Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Samaran Ardhacandra: Bayang Bayang Kekuasaan

Samaran Ardhacandra: Bayang Bayang Kekuasaan

Spica Rigel | Bersambung
Jumlah kata
43.2K
Popular
100
Subscribe
23
Novel / Samaran Ardhacandra: Bayang Bayang Kekuasaan
Samaran Ardhacandra: Bayang Bayang Kekuasaan

Samaran Ardhacandra: Bayang Bayang Kekuasaan

Spica Rigel| Bersambung
Jumlah Kata
43.2K
Popular
100
Subscribe
23
Sinopsis
18+PerkotaanAksiMafiaPahlawanUrban
Di kota yang membiarkan ketidakadilan tumbuh subur, Aditya Wiratama — mantan aktivis yang mematikan idealismenya demi bertahan hidup — terjebak dalam pusaran kekuasaan gelap. Sebuah pertemuan misterius dengan entitas penjaga bernama Rakhsamana membangkitkan kekuatan terpendam dalam dirinya, melahirkan sosok bertopeng: Samaran Ardhacandra, bayangan bulan yang bergerak dalam senyap. Bersama Rudy Hartanto, pengusaha minoritas yang menjadi arsitek perlawanan rahasia, Aditya melawan ormas, mafia hukum, buzzer politik, hingga pengendali negeri dari balik layar. Dalam perang tanpa garis depan, ia harus memilih: hidup aman dengan mengkhianati nurani, atau menjadi simbol perlawanan dengan risiko kehilangan segalanya.
Bab 1: Matahari yang padam

Aditya Wiratama berdiri di bawah kanopi halte, memandangi genangan air yang bergetar setiap kali hujan menyentuhnya. Dua puluh lima menit lagi, jam besuk akan berakhir dan dia masih kesulitan menuju bangunan yang sudah tidak jauh dari pandangannya. Lalu lintas kendaraan dan arogansi pengendara yang membuatnya terdiam selama beberapa menit sambil berharap ada kelonggaran untuk menyebrang.

Aditya menurunkan tudung jaketnya, rambutnya tampak sedikit basah, napasnya terasa berat di setiap tarikannya. Terlihat di tangan kanannya, tergenggam sebuah kantong plastik berisi roti tawar, buah potong, dan sebungkus kecil krayon murah.

Aditya segera melangkah bersama dengan pejalan kaki lainnya, sebelum para pengendara kembali menunjukkan urgensinya untuk sampai ke tujuan masing-masing. Sesampainya di seberang, Aditya tidak langsung masuk ke bangunan yang menjadi tujuannya, dia terus memandangi tempat dimana sosok yang penting baginya berada.

Bangunan Rumah Sakit Jiwa Mandalanusa berdiri agak jauh dari pusat kota, tampak tua dan bersejarah terlihat dari catnya yang mengelupas di banyak sudut. Lorong-lorongnya menyimpan bau disinfektan yang bercampur lembap dan kenangan yang enggan pergi.

Aditya sudah merasa cukup memandangi sebentar bangunan itu dan memutuskan untuk segera melangkah perlahan melewati pintu kaca otomatis.

Di balik meja resepsionis, seorang perawat mengenalinya.

“Mas Aditya. Seperti biasa?” tanya perawat yang tampak terlihat lebih muda dari Aditya.

Aditya mengangguk sambil berusaha untuk tersenyum ramah.

“Ruang terapi melukis. Dia di sana sejak tadi siang." ucap perawat bernama Raisya, terlihat dari nama dada yang disematkan pada seragamnya.

“Terima kasih.”

Langkah kakinya menggema pelan di lorong panjang. Setiap kali melewati tempat ini, ingatannya selalu memberontak, berusaha menariknya kembali ke masa lalu, ke hari di mana segalanya runtuh.

Adisti Wiratama terlihat duduk bersila di lantai, membelakangi pintu. Di hadapannya terbentang kertas gambar besar dengan krayon berserakan di sekelilingnya, sebagian patah, dan lainnya tampak habis terpakai.

Gadis itu tampak kurus, rambutnya diikat asal. Bahunya sedikit gemetar, entah karena udara dingin atau karena sesuatu yang jauh lebih dalam.

Aditya berhenti di ambang pintu, untuk sesaat, ia hanya menatap adiknya itu. Seolah takut satu langkah lagi akan memecahkan dunia kecilnya yang tersisa.

“Bang…”

Suara itu nyaris tak terdengar. Adisti tidak menoleh, namun ia tahu. Entah bagaimana, ia selalu tahu ketika Aditya datang menjenguknya.

Aditya masuk perlahan, kemudian duduk di sampingnya.

“Apa yang Adis gambar hari ini?” tanya Aditya dengan suara selembut mungkin.

