatap ke arah kaki ranjang. “Dokter bilang kamu beruntung. Sedikit lagi kepalamu kena pembatas jalan.”

Aidan diam.

Ia ingat cahaya lampu. Ingat suara klakson. Dan… sosok itu.

“Dan,” lanjut ayahnya, nadanya lebih rendah, “kalau kamu capek kuliah, bilang. Jangan dipaksa.”

Aidan ingin menjawab. Tapi sebelum suara keluar, pandangannya tertarik ke pintu kamar.

Pintu itu terbuka sedikit.

Di celahnya, ada bayangan kepala—seperti seseorang yang mengintip.

Aidan menegakkan tubuh.

“Ayah,” ucapnya pelan, matanya tidak lepas dari pintu, “ada orang?”

Pak Rahmat menoleh. “Orang? Enggak ada.”

Bayangan itu masih di sana.

Aidan menelan ludah. “Tadi… kayak ada yang ngintip.”

Ayahnya berdiri, membuka pintu lebih lebar. Lorong rumah sakit kosong. Lampu menyala normal. Tidak ada siapa-siapa.

“Dan,” ayahnya menatap Aidan, sedikit khawatir, “kamu habis kecelakaan. Mungkin masih pusing.”

Aidan mengangguk, walau dadanya terasa dingin.

Saat pintu ditutup kembali, Aidan yakin—

bayangan itu tersenyum.

---

Dua hari kemudian, Aidan diperbolehkan pulang.

Ibunya sibuk mengomel sepanjang perjalanan. “Lain kali jangan pulang malam-malam. Ibu sudah bilang, jalan itu rawan.”

“Iya, Bu,” jawab Aidan, pasrah.

Raka, adiknya, duduk di kursi depan sambil sesekali menoleh. “Bang, serius, waktu abang kecelakaan… aneh.”

“Aneh kenapa?” tanya Aidan.

Raka ragu. “Kata orang-orang, abang sempat ngomong sendiri sebelum pingsan.”

Aidan menegang. “Ngomong apa?”

Raka menggeleng cepat. “Enggak jelas. Kayak… marah, tapi juga bingung.”

Mobil berhenti di depan rumah.

Begitu turun, Aidan langsung mencium bau itu lagi.

Bau anyir.

Lebih tipis dari sebelumnya, tapi jelas.

Rumahnya terlihat sama—pagar hijau, teras kecil, lampu ruang tamu menyala hangat. Namun perasaan di dada Aidan berbeda. Seolah rumah itu… tidak sepenuhnya kosong.

Malamnya, Aidan terbangun pukul 02.43.

Suara itu datang dari arah dapur.

Bukan suara langkah.

Bukan suara benda jatuh.

Seperti… seseorang sedang berdeham, canggung.

Aidan duduk di kasur. “Raka?” panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Ia bangkit, berjalan perlahan ke luar kamar. Lampu dapur mati, hanya cahaya bulan yang masuk lewat jendela.

Di dekat meja makan, ada sosok duduk jongkok.

Kurus. Rambut berantakan. Kaosnya basah seperti habis kehujanan.

Aidan membeku.

Sosok itu menoleh. Wajahnya pucat, tapi ekspresinya… bingung.

“Oh,” ucapnya pelan. “Kamu bisa lihat aku, ya?”

Aidan mundur satu langkah. “Kamu… siapa?”

Sosok itu menggaruk kepala. “Nama aku… sebentar. Aku lupa.”

Lalu ia tersenyum kaku.

Senyum yang tidak menyeramkan—hanya aneh.

“Eh, jangan teriak dulu,” katanya cepat, seperti takut. “Aku nggak jahat. Sumpah. Aku juga kaget kamu bisa lihat.”

Jantung Aidan berdetak keras.

Ini bukan bayangan.

Ini bukan pantulan.

“Kamu… bukan manusia,” suara Aidan bergetar.

Sosok itu berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Iya. Kayaknya.”

Hening menggantung di antara mereka.

“Aku ikut kamu,” lanjutnya pelan. “Dari malam hujan itu.”

Aidan menelan ludah. “Pergi.”

Sosok itu menunduk. “Aku… belum bisa.”

Untuk beberapa detik, rumah itu sunyi.

Lalu sosok itu menambahkan, dengan suara nyaris malu,

“Kalau boleh… aku numpang duduk aja. Aku capek berdiri.”

Aidan tidak tahu harus takut atau marah.

Yang ia tahu hanya satu—

Sejak kecelakaan itu, hidupnya tidak akan pernah normal lagi.

---

Lanjut membaca
Lanjut membaca