

Prolog
Kerajaan Kencono Tirto...
Malam itu istana berdiri dalam kegelisahan yang tak biasa. Angin berputar rendah di pelataran, membawa bau hujan yang tertahan dan doa-doa yang terucap setengah hati.
Prabu Arya Kamandaka mondar-mandir di pendapa dalam, jubah kebesarannya terasa berat di bahu, lebih berat dari biasanya. Setiap langkahnya terhenti oleh jerit tertahan dari balik pintu kamar persalinan.
Selir Tanjung Wening sedang mempertaruhkan nyawanya. Keringat membasahi tubuh perempuan itu, jemarinya mencengkeram kain pembaringan hingga memutih. Napasnya tersengal, antara doa dan rintih yang nyaris pecah.
Seorang wanita tua yang merupakan tabib senior sejak tadi membantunya, dan dayang-dayang bekerja dalam sunyi yang tegang, seakan takut suara mereka sendiri akan mengundang sesuatu yang tak kasatmata.
“Bertahanlah, Gusti Selir…” bisik seorang dayang dengan suara bergetar.
Namun Tanjung Wening tahu, ini bukan sekadar pertarungan melahirkan seorang anak. Ia merasakan kejanggalan. Sudah sejak pagi air ketuban pecah, namun sampai malam bayinya tak kunjung keluar.
Dalam perjuangannya, ia kembali mengingat. Sejak bulan-bulan awal kehamilannya, ia sering bermimpi tentang bayangan hitam yang menempel di wajah bayi dalam kandungannya.
Ia tak pernah berani menceritakannya pada sang Prabu. Ia memilih menyimpan ketakutannya sendiri.
Di luar, Prabu Arya Kamandaka berhenti melangkah. Ia menengadah, menatap langit yang tertutup awan hitam. Anak itu yang telah lama ia nantikan. Ia sudah membayangkan anak lelaki dari darahnya sendiri. Calon putra mahkota yang lahir dari cinta yang tak pernah sepenuhnya diterima istana.
Namun sang Prabu tak tahu, pada jam yang sama, takdir sedang dirajut dengan benang kebencian di tempat lain.
Di sebuah gubuk tua di ujung hutan, Permaisuri Dyah Puspita duduk bersila di hadapan seorang dukun sakti. Api pelita bergetar, memantulkan bayangan wajah sang permaisuri yang dingin dan keras. Tak ada air mata di sana. Tak ada keraguan.
“Aku tak ingin anak itu hidup sebagai ancaman. Aku menikah dengan Kanda Prabu sudah sepuluh tahun dan tak kunjung mendapat seorang putra. Aku tak rela Selir Tanjung Wening yang baru satu tahun di istana akan merebut segalanya dariku,” ucapnya pelan, namun penuh tekanan.
"Gusti Permaisuri jangan khawatir, saya sudah memberi kutukan sejak usia kandungan Gusti Selir baru berumur tiga bulan. Dan malam ini saya akan menyempurnakannya," bisiknya dengan senyum licik.
Dukun itu menutup mata, bibirnya mulai melafalkan mantra kuno. Asap kemenyan mengental, berputar seperti ular yang mencari mangsa. Tanah bergetar halus. Mantra itu tidak memanggil kematian. Namun yang dipanggil adalah kutukan, hidup yang akan selalu diingatkan bahwa ia terlahir dengan sebuah kesalahan.
“Mantra ini akan menandainya, anak itu akan terlahir cacat dan menjadi aib kerajaan,” ujar sang dukun lirih.
Dyah Puspita tersenyum tipis. Itu sudah lebih dari cukup.
Di saat yang sama, jeritan Tanjung Wening membelah malam. Tangisan bayi menggema keras, seolah menantang dunia. Dayang-dayang terdiam. Tabib membeku. Untuk sesaat, waktu seakan berhenti.
"Tidak mungkin..." jerit sang tabib.
Para dayang langsung mundur ketakutan. Tak ada yang berani bicara, namun hati mereka berisik.
Bayi lelaki terlahir dalam keadan sehat. Tangisnya layaknya tangis bayi pada umumnya. Namun ketika wajah kecil itu dibersihkan, kengerian merambat perlahan. Sang tabib sampai bergidik ngeri.
Di pipi kirinya, sisik-sisik hitam tampak jelas, mengilap seperti obsidian, melekat sempurna seakan menjadi bagian dari kulitnya sejak awal penciptaan.
"Gusti, apa yang salah dari dirimu?" gumamnya.
"Ada apa, Nyai?"
Tanjung Wening melihat bayinya, tak sabar ingin memeluk buah hatinya. Namun, sebelum sang tabib memberikan bayi itu, jeritnya tak dapat di tahan.
