

“Raj, duduk dulu. Minumlah teh herbal ini. Satu jam lagi, aku akan menemuimu setelah puas bermain-main sama perempuan bohay di kamar belakang.”
Di sebuah toko obat Balai Sehat Sentosa, Boss Ardy yang bertelanjang dada berbicara pada Rajendra Limpo yang datang untuk menjual tanaman obat dari Desa Gunung Persik. Lokasi Balai Sehat Sentosa berada di pasar Herbal Limasan. Itu adalah toko obat herbal terbesar di Kota Limasan milik Ardy Sentosa.
Sebelum pergi, Boss Ardy menggoda Rajendra. “Mumpung masih muda dan sehat, kamu harus cobain lubang banyak wanita. Soalnya kalo punyamu udah loyo, perempuan nggak akan ada yang mau. Hahahaha.”
Karena kerja sama keluarga Limpo dengan Boss Ardy dan istrinya sudah terjalin lama, maka mereka berkawan baik. Dulu, Rajendra sering ikut mendiang ayahnya menjual tanaman obat ke sini.
Sekarang Rajendra yatim piatu. Di keluarga Limpo, dia lah satu-satunya yang memahami bisnis tanaman obat keluarga.
Boss Ardy pergi ke kamar belakang sambil memegangi sarung yang menutupi bagian bawah tubuh gempalnya. Biasanya, kamar itu dipakai pegawai untuk beristirahat.
Akhirnya, Rajendra mengerti alasan semua pegawai hari ini diliburkan!
Begitu pintu kamar belakang terbuka, Rajendra melihat sekilas kulit putih mulus seorang wanita.
“Ehhh?”
Dia adalah Arum Wahyudi yang sama-sama berasal dari Desa Gunung Persik.
Di desa, Arum terkenal dengan status janda beranak satu. Walaupun sudah memiliki anak, dia sangat pintar menjaga penampilan sehingga Boss Ardy tergoda karena kecantikan dan kemolekan tubuhnya.
Wajah Arum berbentuk oval dengan bentuk alis mata indah dan bulu mata panjang yang lentik. Bibir ranum yang merah muda Arum terbuka sedikit sehingga membuat Rajendra semakin terpikat padanya.
Arum menikah ketika berusia 15 tahun. Di desa, menikah muda dipandang sangat lazim. Katanya, bisa membawa keberkahan karunia keturunan dan rezeki.
Jakun Rajendra naik turun. “Hem? Ternyata … perempuan bohay yang Boss Ardy maksud janda Arum.”
Mata Rajendra tidak berkedip ketika memandangi Arum.
Arum berbaring di ranjang kayu jati. Rambut panjang hitamnya terjuntai hingga pinggang. Leher putihnya berhiaskan kalung batu permata hijau, entah asli atau palsu. Rajendra tidak peduli.
Begitu bola mata Rajendra bergulir ke bawah, selimut sutra di tubuh Arum melorot.
Lihat saja!
Payudara janda Arum bulat dan penuh yang seperti buah persik memanjakan mata Rajendra.
Sungguh!
Semesta sangatlah baik padanya! Rajendra tidak ingin melewatkan pemandangan menggoda ini sedetik pun!
Napas Rajendra naik turun, tidak stabil. “Nggak disangka warna pucuk payudara Arum merah muda pucat. Ternyata setelah punya anak, warna pucuk payudara perempuan bisa balik lagi seperti gadis, ya!”
Rajendra mengusap air liur di sudut mulut. Hasrat ingin bermain-main dengan Arum muncul seiring dengan batang keperkasaannya yang mulai tegak.
Otak Rajendra mengingat sekilas tentang Arum. Anak Arum berusia 6 tahun. Dia dan suaminya telah lama menunggu karunia anak. Namun, suaminya malah wafat ketika Arum sedang hamil tua.
Bagi para istri, hidup sendirian tanpa belaian suami memang sangat menyiksa. Jadi, wajar saja jika Arum bermain dengan laki-laki lain, kan?
Rajendra menggeleng. “Kasihan banget Arum nggak punya pelampiasan. Dia bahkan rela jadi Gundik Boss Ardy. Ck… Ck…”
Arum mendongakkan kepala. “Ah, Boss. Kamu udah kembali?”
Ketika Boss Ardy masuk ke kamar belakang, Arum segera menarik selimut. Lalu, menutupi buah persiknya yang bergoyang.
Bulu mata Arum sedikit bergetar. Dia gugup saat mata indahnya bertemu dengan mata Rajendra yang penuh pandangan menyelidik.
Mereka berdua saling mengenal. Menurut perhitungan silsilah generasi tua keluarga Limpo, seharusnya Rajendra memanggil Arum dengan sebutan Kakak Ipar. Karena Arum adalah istri dari mendiang anak pamannya yang tertua bernama Seno Limpo.
Gelombang emosi menghantam dada Rajendra. “Huh!”
Rajendra memalingkan wajah, berpura-pura tidak mengenalnya.
Arum sering pergi ke kota untuk bekerja. Hasilnya untuk menambah pemasukan keluarga.
