

Di Valuasia Raya, cinta bukanlah perasaan yang tumbuh dari pandangan pertama atau debaran
jantung yang puitis. Di sini, cinta adalah komoditas. Ia memiliki label harga, grafik fluktuasi,
dan nilai pasar yang bisa dihitung hingga ke desimal terakhir.
Langit di atas ibukota tampak cerah, seolah mengejek nasib buruk yang menempel di punggung Kian seperti lintah lapar. Hari ini adalah pembukaan Grand Harem Festival,
perhelatan akbar tahunan yang lebih mirip pasar ternak berbalut sutra daripada ajang
pencarian jodoh. Di alun-alun kota yang megah, ribuan manusia berdesakan. Aroma parfum
mahal para bangsawan bercampur dengan bau keringat rakyat jelata yang mencoba mengintip
kemewahan dari balik pagar pembatas.
Kian berdiri di "Zona E"—zona ekonomi lemah, tempat di mana para pemuda tanpa gelar dan
harta berkumpul dengan harapan kosong. Di tangannya, ia meremas kantong kulit usang yang
hanya berisi sepuluh koin tembaga dan satu koin perak. Itu adalah seluruh harta warisan orang
tuanya, ditambah hasil kerja kerasnya selama tiga tahun menjadi kuli panggul di pelabuhan.
"Sepuluh tembaga..." gumam Kian, menatap nanar koin kusam itu. "Bahkan untuk membeli
senyum seorang pelayan bar saja tidak cukup."
Di Valuasia Raya, wanita dibagi berdasarkan "Nilai Saham" atau Stock Value. Para Putri Raja,
Penyihir Agung, dan Kesatria Wanita Suci adalah saham Blue Chip. Nilai mereka stabil, dividen
kekuatannya tinggi, dan hanya bisa "dibeli" (dinikahi/dikontrak) oleh para Pangeran atau
saudagar kaya raya. Di bawah mereka ada saham Mid-Cap—wanita berbakat dari keluarga
biasa. Dan di dasar rantai makanan, ada saham Penny Stock atau saham gorengan—budak,
wanita cacat, atau mereka yang memiliki kutukan.
Kian menghela napas panjang. Dia tidak muluk-muluk. Dia tidak butuh Blue Chip. Dia hanya
butuh seorang partner. Di dunia ini, pria lajang yang sudah berusia 20 tahun akan dikenakan
pajak "Kesendirian" yang mencekik oleh kerajaan. Jika dia tidak mendapatkan pasangan di
festival hari ini, Kian akan bangkrut total dan berakhir di tambang perbudakan.
"Minggir, Tikus Got!"
Sebuah tendangan keras mendarat di pinggang Kian, membuatnya tersungkur ke tanah
berdebu. Koin-koin di tangannya berhamburan. Suara tawa membahana di sekitarnya.
Kian meringis, mencoba bangkit sambil memegangi rusuknya yang terasa nyeri. Di
hadapannya berdiri seorang pemuda dengan jubah sutra merah menyala, disulam dengan
benang emas asli. Rambutnya pirang tertata rapi, dan di jarinya melingkar setidaknya lima
cincin batu mana.
Varo. Pangeran ketiga dari Keluarga Baron Drax, penguasa perdagangan di sektor selatan.
Musuh bebuyutan Kian sejak masa kecil, ketika ayah Kian masih menjadi pedagang sukses
sebelum ditipu habis-habisan oleh ayah Varo.
"Oh, lihat siapa ini," Varo menyeringai, menginjak salah satu koin tembaga Kian dengan sepatu
bot kulit mahalnya. "Kian si Yatim Piatu. Kau benar-benar datang ke festival? Apa kau berniat
membeli pasangan dengan... apa ini? Sampah?"
Varo menendang koin tembaga itu hingga masuk ke dalam selokan.
Darah Kian mendidih. Dia ingin memukul wajah sombong itu, tapi logika menahannya. Varo
adalah penyihir tingkat 3. Satu jentikan jari Varo bisa membakar Kian menjadi abu. Di dunia
ini, kemiskinan adalah dosa, dan kelemahan adalah vonis mati.
"Aku punya hak untuk berada di sini, Varo," jawab Kian datar, memunguti sisa koinnya yang
lain. "Aturan festival memperbolehkan siapa saja berpartisipasi."
