

Jakarta di akhir bulan selalu terasa lebih mencekik. Bagi Arjuna Sastra, udara sore di gudang transit Garda Logistik bukan lagi sekadar oksigen, melainkan campuran debu karton, asap knalpot, dan aroma keringat yang menguap dari tubuh para pekerja upah harian.
Juna menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang sudah berubah warna menjadi abu-abu kusam. Di depannya, tumpukan paket setinggi dua meter menanti untuk dipindahkan ke truk engkel. Sebagai staf sortir merangkap kuli panggul, punggung Juna adalah saksi bisu betapa kerasnya mencari sesuap nasi dengan ijazah SMA yang sudah mulai menguning di dalam map plastik.
"Juna! Jangan melamun! Truk ke arah Tangerang sudah mau berangkat!" teriak Pak maman, supervisor gudang yang perutnya buncit dan selalu membawa peluit di lehernya.
"Siap, Pak!" Juna menyahut serak. Dia memaksakan otot kakinya yang mulai gemetar untuk mengangkat kotak kayu seberat dua puluh kilogram.
Pekerjaan ini melelahkan, tapi Juna tidak punya pilihan. Gaji pokoknya hanya Rp3.800.000. Setelah dipotong sewa kos petak yang pengap, cicilan motor tua yang sering mogok, dan kiriman untuk ibunya di kampung, Juna hanya menyisakan beberapa ratus ribu untuk bertahan hidup selama sebulan. Dia adalah penghuni kasta terbawah, seorang praktisi di Ranah Jelata yang belum melihat cahaya di ujung terowongan.
Pukul delapan malam, Juna baru bisa meluruskan punggungnya. Dia duduk di emperan gudang, membuka botol air mineral yang ia isi ulang dari dispenser kantor. Saat itulah, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Clarissa.
“Juna, kita perlu bicara. Aku tunggu di halte depan mal tempat aku kerja.”
Jantung Juna mencelos. Kalimat "kita perlu bicara" jarang berakhir dengan kabar baik. Dia segera menghidupkan motor bebeknya yang butuh lima kali selah untuk menyala, lalu membelah kemacetan Jakarta menuju salah satu mal mewah di kawasan Jakarta Selatan.
Di sana, Clarissa berdiri dengan seragam pramuniaga toko kosmetik bermerek. Dia tampak cantik, sangat kontras dengan Juna yang masih berbau debu gudang.
"Maaf telat, Clar. Tadi ada lemburan bongkar muat," ucap Juna sambil mencoba tersenyum.
Clarissa tidak membalas senyum itu. Matanya menatap sepatu Juna yang solnya sudah mulai lepas dan diikat dengan karet gelang. "Juna, aku tidak bisa begini terus."
"Begini bagaimana?"
"Tiga tahun, Juna. Tiga tahun aku menunggumu punya kemajuan. Tapi lihat? Kamu masih di gudang itu. Makan kita masih di warteg pinggir jalan. Bahkan untuk nonton bioskop saja kita harus menghitung sisa saldo sampai besok pagi," suara Clarissa mulai meninggi, bercampur dengan isak tangis yang tertahan.
"Aku sedang berusaha, Clar. Bulan depan aku mau coba ambil lembur malam terus supaya—"
"Masalahnya bukan soal lembur, Juna! Masalahnya adalah duniamu terlalu kecil. Aku ingin masa depan yang pasti. Aku ingin makan tanpa harus melihat daftar harga dari kanan ke kiri." Clarissa menarik napas panjang, wajahnya mengeras. "Tadi sore, manajer operasional mal ini mengajakku makan malam. Dia menjemputku dengan mobil yang AC-nya tidak berisik seperti motormu. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa seperti manusia yang dihargai."
Juna terdiam. Lidahnya kelu. Rasa sakit itu bukan datang dari bentakan Clarissa, tapi dari kenyataan bahwa semua yang dikatakan wanita itu adalah benar. Kemiskinan bukan hanya soal tidak punya uang, tapi soal kehilangan hak untuk bermimpi.
"Kita selesai, Juna. Tolong, jangan cari aku lagi. Aku tidak mau ditarik kembali ke bawah olehmu."
Clarissa berbalik, melangkah masuk ke dalam lobi mal yang berkilau, meninggalkan Juna yang mematung di tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang. Langit Jakarta seolah ikut mengejeknya; rintik hujan mulai turun, satu per satu, lalu menderas dengan cepat.
Juna memacu motornya di bawah guyuran hujan tanpa jas hujan. Dinginnya air meresap hingga ke tulang, tapi tidak sedingin hatinya. Di tengah jalan, motornya tersendat, mengeluarkan suara batuk dua kali, lalu mati total. Mogok.
"Sial! Kenapa harus sekarang?!" Juna berteriak, memukul stang motornya hingga tangannya memar.
Dia terpaksa menuntun motornya sejauh satu kilometer hingga menemukan sebuah minimarket yang masih buka. Dia memarkir motornya di pojok, lalu masuk ke dalam dengan tubuh basah kuyup. Dia butuh sesuatu untuk mengganjal perutnya yang mulai perih karena maag.
Di depan mesin ATM, Juna ragu-ragu. Dia memasukkan kartunya, menekan pin dengan jari yang gemetar karena kedinginan.
Saldo Anda: Rp21.450.
Angka itu tampak seperti ejekan terakhir dari semesta. Dia hanya punya dua puluh satu ribu rupiah untuk bertahan hidup hingga tanggal gajian lima hari lagi. Juna menarik napas panjang, lalu mengambil uang dua puluh ribu rupiah. Tersisa seribu empat ratus lima puluh rupiah di rekeningnya.
Dia berjalan ke rak makanan, mengambil satu bungkus roti sobek seharga Rp12.000 dan sebotol air mineral kecil seharga Rp4.000. Total Rp16.000. Masih sisa Rp5.000 untuk ongkos bensin jika motornya bisa menyala besok.
Saat dia berdiri di depan kasir, tiba-tiba pandangannya berputar. Suara bising di minimarket itu mendadak hilang, digantikan oleh sebuah suara frekuensi tinggi yang berdenging di telinganya.
Tring!
Sebuah kotak dialog transparan, tipis seperti asap namun terbaca jelas, muncul di depan matanya.
[Sistem 'Cashback Kultivasi' Terdeteksi...]
[Target: Arjuna Sastra]
[Status: Ambang Batas Keputusasaan Terpenuhi.]
[Sinkronisasi Jiwa... 10%... 50%... 100%]
"Apa-apaan ini?" gumam Juna, mengucek matanya. Kasir minimarket menatapnya aneh. "Mas? Jadi beli rotinya?"
Juna menelan ludah. "I-iya, Mbak. Ini uangnya."
Dia menyerahkan lembaran dua puluh ribu satu-satunya. Saat tangan sang kasir menyentuh uang itu dan mesin kasir berdenting, sebuah notifikasi lain muncul tepat di tengah penglihatannya.
[Transaksi Berhasil!]
[Jumlah Pengeluaran: Rp16.000]
[Level Sistem: 1 (Ranah Jelata - Tahap Awal)]
[Multiplier Cashback Terpilih: 10x (Bonus Aktivasi Pertama)]
[Anda mendapatkan Cashback sebesar: Rp160.000!]
Bzzzt!
Ponsel di saku celana Juna bergetar hebat. Dengan tangan gemetar, dia merogoh ponselnya. Sebuah notifikasi SMS Banking masuk.
“M-Banking: Rekening XXXX masuk Rp160.000. Saldo: Rp161.450.”
Juna tertegun di depan meja kasir. Roti dan air mineralnya sudah terbungkus plastik, tapi dia tidak sanggup mengambilnya. Matanya terus menatap layar ponsel. Uang itu bukan khayalan. Saldo yang tadinya sekarat, tiba-tiba bertambah delapan kali lipat dari jumlah belanjaannya.
"Mas? Ini kembaliannya empat ribu rupiah," ucap kasir itu ketus, membuyarkan lamunan Juna.
"Oh, iya... makasih, Mbak."
Juna keluar dari minimarket dengan langkah sempoyongan. Dia duduk di bangku teras minimarket, membuka bungkus roti sobeknya, dan menyuapnya perlahan. Rasanya masih sama, rasa roti cokelat murah, tapi pikirannya sedang terbang melayang.
[Selamat, Tuan Arjuna Sastra.]
[Anda telah memulai jalur Kultivasi Kekayaan. Di dunia ini, setiap rupiah yang Anda keluarkan dengan tulus untuk diri sendiri atau orang lain, akan kembali membawa 'Energi Keuangan' yang lebih besar.]
[Misi Berikutnya: Habiskan Rp100.000 dalam satu kali transaksi.]
[Hadiah: Cashback Multiplier 2x - 5x & Peningkatan Fisik Dasar.]
Juna menatap sisa roti di tangannya. Rp160.000 mungkin bagi manajer mal itu hanyalah harga sekali makan siang. Tapi bagi Juna, uang itu adalah nyawa. Dan jika sistem ini benar, maka ini bukan sekadar uang. Ini adalah kesempatan untuk menampar dunia yang selama ini menginjak-injaknya.
Dia bangkit berdiri, rasa dingin di tubuhnya perlahan menghilang digantikan oleh semangat yang membara. Dia menatap motor mogoknya, lalu menatap jalanan Jakarta yang masih diguyur hujan.
"Kalau belanja saja bisa bikin aku kaya..." Juna berbisik pada dirinya sendiri, "Maka aku akan menjadi orang yang paling rajin belanja di dunia ini."
Malam itu, di teras minimarket yang sepi, Arjuna Sastra secara resmi mengakhiri masa-masa keputusasaannya sebagai rakyat jelata biasa. Dia belum tahu ke mana sistem ini akan membawanya, tapi satu hal yang pasti: mulai besok, daftar harga tidak akan lagi dibacanya dari kanan ke kiri.