Di usia 25 tahun, Arum sudah menjadi janda muda di desanya. Namun, Rajendra tidak pernah menduga Arum terlibat hubungan terlarang dengan Boss Ardy yang sudah beristri. Bahkan, Istrinya lebih kaya daripada Boss Ardy sendiri.
Terdengar suara serak yang seksi dari balik tirai. “Kenapa kamu nggak suruh dia pergi dulu? Aku sangat malu kalo dia sampai mendengar desahanku, Boss. Muka cantikku ini mau ditaruh di mana saat berpapasan dengannya nanti?”
Boss Ardy sangat tidak sabar. Dia menarik tangan Arum.
Mata keranjang Boss Ardy menatap Arum. “Raj cuma pedagang tanaman obat. Apa yang harus kamu takuti? Aku udah bayar mahal dan ngasih apapun yang kamu mau. Sekarang, cepat lakukan tugasmu.”
Bos Ardy membalikkan badan Arum. “Balik badan dan angkat pantatmu, Sayang. Aku lebih suka main dari belakang begini.”
Arum memang sudah bertahun-tahun tidak dijamah oleh seorang pria. Tubuhnya sudah mendambakan sentuhan hangat pria. Namun sekarang, dia terlalu malu karena kehadiran Rajendra.
Karena Arum tidak kunjung mengangkat pantatnya, Boss Ardy menjadi geram.
“Apalagi yang kamu tunggu? Aku udah mengolesi tisu magic ke batang kemaluanku 15 menit lalu. Itu udah cukup untuk kita memulai hubungan badan.”
Rajendra mendengar semuanya. Dia akhirnya memahami situasi di sini sepenuhnya. Ini adalah pertama kalinya mereka akan melakukan hubungan badan.
Benar! Pasti begitu.
Rajendra menggeleng. Dia mengisi penuh cangkir teh dan mulai menyesapnya perlahan.
Ketika sedang menikmati teh dengan khusyuk, Rajendra melihat mobil Mercedes hitam parkir di depan toko obat. Dia sangat familiar dengan kendaraan mewah tersebut.
Itu adalah mobil milik Felicia Tanudjaja, istri Boss Ardy yang kaya raya.
Rajendra melihat Felicia turun dari mobil menenteng tas kecilnya yang mahal. Dia memakai kacamata hitam, dan gaun mini strapless bodycon warna biru yang panjangnya satu jengkal di atas lutut. Walaupun bagian atas tubuhnya terbuka, Felicia menutupinya dengan selendang sutra putih.
Rajendra tertegun ketika melihat kedua buah persik Felicia bergoyang saat dia berjalan menuju pintu toko.
Menyadari situasi yang genting ini, Rajendra langsung berteriak, “Boss, istrimu datang.”
“Sialan!” maki Boss Ardy dari dalam kamar belakang.
Kurang dari 5 detik, Boss Ardy sudah selesai memakai celananya. Dia keluar menghampiri Rajendra.
Sambil memakai pakaian atas dengan canggung, Boss Ardy melirik pintu kaca. “Katanya dia pergi belanja sama Adik perempuannya? Kenapa dia bisa datang secepat ini?”
Rajendra berkata, “Sebaiknya rapikan dirimu dulu, Boss. Aku akan menahan Bu Boss di depan.”
“Nggak bisa,” sahut Boss Ardy, cepat-cepat. “Kamu lihat sendiri toko obat ini kecil, kan? Aku nggak punya tempat buat sembunyiin perempuan itu. Kalo dia sampai minta cerai … aku bisa tamat.”
Dengan wajah memerah, Boss Ardy berujar, “Tapi, tunggu! Kasih aku waktu buat berpikir.”
Rajendra mendesak, “Boss, jangan kelamaan mikir. Lebih baik ikuti caraku aja.”
Rajendra berjalan menuju pintu kaca, hendak menahan Felicia. Boss Ardy buru-buru mengikuti Rajendra dan menarik tangannya.
Jika tadi Rajendra mendesak Boss Ardy, kini yang terjadi justru sebaliknya. “Raj, cuma kamu yang bisa menolongku. Seriusan, aku akan selalu mengingat jasamu hari ini dan membayar mahal setiap tanaman obat yang kamu bawa.”
“Tapi, Bossー”
Melihat Rajendra ragu-ragu, Boss Ardy semakin mendesaknya. Dia menarik Rajendra agar menjauhi pintu.
“Mulai hari ini, aku akan bayar mahal semua tanaman obatmu, gimana? Ini keuntungan besar bagimu.”
Rajendra terkekeh geli. “Bukannya dari tadi aku udah bilang mau menolongmu, Boss? Tenang aja! Aku akan menahan Bu Boss sekarang.”
Boss Ardy menggeleng. “Bukan, bukan itu. Kamu harus pergi menggantikan peranku ke kamar belakang dan bermain dengan perempuan itu. Kamulah yang akan menjadi tokoh utama prianya hari ini, bukan aku. Ngerti nggak kamu, Raj?”