"Anakku.... Tidak mungkin...! Kenapa anakku seperti ini?"
Tangisnya pecah, air matanya mengalir deras. Dadanya terasa sesak. Rasa sakit yang baru saja ia rasakan tak sebanding dengan sakitnya melihat rupa anaknya yang mengerikan.
Prabu Arya Kamandaka melangkah masuk begitu mendengar jeritan sang selir. Tangis bayi mereda di pelukannya. Sang Prabu menatap wajah putranya lama, diam tanpa kata. Lalu ia tersenyum. Ada cinta di sana. Ada keterkejutan. Dan ada ketakutan yang tak terucap.
"Gusti Prabu, anak ini terlahir tidak sempurna. Hamba takut ini akan membawa petaka bagi kerajaan," ujar tabib tua itu.
"Beraninya kau menghina anakku! Dia adalah anakku, putra mahkota. Aku tak peduli seperti apa rupanya. Dia adalah pewaris tahta kerajaan!" seru Prabu Arya Kamandaka.
Seketika tabib itu diam seribu bahasa. Ia langsung bersujud memohon ampun.
"Ampuni hamba, Gusti. Hamba patut dihukum."
"Pengawal! Hukum dia dengan dua puluh cambukan! Siapa yang berani menghina putraku, maka aku akan menghukumnya!"
"Baik, Gusti!"
Dua pengawal menyeret wanita tua itu dan memberi hukuman sesuai perintah raja.
*****
Hari demi hari berlalu, Prabu Arya Kamandaka semakin menyayangi Selir Tanjung Wening. Dan ini membuat Permaisuri Dyah Puspita terbakar api cemburu. Amarahnya semakin menggebu.
Hingga dua bulan kemudian, sang permaisuri dikabarkan mengandung. Dan saat itu perhatian Prabu Arya Kamandaka berubah. Ia lebih sering mengunjungi sang permaisuri dan melupakan Selir Tanjung Wening beserta putranya.
Permaisuri Dyah Puspita melahirkan anak lelaki yang tampan. Kasih sayang Prabu Arya Kamandaka telah berubah seratus persen. Bahkan sang selir beserta putranya kini diasingkan karena hasutan permaisuri.
Selir Tanjung Wening dan Dharmakala, putranya, tinggal di sebuah desa kecil. Mereka hidup sederhana.
Tanjung Wening telah berdamai dengan keadaan, meski derita selalu ada. Hinaan demi hinaan yang ditujukan kepada sang putra, membuatnya sakit. Namun ia tetap bertahan.
Meski begitu, ada beberapa orang yang berbaik hati padanya, menerima kehadirannya dan menyayangi putranya.
*****
20 tahun kemudian...
Pangeran Dharmakala kini berusia dua puluh tahun, usia ketika kebanyakan lelaki masih belajar mengenali dirinya sendiri, sementara ia telah lama dipaksa memahami takdir yang tak seharusnya.
Seharusnya ia berada di istana, namun kehidupannya sungguh jauh dari kemewahan. Ia tumbuh menjadi seorang pemuda yang rajin bekerja karena kerasnya kehidupan. Ibunya tak pernah memberitahu asal-usulnya. Yang ia tahu, ayahnya telah lama meninggal.
Tubuhnya tinggi dan kekar, terbentuk bukan oleh kemewahan istana, melainkan oleh latihan sunyi dan beban yang tak pernah ia pilih. Kulitnya cokelat terang, menyimpan jejak matahari dan hari-hari panjang yang ia habiskan jauh dari sorak puja.
Wajah sang pangeran sejatinya sangat tampan, dengan rahang tegas dan sorot mata yang dalam. Mata seorang pemikir, bukan pemimpi. Namun di pipi kirinya, keindahan itu terputus oleh sisik-sisik hitam yang menjalar seperti bayangan malam yang menolak pergi.
Sisik itu bukan luka biasa, ia melekat sejak lahir, dingin saat disentuh, seolah menjadi penanda bahwa darah yang mengalir di tubuhnya tak sepenuhnya bersih dari kutukan.
Rambutnya hitam, panjang sebahu, sering dibiarkan tergerai atau diikat seadanya. Tidak ada kemewahan pada penampilannya.
Dia hanyalah seorang lelaki muda yang hidup dengan jarak, antara dirinya dan orang lain, antara apa yang ia tampakkan dan apa yang ia sembunyikan.
Ia jarang tersenyum, bukan karena dingin, melainkan karena telah terlalu sering melihat bagaimana senyum menjadi awal pengkhianatan. Hinaan dan cacian sudah menjadi santapan sehari-hari.
Ia tak pernah mengeluh, tak penah merasa hina. Ia punya tekad yang besar untuk mengubah takdirnya.