"Partisipasi?" Varo tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh para pengawalnya. "Kau bukan
partisipan, Kian. Kau adalah lelucon. Lihat sekelilingmu! Kau merusak pemandangan."
Varo mencondongkan tubuhnya, membisikkan sesuatu dengan nada berbisa. "Dengar,
Pecundang. Lebih baik kau pulang, gantung diri di pohon belakang rumah gubukmu. Itu lebih
terhormat daripada kau mencoba menawar wanita di sini. Tidak ada wanita, bahkan budak
terhina sekalipun, yang sudi disentuh oleh tangan kotormu itu."
Kata-kata itu menusuk lebih tajam daripada belati. Kian mengepalkan tangannya hingga kuku
menancap ke daging. Rasa tidak berdaya ini... rasa benci pada sistem dunia yang hanya
memihak pada yang kuat. Apakah nasibnya memang harus berakhir sebagai sampah?
Teng! Teng! Teng!
Lonceng raksasa di menara pusat berbunyi, menandakan sesi utama dimulai: The Initial Public
Offering (IPO).
Gerbang utama panggung terbuka. Ribuan penonton bersorak histeris. Dari balik tirai beludru,
para kandidat wanita mulai berjalan keluar satu per satu. Layar sihir raksasa di atas alun-alun
menampilkan wajah dan data mereka.
"Lihat! Itu Putri Avelina!" seru seseorang di sebelah Kian.
Seorang wanita dengan gaun putih bercahaya berjalan anggun. Rambut peraknya berkilauan.
Dia adalah penyihir penyembuh dari menara gading.
Di layar sihir, data-data bermunculan:
• Nama: Avelina
• Kelas: Healer (Support)
• Harga Pembukaan: 50.000 Koin Emas.
Sorak sorai penonton makin gila. Para bangsawan di balkon VIP mulai mengangkat papan
penawaran mereka.
"55.000!"
"60.000!"
"70.000 untuk Putri Avelina!"
Kian hanya bisa menelan ludah. 70.000 emas? Dia butuh sepuluh kali reinkarnasi untuk
mengumpulkan uang sebanyak itu. Dia mengalihkan pandangannya ke barisan belakang,
mencari kandidat yang mungkin harganya di bawah 1 perak.
Saat itulah, sesuatu yang aneh terjadi.
Kepala Kian berdenyut hebat. Rasanya seperti ada paku panas yang dipasak paksa ke dalam
otak depannya. Pandangannya memutih sejenak, suara riuh rendah di sekitarnya berubah
menjadi dengung statis yang menyakitkan.
Zzzzt... System initializing...
Zzzzt... Downloading Assets...
Zzzzt... Welcome, Host.
Suara mekanik terdengar langsung di dalam kepalanya. Kian terhuyung, memegangi
kepalanya. Apakah dia terkena stroke karena terlalu stres? Atau Varo diam-diam merapalnya
dengan sihir kutukan?
Ketika Kian membuka matanya kembali, dunia telah berubah.
Bukan, bentuk fisiknya tidak berubah. Langit masih biru, panggung masih megah. Tapi ada
sesuatu yang menempel pada setiap objek dan manusia yang dilihatnya.
Di atas kepala Varo, melayang sebuah kotak transparan dengan tulisan dan grafik berwarna
merah dan hijau yang bergerak real-time.
[VARO - Level 15 Mage]
• Current Value: 2.500 Gold (Overvalued)
• Potential Value: 500 Gold (Bearish/Turun)
• Hidden Trait: Ejakulasi Dini, Penakut, Boros.
• Status: Target mudah dimanipulasi.
Kian mengucek matanya. Tulisan itu tidak hilang. Dia menoleh ke arah Putri Avelina yang
sedang diperebutkan di panggung dengan harga 80.000 emas.
[AVELINA - Level 20 Healer]
• Current Price: 80.000 Gold (Bubble/Gelembung Ekonomi)
• Real Value: 40.000 Gold
• Potential Value: 45.000 Gold (Stagnan)
• Note: Memiliki ego tinggi, sulit diatur, maintenance cost sangat mahal. Investasi yang
buruk untuk jangka panjang.
Jantung Kian berdegup kencang. Apa ini? Apakah dia sedang berhalusinasi? Dia melihat grafik
"Bubble" di atas kepala Avelina. Orang-orang itu berebut membayar 80.000 emas untuk
sesuatu yang nilai aslinya cuma setengahnya? Mereka sedang membeli brand, bukan kualitas!
"Investasi bodoh..." gumam Kian tanpa sadar.
"Apa kau bilang?" Seorang pria gemuk di sebelahnya melotot. "Kau menyebut Putri Avelina
bodoh? Dasar miskin!"
Kian tidak mempedulikannya. Dia mulai melihat ke sekeliling dengan liar. Matanya—sebut saja
The Divine Investment Eye—memberinya akses ke data yang tidak dilihat orang lain. Dia bisa
melihat "Fundamental" dari setiap orang.
Dia melihat seorang prajurit wanita yang tampak gagah dan mahal. Tapi data di atas kepalanya
merah menyala: Cedera lutut permanen tersembunyi. Karir akan tamat dalam 2 bulan.
Dia melihat seorang gadis desa yang tampak biasa saja. Datanya hijau muda: Bakat memasak
tingkat dewa. Potensi bisnis restoran tinggi.
Ini gila. Ini curang. Tapi ini... luar biasa.
"Hei, Gelandangan! Minggir, kau menghalangi jalan!"
Varo kembali mendorong Kian saat dia hendak maju ke barisan depan untuk menawar Avelina.
Varo mengangkat papan penawarannya dengan gaya angkuh. "100.000 Emas untuk Avelina!
Atas nama Keluarga Drax!"
Kerumunan terkesiap. Angka yang fantastis. Avelina tersenyum manis ke arah Varo, sebuah
senyum palsu yang sudah dilatih sempurna.
Kian melihat data di atas kepala Varo berubah.
• Wealth: Menurun drastis.
• Risk: Critical.
Varo baru saja menghabiskan hampir seluruh likuiditas keluarganya untuk membeli aset yang
nilainya overprice. Kian hampir tertawa. Varo merasa dia menang, padahal dia baru saja
melakukan bunuh diri finansial.
"Silakan, Tuan Varo," gumam Kian pelan, sebuah seringai tipis muncul di bibirnya yang pecah-
pecah. "Ambil saja barang rongsokan berbungkus emas itu."
Kian mundur dari kerumunan elit. Dia berjalan menuju sisi gelap panggung, tempat di mana
"barang reject" dipamerkan. Tempat ini sepi, bau apek, dan suram. Di sini, para budak yang
tidak laku, wanita-wanita cacat perang, atau mereka yang dianggap membawa sial
dikumpulkan seperti barang bekas di gudang loak.
Penjual budak di sektor ini tampak mengantuk dan bosan. Tidak ada pangeran yang datang ke
sini. Hanya ada lalat dan Kian.
"Mau cari apa, Nak? Cuci piring? Tukang sapu?" tanya si penjual malas-malasan sambil
mengipasi perut buncitnya.
Mata Kian memindai satu per satu wanita yang duduk lesu di dalam kandang besi.
Ada wanita tua (Potensi: Negatif).
Ada gadis yang sakit-sakitan (Potensi: Rendah).
Ada mantan pencuri (Potensi: Berisiko Tinggi).
Lalu, pandangan Kian terhenti di sudut paling gelap dari kandang itu.
Sesosok tubuh meringkuk dalam balutan jubah lusuh berwarna abu-abu. Wajahnya tertutup
tudung, tapi dari celah kain yang robek, terlihat kulit yang melepuh bekas luka bakar. Dia tidak
bergerak, tidak memohon, tidak menangis. Auranya dingin dan mati. Di kakinya terpasang
rantai besi berat yang menandakan dia adalah "Barang Berbahaya".
Namun, bukan penampilannya yang membuat napas Kian tercekat. Melainkan cahaya
keemasan menyilaukan yang memancar dari angka di atas kepalanya. Cahaya yang begitu
terang hingga membuat mata sistem Kian sedikit perih.
[UNKNOWN - Class: Fallen Knight]
• Current Price: 5 Gold (Junk Status)
• Real Value: ??? (Unmeasurable)
• Potential Value: 1.000.000 Gold (Legendary/Blue Chip of the Century)
• Condition: Rusak Parah (Butuh Perbaikan Ekstrem).
• Recommendation: BUY IMMEDIATELY! STRONG BUY!
Jantung Kian seakan berhenti berdetak. Satu juta emas? Potensi nilainya satu juta emas?! Itu
setara dengan anggaran belanja kerajaan selama sepuluh tahun!
Dan harganya sekarang... cuma 5 emas?
Kian menelan ludah, berusaha menenangkan tangannya yang gemetar. Dia tidak boleh terlihat
terlalu antusias. Hukum pasar nomor satu: Jangan tunjukkan kalau kau butuh.
Kian mendekati kandang itu. "Paman," panggilnya pada si penjual. "Yang di pojok itu. Kenapa
dia dirantai?"
Si penjual melirik sekilas lalu meludah ke tanah. "Oh, itu? Itu sampah paling busuk. Namanya
Elara. Dulu katanya ksatria, tapi wajahnya hancur kena nafas naga. Kakinya pincang. Dia bisu
karena trauma. Dan yang paling parah, dia agresif. Sudah tiga kali dia menggigit tangan
pembeli sebelumnya. Aku mau membuangnya ke sungai besok kalau tidak laku."
"Berapa harganya?" tanya Kian datar.
"10 Emas. Biaya ganti rugi rantai besi itu," jawab penjual asal-asalan.
Kian meraba kantongnya. Dia cuma punya 10 koin tembaga dan 1 perak. Jauh dari cukup. 10
Emas adalah jumlah yang besar bagi rakyat jelata.
"Aku tidak punya emas," kata Kian jujur.
"Kalau begitu pergi sana! Jangan buang waktuku!" usir si penjual.
Kian tidak beranjak. Otaknya berputar cepat. Dia melihat sekeliling kios si penjual. Matanya
menangkap sebuah guci keramik retak yang dijadikan tempat payung oleh si penjual.
Data muncul di atas guci itu:
[Guci Dinasti Ming - Era Kuno]
• Status: Tertutup debu.
• Real Value: 50 Emas.
Kian tersenyum licik. Kesempatan.
"Paman, aku tidak punya emas. Tapi aku punya mata yang tajam," Kian menunjuk guci itu.
"Aku akan memberitahumu rahasia yang bisa membuatmu kaya hari ini juga. Sebagai
gantinya, berikan wanita itu padaku dengan harga... satu perak."
Si penjual tertawa mengejek. "Rahasia apa? Kau gila?"
"Guci tempat payungmu itu," bisik Kian, meniru gaya Varo tadi namun dengan karisma yang
berbeda. "Coba kau bersihkan lumpur di bagian bawahnya. Ada segel Kerajaan Lama di sana.
Itu bukan guci biasa. Ada kolektor di Sektor B yang sedang mencari guci semacam itu.
Namanya Tuan Hendery. Jual padanya seharga 40 Emas, dia pasti langsung beli."
Si penjual terdiam. Dia ragu, tapi rasa serakahnya lebih besar. Dia segera mengambil guci itu,
mengelap bagian bawahnya. Matanya membelalak. Benar ada segel emas samar-samar di sana!
Wajah si penjual berubah cerah. Dia menatap Kian dengan tatapan tak percaya. "Ba- bagaimana kau tahu?"
"Itu harganya," Kian melempar satu koin peraknya ke atas meja. "Satu perak, dan informasi
itu. Bayarannya adalah wanita rongsokan itu. Deal?"
Si penjual, yang membayangkan keuntungan 40 emas di depan mata, tidak berpikir dua kali.
Dia melempar kunci gembok kandang ke arah Kian. "Ambil saja! Bawa pergi sampah itu!
Anggap saja bonus!"
Kian menangkap kunci itu di udara. Tangannya dingin, tapi hatinya terbakar semangat yang
belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Dia berjalan menuju kandang besi. Suara gemerincing kunci membuat sosok berjubah di
dalam sana tersentak. Kepala itu terangkat sedikit. Dari balik tudung, sepasang mata yang
tajam namun penuh luka menatap Kian. Mata itu seperti serigala yang terpojok—siap
membunuh atau mati.
Kian berlutut di depan jeruji besi. Dia tidak melihat monster. Dia tidak melihat sampah. Dia
melihat grafik hijau yang melesat naik menembus atap langit.
"Halo, Aset Masa Depanku," bisik Kian pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Ayo kita guncang pasar saham sialan ini."
Kian memutar kunci.
Klik.
Pintu terbuka.
Dan dengan itu, legenda Sang Bandar Cinta dimulai.
[Bersambung ke Bab 2]