

Sebuah Mall menjulang megah di jantung kota Jakarta Selatan, dengan lantai marmer yang memantulkan cahaya kristal mewah di langit-langitnya.
Jaka berjalan pelan melewati etalase-etalase toko branded yang harganya setara dengan gajinya selama tiga bulan.
Dia tidak berniat membeli apa-apa, bahkan dalam pikirannya, sekadar menginjakkan kaki ke dalam mall itu pun terasa seperti sebuah kesalahan, seakan ia tidak seharusnya berada di sana.
Sabtu sore ini, mall dipenuhi pasangan-pasangan kaya yang tertawa riang sambil mengayunkan paper bag berlogo emas. Jaka mengamati mereka dengan perasaan campur aduk. Dua minggu lalu, Linda memutuskan hubungan mereka lewat pesan singkat.
"Jaka, maaf. Aku rasa kita nggak cocok. Jangan hubungi aku lagi."
Tidak ada penjelasan. Tidak ada kesempatan bicara. Hanya kalimat dingin yang menghancurkan tiga tahun hubungan mereka.
Sejak itu, Jaka tidak bisa berhenti memikirkan Linda. Saat ini, atau lebih tepatnya sore ini, dia datang ke mall ini dengan harapan samar bisa kebetulan bertemu Linda. Mungkin dia bisa menjelaskan. Mungkin masih ada kesempatan.
Lalu dia melihatnya.
Linda berdiri di depan butik Gucci, mengenakan dress hitam elegan yang tidak pernah Jaka lihat sebelumnya. Rambutnya ditata sempurna, makeup-nya flawless, dan gelang berlian berkilau di pergelangan tangannya. Di sampingnya berdiri seorang pria berjas Armani dengan jam tangan yang bahkan dari kejauhan Jaka tahu harganya fantastis.
Jantung Jaka berdegup keras. Tangannya gemetar. Entah kenapa, perlahan kakinya bergerak sendiri dan perlahan mendekat.
"Linda...?"
Linda menoleh. Wajahnya yang cantik itu seketika berubah, dari terkejut menjadi... jijik. Ya, jijik. Tidak ada kata lain untuk menggambarkan ekspresi itu.
"Siapa ini, sayang?" tanya pria di sampingnya dengan nada santai namun menyelidik.
Linda mengalihkan pandangan dari Jaka, seolah keberadaannya menyakiti mata.
"Bukan siapa-siapa. Cuma... kenalan lama."
Kenalan lama. Tiga tahun bersama disederhanakan menjadi dua kata itu.
"Linda, aku cuma mau ngomong sebentar... " suara Jaka terdengar bergetar, terasa memalukan bahkan di telinganya sendiri.
"Jaka, kita sudah selesai. Aku sudah move on," potong Linda dingin. "Kamu juga harusnya move on."
Pria di sampingnya, tinggi, tegap, dengan aura percaya diri yang menyilaukan, mulai tersenyum. Bukan senyum ramah, tapi seringai tipis yang terkesan meremehkan dan sedikit tersirat penghinaan.
"Oh, jadi ini mantan yang sering kamu ceritakan?" katanya sambil menatap Jaka dari atas ke bawah. "Yang... bagaimana tadi? Ah, iya. Yang 'nggak ada masa depannya'?"
Linda tertawa kecil. Dia tidak membantah.
Sesuatu pecah di dalam dada Jaka. "Linda, aku kerja keras kok. Aku punya rencana untuk masa depan kita... "
"Rencana?" Richard memotong pembicaraan. Ia merangkul pinggang Linda dengan posesif. Saat itulah, mata Jaka tertuju pada badge emas yang tersemat di jas pria itu, Richard Santoso, CEO.
"Sayang, kasihan sekali dia. Masih hidup dengan 'rencana' di usia segitu."
Orang-orang mulai berhenti, penasaran dengan pertunjukan gratis di tengah mall mewah itu.
Richard mengangkat shopping bags dari Gucci, Hermes, dan Cartier. "Ini aja cuma buat iseng sore ini habis 50 juta. Kamu..." dia menatap Jaka dengan tatapan mengukur yang membekukan darah, "...seminggu kerja dapat berapa? Tiga juta? Dua juta?"
Jaka tidak menjawab. Lidahnya kaku. Kerumunan semakin besar.
Linda menambahkan, dan suaranya lebih kejam dari pisau. "Jaka, aku sayang sama kamu dulu. Tapi aku sadar... aku sadar aku nggak mau hidup susah selamanya. Richard bisa kasih aku segalanya yang kamu nggak bisa kasih."
"Security!" seru seseorang. Dua petugas keamanan mulai mendekat, mengira Jaka menggangu tamu VIP mereka.
Richard mengangkat tangan, menghentikan security. "Tidak perlu. Dia tidak berbahaya." Kemudian, dengan gerakan teatrikal yang memancing tawa dari kerumunan, Richard mengeluarkan dompet kulitnya dan mengambil selembar uang seratus ribu. Dia menyodorkannya ke Jaka seperti menyodorkan uang kepada pengemis.
"Ini buat ongkos pulang. Naik angkot ya, jangan maksain naik taksi. Uang harus dihemat kalau gajinya pas-pasan."
Tawa meledak dari kerumunan.
Jaka menatap uang itu. Tangannya gemetar hebat, tapi entah kenapa, entah karena shock atau mati rasa, dia menerimanya. Uang itu terasa seperti membakar kulitnya.
Linda melangkah lebih dekat, berbisik pelan sehingga hanya Jaka yang mendengar. Napasnya hangat di telinga Jaka, tapi kata-katanya dingin seperti es. "Maaf ya, Jak. Tapi kamu... kamu itu membosankan. Nggak menarik. Nggak punya apa-apa. Aku nggak bisa buang waktu sama orang seperti kamu."
Kemudian dia mundur, tersenyum manis ke Richard.
"Yuk, sayang. Kita buang-buang waktu di sini," kata Richard sambil merangkul Linda. Mereka berjalan pergi, tertawa bersama, meninggalkan Jaka terpaku di tengah kerumunan.
"Kasihan ya..."
"Pantesan ditinggalin..."
"Cowok bangkrut emang gitu, nggak punya harga diri..."
Bisikan-bisikan itu menusuk seperti jarum. Jaka ingin berteriak, ingin marah, ingin melawan, tapi tidak ada yang keluar. Dia hanya berdiri di sana, seperti patung, memegang uang seratus ribu yang sekarang basah oleh keringat tangannya.
Kerumunan perlahan membubarkan diri, meninggalkan Jaka sendirian di tengah mall yang tiba-tiba terasa terlalu sempit, terlalu sesak, dan terlalu bising.
Kakinya bergerak otomatis menuju toilet. Di dalam, dia menatap cermin.
Wajah pucat. Mata kosong. Kemeja yang sebelumnya rapi sekarang kusut, dan basah keringat di bagian ketiak. Dia terlihat... menyedihkan, sangat menyedihkan.
Kenangan dengan Linda berputar di kepalanya seperti film yang diputar mundur. Tawa mereka di taman. Ciuman pertama di bawah hujan. Janji-janji tentang masa depan. Semua itu sekarang terasa seperti lelucon, lelucon yang punchline-nya adalah dirinya sendiri.
Air mata mulai menggenang, tapi Jaka menahannya. Dia tidak akan menangis. Tidak di sini. Tidak di tempat orang seperti Richard dan Linda berkeliaran.
Dia menatap uang seratus ribu di tangannya. Itu seperti menjadi simbol, simbol dari betapa rendahnya harga dirinya di mata mereka.
Jaka keluar dari toilet, berjalan cepat menembus kerumunan, melewati etalase, etalase mewah, menuruni eskalator, dan akhirnya keluar dari mall.
Hujan mulai turun.
Jaka tidak peduli. Dia terus berjalan. Tidak naik angkot, tidak naik taksi. Dia berjalan kaki, membiarkan hujan membasahi seluruh tubuhnya. Uang seratus ribu itu masih tergenggam erat, basah dan kusut.
Kontrakannya berjarak lima kilometer. Butuh waktu lebih dari satu jam berjalan kaki. Ketika dia sampai, langit sudah gelap. Kontrakan sempit itu, satu kamar dengan kamar mandi dalam yang bocor, cat dinding yang mengelupas, kasur tipis di lantai, menyambut dengan dingin.
Jaka duduk di lantai, basah kuyup, memeluk lututnya.
"Apa yang salah dengan hidupku?" bisiknya ke ruang kosong. "Apa aku memang... tidak berharga?"
HP-nya berdering. Pesan masuk.
"Jaka, kamu besok masuk jam 7 pagi. Ada yang perlu dibicarakan. - Manager HRD"
Entah kenapa, Jaka tahu pesan itu bukan membawa berita baik.
Dia merebahkan tubuh basahnya di lantai dingin, menatap langit-langit yang retak. Hujan di luar semakin deras.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Jaka Prasetya merasa benar-benar sendirian di dunia.