Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dewa Perang Bela Diri

Dewa Perang Bela Diri

Anak_Langit | Bersambung
Jumlah kata
42.5K
Popular
100
Subscribe
13
Novel / Dewa Perang Bela Diri
Dewa Perang Bela Diri

Dewa Perang Bela Diri

Anak_Langit| Bersambung
Jumlah Kata
42.5K
Popular
100
Subscribe
13
Sinopsis
18+FantasiIsekaiIsekaiPertualanganPendekar
Menginjak mayat para ahli dari seluruh penjuru dunia, aku bersumpah menjadi Dewa Perang nomor satu di puncak tertinggi. Dari jiwa yang hina dan diremehkan, ia bangkit secara tak terduga. Berbekal sebuah teknik kultivasi cacat dan roh perang yang menentang langit, ia melangkah selangkah demi selangkah menuju puncak dunia. Dunia yang aneh dan berbahaya, pertarungan berdarah yang membakar adrenalin, serta cinta yang penuh gairah— semua terangkum dalam Dewa Perang Bela Diri. 👉 Jalan menuju puncak telah dimulai. Siapakah yang berani menghalangi?
Bab 1 : Kesedihan Cinta!

Gunung-gunung hijau menjulang tinggi, membentang berliku ribuan kilometer. Di kedalaman pegunungan itu, terletak sebuah kota kuno bernama Kota Besi Kuno.

Awal musim dingin membuat kota kuno itu tampak sedikit sepi dan muram. Angin dingin menderu pelan, hembusan angin membawa beberapa helai daun maple merah menyala yang melayang turun dari udara, berputar mengikuti angin di atas batu-batu besar yang kering dan pucat, menambah kesan sunyi dan memilukan. Sinar matahari musim dingin tampak redup dan sederhana, menembus dari langit, memberi secercah kehangatan pada hari yang dingin ini.

Di jalan besar, hampir tak ada pejalan kaki. Hanya dari sudut jalan sesekali terdengar gonggongan anjing yang jarang, lalu kembali tenggelam dalam keheningan.

Di sudut jalan itu terdapat sebuah jalan buntu. Bata hijau dan genteng hitam membentuk bangunan yang megah dan kuno, namun tampak sarat oleh jejak waktu. Atap rumah menahan deru angin dingin yang melolong. Di balik tembok yang rendah, seorang pemuda dan seorang gadis berdiri sangat berdekatan, seolah sedang membicarakan sesuatu. Suara mereka sebenarnya tidak pelan, namun di tengah lolongan angin, terdengar lemah dan tertelan.

Pemuda itu tampak berusia sekitar enam belas tahun. Ia mengenakan jubah hijau;, tubuhnya yang agak kurus terlihat rapuh diterpa angin dingin. Wajahnya masih menyisakan kepolosan remaja, tetapi sepasang mata hitamnya yang bening memancarkan kecerdasan sekaligus semburat kedewasaan yang dalam. Gadis di hadapannya bertubuh ramping dan anggun, berdiri tegak menawan. Gaun putih yang dikenakannya menonjolkan keindahan sosoknya, murni dan tanpa cela, laksana bunga teratai salju di Pegunungan. Senyumnya manis, matanya berkilau, rambutnya tergerai tertiup angin. Meski usianya juga sekitar enam belas tahun, setiap gerak dan senyumannya memancarkan pesona yang memikat mata.

Pemuda berwajah bersih itu bernama Mahesa Wiratama, enam belas tahun. Ia adalah anak angkat Pak Tua Giri, pandai besi dari Bengkel Besi Giri di Kota Besi Kuno. Sejak kecil, Mahesa Wiratama dikenal sebagai seorang jenius. Gadis itu bernama Lestari, enam belas tahun, sahabat masa kecil sekaligus kekasih Mahesa Wiratama.

“Mahesa, kita…” Lestari tampak gelisah. Ia menundukkan kepala dan berkata dengan suara pelan, “Kita putus saja.”

“Apa?” Tubuh Mahesa tersentak. Senyum di wajahnya lenyap seketika. Ekspresinya berubah drastis; seberkas rasa sakit melintas di matanya yang hitam, lalu segera mereda menjadi ketenangan yang nyaris tak tergoyahkan. Ia menatap Lestari dengan tenang. “Kenapa?”

Melihat ketenangan Mahesa, Lestari justru merasa bersalah. Jika Mahesa marah, berteriak, mencacinya atau bahkan memukulnya, mungkin hatinya akan terasa lebih ringan… Namun, jika Mahesa benar-benar lelaki seperti itu, akankah ia masih mencintainya?

Lestari menunduk semakin dalam, kepalanya hampir tertanam di dadanya. Dengan suara lirih, ia berkata, “Maafkan aku.”

“Heh…” Mahesa tersenyum pahit. Ia memandang gadis yang dahulu manja dalam pelukannya, wajah yang begitu dikenalnya kini terasa asing sepenuhnya…

“Bisakah kau memberitahuku alasannya?” tanya Mahesa pelan.

“Aku…” Lestari mengangkat kepala. Di matanya tampak penyesalan, namun raut wajahnya sangat tegas. “Mahesa, Inti Raga-mu tersumbat dan tidak bisa dibuka. Kau tak mampu mengumpulkan Energi Tempur. Mustahil bagimu menjadi seorang pendekar yang disegani. Sementara aku akan menjadi murid Akademi Satria Mandala. Mulai sekarang, kita hidup di dua dunia yang berbeda, jadi…”

“Begitu rupanya. Aku mengerti.” Mata Mahesa meredup. Ia mengangguk pelan. “Aku berharap kau segera membuka Inti Raga-mu dan menjadi seorang pendekar Nadi Bara.”

Ia berusaha keras menahan perasaannya, namun entah mengapa hatinya tetap terasa begitu perih. Mahesa menahan air mata sekuat tenaga. Di balik lengan bajunya yang hijau, kukunya telah menancap ke dalam daging, darah merembes keluar dan membasahi lengan bajunya.

Lestari menggigit bibirnya. Ia menatap lengan baju Mahesa Wiratama yang telah berlumuran darah, namun tetap diam tak sedikit pun berniat mendekat untuk membalut lukanya.

Tiba-tiba, seorang gadis lain berlari mendekat. Usianya sekitar delapan belas tahun, muda dan segar seperti kuncup bunga, laksana pohon willow yang tertiup angin membuat siapa pun merasa iba. Meski hanya mengenakan pakaian kasar dari kain sederhana, kecantikan alami yang terpancar dari dirinya tak dapat disembunyikan. Ia bergegas ke sisi Mahesa Wiratama, mengeluarkan saputangan sutra putih, lalu membalut lukanya. Alisnya mengernyit penuh kepedulian dan rasa sakit.

“Mahesa, kamu tidak apa-apa?”

Gadis yang datang itu bernama Yasmin. Sama seperti Mahesa Wiratama, ia juga seorang yatim piatu. Sejak kecil, ia dan Mahesa Wiratama diadopsi oleh Pak Tua Giri, pandai besi dari Kota Besi Kuno. Ketiganya saling bergantung dan hidup bersama.

Beberapa saat kemudian, Yasmin mengangkat kepalanya dan menatap Lestari dengan dingin. Keningnya berkerut.

“Lestari, bagaimana mungkin kau memperlakukan Mahesa seperti ini? Tidakkah kau tahu betapa dalam cintanya kepadamu?”

Entah mengapa, ketika Lestari melihat Yasmin dengan lembut membalut luka Mahesa, hatinya diliputi rasa tidak nyaman yang amat kuat. Ia mencibir dingin.

“Yasmin, bagaimana aku memilih hidupku, itu bukan urusanmu!”

Mendengus sinis, Lestari melanjutkan,

“Dia hanyalah seorang sampah. Selain janji-janji cinta yang kosong, apa lagi yang bisa dia berikan kepadaku?”

“Kau—” Yasmin mengerutkan alisnya, dadanya bergemuruh oleh amarah. Ia melirik Mahesa dengan cemas, namun mendapati bahwa pemuda itu tampak nyaris tak bereaksi. Barulah ia sedikit tenang.

“Dulu, saat usianya enam belas tahun dia sudah menjadi Raga Awal tingkat enam, aku mengira dia seorang jenius, seseorang yang kelak bisa membuka Inti Raga-nya dan menjadi pendekar Nadi Bara yang disegani. Itulah sebabnya aku bersamanya. Tapi siapa sangka, ternyata dia hanyalah pecundang dengan Inti Raga yang tersumbat!”

Dari cibiran dingin, suara Lestari berubah menjadi histeris.

“Aku ini perempuan! Aku ingin menikahi pria kuat! Aku ingin hidup di puncak, aku tidak mau menjadi wanita rendahan yang setiap hari harus berjuang demi sekadar bertahan hidup! Kitab teknik energi tempur yang kuinginkan, bisakah dia memberikannya? Teknik bertarung, mampukah dia memberikannya? Tidak! Selain janji cinta yang hampa dan apa yang disebutnya romantisme kecil itu, apa lagi yang bisa dia berikan padaku?”

Kata-kata yang teramat kejam itu, setiap kalimatnya menusuk jantung, bagaikan bilah pisau tajam yang menguliti hati Mahesa tanpa ampun. Wajahnya pucat pasi, dan ia tersenyum pahit.

Benar… dirinya hanyalah seorang pecundang dengan Inti Raga yang tersumbat. Tak mampu mengolah energi tempur, tak mampu mempelajari teknik bertarung, mustahil menjadi sosok kuat yang dipuja. Selain janji cinta yang kosong, apa lagi yang bisa ia berikan?

Namun di dunia yang menjunjung kekuatan di atas segalanya, cinta yang terlalu sempurna hanyalah legenda. Kenyataan tetaplah kenyataan.

“Lestari, kau…” Wajah cantik Yasmin membeku dingin, amarahnya memuncak.

“Percaya atau tidak, aku—”

“Apa? Mau memukulku?” Lestari sama sekali tidak mundur. Ia melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Yasmin sambil tertawa sinis.

“Yasmin, kalau berani, pukul saja aku sampai mati! Siapa kau sebenarnya? Sejak lahir kau memang pembawa sial. Jangan-jangan, Inti Raga Mahesa tersumbat itu justru gara-gara dirimu—”

Plak!

Suara tamparan yang nyaring menggema, laksana petir yang menggelegar. Seketika itu juga, Lestari dan Yasmin terdiam membeku. Keduanya menatap Mahesa dengan wajah penuh keterkejutan dan tak percaya.

Beberapa saat kemudian, Lestari menutupi pipinya yang memerah, menatap Mahesa dengan mata terbelalak.

“Kau… kau benar-benar menamparku?”

Mahesa berkata dengan suara datar dan tenang,

“Tamparan ini aku berikan atas nama Kakak Yasmin. Kau boleh berkata apa saja tentang diriku, aku tidak peduli. Tapi jangan pernah menghina keluargaku!”

“Mahesa, kau akan menyesal!” Lestari menangis keras sambil menutupi wajahnya, lalu berlari menjauh.

Ketika sosok Lestari menghilang di sudut jalan, seakan seluruh kekuatan Mahesa terkuras habis. Ia bersandar lemah pada dinding.

“Mahesa, kau tidak apa-apa?” tanya Yasmin dengan penuh kekhawatiran, sambil menopang tubuhnya.

“Aku baik-baik saja.” Mahesa mengibaskan tangannya dan memaksakan senyum.

“Kakak Yasmin, pulanglah dulu. Aku ingin sendirian sejenak.”

“Baik… cepat pulang.” Yasmin seakan ingin mengatakan sesuatu, namun menahannya. Ia menatap Mahesa dalam diam, lalu berbalik dan pergi.

Setelah Yasmin pun menghilang dari pandangan, Mahesa akhirnya tak sanggup lagi menahan diri. Dua aliran air mata panas mengalir deras dari kedua matanya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca