

Di bawah naungan semak-semak belukar yang menjulang tinggi, hampir menelan seluruh sosok tubuhnya, Antonio memilih untuk merebahkan diri sejenak. Lelaki itu memiliki perawakan yang tegap, dengan garis rahang tegas yang seharusnya menyiratkan wibawa. Namun kini, ia harus menelan pil pahit kehidupan yang begitu getir. Pengkhianatan istrinya demi mengejar harta dan kemewahan telah menghancurkan dunianya dalam semalam.
Hari ini, Antonio membulatkan tekad untuk pergi sejauh mungkin dari desa yang pernah ia sebut rumah. Di sana, ia tak lagi memiliki siapa pun. Ia hidup sebatang kara di desa asal istrinya—wanita yang kini hanya ia ingat sebagai mantan yang meninggalkan luka menganga.
Satu-satunya harta yang ia bawa hanyalah sebuah buntelan kain lusuh. Isinya tidak mewah: beberapa potong pakaian dan dua botol air mineral sebagai bekal bertahan hidup.
Beruntung, sebelum langkah kakinya benar-benar menjauh dari perbatasan desa, Pak Kades sempat memanggilnya. Pria tua yang bijak itu menawarkan makan siang terakhir. Meski hatinya sedang hancur, Antonio tidak menolak keramahan itu. Di meja makan kayu yang sederhana, suasana terasa sunyi hingga Pak Kades memecah keheningan.
"Kamu yakin tidak mau tinggal di sini saja sama saya, Ton?" tanya Pak Kades lembut, matanya menyiratkan keprihatinan yang mendalam.
Antonio menghentikan suapannya, menatap kosong ke arah piring. "Yakin, Pak. Toh, sudah tidak ada lagi yang harus saya perjuangkan di desa ini. Semuanya sudah selesai."
Pak Kades menghela napas panjang, lalu menepuk bahu Antonio dengan mantap. "Kamu yang sabar ya, Ton. Saya yakin suatu saat kamu akan mendapatkan yang jauh lebih baik dari istrimu itu. Kamu masih muda, wajahmu tampan, dan fisikmu kuat. Jangan menyerah. Kamu harus terus berjuang."
Percakapan singkat itu terus terngiang di telinganya saat ia kembali menyusuri hutan. Mengingat semua perjuangannya yang ternyata sia-sia untuk wanita yang tidak tahu diri memang menyakitkan. Namun, ucapan Pak Kades menjadi pemantik api kecil di hatinya. Benar, ia masih muda. Hidupnya tidak boleh berakhir tragis hanya karena satu wanita pengkhianat.
Waktu berputar cepat. Semburat jingga di ufuk barat perlahan menghilang, digantikan oleh kegelapan yang menyelimuti hutan belantara. Antonio menyadari bahwa ia tidak mungkin melanjutkan perjalanan dalam gelap. Dengan sisa-sisa tenaga, ia bergegas mengumpulkan dahan pohon dan dedaunan lebar. Ia mencoba merangkai sebuah tempat perlindungan sederhana agar bisa memejamkan mata.
"Mudah-mudahan malam ini tidak turun hujan," gumamnya penuh harap.
Namun, alam seolah ingin menguji ketabahannya sekali lagi. Langit yang tadinya sunyi tiba-tiba bergemuruh. Kilat menyambar, menerangi pepohonan selama sepersekian detik sebelum suara guntur menggelegar dahsyat. Tak lama kemudian, butiran air hujan turun dengan derasnya, menghantam dedaunan dengan suara berisik yang memekakkan telinga.
"Asu, asu!" umpat Antonio pelan sambil meringkuk di bawah gubuk buatannya yang tampak ringkih. "Tapi untung saja gubuk reyot ini sudah selesai. Setidaknya aku tidak akan terlalu kebasahan malam ini."
Dinginnya angin malam yang merasuk hingga ke tulang membuatnya menggigil hebat. Antonio membaringkan tubuhnya di atas tanah yang mulai lembap, menutup mata rapat-rapat, berharap malam yang penuh duka ini segera berganti pagi.
Pagi akhirnya datang. Cahaya matahari yang menyelinap di sela-sela ranting pohon membangunkan Antonio dari tidur ayamnya. Ia merasa beruntung masih bisa bernapas setelah hampir mati kedinginan semalaman. Namun, kelegaan itu segera berganti dengan suara keroncongan yang cukup kencang dari perutnya.
Kemarin ia hanya makan satu kali di rumah Pak Kades. Kini, rasa lapar itu mulai menyiksa. Ia mengemasi buntelannya dan meneguk botol air minumnya yang tinggal tersisa sedikit.
"Mudah-mudahan air ini cukup sampai aku ketemu mata air lagi di depan sana," bisiknya menyemangati diri sendiri.
Antonio kembali berjalan menembus rimbunnya hutan. Beruntung, sejauh ini ia tidak berpapasan dengan hewan buas seperti harimau atau beruang. Langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sesuatu di atas pohon tinggi yang menjulang di depannya.
"Wah, sepertinya pohon itu ada sarang burungnya. Siapa tahu ada telurnya, lumayan buat ganjal perut," pikirnya optimis.
Dengan ketangkasan seorang pria desa, Antonio memanjat pohon tersebut. Benar saja, di dahan yang cukup tinggi, terdapat dua sarang burung yang penuh dengan telur.
"Maaf ya, Burung. Aku terpaksa makan calon anak kalian daripada aku yang mati kelaparan di sini," ucapnya merasa bersalah namun tak punya pilihan.
Setelah turun, ia segera mengumpulkan ranting kering dan menyalakan api kecil. Ia merebus telur-telur itu dengan sedikit air yang tersisa. Lima menit kemudian, aroma telur rebus mulai tercium. Antonio melahapnya dengan sangat nikmat. Meski kecil, setiap butir telur itu memberinya energi tambahan untuk melanjutkan pengembaraan.
Matahari kini tepat berada di atas kepala. Hawa panas mulai menyengat, membuat pakaian lusuhnya basah oleh keringat. Antonio tiba di sebuah sungai kecil yang airnya tampak jernih. Ia segera mengisi kedua botol kosongnya dan duduk beristirahat di atas sebuah batu besar di seberang sungai.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara riuh dari kejauhan. Suara teriakan orang yang saling bersahutan memecah kesunyian hutan. Penasaran, Antonio mencari arah suara itu hingga ia sampai di sebuah jalan setapak yang sempit.
"Awas! Pergi! Awas!" teriak suara-suara itu semakin mendekat.
Antonio memutar badan ke arah samping untuk mencari tahu apa yang terjadi. Matanya mendadak melotot. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat seekor binatang besar berlari kencang ke arahnya dengan taring yang mencuat tajam.
"BABIII...!" teriak Antonio spontan.
Ia langsung lari tunggang-langgang. Ternyata, sorak-sorai yang ia dengar tadi berasal dari sekelompok pemburu yang tengah mengejar babi hutan tersebut.
"Awas belok! Belok ke sana!" teriak salah seorang bapak yang mengejar di belakang bersama kawanan anjing pemburu.
Antonio terus berlari tanpa arah. Rasanya kedua kakinya bahkan tidak menyentuh tanah karena rasa takut yang luar biasa. Ia sampai di sebuah dataran yang agak tinggi. Namun, sial baginya, kakinya menginjak tanah kosong yang licin akibat sisa hujan semalam.
Gubrak!
Antonio terjatuh dengan posisi yang sangat tidak menguntungkan. "Punggung saya, Gusti...!" teriaknya sambil merintih, mencoba meluruskan kaki dan punggungnya yang terasa remuk.
Babi hutan itu tidak berhenti. Hewan itu justru semakin dekat, moncongnya berdenyut-denyut mencium aroma tubuh Antonio yang tergeletak tak berdaya. Hanya satu langkah lagi, babi itu akan menabraknya.
Antonio mencoba berdiri untuk lari lagi, tapi terlambat. Saat ia mencoba berbalik membelakangi hewan itu, gading babi hutan yang keras dan tajam menusuk pantatnya dengan kekuatan penuh.
"ADUHHH...! TOLONG! TOLONG!"
Antonio terpaksa mematung dalam posisi setengah berjongkok. Ia tidak berani bergerak karena gading babi itu terasa masih menancap di bokongnya.
Para pemburu akhirnya sampai. Mereka dengan sigap melumpuhkan babi tersebut. Mereka tampak sangat senang karena berhasil menangkap buruan besar yang biasanya sangat lincah itu, meski harus mengorbankan Antonio sebagai umpannya.