Adisti menggeser kertasnya sedikit untuk memperlihatkan ke Aditya dan setelah melihat gambar itu, otaknya berusaha mencerna tentang apa yang dibuat oleh adik semata wayangnya itu.

Dia melihat sebuah matahari pada selembar kertas putih itu, namun warnanya hitam. Sinar-sinarnya patah, terdistorsi, seakan tercabik angin.

“Kenapa mataharinya gelap, dek?” tanya Aditya, wajahnya tampak penasaran akan jawaban apa yang dilontarkan oleh Adisti.

Adisti menggenggam krayon abu-abu tanpa menunjukkan ekspresi apapun.

“Mataharinya capek, Bang.”

Kata-kata itu sederhana. Namun menghantam hatinya seperti palu. Dulu, Adisti adalah anak yang paling menyukai cahaya pagi. Ia akan membuka jendela kamar mereka setiap subuh, mev,mbiarkan sinar matahari menerobos masuk, membangunkan Aditya sambil tertawa, menyebut dirinya “matahari kecil”. Dulu, sebelum semua berubah.

Malam itu, hujan turun juga seperti hari ini, meski langit tampak tidak bersahabat, Aditya dan adiknya tidak berada di rumah untuk membeli makanan ringan sebagai kudapan untuk nonton film terbaru bersama ayah dan ibu mereka di ruang keluarga.

Warung yang mereka datangi, letaknya tidak jauh dari rumah. Dengan berbekal satu payung yang mereka pakai bersama, sepasang saudara itu berbelanja penuh sukacita tanpa mengetahui apa yang akan terjadi pada keluarganya.

Dor!

Terdengar letupan senjata api dari dalam rumah keluarga Wiratama, keluarga Aditya dan Adisti. Mendengar hal itu, Adisti spontan berlari lebih dulu dari kakaknya yang saat itu sedang melakukan pembayaran barang belanjaan mereka.

Sesampainya di sana, Adisti dan disusul Aditya, mencium aroma mesiu, bau darah, dan mendengar suara kaca pecah, sebelum mereka melihat bagaimana tubuh ayah mereka tergeletak di lantai ruang tamu, tak bergerak.

Mata Aditya tak sengaja melihat pelaku yang merupakan sekumpulan pria berseragam tampak bersiap untuk pergi melalui jendela, tanpa menoleh lagi, bahkan tanpa rasa bersalah, seolah mereka baru saja menyingkirkan gangguan kecil di jalan mereka.

Aditya ingin segera mengejar mereka, namun langkahnya terhenti setelah melihat Ibunya bersimbah darah dalam keadaan telungkup.

Sepertinya sang ibu berusaha melakukan perlawanan terakhir dengan menarik kaki salah satu pelaku sebelum dia menyusul kepergian suaminya.

Adisti berteriak sampai suaranya habis setelah terdiam beberapa detik karena melihat semua pemandangan mengerikan itu. Mendengar teriakan Adisti, salah satu dari mereka menjadi panik sampai membuatnya menembakkan satu peluru dengan maksud untuk membungkam teriakan Adisti.

Mendengar ada suara letusan senapan api lagi, Aditya segera menyadari hal itu dan melindungi Adisti. Bahu kirinya pun tertembak dan membuat Adisti memekik histeris sekali lagi dan sejak malam itu, sebagian dari dirinya ikut mati.

“Bang…”

Adisti menggenggam lengan jaketnya dan hal itu membuat Aditya tersadarkan dari lamunannya sambil menyentuh bahu kirinya.

“Kalau kita diam, mereka nggak datang lagi, kan?”

Pertanyaan polos dari wajah cantiknya yang selalu tampak lelah dan penuh beban. Sebuah pertanyaan yang mungkin tak akan pernah punya jawaban selama negeri ini masih memelihara orang-orang seperti mereka.

Aditya menelan ludah sebelum menjawab, "Iya. Kita aman di sini." Kebohongan kecil, demi satu hari lagi tanpa ketakutan.

Untuk membuat suasana sedikit lebih hangat, Aditya mulai membuka roti yang dia beli dan menyuapi ke mulut Adisti yang selalu menolak untuk makan jika tidak disuapin olehnya atau suster yang Adisti percaya.

Sambil makan, Aditya membiarkan adiknya itu terus bercerita apapun yang dia katakan, meski dari beberapa kalimat dalam ucapannya itu tidak akan pernah dimengerti oleh akal sehatnya tapi selama itu membuat Adisti senang, Aditya akan selalu jadi pendengar yang baik untuknya.

Jam besuk sudah berakhir sejak 10 menit yang lalu, jika saja Adisti tidak merengek untuk ditemani tidur, harusnya Aditya sudah mematuhi aturan rumah sakit itu dan segera melangkah keluar meski dengan langkah yang berat. Untung saja, perawat di rumah sakit itu memaklumi mereka dan membiarkan Aditya pulang ke rumah setelah Adisti terlelap.

***

Di luar gedung rumah sakit, hujan m00ulai reda. Lampu-lampu kota menyala lebih terang, memantul di aspal basah. Mandalanusa kembali hidup dalam denyut yang sama: bising, padat, dan dingin.

Di sebuah sudut jalan, sekelompok orang berkumpul. Spanduk kusam terangkat tinggi dengan beragam kalimat yang seharusnya mewakili penduduk negeri ini.

KEADILAN UNTUK RAKYAT.

HENTIKAN KEKERASAN APARAT.

SISTEM BUSUK, RAKYAT REMUK.

Dulu Aditya berdiri di tengah mereka, lebih muda dari saat ini, lebih berapi-api. Suaranya lantang, tanpa bergetar, namun penuh keyakinan.

“Kita bukan musuh negara! Kita adalah warga yang menuntut hak!”

Sorak sorai membalas. Namun malam itu berakhir dengan gas air mata, pentungan, dan tangisan.

Hari-hari berikutnya dipenuhi ancaman, intimidasi, dan kejaran. Sampai satu malam, seseorang membisikkannya:

“Berhenti, atau adikmu yang berikutnya.”

Sejak itu, Aditya menghilang, meninggalkan jalanan, meninggalkan podium bahkan meninggalkan suaranya sendiri untuk menuntut keadilan.

Kini, ia hidup sebagai teknisi lepas, jauh dari kota Mandalanusa ke sebuah kawasan Industri yang penuh dengan polusi, Kawasan Industri Cempaka Raya.

Aditya memperbaiki mesin, merakit sistem, membangun alat untuk siapa pun yang mampu membayar jasa dan keahliannya. Meski begitu dia masih sesekali ke Mandalanusa, menjenguk Adisti untuk memastikan gadis itu tetap aman sekaligus menyambung hidup jika ada panggilan perbaikan.

Aditya segera menuju kos yang sudah dia tempati semenjak insiden yang menimpa dirinya dan keluarga. Menaiki kendaraan umum peninggalan zaman sebelum kota bahkan negara ini berubah menjadi seperti sekarang.

TransMandala, sebuah bus yang selalu dinanti kedatangannya oleh para pekerja lintas wilayah seperti Aditya.

"Nyampe kosan, mau langsung tidur," gumam Aditya setelah keluar dari halte bus TransMandala terdekat.

Meski halte itu yang terdekat, dia tetap harus berjalan kaki melewati gang sempit sebelum sampai di kosannya yang juga tak kalah sempit.

Saat Aditya menikmati setiap langkahnya, tanpa sengaja telinganya mendengar derap langkah kaki yang berat. Ternyata suara itu berasal dari tiga pria mendekat tanpa aba-aba.

Ketiganya menggunakan jaket hitam, helm tertutup ditambah gerakan mereka begitu terlatih. Aditya baru menyadari bahaya ketika satu tangan menarik kerah bajunya dari belakang dan membuat tubuh Aditya terputar ke arah mereka hingga ia merasakan benda keras yang menekan perutnya, Aditya reflek melihat benda itu yang ternyata sebuah pisau lipat yang belum terbuka lipatannya.

“Kamu terlalu banyak tahu,” bisik salah satu dari mereka.

Aditya sempat berpikir di sepersekian detik waktu krusial sebelum pisau yang awalnya cuma menekan menjadi menusuk dan merobek organ dalamnya, "Jadi ini akhirnya."

Namun detik berikutnya, dunia seakan melambat. Sebuah sensasi dingin menjalar di tulang belakangnya, naik ke tengkuk, lalu meledak di kepalanya.

Suara asing, berat, namun tenang, menggema di dalam benaknya.

BERGERAK!

Tubuhnya bergerak tanpa sadar, pisau yang lipatannya sudah terbuka, meleset. Salah satu penyerang terpental, menghantam dinding entah karena perbuatan siapa hingga membuat dua pria lainnya terkejut dan itu cukup untuk mengalihkan perhatian mereka dari Aditya.

Aditya segera berlari memanfaatkan momen tersebut, tak menoleh, tanpa berpikir.

Hanya fokus berlari, hingga dia berhenti di sebuah atap gedung kosong yang sudah jauh dari kosan dan gang sempit itu.

Napasnya tersengal, tangannya gemetar.

“Kau siapa…?” bisiknya ke udara.

Tak ada jawaban. Namun, ia tahu, sesuatu telah terbangun dari dalam dirinya yang dimana hidupnya tidak akan pernah kembali normal setelah hari ini tapi kapan dia pernah merasa harinya normal dan biasa setelah kematian orang tuanya.

Di langit Mandalanusa, awan terbelah sesaat. Bulan sabit menggantung pucat, setengah terang dan setengah lagi gelap. Seperti dirinya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca